
Satu Minggu berlalu, kemarin Renata sudah di perbolehkan pulang karena luka jahit nya sudah mengering, hanya tinggal pemulihan saja.
Reza menyewa dua baby sitter terbaik untuk menjaga kedua buah hatinya, dia tak mau sang istri terlalu kelelahan karena menjaga anak-anak mereka yang doyan mengajak begadang.
"Mas, aku bisa kok jagain anak-anak sendirian." Ucap Renata.
"Maaf sayang, aku bukan nya gak percaya sama kamu. Tapi, aku gak mau kamu terlalu lelah menjaga anak kita sayang." Jelas Reza dengan lembut, dia mengusap rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Tapi mas.."
"Kenapa hmm? Aku sebenarnya gak suka saat kamu nolak ucapan aku, apapun yang aku lakuin itu semua buat kebaikan kamu sayang. Ngertiin aku ya? Aku gak mau kamu kecapean, itu aja."
Renata menghela nafas nya, benar kata suaminya. Dia harus menurut apapun kata suaminya, karena itu semua demi kebaikan nya.
"Baiklah Mas, tapi kalau malam salah satu dari mereka harus tidur sama kita ya?"
"Boleh sayang, tapi kalo aku lagi mode manja dua-duanya nya sama Nanny atau sama nenek, kakeknya ya." Ucap Reza memberi pengertian pada sang istri. Bukan hanya anak mereka yang butuh perhatian, dia juga. Dia juga ingin bermesraan dengan istrinya tanpa ada yang mengganggu.
"Terserah kamu aja, Mas."
"Kangen gak sama kamar ini?" Tanya Reza, saat ini keduanya tengah berada di kamar lama mereka di lantai atas.
"Iya Mas, beberapa bulan udah gak di tidurin rasanya hening banget ya."
"Karena sekarang kamu udah lahiran, kita pindah ke kamar ini lagi yuk?" Ajak Reza, membuat Renata tersenyum. Dia sangat setuju dengan usulan sang suami.
"Iya Mas, aku suka kamar ini."
"Kalo Mas sih ngajak pindah kesini itu karena kamar ini kedap suara, jadi mau teriak atau apapun kita bisa bebas." Jawab Reza dengan senyum genitnya.
"Ya ampun, Mas kamu mesuum banget."
"Bukan mesuum sayang, tapi normal. Lagian Mas harus berpuasa lama banget ya kan?"
"Iya, sampai masa nifas aku selesai." Jawab Renata, membuat Reza mengernyit.
"Berapa lama, yang? Kayak dateng bulan kan ya?" Mendengar pertanyaan polos dari suaminya membuat Renata tertawa geli.
"40 hari lho, Mas."
"Hah? Lama amat, selama 40 hari itu kamu ngapain aja sih?" Tanya Reza.
"Ya berdarah aja terus, kayak datang bulan."
"Aihh, kamu harus banyak makan biar darah kamu gak habis." Celetuk Reza membuat tawa Renata semakin kencang.
"Udah punya anak masih aja polos, Mas."
"Polos sama tukang polosin kamu lebih tepatnya, sayang."
"Pikiran kamu kesana terus deh perasaan."
"Kan gak tersalurkan sayang, duhh kepala aku nyut-nyutan." Keluh Reza, bukan hanya kepala atas yang nyut-nyutan, yang bawah juga. Hasraat yang tak tersalurkan itu membuat nya pusing atas bawah.
"Yaudah, aku pijitin yuk." Reza mengangguk lalu berbaring di ranjang, dan Renata langsung memijit kepala sang suami dengan lembut.
Setelah beberapa menit, Renata hanya menggelengkan kepala nya saat melihat ternyata Reza sudah tertidur nyenyak saking nyaman nya di pijiti sang istri.
__ADS_1
"Suami ku menggemaskan sekali.." ucap Renata, lalu turun dari kasur dan keluar dari kamar. Dia ingin ngemil salad buah, pasti akan sangat enak jika di makan siang-siang seperti ini.
