
Singkatnya, satu Minggu sudah berlalu. Hari ini, Renata sudah di perbolehkan pulang, karena luka jahitan dan luka di kepala nya sudah mengering. Namun tetap harus hati-hati, jangan terkena air dulu.
Selama itu juga, Reza tak pernah meninggalkan Renata, dia bahkan tak pernah pulang ke rumah meski sebenarnya bisa gantian menjaga Renata dengan Mami Erika.
Reza mengantar Renata pulang ke kontrakan nya dengan mobil, ini pertama kali nya bagi Renata melihat Reza membawa mobil, karena biasa nya dia selalu memakai motor kemana pun.
"Biasa aja kali mandangin nya, sampe gitu banget." Celetuk Reza, membuat Renata langsung memalingkan wajah nya ke jendela.
"Kamu pasti bertanya-tanya kan kenapa aku selalu pake motor, padahal aku bisa nyetir? Jawaban nya, karena aku lebih suka menghirup udara bebas, dari pada aroma jeruk dari AC." Jelas Reza tanpa di minta.
"Aku kira kamu gak pernah pake mobil itu karena gak bisa nyetir."
"Bisa kok, ini buktinya. Aku udah punya SIM sejak aku berusia 20 tahun, sayang." Jawab Reza, sesekali dia melirik ke arah perempuan yang duduk di samping nya, lalu kembali fokus ke depan memerhatikan jalanan yang cukup padat.
"Eemm, jangan manggil sayang dong."
"Kenapa? Kamu gak nyaman ya?" Tanya Reza. Renata mengangguk, dia memang merasa tak nyaman di panggil sayang oleh pria lain, sedangkan dia masih berstatus istri orang.
"Aku gak betah manggil nama, jadi apa dong?"
"Renata aja, kan biasa nya juga manggil nama." Usul Renata.
"Ya itu kan dulu,"
"Terserah kamu aja lah." Pasrah Renata.
Mobil yang di kendarai oleh Reza pun berhenti di teras kontrakan Renata, tempat yang satu Minggu ini dia tinggalkan karena dia harus mendapat perawatan di rumah sakit.
"Sudah pulang, Neng?" Tanya tetangga Renata yang sudah akrab dengan nya.
"Iya Bu, baru di bolehin pulang." Jawab Renata ramah.
Ibu-ibu itu mendekat dan ikut membantu Renata berjalan, karena jujur saja bagian bawah nya terasa sangat ngilu.
"Ibu denger kamu kecelakaan, apa yang sakit Nak?"
"Benturan keras di kepala sampe sobek tuh Bu, di jahit. Terus Renata keguguran juga." Bukan Renata yang menjawab, tapi Reza.
__ADS_1
"Yang sabar ya cantik." Ucap ibu itu sambil mengusap lembut kepala Renata.
"Iya Bu, Renata harus gimana lagi selain belajar mengikhlaskan. Insyaallah, Allah akan mengganti nya dengan kebahagiaan." Jawab Renata.
"Terus ini siapa nya, Neng Rere?" Tanya nya lagi.
"Saya temen nya Rere, Bu." Lagi-lagi, Reza yang menjawab.
"Suaminya kemana Neng? Istri nya sakit malah gak ada, Neng malah di temenin sama pria lain."
"Dia sibuk sama selingkuhan nya, Bu." Celetuk Dimas sambil menyeruput kopi yang baru saja dia buat.
"Selingkuhan? Yang berambut pirang waktu itu kali ya."
"Ya ampun Neng, Ibu bilang juga apa. Harus waspada kalo punya laki ganteng." Ucap Ibu-ibu itu, dari awal saat Dimas terlihat membawa seorang wanita berambut pirang, dia sudah curiga. Namun dia memilih diam, toh bukan urusan nya juga. Hanya saja dia sedikit memperingatkan Renata agar berhati-hati.
"Di jaga seketat apapun, kalo niat nya udah kayak gitu mah susah Bu, susah memang ngeyakinin lalat kalau bunga lebih wangi dari pada sampah, jadi ya biarin aja."
Renata hanya tersenyum saja mendengar celotehan Reza, apa yang dia katakan sangat benar dan tepat sasaran.
"Kamu kuat banget, Neng. Mana Dimas berani bawa cewek nya kesini."
"Kamu wanita baik, pasti akan di kelilingi orang baik, Nak Reza misalnya." Renata hanya mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, Ibu pulang dulu ya. Nanti sore kesini lagi sama ibu-ibu yang lain," ibu itu berpamitan.
"Bu tunggu, ini nomor telepon saya."
"Buat apa, Nak?"
"Saya kan gak bisa nungguin Renata setiap waktu, karena status. Saya khawatir nanti suami Rere kesini terus nyakitin dia, jadi saya minta tolong sama ibu kalau ibu liat Dimas, langsung telepon saya." Jelas Reza, membuat ibu itu manggut-manggut.
"Baik Nak Reza."
"Terimakasih ya Bu." Ibu itu mengangguk lalu pergi ke rumah nya yang hanya berjarak beberapa langkah dari kontrakan milik Renata.
Reza kembali masuk, dia menyapu dan beberes di rumah Renata. Tidak di tinggali satu Minggu membuat debu bertebaran.
__ADS_1
"Eza, gak usah nyapu."
"Banyak debu disini, nanti kamu bersin-bersin. Udah, nona cantik duduk manis aja disitu." Pinta Reza.
"Maaf ya, aku ngerepotin kamu terus."
"Aku gak ngerasa di repotin sama sekali, lagian kalo kamu yang minta aku akan dengan senang hati lakuin permintaan kamu, apapun itu." Jawab Reza sambil terus menyapu lantai.
"Yaudah, kalo gitu tolong cuciin baju dong?"
"Aaa itu aku angkat tangan, hehe. Nanti nyuruh tukang laundry aja." Jawab Reza sambil cengengesan, entah kenapa pria itu seperti alergi dengan yang namanya mencuci baju.
"Iyalah, baju kamu aja masih di cuciin sama Mommy, gimana mau nyuci baju aku." Renata tergelak, senang sekali menggoda Reza.
"Sshhtt, malu sama pembaca Yang."
"Ehh iya ya, ketahuan aib nya."
"Itu bukan aib tahu, Re." Elak Reza, membuat Renata semakin tergelak.
"Seneng banget kamu ketawain aku ya, tapi gapapa deh daripada kamu nangis gara-gara aku, kan gak lucu. Bisa-bisa di bully sama reader." Celetuk Reza lagi.
Reza pun melanjutkan kegiatan menyapu, sedangkan Renata hanya duduk saja melihat pria itu menyapu dan membersihkan ruangan dengan kemoceng.
Sore harinya, Reza berpamitan pulang. Sebenarnya dia sangat berat untuk meninggalkan Renata sendirian, terlebih dia khawatir kalau Dimas akan datang.
Tapi status Renata yang masih istri Dimas membuat nya mau tak mau harus pulang, rasanya tak mungkin jika dia harus menginap disini.
"Aku pulang dulu, Sayang. Kamu hati-hati di rumah ya, kalau ada apa-apa langsung telepon aku."
"Iya Eza, hati-hati di jalan nya. Jangan ngebut bawa mobil nya." Peringat Renata, Reza mengangguk lalu tersenyum dan mengacak rambut Renata dengan gemas.
"Siap tuan putri."
Reza pun pergi dengan mobilnya, Renata berjalan pelan memasuki rumah nya, tak lupa dia mengunci pintu dan membiarkan nya tergantung di tempatnya. Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak, tubuhnya terasa sangat lelah dan masih ada rasa sakit di beberapa bagian.
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
sweet banget bang Eza🥰