Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 42 IRS


__ADS_3

Dimas semakin mendekatkan wajah nya, Renata memejamkan mata nya, sedetik kemudian bibir tebal milik Dimas sudah menguasai bibir mungil milik Renata, melumaat dan memagutt bibir kemerahan itu dengan lembut namun semakin lama terasa semakin menuntut. 


Renata membalas setiap lumataan yang di lakukan Dimas di bibirnya, meski terkesan kaku namun dia bisa mengimbangi permainan bibir Dimas. 


Setelah beberapa menit, kedua nya melepaskan ciuman mesra mereka, Dimas menyatukan kening nya, sedangkan Renata kelimpungan dan mengambil udara sebanyak-banyaknya. 


Dimas mengusap lembut rambut Renata, lalu kembali melayangkan ciuman mesra, kali ini tangan nya mulai menyusup ke dalam pakaian tipis yang di pakai istri nya itu, meremass lembut bongkahan sintal milik Renata. 


Dimas sedikit mendorong Renata, hingga perempuan itu terjatuh di ranjang dengan dia berada di atas. Renata menyudahi ciuman nya, dia sedikit kaget saat tangan Dimas menyentuh aset kembar miliknya. 


Dimas menatap wajah cantik perempuan yang berada di bawah kungkungan nya, mengulas senyum manis yang membuat wajah Renata bersemu kemerahan.


"Kamu siap kan?" Renata mengangguk ragu. 


"Tapi pelan-pelan, Mas." 


"Iya sayang, aku akan pelan." Jawab Dimas, dia melucuti semua kain yang menempel di tubuhnya, hingga celana boxer yang sedari tadi mengurung batang miliknya pun turut melayang ke lantai. 


Renata menelan saliva nya dengan kasar, sebagai wanita yang tak lagi polos, dia tau kenapa benda memanjang di antara paha suaminya itu berdiri tegak, namun sayang tak seperti keadilan. 


Melihatnya Renata bergidik, dia ingat ketika pertama kali benda itu masuk ke dalam inti nya yang bersegel, benda itu sangat perkasa mengoyak selaput dara nya hingga robek dan meninggalkan banyak rasa sakit dan penyesalan. 


Dimas kembali menindih tubuh Renata, dia membuka pakaian dinas yang di pakai istrinya, lalu tanpa berkata apapun dia melahap habis puncak kemerahan di gunung kembar yang kenyal dengan buas nya, seperti bayi yang kehausan. 


"Aassshh, pelan-pelan dan jangan menggigit nya, Mas." Pinta Renata disela lenguhaan nya. 


Sambil menyusu, tangan nya bergerak turun hingga meraba gundukan yang di hiasi bulu-bulu tipis itu. 


"Kamu sudah basah, padahal kita belum apa-apa." Goda Dimas. Setelah merasa cukup dengan pemanasan nya, Dimas mulai mengarahkan batang miliknya ke arah lubang kecil milik Renata. 


Hanya dengan satu kali hentakan saja, batang milik Dimas tenggelam sempurna di inti sempit milik Renata. Perempuan cantik itu meringis, dia merasa sakit, perih juga ngilu, namun sakit dan perih nya tak seperti saat pertama kali benda itu masuk.


Dimas mengecup kening Renata dengan lembut, lalu mulai bergerak pelan agar milik sang istri terbiasa lebih dulu. 

__ADS_1


"Aaahhh.. aahhh Mas.." Renata mulai mendesaah, membuat Dimas mengerti bahwa istrinya mulai menikmati permainan nya, dia mulai meningkatkan tempo kecepatan nya, membuat Renata megap-megap karena tak tahan dengan rasa geli yang terasa menggelitik bagian dalam nya. Dan..


"Aaaahh Mas, aku pipis.." Dia memekik saat merasakan ada cairan hangat yang terasa keluar dari inti nya, dia kira dia pipis, namun nyatanya bukan pipis biasa. 


"Pipis enak, Sayang? Mas lanjut ya, masih kuat?" Renata mengangguk setelah berhasil mengatur nafas nya. 


Dimas belum bergerak, dia sangat menikmati sensasi saat batang miliknya terasa di remas-remass oleh kedutan manja sisa pelepasan istrinya itu. 


"Bergerak Mas!" Pinta Renata, dengan senang hati dia kembali menggoyangkan pinggul nya dengan semangat. 


Perlakuan Dimas kali ini jauh berbeda dengan malam petaka itu, mungkin karena waktu itu Dimas di pengaruhi alkohol yang membuat nya hilang kendali atas dirinya sendiri. Namun saat ini, dia benar-benar melakukan nya dengan sangat lembut.


"Aaarrgghh Sayang!" Dimas memekik saat gelombang klimakss datang menghantam nya, dia menyemburkan benih-benih nya di rahim Renata, membuat inti perempuan itu banjir karena cairan pelepasan yang bercampur. 


"Terimakasih Sayang, aku sangat menikmati nya." Dimas mengecup kening Renata, dia tersenyum lalu meraih nya ke dalam pelukan, mendekapnya erat. 


"Sama-sama, Mas." Jawab Renata. Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia kembali berbaring di samping Dimas. Keduanya pun tertidur dengan posisi saling memeluk di tengah malam yang dingin, berbagi kehangatan di bawah satu selimut yang sama. 


Renata tersenyum, lalu bangkit dari rebahan nya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa keramas wajib, sebelum memulai hari nya sebagai seorang istri. 


Renata mulai berpikir akan memasak menu apa untuk sarapan pagi ini, hanya ada beberapa potong daging ayam sisa di masak rica-rica kemarin. 


"Masak apa ya? Gak ada sayur," gumam Renata, dia mengetuk-ngetuk dagu nya sebelum dia berbinar karena suara tukang sayur keliling terdengar memanggil ibu-ibu. 


"Ibu-ibu sayur.." teriak nya setiap pagi, Renata langsung keluar dan menunggu di teras kontrakan nya. 


"Sayur Neng?" 


"Iya Bang." Jawab Renata. Tukang sayur itu pun mulai di kerubungi oleh ibu-ibu yang memilih aneka sayuran. 


"Pengantin baru muka nya cerah banget ya Ibu-ibu, mana rambut nya udah basah pagi-pagi gini." Goda salah satu ibu paruh baya pada Renata. 


"Maklum lah lagi doyan-doyan nya ya kan?" 

__ADS_1


"Apalagi suami nya cakep, cocok lah sama-sama cakep." Timpal yang lain, membuat Renata tersenyum malu. 


"Belanja apa, Yang?" Tiba-tiba saja Dimas keluar denga handuk yang masih melingkar di leher nya, di pastikan dia juga habis mandi sekalian keramas. 


"Kompakan keramas ya.." 


"Wahh fiks sih ini." Ujar yang lain sambil terkekeh, puas menggoda pengantin baru.


"Gak usah malu Nak, kami juga waktu muda ya begitu, nambah terus." 


"I-iya Bu." Jawab Renata sedikit terbata, wajah nya sudah merah Semerah kepiting rebus. 


"Ini udah bang, di total ya." 


"Cabe merah naik Neng, jadi 6500 seplastik." Ucap Abang pedagang sayuran itu. 


"Gapapa bang, itu kebutuhan wajib soalnya gak enak kalo makan gak ada sambel." Bukan Renata yang menjawab, namun Dimas yang ikut nimbrung. 


"Wahh dedek gemes suka makan pedes ya." 


"Suka dong Bu." Jawab Dimas sambil tersenyum manis. 


"Total nya 48 ribu Neng." 


"Di bayar tunai ya Bang." Dimas meletakan uang di gerobak dagangan sayur itu. 


"Mas, tapi aku masih ada uang nya." 


"Gapapa, udah cepet masak. Mas laper," jawab Dimas sambil mengusap-usap perut nya, Renata pun menurut dan kedua nya berjalan bersisian, dengan Dimas yang merangkul manja pundak istrinya. Terlihat seperti pasangan suami istri yang harmonis. Tak ada yang tahu kalau pernikahan ini terjadi akibat kesalahan satu malam yang mengharuskan kedua nya menikah secara paksa. 


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2