
Setelah mengobrol singkat dengan Renata, Reza pun berpamitan pulang. Perempuan itu mengantar kepergian sang kekasih sampai ke teras, melambaikan tangan nya saat mobil pria itu mulai menjauh.
Dia memutuskan masuk dan beristirahat, udara di luar sangat dingin malam ini, sebentar lagi pasti akan turun hujan.
Renata berguling ke sana kemari namun mata nya tak kunjung terpejam juga, dia teringat Reza. Apa pria itu sudah sampai di rumah? Pesan yang dia kirim beberapa menit lalu masih belum di baca.
"Ya Allah, selamatkan lah calon suami hamba." Gumam Renata, dia merasa cemas sekaligus khawatir karena pria itu belum juga memberikan kabar.
Namun beberapa detik kemudian, pria yang sedang dia pikirkan membalas pesan nya, dia mengatakan baru saja sampai ke rumah saat turun hujan deras.
"Aaahhh syukurlah, aku bisa bernafas lega." Renata mengusap dada nya, dia menghela nafas lega setelah mengetahui keadaan Reza. Wanita itu kembali memejamkan mata nya dengan tenang, dan dalam hitungan menit, dia sudah tertidur pulas.
Di rumah, Reza sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tua nya. Kedua nya kompak menatap Reza dengan tatapan heran, pasalnya saat pulang tadi dia langsung memanggil mereka.
"Ada apa, sayang?" Tanya Mariska.
"Aku ingin menikahi Renata lusa, Mom." Jawab Reza membuat kedua nya terkejut bukan main.
"Lusa? Gaun yang Mommy buat belum selesai, sayang. Belum ada persiapan apa-apa, menyiapkan pernikahan itu tak mudah."
"Reza sudah mengajukan surat-surat ke kantor urusan agama 1 bulan yang lalu, Reza ingin menikahi Renata terlebih dulu, biarkan resepsi nya nanti menyusul." Jelas Reza membuat kedua nya nampak shock.
__ADS_1
Putra nya berani melangkah sejauh ini karena seorang wanita? Astaga, putra mereka sudah dewasa.
"Renata sudah setuju?" Tanya Argan, Reza mengangguk cepat.
"Kalau dia sudah setuju, apa kami bisa melarang? Lakukan saja apa yang menurut mu benar." Ucap Argan bijak, membuat Reza berbinar.
"Beneran Pi?"
"Tentu saja, papi akan membantu persiapan nya."
"Persiapan apa, Pi?" Tanya Reza polos.
"Apa iya? Kan cuma butuh penghulu, pengantin pria sama pengantin wanita, ijab sama qobul, selesai kan?" Tanya Reza lagi, membuat kedua orang tua nya kompak menggeleng.
"Sayang, syarat menikah memang begitu. Ada wali pengantin perempuan, dua orang saksi, selesai. Lalu setelah itu mau di apakan? Masa gak ada acara makan, orang tua nya Renata belum disini kan?" Tanya Argan.
"Reza udah nelpon paman Calvin, dan dia setuju datang. Ya susah sih bujuk nya, soalnya Rere gak bilang kalo dia udah cerai sama Dimas."
"Paman Calvin sama bibi Clarissa nyangka kalau Rere sama Dimas itu masih suami istri, jadi ya begitulah. Eza jelasin panjang lebar dulu, barulah mereka setuju datang besok." Jelas Reza membuat Argan manggut-manggut mengerti.
"Baiklah, papi akan menyiapkan semua nya. Tapi, papi harap Rere mau menikah disini. Tak di kontrakan nya." Pinta Argan.
__ADS_1
"Reza udah bilang itu juga, apa Papi keberatan kalau misal setelah kami menikah, Rere tinggal disini untuk sementara waktu, sampai tabungan Eza cukup buat beli rumah."
"Enggak dong, masa iya Mommy sama Papi keberatan, justru mommy pengen Rere tinggal disini biar Mommy ada temen nya kalo lagi gak ada kerjaan. Kalau perlu tinggal disini aja selamanya, gak usah beli rumah." Ucap Mariska.
"Liat nanti aja, Reza terserah Rere nya aja nanti."
"Yaudah, udah malem. Eza pamit tidur duluan, makasih udah mengerti sama Eza ya, Mom, Pi."
"Sama-sama, sayang."
"Lebih bagus di percepat, nanti kamu khilaf bisa kebablasan kan bahaya." Celetuk Argan membuat Reza yang sudah meniti tangga berbalik dan terkekeh.
"Iya Pi, tadi aja di dapur malah mesra-mesraan. Bukan nya bantuin calon istri nya masak, malah di gangguin. Nempel-nempel gitu lho Pi, acara pelukan segala di dapur." Celetuk Mariska.
"Wahh nikah emang keputusan tepat seperti nya, Mom. Bahaya, bisa-bisa anak kita rusak anak orang."
"Renata nya gak bakalan mau kali," ketus Reza kembali meniti tangga dengan langkah lebar nya.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1