Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 73 IRS


__ADS_3

Keesokan harinya, Renata sedang duduk sambil ngemil buah melon, tadi pagi dia mendapat kiriman buah dari Reza. Hari ini dia ada urusan, jadi tak bisa datang untuk menemani nya hari ini. 


Tok.. tok.. tok.. 


Suara pintu di ketuk membuat perhatian Renata teralihkan, dia berjalan sangat pelan karena masih merasa ngilu, dia membuka pintu dan seketika itu juga kedua mata nya membulat saat melihat siapa orang yang datang bertamu.


Di siang hari yang panas terik itu, Renata malah kedatangan tamu yang benar-benar tak di undang. 


"Hai, Renata.." sapa nya dengan melambaikan tangan, Renata tak merespon apapun, dia memutar mata nya jengah lalu masuk tanpa mempersilahkan tamu nya masuk. 


Tapi, tanpa di minta pun kedua nya masuk dan berlagak seperti mereka yang punya rumah. 


"Kalian kesini mau ngapain?" Tanya Renata lirih, mata nya memanas saat melihat tangan wanita itu bergelayut manja di lengan pria yang masih jadi suami nya. 


"Kamu nanya nya kok gitu, Sila ngerengek pengen jengukin kamu."


"Jengukin aku ya? Kalian bisa lihat aku baik-baik aja sekarang, tanpa kalian jenguk."  Jawab Renata datar. 


"Kok gitu sih, galak amat." Ucap Sila dengan suara yang di buat-buat, membuat Renata muak. 


"Ya siapa dulu yang mulai? Kalau kalian gak mulai, aku gak bakal kek gini. Jadi, kalian kesini mau apa?" 


"Aku cuma mau izin buat nikahin Sila besok." Ucap Dimas tanpa ragu, seolah yang dia katakan itu tak menyakiti hati Renata, tapi untung saja hati Renata sudah siap. 


Dia memperkuat pertahanan hati nya, agar lebih tangguh menghadapi kedua manusia tak berhati nurani ini. 


"Izin? Kalau misal aku gak izinin kamu mau apa?" Tanya Renata, dia menyedekapkan tangan nya di dada. 


"Ya aku bakal tetap nikahin Sila." 


"Terus guna nya kamu minta izin itu apa? Gak ada faedahnya kan? Kamu gak punya otak ya Dim?" Tanya Renata. 


"Maksud kamu apa? Gak sopan banget omongan nya." 


"Istri kamu baru aja pulang dari rumah sakit, karena kecelakaan bahkan aku keguguran, tapi kamu gak ada simpati nya sama aku. Dimana hati nurani kamu sih?" Tanya Renata. 


"Ya kalo masalah kamu keguguran, itu kan bukan salah aku. Itu salah kamu sendiri gak becus jagain anak kita." 


"Kamu nyalahin aku, karena aku yang mengandung nya begitu? Hello Dimas, siapa yang mau sih kehilangan anak yang bahkan belum aku lihat? Apa kamu gak berduka sedikit pun? Dia anak kamu." Tanya Renata, tangan nya menggenggam erat sisi kursi yang dia duduki, menahan emosi nya. 


"Kalau udah gak ada yaudah, emang aku harus gimana? Nangis juga percuma, itu gak ada guna nya, anak aku gak bakal bisa kembali lagi kan?" 


Renata menggelengkan kepala nya, dia benar-benar tak mengerti bagaimana jalan pikiran pria bernama Dimas itu. 


"Oke, kalau kalian mau nikah silahkan. Aku gak peduli, lagipun setelah aku sembuh total, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, jadi kamu bebas." 


"Terus kamu mau nikah sama Reza?" Tanya Dimas, membuat Renata tersenyum miring. 


"Kalau iya kenapa memang nya? Bukankah aku bebas memilih? Seperti kamu memilih kerikil dalam kubangan lumpur dari pada berlian?" Balik tanya Renata membuat Dimas bungkam.


"Yang, dia ngatain aku kayak kerikil." Adu Sila, padahal Dimas juga mendengar nya sendiri. 

__ADS_1


"Jaga mulut kamu ya, Re!" 


"Kenapa bukan kamu aja atau dia yang harus jaga mulut? Kenapa aku, lagian yang aku katakan itu benar adanya." Jawab Renata datar. 


"Cckkk sialan!" Sila berdecak sebal.


"Kalian gak mau balik? Aku muak melihat kalian berdua."


"Kenapa gak kamu aja yang pergi? Lagian selama beberapa bulan ini aku yang bayar kontrakan ini." Celetuk Dimas. 


"Oke, kamu perhitungan dengan ku? Jadi mana gaji ku selama satu tahun ini menjadi istrimu, Tuan Dimas?"


"Aku memasak sarapan, makan siang, makan malam, menyiapkan bekal, melayani mu di ranjang, beberes rumah, mencuci baju mu. Itu harus di perhitungkan, jadi mana bayaranku?" Tanya Renata, tanpa ragu dia menengadahkan tangan nya.


