
"Emmhh.." Renata melenguhh pelan, dia merasakan perut nya berat, begitu dia membuka kedua mata nya, dia tersenyum saat melihat tangan suaminya melingkar erat di perut buncitnya.
"Sudah bangun, sayang?" Tanya Reza, dia langsung bangkit begitu mendengar suara kecil sang istri.
"Iya sayang, maaf tak menyambut mu tadi. Aku ketiduran, belakangan ini aku malah jadi mageran, pemalas, bawaan nya lemes aja."
"Gapapa sayang." Ucap Reza, dia menunduk dan mengecup perut sang istri.
"Aku gak enak sama Mommy, turun pas waktu makan aja."
"Mommy sama mbak Karin pasti ngerti sayang, gak usah ngerasa kayak gitu." Reza mengusap lembut kepala sang istri.
"Tapi tetep aja aku ngerasa gak enak sama mereka, Sayang."
"Dengerin aku, apa Mommy pernah nuntut kamu buat bantu-bantu pekerjaan rumah? Enggak kan, sayang. Kalau kamu masih di suruh bantu-bantu, buat apa Papi bayar maid kalau semua kamu yang kerjain."
"Yaudah, kamu kok gak bangunin aku pas pulang tadi?"
"Gak tega, kamu tidur pules banget kayak bayi. Tau gak, hati aku tenang banget kalo liat kamu lagi tidur." Jawab Reza membuat Renata tersenyum.
"Bucin kamu sudah mendarah daging, Mas."
"Hah, coba sekali lagi?"
"Apanya sayang?"
"Tidak, bukan itu. Tadi kamu memanggil aku dengan panggilan lain, sayang."
"Mas?"
"Aahh hati ku berbunga mendengar nya, aku suka panggilan itu."
"Yaudah, sekarang aku panggil kamu Mas aja ya."
"Iya sayangku, sekarang kita mandi yuk?" Ajak Reza, dan dengan senang hati Renata mengangguk. Acara mandi bersama hampir setiap hari mereka lakukan.
"Sayang, pengen dong. Sekali aja ya?" Bujuk Reza membuat Renata terkekeh, suaminya seakan punya kekuatan lebih untuk menyerang nya, setiap hari dia selalu meminta jatah malam nya tanpa absen.
Meski terkadang Renata merasa bosan melayani nafssu sang suami, tapi dia sadar betul kalau ini adalah kewajiban nya, jadi dia hanya sering pasrah saja saat pria itu mulai melancarkan aksi nya dengan menggerayangii tubuhnya.
"Enghh, Mas pelan-pelan." Lenguuh Renata saat suaminya menggerakan pinggang nya maju mundur di belakang tubuhnya, sedangkan Renata berdiri setengah menunggiing dengan berpegangan pada pinggiran wastafel, tubuhnya berguncang karena gerakan di belakang tubuhnya.
Reza memejamkan mata nya sejenak, menikmati kegiatan favorit nya, nikmat dan sangat membuat candu. Dia seakan tak pernah bosan untuk menikmati lembah sempit milik sang istri yang anehnya meski dia sudah sering memasuki nya, rasanya masih tetap sempit menggigit, nikmat sekali.
"Nikmat sekali sayang, aku akan meledak sebentar lagi."
"Aahhh Mas, lebih cepath aku mau sampai." Pinta Renata, Reza menurut dengan menggerakan pinggang nya maju mundur lebih cepat.
"Aaarrgghh, sayang.." Reza mengerang panjang, pertanda dia sudah mencapai puncak pelepasan nya. Begitu juga Renata, dia juga mendapatkan klimaaks yang entah ke berapa kalinya dalam percintaan sore ini.
Hampir saja tubuh Renata terjatuh karena lutut nya lemas, tak bisa menahan bobot tubuhnya. Beruntung saja Reza dengan cepat menahan nya, dia langsung menggendong sang istri dan mendudukan nya di pinggiran bath up.
"Kamu ganteng banget kalo lagi gini, Mas." Puji Renata membuat Reza terkekeh. Tapi ucapan Renata bukan sekedar omong kosong, Reza memang tampan. Apalagi di tunjang dengan tubuh proporsional, enam roti sobek berjejer di perut nya, otot-otot tangan nya menonjol dan jangan lupakan junior nya yang besar juga berurat.
Reza meneteskan beberapa tetes aromaterapi beraroma lavender favorit mereka, dan juga bath bomb yang membuat air nya berubah putih.
"Silahkan masuk terlebih dahulu, Princess."
