
Malam ini adalah malam pertama bagi Renata dan Dimas, namun tak ada yang istimewa, tak ada raut kebahagiaan di wajah sang pria.
Mami Erika sudah pulang, begitu juga Paman Calvin dan Bibi Clarissa, juga Monica. Ketiga nya memutuskan untuk pulang karena suatu alasan, namun Renata bisa menangkap raut ke kecewaan di wajah bibi dan paman nya.
Beberapa kali Renata meminta maaf pada keduanya, namun paman dan bibi nya itu hanya diam hingga memutuskan untuk pulang tanpa berbasa-basi lagi, pada Renata maupun pada Dimas.
Tentu saja itu membuat Renata merasa bersalah, namun dia tak bisa apa-apa.
Dimas masuk ke dalam kamar dengan wajah kusut, dia membuka kemeja putih juga celana bahan yang sedari tadi dia pakai, membuat Renata menelan ludah nya kasar.
Bagaimana tidak, pemandangan di depan mata nya sangat membuat nya tergoda, perut dengan enam roti sobek yang berjejer rapih, otot-otot tangan nya menonjol dan jangan lupakan sesuatu yang menggembung di balik celana boxer nya.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Kau tergoda dengan tubuhku?" Tanya Dimas membuat Renata menggeleng kan kepala nya dengan cepat.
Dimas terkekeh melihat Renata yang nampak malu-malu, wajah nya memerah karena ketahuan memerhatikan tubuh Dimas.
"Kenapa belom tidur, nungguin?" Tanya Dimas lagi, dia duduk di kursi meja belajar milik Renata dengan tatapan mata yang terus menatap istrinya dengan intens.
"Emmm, bisakah aku bicara? I-ni tentang pernikahan kita."
"Bicara saja Re, aku masih seperti yang dulu. Kau terlihat canggung sekarang, kenapa? Apa karena sekarang aku suami mu?" Renata mengangguk, membuat Dimas tergelak.
"Dengar, pernikahan kita terjadi karena kesalahan. Jadi jangan harap aku akan mencintaimu." Ucap Dimas membuat Renata menganga.
"Dimas, ini pernikahan bukan permainan yang bisa seenaknya kita mulai dan kita akhiri, kamu sudah mengucap janji di depan Allah."
"Aku tahu Re, tapi aku benar-benar tak bisa menjalani hubungan ini. Ini terlalu tiba-tiba untukku!" Ucap Dimas.
"Jangan egois Dimas, kamu pikir kamu saja yang merasa seperti itu? Aku juga, Dimas! Kemarin aku masih baik-baik saja, tapi tadi malam? Kegadisan ku hilang, lalu sekarang? Status ku berubah."
"Belajarlah menerima pernikahan ini, Dimas! Aku tahu kamu bukan pria sebejat itu yang akan meninggalkan seorang perempuan setelah kau rusak!" Sindir Renata lalu pergi ke kamar mandi, masih dengan kebaya yang tadi dia pakai saat acara akad. Namun siger nya sudah di buka karena Renata mengeluh pusing karena siger nya cukup berat.
Ucapan Renata membuat hati nya sedikit tercubit, bagaimana pun sekarang Renata adalah istrinya dan dia yang sudah merusak Renata hanya karena emosi yang menguasai dirinya.
Tak ada salahnya menerima pernikahan ini kan? Dia harus bisa menerima Renata sebagai istrinya.
Tak lama, Renata keluar dari kamar mandi dengan piyama pendek bermotif beruang. Rambut nya nampak basah.
"Habis mandi? Mandi malem-malem." Tanya Dimas.
__ADS_1
"Gerah, kamu gak mandi?" Balik tanya Renata sambil mengusap handuk kecil di kepala nya.
"Mau sih, tapi gak ada baju ganti."
"Yaudah, aku siapin dulu air hangat nya." Renata kembali masuk ke kamar mandi dan tak lama keluar lagi.
"Cepet mandi, keburu air nya dingin. Pakaian nya biar aku yang siapin." Dimas hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Renata ingat bahwa Dimas pernah ketinggalan kaos dan ****** ***** sewaktu mengantarkan nya pulang dan hujan, jadi dia mandi di kost an Renata.
