
Sore harinya, pengajian pun di gelar. Namun ada hal yang membuat Renata sedikit terkejut, kedatangan seseorang yang membuat nya terbelalak.
"Selamat ya Re, sehat selalu dan di lancarkan semua proses nya." Ucap Dimas. Ya, kedatangan pria yang adalah mantan suaminya.
"Te-rimakasih Dimas." Balas Renata sedikit terbata.
Renata khawatir, kedatangan pria itu membuat keluarga nya salah paham. Tanpa dia tahu bahwa sang suami lah yang sudah mengundang Dimas kemari.
"Sayang.." panggil Reza mesra, dia memeluk pinggang sang istri dengan posesif.
"Iya Mas, dari mana?" Tanya Renata, tanpa risih sedikit pun saat tangan sang suami merangkul pinggang nya dengan erat di depan orang lain, yang notabene nya adalah cinta pertama istrinya.
"Habis dari belakang, kamu ngapain disini?" jawab Reza, dia memang baru saja dari belakang untuk memberikan sejumlah santunan ke panti asuhan, juga bingkisan kepada anak-anak yatim yang dia undang. Agar rezeki nya berkah.
"Eemm, a-anu.."
"Hayo lho anu apa, hmm?" Goda Reza sambil menarik turunkan alis nya, membuat Renata tersipu dan menepuk manja dada suaminya.
Sedangkan Dimas masih berdiri di depan pasangan yang tengah memamerkan kemesraan di hadapan nya, jujur saja dia merasa sakit di ulu hatinya. Tapi di lain sisi, dia bahagia saat melihat Renata tertawa.
Setidaknya wanita itu sudah mendapatkan kebahagiaan yang harusnya dia dapatkan dari awal, meski bukan bersama dirinya tapi bersama Reza dia yakin Renata akan bahagia.
"Ehh Dimas, Dateng juga Lo. Gimana, udah mendingan?" Tanya Reza, membuat lamunan Dimas buyar.
"Allhamdulilah, Za. Tinggal pemulihan aja sih, Minggu depan ini ring di dalem harus di buka. Operasi kecil sih, tapi lumayan bikin gue degdegan." Jelas Dimas.
"Kalau udah sembuh, Lo bantu-bantu gue di perusahaan aja Dim, jadi sekretaris. Yang sekarang gak becus, bisa nya cuma goda cowok doang." Celetuk Reza mengatakan kekesalan nya.
Pasalnya, sampai sekarang dia tak bisa memecat Stefanny dari perusahaan nya karena Marko belum dapat pengganti nya. Sialan, masa sih gak ada yang ngelamar jadi sekretaris CEO gitu, padahal perusahaan yang dia pegang itu perusahaan besar, tentunya gaji pun tak main-main.
__ADS_1
"Gue ngerasa gak pantes kali, Za. Gue cuma lulusan SMA." Ucap Dimas merasa rendah diri.
"Kagak masalah Dim, selama Lo niat kerja, terus kerja Lo bener, gue gak masalah. Nanti kalo udah sembuh bener-bener, Lo ke kantor gue aja."
"Thanks ya Za."
"You're welcome, bro. Yaudah, ayo makan. Mami gak kesini?" Tanya Reza.
"Mami di rumah, lagi gak enak badan katanya."
"Lah, terus Lo tinggal kesini gitu?" Tanya Reza keheranan.
"Ada bibi dari Ambon." Jelas Dimas, keluarga ibunya memang sedang berkunjung ke rumah.
"Ohh, yaudah deh. Makan dulu sebelum pulang, gue bawa bini ke kamar dulu, kasian dia kecapean."
"Kamu sudah menemukan kebahagiaan mu, Renata. Aku ikut senang melihat mu bahagia, meski tidak bersamaku. Maafkan aku, karena kebodohan dan keserakahan ku, aku menyakitimu." Batin Dimas, dia tersenyum kecut. Penyesalan nya masih tersisa, bahkan semakin dalam saat dia melihat Renata tersenyum.
Harusnya, dialah yang membuat nya selalu tersenyum. Tapi, dia hanya bisa memberi luka dan rasa sakit. Jadi, silahkan menikmati penyesalan mu Dimas. Ini adalah karma dari semua perbuatan mu di masa lalu.
