Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 129 IRS


__ADS_3

Flashback 2 tahun silam.


Elinna sedang menunggu angkutan umum, gadis cantik bertubuh mungil itu baru saja pulang sekolah. Dia berusia 16 saat itu, dia masih bersekolah kelas 3 SMP.


Gadis cantik itu memang terbiasa berangkat juga pulang sekolah dengan menggunakan angkutan umum. Tapi hari ini, dia sedikit terlambat karena ada mata pelajaran tambahan, membuat bus yang biasanya dia naiki sudah pergi. 


Jadilah dia harus menunggu bus lain yang searah dengan rumah nya. Gadis itu duduk sendirian, karena teman-teman yang biasanya bareng menunggu bus sudah pulang lebih dulu. 


Seolah mendukung suasana, hujan turun dengan sangat deras di sertai angin dan beberapa kali kilat menyambar, membuat Elina ketakutan. Dia mengusap lengan nya yang sudah basah karena terciprat air hujan, meski dia menunggu di halte.


"Ya ampun, hujan nya deras banget. Aku pulang gimana ya? Mana bus nya gak kunjung dateng juga, kemana ya biasanya jam segini udah lewat." Gumam Elina. Sudah hampir satu jam dia menunggu, namun tak ada tanda-tanda bus itu akan lewat. 


Hingga beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan halte bus. Seorang pria berperawakan tinggi besar, pakaian yang rapih dan mahal, sepatu mengkilat juga rambut kelimis. Dan jangan lupakan wajah nya tampan rupawan, bagai malaikat. 


Elina tertegun sejenak saat melihat pria itu turun dari mobil nya dengan sebuah payung hitam yang melindungi tubuhnya dari derasnya air hujan.


Perlahan, dia mendekat dan tak lama kemudian dia duduk di kursi kosong samping Elina. 


"Sedang menunggu siapa, Nona?" Tanya nya dengan suara serak nya, suara yang terdengar sangat sekssi di telinga siapapun yang mendengarnya. 


"B-us, tuan." Jawab Elina terbata, lalu menundukan pandangan nya. Dia tak mau terhipnotis dengan mata kecoklatan dengan tatapan setajam silet itu.


"Bus? Mana ada bus jam segini, ada nya nanti jam tujuh." Ujar pria tampan itu.


"Aaa iya, kalau begitu s-aya pergi duluan tuan."


"Mau kemana? Hujan deras, kau pasti demam esok hari." Ucap nya dengan suara tegas yang membuat nyali Elina sedikit menciut.


"T-ak apa tuan, saya sudah terbiasa." Elina hendak pergi, namun dengan cepat tangan pria itu meraih pinggang Elina dan hanya sekejap mata, pria itu sudah berhasil mendudukan tubuh mungil Elina di pangkuan nya.


"T-tuan, tolong lepaskan saya." 


"Kenapa? Seperti nya kamu gadis yang keras kepala, ikut aku!" Tegas nya, lalu dengan cepat melempar tubuh Elina ke dalam mobil.


"Tuan.." Elina berteriak histeris sambil berusaha membuka pintu, namun dia yang tak pernah naik mobil mewah malah tak mengerti bagaimana caranya membuka pintu mobil itu.


"Diamlah dan duduk dengan tenang, aku akan mengantarmu pulang." 


Elina merasa ada yang tak beres dengan pria di samping nya, selain karena wajahnya yang tampan namun tak terlihat asing, mana ada yang mau melirik gadis kumal seperti nya, apalagi di lihat dari penampilan nya, seperti nya pria ini bukan pria di kalangan bawah, alias pria tajir. 


"Tuan.."


"Hmmmm…"


"Apa kita saling mengenal?"


"Seperti nya tidak, tapi aku mengenal ibumu." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun, dan fokus menatap jalan di depan. 


"I-ibu?" 


Deghh..


Jantungnya seakan berhenti berdetak, kalau begitu pasti pria ini ada hubungan nya dengan ibu tirinya. Sudah di pastikan ini masalah yang akan sangat merugikan, tapi entah apa yang akan terjadi. 


Dia mulai merasa khawatir, apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini. Seketika dia menyesal karena sudah mengikuti jam pelajaran tambahan. 


Dan ke khawatiran itu seperti nya akan mendapatkan jawaban, saat mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat itu berhenti di depan sebuah apartemen mewah.


"Tuan, kenapa membawa saya ke tempat ini?"


"Tentu untuk bersenang-senang." Jawab pria itu dengan seringai jahat yang membuat Elina ketakutan.


