Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 97 IRS


__ADS_3

Siang harinya, Sila pulang dengan wajah berseri-seri. Setelah mendapat kepuasan yang membuatnya melayang menembus langit ke tujuh, dia juga mendapat uang yang fantastis atas pelayanan nya semalam.


Hasraat seorang Kenzo memang gila, dia bisa bermain puluhan ronde dalam satu malam, aneh nya setelah meledak senjata nya hanya akan menyusut sebentar, tak sampai 5 menit junior nya itu akan kembali berdiri tegak seperti tongkat. 


Sila kadang kewalahan menghadapi nafsuu Ken, tapi saat membayangkan barang-barang mewah yang akan berhasil dia beli dengan uang dari Ken membuatnya kembali bersemangat dan menahan rasa perih di inti nya karena hujaman Ken.


Baru saja Sila membuka pintu, dia sudah di hadapkan dengan tatapan membunuh dari sang suami, siapa lagi kalau bukan Dimas. 


Pria itu terduduk dengan kaki yang di angkat ke atas meja, dia melayangkan tatapan membunuh pada istrinya.


"Puas main nya, sampe gak pulang?" Tanya nya dengan datar.


"Puas, sangat puas. Ken adalah pria perkasa yang mampu memuaskan aku, tak seperti dirimu baru satu ronde sudah loyo!" Ejek Sila membuat amarah Dimas meledak.


"Tapi tidak begini caranya, Sila. Kau istriku, tak seharusnya kau menghianati ku dengan bermain dengan bos di perusahaan tempat suami mu bekerja!" Bentak Dimas, namun Sila malah tersenyum meremehkan.


"Sejak awal sebelum kau dan aku bekerja disana, Ken sudah menjadi kekasih gelap ku, Dimas. Bahkan orang yang kau lihat sedang bercintaa denganku hari itu pun adalah Ken." Cetus Sila membuat kedua mata Dimas membeliak, pantas saja dia merasa tak asing saat pertama kali melihat Ken di kantor. 


"Ohh ya, tentang berhianat. Kau juga berhianat pada Renata, istri bodooh mu itu. Kau tak merasa bersalah bukan? Begitu juga aku. Kau di butakan nafsuu, aku juga sama." 


"Sila.."


"Marah? Aku tak peduli, karena tujuan awal ku mendapatkan mu hanya sebatas dendam, bukan cinta!" Ucap Sila dengan senyum meledek, membuat Dimas cengo. Apa maksudnya?


"Dendam apa yang kau maksud, hah?" 


"Dendam yang aku bawa dari masa lalu, kau tak perlu tau. Sejak awal aku memang berniat menghancurkan Renata dengan perantara dirimu, Dimas." Semakin melotot saja Dimas di buatnya.


"Kau hanya alat untuk membalas dendam pada Renata, Dimas. Jadi harusnya kau tak perlu berharap banyak padaku, aku tak pernah mencintaimu. Aku akan berfikir belasan kali untuk mencintaimu, apa yang bisa aku harapkan dari pria kere sepertimu?" Ejek Sila, membuat Dimas gelap mata.


"Sial.." Dimas mencekik leher Sila.


"Kau ingin membunuhku? Silahkan, misi ku selesai. Membuat Renata menderita, bahkan aku yang sudah menyuruh orang untuk mendorong Renata dari eskalator." Ucap Sila dengan senyum smirk nya, membuat Dimas kehilangan kendali begitu mendengar ucapan Sila.


Dia memperkuat cengkraman tangan nya di leher Sila, hingga membuat nafas wanita itu tersengal.


"Lepaskan aku sialan, kau membunuhku."


"Ya, kau sudah terlalu banyak menyakiti Renata, kau pantas mati." Jawab Dimas, mengabaikan tangan Sila yang meronta-ronta minta di lepaskan. Namun sepertinya Dimas tak peduli dan tetap mencekik leher Sila dengan kuat.


Dimas ingin sekali membunuh istri laknat nya, namun sebelum itu bel pintu apartemen terdengar.