"Cihh, kok minta-minta." Sindir Sila. 


"Dia yang mulai, aku mulai heran sama kamu Sil, apa sih yang kamu harapkan dari Dimas? Dia hanya pria kere, sampai-sampai uang kontrakan saja dia minta ganti." 


"Renata!" 


"Kenapa? Gak usah teriak-teriak, telinga aku masih berfungsi dengan baik." 


"Renata, aku membuktikan ucapan ku waktu itu kan? Aku bisa mendapatkan Dimas lagi." 


"Terus masalah ku? Ambil saja, aku tak butuh suami tak berguna. Jadi, terimakasih sudah mengambil beban ku." Jawab Renata datar, membuat Sila mengepalkan tangan nya.


"Kita pulang saja sayang, aku malas disini." Ajak Sila manja pada Dimas.


"Ohh iya, aku lupa. Kalian berdua itu sangat serasi menjadi pasangan, yang satu nya murahan, yang satu nya lagi penyuka barang murah!" 


"Kau…" Sila bangkit dan bersiap menampar Renata. 


"Berani menyentuh wanita ku, ku patahkan tangan mu jalangg!" Bariton yang terdengar tegas, membuat Sila menoleh. Dia melihat Reza berdiri gagah di ambang pintu. 


"Pahlawan kesiangan nya Renata sudah datang. Jadi beda nya kita berdua itu apa sih, Re? Kita sama-sama selingkuh, jadi jangan munafik." Ucap Dimas membuat rahang Reza mengeras. 


Dia berjalan cepat dan mencengkram kerah kemeja Dimas hingga tubuhnya hampir terangkat, karena sekarang tubuh Reza lebih tinggi dari Dimas.


"Jaga mulut sialan mu itu atau aku jahit? Renata adalah wanita terhormat yang mampu menjaga harga dirinya. Tidak seperti kalian berdua, benar kata Renata, sama-sama murahan!" Bentak Reza. 


Dia memukul wajah Dimas hingga membuat pria itu terhuyung, Dimas mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan yang di layangkan Reza. 


"Pulang atau aku seret kalian ke jalanan?" Kedua nya pun pergi, namun dengan Dimas yang menatap Reza dengan tajam sebelum pergi. 


"Kamu gapapa kan? Kamu di apain sama mereka?" Tanya Reza, dia melihat-lihat tubuh Renata, membuat perempuan itu terkekeh. 


"Udah Eza ihh, aku gak kenapa-napa. Mereka gak ngapa-ngapain aku kok, cuma minta izin aja."


"Izin buat apa?" Tanya Reza. 


"Mereka mau nikah besok." Jawab Renata membuat Reza menganga. 

__ADS_1


"Seriusan?" Renata mengangguk. 


"Ada bagusnya mereka nikah aja, biar gak zinnah terus-terusan." 


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Reza. 


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja." 


"Hanya fisik yang bisa aku lihat, tapi aku gak bisa lihat keadaan hati kamu sekarang." Ucap Reza membuat Renata tersenyum. 


"Aku sudah ikhlas, apapun yang mau mereka lakuin aku gak peduli." 


"Baguslah, ngapain juga peduli sama orang macem gitu, gak guna Yang." 


"Kamu udah makan? Aku bawain bakso iga nih buat kamu, di bening kok." Reza meletakan bungkusan makanan di meja. 


"Tau aja aku belum makan." 


"Yaudah, makan dulu ya." Renata mengangguk, dia duduk di kursi sedangkan Reza ke dapur mengambil mangkuk dan sendok. 


Tadi, dia sedang berada di suatu tempat saat tetangga Renata menghubungi nya kalau Dimas datang, malah bersama selingkuhan nya. 


Reza yang khawatir langsung pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan apapun, bahkan dia langsung mengemudikan motor matic nya dengan kecepatan sangat tinggi agar lebih cepat sampai.


Beruntung nya Renata baik-baik saja dan kedua biang rusuh itu tak berani menyakiti Renata, tapi mungkin mereka terlanjur menyakiti hati Renata. 


Dan untuk masalah baso iga yang Reza bawa, itu milik teman nya, Tio. Pria tampan yang menjadi orang kepercayaan nya untuk menyelidiki kecelakaan Renata beberapa waktu lalu, plus orang yang selalu memberi informasi saat dia di luar negeri. 


Tring.. 


Suara pesan di ponsel Reza. 


'Sialan, Lo bawa bakso gua! Gua laper anjim, belom makan.' gerutu Tio. 


Reza terkekeh lalu membalas pesan dari pria itu. 


"Nyenengin bini adalah tujuan gue, Tio. Sabar ya, nanti beli lagi pake gaji yang gua kasih." Balas Reza. 


.....


🌷🌷🌷🌷


baru calon bini Za, walahh ngebet amat😂


.....


permisi, mau rekomendasiin novel karya temen author nih, jangan lupa mampir yaww..



Daddy Lucas karya kak Tyatul🥰

__ADS_1


__ADS_2