Dengan cepat pria itu menarik Elina dari mobil dan membawa nya paksa ke unit milik nya, Elina terus berontak bahkan sesekali dia menggigit tangan pria yang terus mencengkram tangan nya, sebisa mungkin dia melawan agar terhindar dari bahaya.


"Tolong, lepaskan aku tuan. Apa salah saya?" Namun pria itu seolah tuli dan tak mendengar ucapan gadis yang kini tengah meronta di belakang tubuhnya. Dia terus saja menarik pergelangan tangan gadis mungil itu dengan tak berperasaan nya. 


"Salahmu, hanya karena ibu mu meminjam uang banyak padaku dan kau sebagai jaminan nya." Jawaban pria itu membuat Elina terhenyak, dia di jadikan alat pembayar hutang? Ya Tuhan, tega sekali.

__ADS_1


Perlu di ketahui, ini bukan pertama kali nya Elina di jadikan alat pembayar hutang, tapi sejauh itu Elina berhasil menghindari semua orang yang mengejarnya dengan melarikan diri. Tapi, saat ini dia merasa hidupnya akan berakhir. 


Memang nya apa yang bisa pria itu dapatkan dari nya selain mengambil apa yang paling berharga dari tubuhnya, apa itu? Pasti keperawanaan nya, karena hanya itu yang dia punya.


Gadis dengan seragam putih biru di itu di banting ke atas ranjang oleh pria itu, dengan cepat dia mengunci pintu dan kalian tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Memang nya apa selain adegan uhhh aahhh.


Pria itu mengikat kedua tangan Elina di pinggir ranjang, dengan begitu Elina takkan bisa meronta, dia juga mengikat kaki Elina, tapi membiarkan mulut nya agar dia bisa mendengar teriakan-teriakan gadis malang itu. Dia tak peduli meski gadis itu terus memohon agar jangan melakukan nya, tapi ibu nya sudah menyerahkan gadis ini sepenuhnya.


Tapi, disini hanya pria itu yang tersenyum setelah berhasil menikmati tubuh mungil Elina, sedangkan gadis itu nampak kacau. Wajah nya sembab karena dia terus menangis sepanjang permainan, namun pria itu justru merasa puas dengan kenikmatan yang dia dapat dari Elina. Gadis pembayar hutang, seketika dia merasa beruntung telah meminjamkan wanita paruh baya bergaya hebring itu sejumlah uang.


"Tubuhmu sangat nikmat, legit dan membuat candu. Bagaimana kalau kau menjadi partner ranjang ku, atau sugar baby?" Tanya pria itu, dia sedang menghisap rokoknya di sofa hanya berbalutkan boxer untuk menutupi aset pribadi nya, yang baru saja keluar masuk di lubang kecil milik Elina. Mengoyak selapuut dara gadis tak berdosa itu dengan begitu gagahnya. 


Elina masih menangis sesenggukan, dia tak menyangka hidup nya akan seberantakan ini. Satu hal yang paling dia sesali adalah, kenapa tadi dia tak langsung berlari menembus hujan? Seperti nya demam akan lebih baik dari pada kehilangan kesucian, bahkan saat ini usia nya masih 16 tahun dan masih duduk di bangku sekolah.


"Jangan di sesali cantik, aku bisa memberikan mu uang yang banyak jika kau menurut padaku dan jadi pemuaas ku." 


"Brengseek! Aku tak sudi menjadi mainan mu." Pekik Elina membuat senyuman di bibir pria itu lenyap seketika, berganti dengan wajah datar dan tatapan tajam, setajam mata elang pada mangsa nya. Namun hal itu tak membuat Elina ketakutan. Dengan berani, dia menatap balik pria itu dengan tatapan tajam.


Pria itu melempar rokoknya setelah mematikan nya, dia mendekat dan dengan cepat meraih leher Elina, mencengkram nya cukup kuat, hingga membuat tubuh mungil Elina terangkat. 


"Berani sekali kau mengatai aku brengseek hah!"


"Memang itu fakta nya, pantasnya di sebut apa pria yang sudah merenggut kesucian seorang gadis kalau bukan brengseek!" Jawab Elina meski dengan kesulitan karena nafas nya mulai berkurang.


"Sialan!"


Bruk..


Elina di lempar ke lantai, hingga tubuhnya terhempas. Gadis itu meringis kesakitan, belum lagi inti nya yang terasa sangat perih karena sudah di masuki benda asing dengan ukuran yang sangat besar. 


"Kau perlu tau, banyak wanita yang mengantri hanya untuk tidur bersamaku, tapi kau dengan mudahnya menolak ku?"


"Lalu, kenapa? Aku berbeda dengan wanita lain, aku wanita baik-baik bukan wanita murahan seperti mereka." Jawab Elina dengan lantang, membuat pria itu tersenyum sinis. Dia meraih dagu Elina dan mencengkram nya dengan kuat.


