Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 6 Mertua dan menantu


__ADS_3

Stella merasa lebih baik setelah di pijat oleh Mbok Yam. Ibu mertuanya masuk kedalam, dan Mbok Yam pamit duluan.


Ibu mertuanya duduk disampingnya lalu menatap Stella dengan senyum sedikit sinis.


"Kami tidak tahu jika kau dari keluarga miskin. Jika aku tahu maka aku tidak akan merestui hubungan kalian. Kau tahu, berapa yang aku keluarkan untuk membiayai sekolah Alvin hingga dia bisa seperti sekarang. Bukan jumlah uang yang sedikit,"


"Bu, tolong, jangan bahas masalah itu lagi. Itukan sudah berlalu. Saya dan Mas Alvin saling mencintai," Stella sedih dan tertunduk. Ibu mertuanya selalu saja mengungkit rasa penyesalan menerima Stella sebagai menantunya.


"Kau bukan dari kalangan pegawai negeri. Aku punya cita-cita akan menjodohkan Alvin dengan sepupunya yang bekerja sebagai guru. Agar dia mendapatkan yang sederajat. Tapi kau merayu dengan kecantikan mu itu. Hingga anakku memilihmu sebagai istrinya. Tapi...belum cukup rasa kecewaku. Kau juga tidak bisa memberikan keturunan untuk kami. Lalu kau dengan santainya menghamburkan uang nafkah dari suamimu," pedas dan menusuk hati. Perkataan ibu mertuanya kerap dia dengar, tapi Stella tetap bersabar, karena suaminya mencintainya.


"Bu, Stella mohon, jangan ungkit masalah itu lagi. Sekarang, saya sudah jadi istri Mas Alvin. Dan semua sudah terjadi. Kenapa ibu terus mengungkit semua itu dan membuat hubungan kita jadi seperti ini," Stella mengusap airmatanya yang menggenang.


"Belum terlambat Stella. Kau bisa minta cerai dari Alvin. Biarkan suamimu menikah lagi dan punya anak,"


"Bu, pernikahan Stella juga baru dua tahun. Banyak kok mereka yang mendapatkan anak di usia lima tahun pernikahan," Stella berusaha membela diri dan memberikan pengertian pada pandangan sempit ibu mertuanya.


"Bu...." Tiba-tiba Alvin masuk.


"Saya besok akan pergi berlayar lagi. Aku nitip Stella ya Bu. Kakinya sedang sakit, dia kesulitan berjalan. Kalau bisa ibu menginap disini batang dua hari," kata Alvin meminta pada ibunya.


"Kalau ibu disini, lalu bagaimana dengan katering. Siapa yang akan memasak? Masa ibu harus rugi dua hari ngga jualan karena menunggui istrimu,"


"Mas, aku bisa sendiri. Aku ngga usah ditungguin sama ibu. Benar yang dikatakan ibu, nanti siapa yang akan memasak kateringnya," kata Stella dan dilirik dengan sinis oleh Ibu Mertuanya.


"Kamu jangan manja Stella. Kalau sudah di urut, pasti bisa untuk berjalan. Kalau kamu buat tiduran saja. Ya nanti malah lama sembuhnya," Kata Ibu Mertuanya dengan muka tidak suka dengan menantunya.


"Bu...kan Stella batu jatuh. Masa langsung disuruh jalan,"


"Bisa kok mas. Usah ngga sakit lagi. Mas ngga usah khawatir," kata Stella.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kalau kamu mau makan?"


"Kan sekarang ada aplikasi Mas. Aku tinggal pesan saja," kata Stella pada suaminya.


Tiba-tiba, ibu mertuanya bergumam lirih. "Dasar istri manja, sukanya menghamburkan uang suami. Makan saja minta diantar, kan harganya jadi mahal,"


Terdengar oleh Stella apa yang dikatakan ibu mertuanya meskipun lirih.


"Aku akan masak saja Mas. Kebetulan di kulkas masih ada sayur yang beli kemarin," ucap Stella demi menjaga perasaan ibu mertuanya.


"Ya sudah, ibu pulang saja. Kan kamu sudah mendingan. Ibu itu besok harus bangun pagi buat memasak,"


"Bu...ngga nginep sini?"


"Embah kedua adik kamu itu nanti siapa yang akan kasih uang. Mereka kan kerja sama ibu. Kalau ibu libur, mereka juga ngga dapat uang,"


"Ya sudah lah Bu, kalau begitu," Alvin tidak mau melawan ibunya yang kalau sudah bicara, berarti tidak bisa di ubah pendiriannya.


"Alvin antar ya Bu," kata Alvin pada ibu nya.


"Ngga perlu. Ibu bisa sendiri. Kamu urus saja istri kamu yang manja itu. Yang bisanya cuma dandan dan ngabisin duit lakinya," Ketus ibunya lalu pulang.


Alvin menggelengkan kepalanya dengan sikap keras ibunya. Yang hingga saat ini masih menentang pernikahan ini hanya karena didalam keluarga Stella tidak ada yang menjadi pegawai negeri dan hidupnya sukses.


Tapi Alvin terlanjur jatuh cinta pada Stella. Dan tidak mempedulikan status keluarganya.


Sedangkan, perselingkuhan yang dilakukan Alvin, tidak ada sangkut pautnya dengan kemiskinan Stella. Dia melakukan semua itu karena jauh dari istrinya.


Stella menolak saat diajak berlayar dan memilih tinggal di Jakarta di rumah milik Alvin.

__ADS_1


Dan dia bekerja meniti karir di PT Jakerson. Sampai saat ini, Alvin merahasiakan kehadiran wanita lain selama dia berlayar. Semua itu agar Stella tidak sakit hati dan meninggalkanya.


Dia harus merahasiakan perselingkuhan nya sampai kapanpun. Stella tidak boleh mengetahui nya. Bagaimanapun dia mencintai Stella. Dan dengan Nungky, hanya sebagai pemuas hasrat saja, tidak lebih dari itu.


Alvin lalu masuk kedalam dan tersenyum saat bertatapan dengan mata istrinya.


"Maafkan ibuku. Sikapnya sudah melukai perasaan mu,"


"Ngga papa Mas. Aku sudah terbiasa,"


Suaminya lalu merebahkan dirinya di samping istrinya dan tidur. Ini adalah malam terakhirnya di Jakarta.


Sementara, di hotel, Nungky sedang berkemas dan memasukkan beberapa bajunya kedalam koper.


"Sial! Dia membuat aku kesepian malam ini!"


Nungky melempar beberapa baju dengan kasar ke dalam koper.


Lihat saja. Setelah aku punya anak nanti. Kamu akan aku buang dari kehidupan Mas Alvin.


Aku akan menjadi istri sahnya. Dan kamu akan menjadi istri simpanannya.


Hanya aku yang akan di akui oleh keluarganya. Dan kamu? Tidak akan berguna sama sekali.


Wanita tidak berguna. Kau tidak bisa punya anak. Kenapa tidak minta cerai saja?! Dasar bodoh!


Nungky terus mengumpat sendirian. Dia punya rencana jahat untuk menyingkirkan Stella.


Dengan rencananya hamil anak dari Alvin maka kedudukannya tidak bisa diremehkan lagi.

__ADS_1


Istri sahnya hanya akan menjadi pajangan dan tidak akan berguna lagi suatu saat nanti.


Tunggulah hari itu tiba. Kau sudah membuat aku kesal beberapa hari ini!


__ADS_2