Pria itu melepaskan tangan nya dari leher Sila dan seolah tanpa rasa bersalah, dia langsung berjalan membuka pintu. Sedangkan Sila nampak mangap-mangap menghirup oksigen. 


Kedua mata nya melotot saat melihat beberapa orang anggota polisi datang dengan membawa surat perintah penangkapan pada istrinya.


"Kami membawa surat perintah penangkapan, tuan."


"Untuk siapa?" Tanya Dimas.


"Nona Sila Derkain." 


"Ya, masuklah dia ada di dalam." Jawab Dimas datar, dengan santai bergeser ke samping memberi akses pada 3 anggota kepolisian itu untuk masuk dan membawa istrinya.


"Ada apa mencari saya pak?" Tanya Sila yang masih terduduk di lantai.


"Anda kami tangkap dengan tuduhan percobaan pembunuhan pada seseorang."


"Saya tidak melakukan hal yang di tuduhkan Pak, ini pasti kesalahan." 


"Anda bisa menjelaskan nya di kantor, silahkan ikut kami." Jawabnya membuat Sila terpaksa harus ikut.


Dengan kedua tangan di borgol, Sila berjalan di giring tiga anggota polisi, membuat semua orang yang berpapasan dengan nya menatap nya dengan tatapan aneh. 


Sedangkan Dimas, dia seolah tak peduli apapun lagi pada wanita itu. Rasanya sudah hilang pada wanita yang sayangnya adalah istrinya. Istri yang dia dapat dengan menghianati istri lain. 


Seketika dia merasa menyesal karena sudah menyia-nyiakan Renata, dia istri yang baik namun dia terlalu serakah dan gegabah dalam mengambil keputusan, menyesal sekarang tak berguna.

__ADS_1


Apalagi saat ini Renata sudah menjadi istri teman nya sendiri, Reza. Dia ingin marah dan berteriak pada lelaki itu, kenapa dia merebut Renata darinya? Tapi itu tak mungkin melakukan nya, karena dari awal dia yang sudah melepas Renata demi Sila. 


Ucapan Reza kembali terngiang-ngiang di telinga nya.


'Kau membuang sebongkah berlian demi seonggok kotoran di pinggir jalan.'


'Sulit memang meyakinkan lalat bahwa bunga lebih indah dari pada sampah.' 


Kata-kata Reza yang kini dia benarkan, dirinya tak ubahnya seekor lalat yang memuja sampah dari pada bunga. Saat ini dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri, bodooh.


Author be like ; bodoh sampai ke tulang Lo mah, Dim.


Kini saatnya dia merenungi kesalahan yang sudah dia perbuat pada Renata, seolah semuanya terbalik. Apa yang sudah dia lakukan pada Renata kini menimpa dirinya. 


Dia yang selingkuh, menghianati Renata dan dengan terang-terangan melakukan perselingkuhan bahkan di depan mata sang mantan istri, kini dia mengalami nya. 


Kini dia tahu rasa sakitnya di hianati, dia harus meminta maaf pada Renata, tapi bagaimana caranya? Dia mungkin tak mau lagi melihat wajahnya, karena melihat nya saja pasti akan membuat Renata mengingat rasa sakit yang sudah dia torehkan di hatinya.


"Maafkan aku, Renata. Aku menyesal.." gumam Dimas, tanpa terasa air mata nya menetes begitu saja. 


Jika saja dia memilih setia pada Renata dan tak mengindahkan rayuan Sila, pasti dia sudah bahagia bersama Renata saat ini. Aahh membayangkan wajah teduh dan penuh kasih sayang Renata membuat hati nya berdenyut nyeri.


"Aahh sial sial sial, kau laki-laki paling brengseek Dimas!" Pria itu mengamuk dengan membanting barang-barang yang ada di dekatnya. Hingga membuat ruang tamu yang tadinya rapih dan bersih kini bagaikan kapal pecah. 


Bahkan saya Dimas berjalan dia tak sengaja menginjak pecahan kaca hingga kaki nya terluka dan mengeluarkan darah yang sangat banyak, namun seolah mati rasa, Dimas bahkan tak meringis atau merasa kesakitan, dia melanjutkan langkah nya ke kamar untuk mengambil pakaian. 


Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan akan menggugat cerai Sila, menceraikan wanita itu. 


Dimas menggendong tas ransel nya di punggung, lalu berjalan dan memakai sendal. Motor nya sudah dia jual untuk memenuhi keinginan Sila yang merengek meminta tas branded waktu itu. Jadi saat ini dia benar-benar seperti gelandangan. 


Tak punya tempat tinggal, semua orang sudah membenci nya termasuk Mami nya, karena keputusan gila nya melepaskan Renata demi Sila.


Kini dia tahu kenapa Mami nya tak menyukai Sila, bahkan dari awal pertemuan ternyata inilah jawaban nya. Orang tua nya tak salah memilihkan wanita untuk pendamping nya, namun otak nya yang tak berfungsi membuatnya bodooh dan memilih membuang berlian demi batu kerikil dalam kubangan lumpur.


Kalau orang pintar, pasti dia akan memilih berlian karena harga jual nya tinggi, sedangkan kerikil? Aaahh sudahlah, takkan ada habisnya jika terus membahas perbedaan berlian dan batu kerikil, beda kasta. 


Dia masuk dan mengambil dua botol minuman dingin dan membayar nya, dia duduk di bangku depan minimarket dan meminum minuman itu. 


Saat mata nya tak sengaja melihat siluet seseorang yang tak asing, Dimas segera berlari mengejar nya dan setelah berhasil dia melihat wanita itu mengernyit dengan tatapan heran. 


"Dimas.." 


"Haii, apa kabar Renata?" Tanya nya sambil tersenyum manis.


"Ohh hai, aku baik. Kamu apa kabar?" Dia tersenyum kaku, senyum yang siapapun dapat melihat bahwa itu senyum paksa.


"A-aku juga baik, seperti yang kau lihat." Jawab Dimas seadanya, fisik nya memang baik-baik saja, hanya hatinya yang saat ini merasakan sesak luar biasa saat melihat wanita yang sudah dia sakiti.


"Re, bisakah kita mengobrol berdua?"


"Untuk apa? Aku takut suamiku salah paham." Jawab Renata merasa ragu. Hati Dimas berdenyut nyeri saat mendengar kata 'suami' yang meluncur bebas dari mulut Renata.


"Aahh ya, aku lupa kalau kau sudah menikah kembali."


"Iya, tapi kalau hanya sebentar tak masalah. Ayo kita ngobrol di dalam saja," ajak Renata, dia membuka pintu dan masuk ke cafe. 


Dimas ingat, di cafe inilah pertama kali Renata melihatnya bersama Sila. Mengingat itu membuat Dimas tersenyum kecut, kebodoohan nya sudah mendarah daging.


Renata duduk, diikuti Dimas yang ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Renata.


"Mau ngomong apa? Aku gak bisa lama-lama, Suami aku mau jemput kesini. Aku gak mau dia salah paham karena aku ngobrol sama kamu." Jelas, wanita itu merasa khawatir, dia tau dari sorot mata wanita itu.


"Aku hanya ingin minta maaf atas semua kesalahan ku dulu." 


"Kenapa? Apa Sila mencampakkan mu?" Tanya Renata datar, membuat Dimas mendongak seketika.


"Ya, dia menghianatiku dengan bermain di belakang ku. Selingkuhan nya itu bos di perusahaan tempat aku bekerja." Jelas Dimas lirih, membuat Renata ingin sekali tertawa namun dia juga ikut merasa prihatin dengan apa yang Dimas alami.

__ADS_1


"Sudah kuduga, aku harap setelah ini otak mu lebih berfungsi. Bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang hanya memanfaatkan dan mana yang tulus. Aku harap setelah apa yang terjadi padaku, kau tidak pernah menyakiti wanita lain, cukup aku korban keserakahan mu." 


"I-iya Re.." lirih Dimas, suaranya nyaris tak terdengar.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi untuk melupakan seperti nya tidak mungkin. Luka yang kau toreh begitu dalam, membuat aku trauma hingga membuat suamiku menunggu lama. Tapi beruntung nya, dia adalah laki-laki yang baik dan penyabar, dia mengerti bahwa aku butuh waktu."