"Sekali naik ke ranjang ku, kau takkan pernah bisa pergi." Tegas nya lalu menghempaskan dagu Elina, membuat wajah gadis itu terhuyung ke samping.


"Kasar sekali, mana ada perempuan yang mau dengan pria kasar seperti dirimu?"


Elina menangis sesenggukan, hidupnya sangat kacau. Lalu apa yang akan dia banggakan pada suaminya kelak? Dia tak punya apapun lagi saat ini, hanya itu hal yang berharga yang dia punya, tapi dengan kejam pria itu merenggutnya. 


'Pah, Ma, kenapa hidupku seperti ini? Rasanya sangat sakit, aku bahkan di jual oleh ibu tiriku sendiri pada pria bejat yang membuat Elina merasakan sakit fisik juga hati.' Batin Elina.


Dengan langkah pelan, dia memunguti seragam sekolah nya dan memakai nya. Berjalan gontai keluar dari apartemen pria bejat yang sudah merenggut mahkota nya yang sudah dia jaga belasan tahun lama nya. 


Dia menangis sepanjang perjalanan, tanpa peduli apay reaksi orang yang berpapasan dengan nya. Sejak hari itu, Elina tak berani pulang ke rumah karena takut kejadian akan terulang kembali. Entahlah pria itu juga mencarinya atau tidak, dia tak peduli.


Elina putus sekolah dan tak pernah terlihat lagi, padahal dia bekerja di sebuah cafe untuk biaya hidup, makan dan membayar kost an. Kembali ke rumah? Jelas tak mungkin, bagaimana kalau ibu tirinya kembali menjual nya? Tidak, dia tak mau. 


Flashback off.


Elina tersenyum di paksakan saat menceritakan sekelebat kisah hidupnya yang pahit pada Dimas, dia berusaha untuk tak menangis di depan pria yang sudah mau menerima nya apa adanya, tanpa melihat kekurangan nya, dia pria yang sangat tulus.


"Aku tak menyangka, apa yang kamu alami sangat membuat aku sakit, sayang." 


"Ya, itulah hidup yang aku jalani kak. Makanya aku tak percaya pada laki-laki, karena menurut ku mereka hanya peduli dengan nafssu nya saja." Jawab Elina membuat Dimas mengernyitkan dahi nya.


"Tak semua pria sama, sayang. Jangan menyama ratakan setiap pria, karena mereka pasti punya perbedaan, di mulai dari nama, wajah, sifat dan kepribadian nya." 


"Iya, kau benar dan sekarang aku berharap kamu adalah pria yang membuat trauma ku sembuh." Ucap Elina pelan dengan senyum manis yang terkembang di sudut bibirnya.


"Aku akan membuktikan nya, sayang. Sekarang, ayo tidurlah sudah malam." 


"Iya kak, kakak juga sebaiknya tidur tepat waktu." Ucap Elina sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Elina sudah pulang ke rumah, dengan di jemput oleh mami Erika tadi pagi. 


"Ya, pasti. Terimakasih karena sudah mau berbagi cerita padaku, Sayang." Elina mengangguk lalu meraih tangan Dimas, menggenggam nya cukup erat.


"Terimakasih juga sudah mau mendengarkan cerita hidup ku yang pahit seperti kotoran telinga ini."

__ADS_1


"What? Kotoran telinga? Haha.." Dimas tergelak begitu mendengarkan ucapan Elina yang menyamakan kisah hidupnya dengan kotoran telinga. Memang pahit, tapi tak adakah perumpamaan lain selain kotoran telinga, aihh dasar Elina. Ada-ada saja kelakuan dan tingkah juga perkataan nya yang membuat Dimas tertawa.


"Hehe, biar gak tegang-tegang amat setelah denger cerita aku, Kak." 


"Sama calon suami manggil nya masih kakak, gak enak banget." Ketus Dimas, dia sudah memanggil Elina dengan panggilan 'sayang', tapi gadis itu masih memanggil nya kakak juga.


"Mau nya apa dong?"


"Apa kek, sayang gitu, honey atau baby kan bisa."


"Idih, emang mau kalau aku panggil baby?" Tanya Elina membuat Dimas mencebik.


"Itu kan cuma misalnya doang, ayang." 


"Yaudah, iyaa sayang. Maaf ya," 


"Nah kan kalo gitu enak kedengarannya, yaudah kamu tidur ya." 


"Iya sayang, kamu juga tidur yang nyenyak ya." 