Di penjara, Sila mulai sering berhalusinasi. Dia berteriak histeris, lalu tertawa jahat dan sedetik kemudian dia menangis sambil meminta maaf pada Renata.
"Aahahaha, aku berhasil membalaskan dendam mu Ibu, kau pasti bangga padaku kan Bu? Kau melihatnya kan, aku menghancurkan hidup anak pelakor itu Bu." Racau Sila sambil menatap lurus ke depan.
Tapi sedetik kemudian, dia menangis tersedu-sedu.
"A-aku tak punya siapapun lagi disini, aku kesepian. Renata, aku minta maaf." Gumam nya sambil terisak, tak jarang karena depresi nya dia sering mendapat bentakan dari teman satu sel nya.
"Bisa diam gak? Berisik tau gak!" Bentak mereka saat mendengar Sila menangis meraung-raung.
__ADS_1
"Harusnya Lo tuh yang diam, sesama kriminal harusnya saling menyemangati tau gak, malah main bentak-bentak aja." Cetus Sila sambil menatap lawan bicara nya dengan tajam. Membuat tahanan yang merasa lebih senior dalam hal di penjara itu naik pitam dan berdiri, dia menendang tubuh kurus Sila dengan sekuat tenaga hingga membuat nya terlempar cukup jauh.
"Udah berani Lo jawab ucapan gue ya, Lo tuh gak ada apa-apanya disini. Lo cuman anak ingusan psikopat!"
"Baru percobaan, apa kabar sama Lo yang udah berhasil hilangin nyawa orang hah?" Jawab Sila, membuat amarah nya semakin meledak. Dengan cepat dia menarik rambut Sila, hingga membuat kepala nya mendongak.
"Gua juga bisa ya lakuin hal yang sama kek Lo, selama ini gue diem karena menurut gue Lo tuh gak penting."
Tanpa ragu, Sila membalas jambakan itu hingga pergulatan antara sesama tahanan pun tak dapat di elakan lagi, hal semacam ini sudah sering terjadi dan sialnya, Sila selalu jadi korban, kemarin dia baru di pindah ke sel ini karena hal serupa.
Mereka saling memukul, hingga membuat sudut bibir Sila berdarah karena tamparan yang di layangkan lawan nya, Sila tak mau kalah dia membalas tamparan itu tak kalah brutal, hingga membuat wajah lawan nya babak belur, lebam dimana-mana. Untuk serangan akhir, dia menggigit punggung lawan nya sekuat tenaga, membuat nya menjerit kesakitan.
Sila berdiri sambil tersenyum sinis, dia menepuk tangan nya.
"Kau adalah korban ke dua ku hari ini, ada yang mau lagi? Aku masih punya tenaga untuk menghajar satu orang lagi." Tantang Sila, dia menatap tajam beberapa tahanan yang sedari tadi hanya diam menyaksikan pertarungan nya tanpa berniat menghentikan atau melerai. Apa peduli mereka, mungkin seperti itulah isi pikiran mereka.
Sila pun kalau tidak di pancing, dia takkan seperti ini. Dia membalas hanya untuk melindungi dirinya sendiri, untung saja dulu dia pernah belajar bela diri jadi dia bisa melindungi dirinya sendiri dalam keadaan mendesak.
Sila duduk, dan saat waktu makan siang, sipir datang dengan membawa piring berisi makanan penjara, yang sama sekali tak menggugah selera.
Hanya nasi yang di beri kuah tanpa rasa, tahu dan tempe goreng, tak ada daging, sayur ataupun ikan. Hanya itu saja, maklum lah dia adalah tahanan yang sedang menjalani hukuman akibat kejahatan nya.
Tapi, karena rasa lapar membuat Sila makan dengan lahap. Dia mulai merasa terbiasa dengan tempat ini, dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan nya saat ini. Meski jauh dalam lubuk hatinya, dia merutuki apa yang terjadi padanya saat ini. Dan sialnya, Leo malah berpihak pada Reza, kesaksian pria itu memberatkan nya.
"Hidupku yang indah sudah berakhir, sekarang inilah kehidupan ku."
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1