Wanita itu menuruni anak tangga dengan perlahan, sedangkan di bawah dia sudah di sambut oleh senyuman hangat kakak ipar dan mama mertua nya.
"Sayang, dari mana?"
"Habis dari kamar atas Mom." Jawab Renata, membalas senyuman hangat kedua nya.
"Eza nya kemana? Perasaan tadi ke atas nya sama Eza."
"Iya, tapi Mas Eza nya tidur di atas Mom. Katanya sakit kepala terus Rere pijitin, ehh malah tidur." Jelas Renata.
"Dia kecapean mungkin sayang."
"Iya Mom, lingkar hitam di bawah mata nya gak bisa bohong." Jawab Renata dan mendapat anggukan dari mertua nya itu.
"Kamu tau gak, saat kamu di nyatakan kritis Reza udah kayak mayat hidup. Wajah nya pucat, pandangan mata nya kosong, seolah separuh hidupnya pergi."
"Iya, bahkan dia beberapa kali pingsan sampai berhalusinasi tentang kamu." Sambung Karina. Jelas saja membuat Renata terhenyak, separah itu kah keadaan suaminya saat dia beristirahat sejenak?
"Dia gak berhenti nangis lho, sampai-sampai Mommy kewalahan nenangin dia yang selalu nyalahin dirinya sendiri. Bahkan saat tahu rahim kamu harus di angkat, dia menangis kejer sampai membuat dokter terpaksa mengusir dia dari ruangan."
Renata menunduk lalu mengusap perut nya pelan, dia tak bisa lagi mengandung. Karena rahim nya robek dan tak bisa di perbaiki, dokter pun terpaksa mengangkat nya demi keselamatan nya.
Meski sakit saat mendengar kenyataan ini, tapi dia bisa apa selain mengikhlaskan? Semua nya sudah terjadi dan waktu tak bisa di ulang lagi, disini siapapun tak ada yang bersalah. Termasuk suaminya, tapi dia terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Tentu Ma, alasan apa yang membuat Renata tak baik?"
"Aahh syukurlah, jangan berkecil hati sayang. Kamu wanita yang hebat dan kuat, ibu Farish sama Faisha adalah yang terbaik." Ucap Mariska.
"Mbak juga wanita kuat kok, sekarang kita sama-sama tak punya rahim ya. Jadi, aku tahu apa yang mbak rasain."
"Jangan gitu dek, gak boleh gitu ya." Ucap Karina, dia mendekat dan memeluk adik ipar nya.
"Setidaknya kamu sudah punya dua malaikat kecil yang sangat berharga."
"Iya mbak."
"Kamu turun dari kamar pasti karena ingin makan salad buah kan?" Tebak Karina membuat Renata terkekeh.
"Iya mbak, kebayang aja terus itu salad."
"Yaudah, ambil aja gih ada di dapur. Mommy waktu itu buat banyak banget buat stok kamu."
"Wahh mommy memang yang terbaik, makasih ya Mom." Renata mengecup pipi sang mertua lalu pergi ke dapur dengan langkah riang.
"Kenapa ibu dua anak itu malah terlihat menggemaskan ya?"
"Gak tahu Mom, lihat aja Reza. Dia juga sama, tapi aura dewasa nya keluar banget ya kan?"
"Iya, kamu benar. Mereka terlihat dewasa, aura keibuan nya benar-benar terlihat." Karina menganggukan kepala nya, setuju dengan ucapan sang Mommy.
Tak lama kemudian, Renata kembali ke ruang tamu dengan satu box berisi salad buah dengan extra keju kesukaan nya. Kata dokter juga tak apa makan salad buah, hanya saja harus di batasi jangan terlalu banyak.
"Gak bosen ya makan salad buah terus?" Tanya Karina.
__ADS_1
"Enggak dong mbak, dulu sebelum aku nikah sama Eza, aku gak pernah makan salad buah. Pertama kali makan salad buah itu disini, setelah aku nikah sama Eza." Jawab Renata sambil tersenyum, membuat hati Karina mencelos.
"Kenapa gak pernah makan?"