"Pasti, aku lebih tenang karena kamu sudah di rumah sekarang. Selamat malam, i love you, have a nice dream honey." Ucap Dimas lalu mengecup singkat kening Elina sebelum keluar dari kamar yang di tempati Elina.


Dimas menutup pintu dengan perlahan, dia melihat Mami Erika masih duduk di sofa dengan lembaran-lembaran kertas di depan nya.


"Lagi ngerjain apa, Mi?"


"Laporan hasil penjualan di cafe, allhamdulilah naik pesat." Jawab Mami Erika sambil tersenyum semringah. Sudah beberapa tahun belakangan, mami Erika fokus mengembangkan bisnis di bidang kuliner. 


"Allhamdulilah kalo gitu, Mi. Omong-omong, gimana persiapan nikahan Dimas sama Elin, udah berapa persen?" Tanya Dimas sambil duduk di sofa yang berseberangan dengan sang Mami.


"Sekitar 80%, gaun yang mami pesen sama Mariska juga baru setengahnya jadi. Belum di kasih manik-manik, katanya dia buat spesial dengan harga khusus buat kamu." Jawab Mami Erika membuat senyuman di bibir Dimas terbit seketika.


"Wahh, makasih ya Mi udah nyiapin semua nya."


"Sama-sama, mami berharap semoga ini pernikahan kamu yang terakhir. Semoga Elina adalah gadis terakhir yang akan mendampingi kamu dari awal sampai akhir." 


"Aamiin Mi, Dimas juga mau nya gitu. Gak enak ganti pasangan terus." Jawab Dimas sambil tersenyum tulus. 


"Ini pernikahan ketiga mu, jangan sampai ada pernikahan yang ke empat atau kesekian nya lagi." 


"Iya Mi." Jawab Dimas lirih.


"Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu. Besok kamu harus kerja kan?"


"Iya, kerjaan di kantor banyak gak ada habisnya. Capek juga," Jelas Dimas, sedikit mengeluh tentang pekerjaan nya di kantor. Menjadi sekretaris seorang CEO memang tak mudah, di hadapkan dengan pekerjaan yang menggunung, belum lagi kalau ada meeting di luar kantor, dia yang harus ikut kemana-mana. Cukup melelahkan, tapi gaji yang di tawarkan pun tak main-main, cukup menggiurkan hingga membuat banyak orang berlomba-lomba untuk jabatan yang saat ini di keluhkan Dimas.


"Kerja memang gak ada yang gak capek, Nak. Ingat, nyari pekerjaan jaman sekarang itu gak mudah lho. Apalagi dengan jabatan kamu sekarang."


"Iya juga Mi, lagian kerja nya enak soalnya Eza kadang ngasih tips. Dia royal banget jadi atasan," jawab Dimas sambil terkekeh.


"Dia udah jadi CEO, kamu jadi bawahan nya."


"Gapapa lah, jadi bawahan yang penting bisa dapet uang juga Mi." Jawab Dimas sambil terkekeh. Dia bangkit dari duduknya dan ke dapur untuk mengambil air minum, tengah malam dia selalu haus. Rasanya akan sangat malas jika tengah malam dia harus ke dapur demi segelas air.


"Dimas tidur duluan ya Mi, jangan begadang."


"Iya, good night."


"Night Mami." Dimas mencuri ciuman singkat di pipi kanan mami nya, lalu pergi ke kamar dengan segelas air di tangan nya. 


Mami Erika tersenyum sambil menatap punggung sang putra yang menghilang di balik pintu kamar nya. Perlahan, sikap nya mulai berubah semenjak mengenal Elina, gadis cantik itu membawa perubahan yang baik bagi Dimas. Itulah alasan mengapa dengan mudahnya, dia memberikan restu nya saat Dimas meminta izin padanya untuk menikahi Elina.


Dengan segera, tanpa harus membujuk demi sebuah restu, Mami Erika langsung memberikan restu itu, karena dia yakin Elina adalah gadis yang baik dan mampu membuat Dimas bahagia. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, begitu pun Erika. Dia sangat menyayangi putra tunggal nya, hingga seringkali bersikap posesif, tapi hal itu dia lakukan karena dia tak mau Dimas merasakan kecewa.


Sama seperti halnya saat dia tak merestui hubungan putranya itu dengan Sila, dia tau gadis itu bukan gadis baik-baik, makanya dia sangat menentang hubungan keduanya, tapi Dimas yang tak tau apa-apa terus memperjuangkan nya, bahkan setelah di rasa Dimas sudah bersama wanita yang tepat pun Dimas malah meninggalkan nya dan memilih bermain gila dengan wanita itu.


Tapi setelah dia tau, dia pun menyadari kebodohan nya dan kembali padanya.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2