Mendengar ucapan Renata yang secara langsung membanggakan suaminya membuat hati Dimas terasa panas.


"Kamu sudah bahagia ya sama Reza?"


"Sangat, memang nya kenapa aku tak bahagia? Reza adalah pria yang sangat baik, mungkin seharusnya dari awal aku menyukai nya dari pada menyukai laki-laki yang tak pernah menganggap aku ada." Sindirnya membuat Dimas tersenyum getir.


"Selamat atas pernikahan mu, semoga kebahagiaan mu selalu menyertaimu. Meski bahagiamu bukan bersama ku."


"Terimakasih Dimas, kau juga berhak bahagia. Carilah wanita yang baik, yang mampu membuatmu berubah." Ucap Renata. Pria itu mengangguk pelan.


"Kamu sedang hamil?" Tanya Dimas, tadi tak sengaja dia melihat perut Renata yang sudah sedikit membuncit.


"Ya, bulan ini menginjak usia ke empat dan kamu tahu, aku hamil kembar seperti impian ku." 


"Benarkah? Wahh selamat, Renata. Semoga saat lahiran nanti di lancarkan." Ucap Dimas dengan antusias.


"Aamiin." Renata mengaminkan doa Dimas, dia tahu kalau pria itu tulus dengan doa nya.


Tak lama, ponsel Renata berbunyi. Wanita itu tersenyum manis saat melihat siapa yang menelpon nya.


"Hallo sayang, sudah sampai dimana?" Tanya Renata dengan nada manja. 


'Aku di luar, Sayang. Tapi aku lihat kamu sedang bersama seseorang, jadi aku menunggu di luar saja, takut mengganggu.' jawab Reza, padahal dalam hatinya dia sangat ingin masuk dan menghajar Dimas.


Untuk apa lagi dia menemui Renata setelah menyakiti nya tanpa ampun? Begitulah isi otak Reza saat ini.


"Yaudah, aku keluar ya. Nanti aku jelasin okey, mau di pesenin kopi?" 


'Gak usah sayang, langsung pulang aja aku kangen sama anak kita.' jawab Reza.


"Aku matiin deh kalo gitu, aku kesana sekarang." Panggilan pun terputus, Renata mengambil tas nya dan menenteng nya.


"Aku duluan ya Dim, Suami aku udah nunggu diluar."


"Ya, hati-hati Re." Renata hanya mengangguk lalu pergi dengan langkah terburu-buru.


Dari dalam, dia bisa melihat bahwa Renata langsung masuk ke dalam pelukan Reza. Sedangkan pria itu langsung menyambut nya dengan kecupan-kecupan singkat yang membuatnya kembali merasakan sesak di dada nya. Terlambat, ya dia sudah sangat terlambat.


"Sayang, aku mau jelasin apa yang tadi kamu lihat. Jadi Dimas itu…"


"Gak usah sayang, aku percaya sama kamu." Potong Reza, bukan tak mau mendengar penjelasan sang istri, tapi karena dia sangat mempercayai istrinya.


"Sayang.."


"Apapun yang kamu lakukan, kamu pasti mempertimbangkan nya dengan baik. Aku percaya kamu takkan berbuat macam-macam, jadi tak perlu menjelaskan apapun karena aku percaya padamu, sayang."


"Terimakasih sayang, kita pulang ya?" 


"Ayoo, kak Karina pulang hari ini sayang." Ucap Reza membuat Renata antusias karena akan bertemu dengan kakak ipar nya, seperti apa rupa wanita itu dia sama sekali tak tahu.


Reza pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, seperti biasanya Renata pasti ngedumel karena merasa bosan dan lama di jalan, tapi lagi-lagi Reza pasti bisa membungkam mulut sang istri dengan alasan mengkhawatirkan bayi mereka.


......


🌻🌻🌻🌻


masih belum selesai, apalagi buat kau Sil😑 author nya kek punya dendam sama si Sisil😏


....


author mau rekomendasi novel karya temen author nih, jangan lupa mampir yaaw☺️🌻

__ADS_1



__ADS_2