Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 138 IRS


__ADS_3

Dimas merasa aneh sendiri saat melihat perubahan sang istri, lebih tepatnya setelah mereka bertemu dengan Tuan Kenan di jalan pulang tadi. Tapi kenapa istrinya berubah setelah pertemuan itu? Pasalnya tadi setelah keluar dari bilik pemeriksaan, Elina masih baik-baik saja.


Tapi, biarlah dia akan menanyakan hal itu nanti. Lebih baik sekarang, mereka harus pulang terlebih dahulu.


Singkatnya, setelah sampai di rumah pun Elina masih sama, diam saja. Tak berucap satu patah kata pun, membuat Mami Erika terheran dengan sikap sang menantu, apa ada masalah? Begitu pikirnya. 


Tanpa menyapa dirinya yang berada di ruang tamu, Elina malah langsung pergi ke kamar nya di lantai atas.


"Eehh, Elina kenapa?" Tanya Mami Erika pada Dimas yang masuk dengan wajah panik nya.


"Dimas juga gak tau, Mi." Jawab Dimas.


"Yaudah, susul istrimu dulu sana." 


"Iya Mi." Jawab Dimas singkat, lalu berlari menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya saat ini, terlebih kata dokter kandungan tadi, kandungan istrinya masih sangat rentan jadi rawan keguguran jika ibu hamil nya terlalu banyak berpikiran berat.


Mami Erika menatap punggung sang putra dengan nanar, sebenarnya dia ingin tahu apakah menantu nya hamil atau tidak. Tapi, seperti nya bertanya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Meskipun dia sangat penasaran dan tak sabar mengetahui kabar baik itu. 


Tapi sepertinya ada masalah yang harus di selesaikan segera, tapi anehnya Dimas sendiri tak tahu istrinya itu kenapa, aneh bukan?


Dimas membuka pintu, lalu kembali menutup nya. Dia melihat sang istri tengah duduk bersandar di sisi ranjang, duduk di lantai dengan menyembunyikan wajah nya di antara kedua lutut nya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dimas, tapi Elina tak menjawab apapun. Tubuh nya bergetar, seperti menahan dingin atau… takut?


"Sayang, hey kamu kenapa? Ayolah, jangan buat aku khawatir. Ingat anak kita yang sedang kamu kandung," 


Elina mendongak, dia menatap wajah sang suami dengan nanar. Dalam sorot matanya saja, Dimas bisa tau kalau ada masalah yang sedang istrinya sembunyikan. 

__ADS_1


"M-as, apa hubungan mu dengan pria bernama Kenan?" Tanya Elina dengan suara bergetar dan terbata. 


"Tuan Kenan? Dia adalah rekan bisnis Reza, perusahaan kami menjalin kerja sama." Jawab Dimas, sambil mengusap lembut kepala sang istri.


"Kenapa memang nya? Apa ada masalah, kamu mengenal nya?" Tanya Dimas pelan. Tanpa di duga, bukan nya menjawab Elina malah menangis sesenggukan. 


Dimas langsung meraih nya ke dalam pelukan, menyandarkan kepala sang istri di dada nya, mengusap kepala belakang dan punggung sang istri dengan penuh kelembutan. 


"Kalau tidak mau cerita, tidak apa-apa. Mas bisa menunggu sampai kamu siap cerita sama Mas." 


"Kenapa setelah sekian tahun berlalu, aku harus bertemu dengan pria itu, Mas? Aku membenci nya, sungguh membenci nya." Lirih Elina di sela isakan tangis nya.


"Kenapa membenci pria sebaik tuan Kenan, sayang?" Tanya Dimas, membuat Elina melepas pelukan pria itu di pinggang nya.


"Baik? Pria baik seperti apa yang merenggut kesucian seorang gadis secara paksa?" Pekik Elina dengan nada tinggi, tatapan nya yang biasa teduh, kini berubah menjadi sorot mata tajam penuh kebencian. 


Sedangkan Dimas membeku di tempat, kini dia tahu apa masalah yang di rasakan oleh Elina. Pastilah pria itu meninggalkan sedikit banyak rasa trauma pada diri Elina, karena sudah merenggut kesucian nya dengan paksa. 


"Maafkan aku, sungguh aku tak tahu apapun tentang ini." 


"A-aku membenci pria itu, Mas." Lirih Elina. Dimas paham, kalaupun dia berada di posisi Elina, dia juga akan melakukan hal yang sama yakni membenci pria itu, mungkin seumur hidupnya.


"Sayang, kamu boleh membenci nya."


"Bisakah kamu jangan terlalu dekat dengan pria itu, Mas. A-aku takut!" 


"Tentu, apapun permintaan mu pasti akan mas kabulkan, sayang." Jawab Dimas, dia mengecup kening sang istri dengan lembut. 

__ADS_1


Setelah merasa tenang, Dimas menggendong sang istri ala bridal style lalu membaringkan nya di ranjang dengan sangat hati-hati, seolah Elina adalah kaca yang sangat mudah pecah.


"Jangan terlalu di pikirkan, itu hanya masa lalu yang tak harus di kenang. Ingat kehamilan mu, ada nyawa lain yang harus kamu jaga disini." Dimas mengusap lembut perut sang istri yang masih datar.


"Aku takut Mas."


"Tak usah takut, ada Mas yang akan selalu menjaga mu, sayang." 


"Terimakasih, Mas."


"Iya, sekarang lebih baik kamu tidur ya. Istirahat sejenak, mas akan mandi."


"Jangan lama, aku tak mau sendirian. Aku takut, Mas!" 


"Hanya mandi sayang, masih di ruangan yang sama." Jawab Dimas, lalu pergi ke kamar mandi setelah melihat istrinya mengangguk mengizinkan nya.


Sepanjang mandi, Dimas selalu mengingat bagaimana ekspresi Elina saat dia menyebut nama Kenan, tubuhnya langsung bergetar. Dia pikir istrinya itu trauma, dia harus di bawa ke dokter kandungan lagi untuk berkonsultasi. Tentunya dia tak mau sampai terjadi sesuatu pada istri kesayangan nya.


Setelah menyelesaikan mandi nya, Dimas pun keluar. Dia menyangka Elina akan tertidur, tapi dugaan nya salah. Dia melihat Elina masih terjaga, dengan mata yang memicing setiap ada pergerakan.


"Kok gak tidur?"


"T-akut Mas, ayo temani aku Mas." 


Dimas memakai baju nya, lalu berbaring dan memeluk sang istri dengan erat. 


'Aku harus bertemu dengan Reza, bagaimana pun dia harus tau tentang masa lalu istriku dengan pria itu. Astaga, aku sangat marah saat ini. Aku tak menyangka, pria yang aku anggap baik itu ternyata sangat jahat! Sialan.' 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2