Dia menemukan nya dan meletakan nya di atas kasur, dia memilih keluar kamar, tenggorokan nya terasa kering.
Dimas keluar dari kamar mandi, dia melihat pakaian nya sudah di siapkan di atas kasur, dia tersenyum kecil. Lalu mengambilnya dan memakai nya.
Dimas celingukan, namun dia tak menemukan Renata di dalam kamar, dia memutuskan keluar dan pergi ke dapur, benar saja Renata ada di sana.
Renata melihat suami nya keluar dari kamar, dia langsung menyodorkan secangkir kopi hitam di depan Dimas.
"Makasih."
"Sama-sama, Mas." Jawab Renata, membuat Dimas yang sedang menyeruput kopi nya langsung tersedak.
Uhukk.. uhukk..
"Kamu ngapain manggil aku pake sebutan Mas?" Tanya Dimas.
"Emang nya kenapa kalau aku manggil suami aku dengan sebutan Mas?"
"E-ehh iya juga sih, kita kan suami istri ya." Cetus Dimas sambil cengengesan.
"Mau makan?" Tanya Renata. Dimas langsung mengangguk, sejak tadi pagi dia belum makan apapun karena merasakan canggung luar biasa.
"Sebentar, aku hangatin dulu lauk nya."
'Enak juga ya punya istri, mandi ada yang nyiapin air hangat, baju di siapin, makan juga di siapin, tidur juga ada yang nemenin. Tapi berasa canggung aja kalo nikah sama sahabat sendiri.' Batin Dimas.
"Ini Mas, seadanya dulu ya. Aku belum belanja lagi, soalnya belum gajian." Ucap Renata, gadis itu sudah mulai bekerja paruh waktu di salah satu cafe sebagai pelayan, gaji nya lumayan lah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Gapapa, makasih istriku."
__ADS_1
Renata tiba-tiba tergelak, membuat Dimas mengernyitkan kening nya heran.
"Kok tiba-tiba ketawa, apa ada yang lucu?" Tanya Dimas.
" Aku geli dengernya, Mas."
"Iya sih, geli ya." Kedua nya pun terkekeh bersama.
Setelah selesai dengan makan malam nya, saat ini Dimas dan Renata sudah berbaring di kasur dengan posisi berdempetan karena kasur nya yang sempit, hanya muat untuk satu orang.
"Re.."
"Iya, kenapa?"
"Aku akan coba menerima pernikahan kita dan mencoba membuka hatiku untukmu." Celetuk Dimas. Membuat Renata berbinar.
"Terimakasih Mas, kalau begitu kita tidur?"
"Tidurlah, atau mau main kuda-kudaan dulu?" Tanya Dimas nakal, wajah Renata memerah karena godaan Dimas.
"Isshh waktu itu kan udah."
"Ya kan waktu itu mah aku gak inget masukin nya, nyobain main nya pas aku lagi sadar." Jawab Dimas, membuat Renata semakin memerah saja.
"Issshh enggak dulu, takut sakit kayak waktu itu."
"Beneran sakit ya?" Tanya Dimas, kini dia berbaring miring menatap wajah cantik istrinya.
"Sakit lah, kalo gak sakit mana mungkin aku jalan nya ngangkang, tadi aja aku jalan nya masih ngilu." Jawab Renata, membuat Dimas semakin merasa bersalah. Apalagi dia yakin, dia sudah melakukan nya dengan sangat kasar. Bahkan pipi Renata saja masih lebam dengan sedikit luka di ujung bibirnya.
"Aku minta maaf, aku hilang kendali sampe nyakitin kamu."
"Gapapa kok, yang penting kamu tanggung jawab. Udah, sekarang tidur."
"Kamu juga tidur, besok kita berangkat ngampus bareng ya?"
"Iya," jawab Renata singkat lalu mulai memejamkan mata nya.
Dimas melingkarkan tangan nya di pinggang Renata, memeluk gadis itu cukup erat, menarik selimut hingga ke bahu gadis itu. Keduanya pun tertidur dengan saling memeluk, melupakan sejenak kecanggungan yang tadi sempat melanda mereka.
__ADS_1
.....
🌷🌷🌷🌷🌷