"Terimakasih my prince." Jawab Renata, dia bangkit dan berendam, di susul oleh Reza yang ikut berendam di belakang sang istri, memeluk perut buncit itu dari belakang, menyandarkan dagu nya di ceruk leher nya yang sudah di penuhi tanda kemerahan, saksi betapa dahsyat dan bergairaah nya permainan mereka tadi.
__ADS_1
"Gak sabar nunggu mereka lahir, Sayang. Nanti mereka manggil aku papa."
"Mereka juga bakalan manggil aku Mama." Ucap Renata lirih, senyum nya mengembang saat membayangkan betapa lucunya anak mereka nanti. Hanya saja untuk jenis kelamin mereka belum bisa memastikan, karena belum terlihat.
"Lengkap sudah kebahagiaan kita nanti, sayang." Ucap Reza dengan suara berat nya.
"Iya, aku juga akan merasa sempurna nanti. Saat aku melahirkan nanti, kamu harus temenin aku ya?"
"Pasti, aku gak bakal ninggalin kamu sayang. Aku akan selalu ada di samping kamu, memberi kamu kekuatan." Jawab Reza, membuat Renata tersenyum.
"Lihat tanganku, sayang." Reza memperlihatkan jemari nya yang mulai keriput karena terlalu lama terkena air.
"Haha, iya sayang. Ayo kita selesaikan mandi kita, aku juga mulai menggigil."
Reza pun menyabuni sang istri dengan detail, tanpa terlewat satu bagian apapun, meski sering kali di selingi dengan keisengan tangan nakal suaminya yang membuat tubuh nya gemetaran.
Hingga akhirnya ritual mandi pun selesai, keduanya keluar dengan Reza yang menggendong Renata ala bridal style, membawa nya ke ruang ganti dan berpakaian.
Masih belum berhenti sampai di situ, kini Reza sedang mengeringkan rambut sang istri dengan hair dryer, lalu gantian Renata yang mengeringkan rambut suaminya, namun selalu saja setiap ada kesempatan, Reza pasti mendusel di perut nya.
"Selesai, ayo kita turun Mas."
Reza menggandeng tangan istrinya, lalu keduanya pun turun ke ruang bawah.
"Eehh bapak CEO udah turun." Celetuk Mariska membuat Reza cengengesan. Karena pulang kerja langsung tidur dan setelah bangun malah bermain kuda-kudaan, dia jadi lupa memberitahukan kabar gembira itu pada sang istri.
"Wajah nya seger bener, kayaknya habis nengokin baby nya sih ya." Cetus Karina, dia memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih lama di negara nya, sedangkan suaminya harus kembali ke Amerika karena urusan pekerjaan.
"Pasti itu, mbak. Kasian mbak Karin, jauhan sama Mas Nick, pasti bikin sawah mbak Karin kering."
"Awas kamu ya, adik durhaka kamu sama Mbak mu ngatain begitu." Ketus Karina membuat Reza terkekeh.
"Untuk merayakan kenaikan jabatan mu, kita makan-makan yuk. Kiranya dimana?" Ajak Argan.
"Tunggu-tunggu, Mas naik jabatan? Kok aku gak tahu." Tanya Renata membuat ketiga orang lain nya kompak menggelengkan kepala mereka.
"Hehe, maaf sayang aku lupa. Malah fokus sama permainan kita tadi, aku naik jabatan tadi siang."
"Kebiasaan suka lupa, tapi selamat ya suamiku sayang. Semoga kamu semakin giat bekerja, tapi tetap luangkan waktu untuk anak dan istri." Renata sadar, jabatan suami nya saat ini pasti akan sangat sibuk dan itu akan membuat waktu mereka untuk bersama jadi berkurang.
"Tenang saja sayang, aku berjanji waktu untukmu takkan pernah berkurang."
"Gak usah beradegan uwu di depan mbak, ayoo kita pergi. Rere mau makan apa?" Tanya Karina.
"Huh, iri aja!" Sinis Reza, membuat Karina mencebik.
"Rere kok pengen makan hotpot ya, semacam malatang gitu."
"Haduh, ini nih kebiasaan nontonin acara makan di utup." Ucap Reza.
"Kenapa gitu? Gak boleh ya, Mas?"
"Makanan itu pedas, sayang. Makanan pedas itu gak bagus buat kamu yang sedang hamil, masih trimester pertama juga, nanti dedek bayi nya kepanasan di dalem sini." Reza mengusap lembut perut sang istri.
"Eemm tapi mau makan itu, Mas!" Rengek Renata.