"Hehe, bahan-bahan nya mahal kalo buat sendiri. Kalo beli harga nya nya mahal tapi dapetnya sedikit, aku kan harus irit. Gak boleh hamburin uang, kasian paman sama bibi aku di kampung." Jelas Renata.
"Sekarang kamu bisa makan itu sepuasnya ya, sampai bosan kalau perlu."
"Iya Mom, makanya ini jadi makanan favorit Renata. Makasih ya Mom, mommy baik banget sama Renata. Tapi Rere suka ngerasa, apa Renata gak tau diri ya?"
"Heh, kalo ngomong suka ngelantur. Mommy gak suka ya kamu bicara seperti itu, gak usah mikir macem-macem sayang." Bantah Mommy Mariska, toh dia menyayangi Renata dengan tulus tapi embel-embel apapun.
Kenapa dia begitu menyayangi Renata? Sudah pasti jawaban nya karena Renata adalah wanita pilihan putra nya, dia begitu mencintai Renata, jadi tak ada alasan apapun sebenarnya kenapa dia menyayangi menantu nya.
"Sayang.."
"Udah bangun Mas?" Tanya Renata saat melihat sang suami turun dari tangga dengan perlahan, dengan wajah bantal saja Reza tetap terlihat sangat tampan.
"Huum, aku cariin gak ada taunya malah makan."
"Emang kenapa? Apa aku gak boleh makan, Mas?" Tanya Renata, sedangkan Reza sudah merebahkan kepala nya di pangkuan sang istri, menduselkan wajah nya di perut Renata.
"Bukan gak boleh, tapi aku liatnya aja bosen. Apa kamu gak bosen makan salad terus, yang?"
"Enggak kok, salad buatan Mommy enak Mas. Kenapa?"
"Enggak sayang, kalau suka ya udah makan aja." Itulah Reza, apapun yang membuat istri nya senang pasti dia akan memberikan nya.
"Makasih, tapi jangan mendusel disitu dong. Ngilu, Mas."
"Eehh maaf sayang, mas gak tahu."
"Iya, makanya ini aku kasih tahu." Jawab Renata, membuat Reza terkekeh. Jika sudah berduaan pasti keduanya melupakan siapapun yang ada di samping mereka, dunia hanya terasa milik mereka berdua.
"Bucin teroos."
"Gak usah nyinyir, iri aja. Kasian ya Bang Nick nya udah balik lagi ke Amrik." Ledek Reza membuat Karina melengos.
"Gapapa, toh Minggu depan dia kesini lagi sama Chika." Jawab Karin tak mau kalah.
"Ya baguslah, jadi gak usah nyinyir lah ya. Kayak orang gak mampu, wkwk." Goda Reza lagi membuat mbak nya itu melotot.
"Husshh, kamu ini kalo ngomong suka berlebihan." Ucap Renata sambil menepuk pelan pundak suaminya.
"Farish sama Faisha mana?"
"Lagi di kamar nya sama Nanny nya, Mas. Kita kesana yuk?" Ajak Renata, Reza langsung bangun dari rebahan nya dan keduanya pun pergi ke kamar bayi dengan tangan yang saling bertautan mesra.
"Pegangan tangan aja terus, kayak orang mau nyebrang!" Cibir Karina.
"Orang iri mah gitu huhh, iri tanda tak mampu. Wlekk.." jawab Reza. Mariska menggelengkan kepala nya, dimana Karina yang pendiam dan jarang berinteraksi dengan adiknya? Kini tak ada, berganti dengan Karina yang banyak omong dan sering menggoda adiknya hingga tak jarang kedua nya bertengkar lalu marahan, dan disaat itu Renatalah yang akan membuat mereka berdua baikan.
Tapi mereka tak kapok, keesokan harinya pasti di ulangi lagi. Membuat Renata pusing kadang-kadang melihat tingkah kakak beradik itu, tapi di balik semua itu rasa saling menyayangi mereka sebagai adik dan kakak sangat besar.
......
🌻🌻🌻😍
__ADS_1
damai nya hidup Renata, gak pusing mikirin kreditan panci🥺