"Udahlah Za, kasih aja. Bilangin aja ke mbak nya jangan terlalu pedas kuah mara nya, yuk berangkat yuk."
"Yaudah iya sayang, tapi ingat jangan kenapa-napa ya." Ucap Reza, membuat wajah Renata berbinar karena senang.
__ADS_1
"Yaudah, ayo kita ke restoran. Ajak Bagas sama Mira juga, biar makin rame."
"Rere telepon Mira nya ya, Pih." Jawab Renata, Argan mengangguk lalu tersenyum dan mengacak rambut menantu nya dengan gemas.
Renata mengambil ponsel dari saku celana nya dan menghubungi nomor Mira, sahabat sekaligus saudara nya sekarang ini.
'Hallo, kenapa bestie?' Tanya nya dengan suara cempreng.
"Kita makan-makan di restoran di jalan anggrek bulan, Papi yang traktir buat rayain kenaikan jabatan Eza."
'Wahh siap, sama papa juga?'
"Iya, yaudah sampai ketemu disana ya Mir." Ucap Renata, setelah Mira mengiyakan Renata pun mematikan sambungan telepon dan menyusul langkah mertua nya.
Singkatnya, mereka sudah sampai di cafe yang sudah di sepakati. Namun, Bagas dan Mira ternyata belum sampai juga, mungkin karena terjebak macet.
"Itu pada kemana ya? Lama amat, udah laper." Ucap Karina, perutnya sudah berdemo ria. Dia sengaja tak makan apapun dari rumah karena akan makan banyak mumpung di traktir papi nya.
"Aahh sorry telat, ada kecelakaan tadi di persimpangan jalan." Ucap Bagas lalu duduk di samping Argan.
"Santai aja kali, mana Mira?"
"Disini, om." Jawab Mira, dia mendekat dengan keringat yang bercucuran, seolah habis berlari maraton.
"Kenapa? Habis di kejar setan Lo?" Tanya Reza sambil tersenyum mengejek.
"Nanti aja, gue haus mau minum." Renata pun memberikan minuman miliknya, dan setelah merasa tenang mereka pun memulai acara makan-makan mereka dengan tenang.
Namun di sela ketenangan, Mira berbisik pada Renata.
"Re, yang kecelakaan tadi itu Dimas." Bisiknya, sontak saja membuat Renata yang sedang anteng menyeruput kuah hot pot tersedak seketika.
Uhukk… uhukk..
Reza menepuk-nepuk punggung sang istri agar merasa lega, juga memberikan nya air minum.
"Sayang pelan-pelan makan nya dong." Ucap Reza, namun Renata masih terus batuk-batuk hingga wajah nya memerah saking terkejut nya mendengar ucapan Mira.
"Seriusan Mir? Gak bercanda kan?" Tanya Renata begitu batuk nya mereda.
"Seriusan, dia ketabrak mobil ugal-ugalan. Katanya kepala nya bocor, tapi gue gak denger kemana warga mau bawa dia ke rumah sakit mana." Jelas Mira, hati Renata seakan tercubit hingga membuat selera makan nya hilang seketika.
Dia tahu, dia membenci pria itu. Tapi dia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa nama pria itu masih terselip di hati kecil nya, hanya saja kehadiran Reza mampu menggantikan nama Dimas di hatinya.
"Nanti kita cari ke rumah sakit mana ya, sayang. Terus kita jengukin, kamu tenang ya? Dimas pasti baik-baik aja." Ucap Reza sambil mengusap rambut sang istri.
Ya meski hatinya di landa cemburu, tapi dia tak bisa egois dengan menuntut sang istri agar segera melupakan mantan suaminya itu, namun dia percaya lambat laun pasti nama itu akan tersingkir dengan seiring berjalan nya waktu.
"Makasih Mas, aku cuma kaget aja sih."
"Iya, mas ngerti kok. Udah jangan di pikirin, lanjut makan nya ya. Makan yang banyak biar dedek bayi nya kenyang, nanti tidurnya nyenyak."
Renata pun mengangguk dan kembali melanjutkan makan nya dengan pelan, meski isi kepala nya melayang entah kemana.
Karina, Mariska maupun Argantara merasa bangga pada Reza. Meski dia mengatakan hal menenangkan, namun dari sorot matanya mereka tahu ada luka yang dia sembunyikan.
Bagi Karina, Reza terlihat sangat mencintai istrinya dan tak banyak yang dia harapkan, dia hanya ingin sang adik bahagia dengan wanita pilihan nya, jangan sampai salah memilih.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻.