Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 94 IRS


__ADS_3

"Masak apa, Yang?" Tanya Reza sambil celingukan.


"Kalo ayam rica-rica, gimana?"


"Iya, masa satu menu doang. Lauk nya dua, sayur juga."


"Banyak amat, kan cuma buat makan berempat, Yang." 


"Udah biasa, kan kalo nyisa ada yang makan ini. Jadi gak bakal mubadzir." 


"Ayam balado aja, campur telor. Sayur nya capcai." Usul Renata dan langsung di angguki oleh Reza. 


Reza membantu Renata menyiapkan bumbu, meski beberapa kali pria itu mengeluh pegal saat di suruh mengulek bumbu. 


"Pegel, Yang.."


"Yaudah, lanjut ngupas telur nya. Biar aku yang ngulek bumbu." Ini kedua kali nya mereka bertukar pekerjaan, karena Reza melihat nya seperti mudah, padahal lumayan sulit juga, apalagi menghaluskan bumbu.


"Yang, kok pada nempel gini? Telor nya jadi bolong-bolong gini, gak rapih." Rengek Eza, membuat Renata menggeleng.


"Yaudah, kamu duduk aja sana. Bukan nya bantuin malah ngerecok doang, bisanya apa sih? Makan doang."


"Hehe, bikin kamu mendesaah." Jawab Reza membuat Renata refleks menepuk lengan suaminya, sedangkan pria itu sudah tergelak melihat reaksi istrinya.


"Mesuum aja terus." Ketus Renata, tapi wajah nya malah merona, apalagi jika membayangkan betapa perkasa nya Reza di atas ranjang. Dia dibuat tak berdaya dengan sentuhan-sentuhan pria itu.


"Tapi kamu suka kan? Nanti malem lagi yuk, jangan lupa pake lingerie." Bisik Reza, membuat wajah Renata semakin memerah seperti kepiting rebus.


"Jangan bahas itu dulu, aku lagi masak."


"Ihhh gemesin nya istriku." Reza mencubit gemas pipi sang istri dan mengecup nya.


"Mau kopi gak? Biar gak bosen nunggu aku masak."


"Aku bikin sendiri aja, sayang." Jawab Reza, dia tak mau merepotkan sang istri. Meski sebenarnya dari tadi dia memang sudah merepotkan Renata, karena ingin membantu tapi saat di beri pekerjaan malah mengeluh.


Sepanjang acara memasak, Reza terus saja menempel di punggung sang istri. Meski beberapa kali Renata meminta agar pria itu melepaskan nya, tapi bukan Reza namanya jika menurut.


"Ya ampun Za, istrimu lagi masak itu. Di gelendotin mulu, dia keganggu tuh."


"Meluk istri sendiri kan gak dosa Mom, kecuali yang di peluknya istri orang, baru dosa. Bisa-bisa pas pulang babak belur di hajar laki nya." Jawab Reza tanpa melepaskan pelukan nya di perut Renata.


Sedangkan wanita itu terlihat biasa saja, mungkin karena sudah bosan melarang. Dia anteng saja mengaduk masakan nya dia wajan, jika ada yang perlu di ambil dia akan berjalan dan Reza tetap ikut dengan berjalan seperti penguin.


"Astaga Eza, bucin sih bucin tapi tau tempat juga dong, gak di dapur juga." Mariska hanya bisa menggelengkan kepala nya saat melihat tingkah putranya, yang menurut nya berlebihan.


"Gapapa Mom, Eza kan kepala batu. Mana nurut, jadi biarin aja. Nanti kalo pegel juga pergi sendiri." Jawab Renata sambil tersenyum.


"Cobain, udah pas belum bumbu nya." Renata menyendok bumbu balado nya dan mendekatkan nya ke mulut sang suami.


"Enak, bumbu nya udah pas." Jawabnya sambil mengacungkan jempol nya. 


"Yaudah, tinggal masak capcai nya." 


Renata pun kembali melanjutkan kegiatan memasak nya dengan Reza yang tetap menempel di punggung nya, melingkarkan kedua tangan nya di pinggang nya.


"Dari tadi gitu ya, Mom?" Tanya Argan yang baru saja keluar dari kamar.


"Iya, dia gak mau jauh dari istrinya." Jawab Mariska sambil mengupas buah, dia ingin membuat salad sebagai makanan penutup nanti.


"Wajarlah kan pengantin baru, Mom."


"Kita waktu baru nikah gak segitu nya, Pih."


"Ya gapapa, selama Renata nya gak keberatan." Jawab Argan.


"Kayaknya keberatan sih, tapi bosen bilang sama Eza nya jadi dia diam, anak kita kan keras kepala."


"Iya, kayak Papih."


"Tumben ngaku, harus nya sifat gitu tuh jangan di turunin ke anak kita." Ketus Mariska membuat Argan terkekeh.


"Bagus dong, berarti Reza anak Papih." 


"Terserah papi aja lah, anak sama bapak sama-sama ngeselin." Sinis nya sambil terus mengupas buah.


"Mau buat apa Mom?" Tanya Renata, dia sudah selesai dengan menu masakan nya.


"Salad buah, sayang." Jawab Mariska sambil tersenyum.


"Rere bantu ya Mom." Renata menawarkan diri untuk membantu kegiatan ibu mertua nya.


"Yaudah, tolong potong-potong buah nya masukin ke wadah ini ya. Udah selesai masak nya?" Tanya Mariska, Renata mengangguk, dia memakai sarung tangan plastik lalu mulai memotong-motong buah yang sudah di kupas.

__ADS_1


Sesekali Renata mencomot buah yang sedang dia potong karena ngiler. Mariska juga membiarkan, toh di makan sekarang atau nanti sama aja.


"Sayang, maafin putra Mommy ya. Manja banget dia sama kamu."


"Gapapa Mom, Eza kan suami Rere." Jawab Renata sambil terkekeh. Meski dia sebenarnya cukup kesal pada suaminya itu, tapi ya sudahlah. Dia juga akan marah kalau suaminya itu bermanja pada wanita lain.


"Syukurlah, Eza memang gitu. Kalo udah sayang, pasti dia gelendotan aja terus."


"Gapapa Mom, Rere suka-suka aja sih. Cuma dikit ganggu, tapi dari pada Eza nya nanti manja sama yang lain, mending sama Rere aja." Celetuknya membuat Mariska terkekeh.


Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka masing-masing, dan setelah selesai Renata memasukan nya ke dalam wadah dan menyimpan nya di kulkas agar dingin. Salad buah akan terasa lebih enak saat di makan dalam keadaan dingin.


Sambil menunggu waktu makan malam, Reza mengajak istrinya untuk berkeliling mansion nya, tentunya dengan bumbu-bumbu kemesraan yang selalu mereka tunjukkan, membuat maid yang berlalu lalang merasa iri dengan kemesraan keduanya.


"Sayang, mau itu." Tunjuk Renata, di belakang mansion memang ada kebun sayur dan buah. Salah satu nya buah stroberi dan jeruk, ada juga semangka dan melon, hanya saja belum berbuah. 


"Boleh sayang, ambil aja." 


Renata celingukan mencari buah stroberi yang sudah matang, dan begitu menemukan nya dia langsung memetik lalu memakan nya dengan lahap. Wanita itu bersorak kegirangan, begitu buah yang dia makan berhasil di telan.


"Enak, manis banget." 


"Kamu suka?" Renata mengangguk cepat dia memang menyukai buah berwarna merah itu, namun ketika dia beli di pasar rasanya selalu saja asam, tak semanis ini.


"Suka banget, buah nya besar terus manis."


"Ambil aja sepuasnya, kalo habis nanti juga berbuah lagi." 


"Makasih ayang." 


"Sama-sama, sayang." Reza mengelus rambut panjang istrinya dengan lembut, lalu memainkan ujung nya dengan telunjuk, menggulung nya.


"Sayang, sudah selesai? Ini sudah waktunya makan malam, kita masuk yuk." Ajak Reza.


"Tapi masih mau makan stroberi." Rengek Renata dengan ekspresi lucu nya.


"Besok bisa kesini lagi, sayang. Sekarang kita masuk dulu, udah malem udara nya dingin."


"Yaudah deh ayo." Reza mengulurkan tangan nya dan dengan cepat di sambut oleh Renata, keduanya pun masuk untuk memulai acara makan malam.


"Dari mana sayang?"


"Dari kebun belakang, Mom. Tadi Rere makan stroberi banyak banget,"


"Kamu suka?"


"Yaudah, besok Mommy pesen lagi bibit stroberi nya biar makin banyak, nanti kamu bisa setiap hari makan stroberi."


"Di belakang udah banyak kok, Mom."


"Gak ada penolakan sayang, besok Mommy beli lagi. Sekarang bantuin Mommy bawa ini ke meja." Renata mengangguk dan membantu ibu mertua nya membawa makanan ke meja makan dan menata nya.


Semua anggota keluarga berkumpul dan memulai makan malam dengan hening, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu. 


Setelah selesai, barulah Argan memulai obrolan. 


"Besok kamu mulai bekerja lagi, Za."


"Siap Pi, lagian kalo Eza kelamaan cuti nanti gaji Eza di potong." Jawab Reza bijak, membuat Argan tersenyum.


"Kalo di potong, nanti istri Eza makan apa? Makan sih bisa minta sama Papi, nah kalo istri Eza mau belanja gimana? Gak mungkin minta juga, hehe." Celetuknya, membuat Mariska terkekeh. 


"Renata mau Mommy bawa ke butik, biar dia gak bosen di rumah terus." 


"Eza sih terserah Rere nya aja, kalo Rere nya mau ya boleh-boleh aja. Tapi jangan kecapean ya, ingat kesehatan kamu. Kita kan lagi promil." Ucap Reza membuat wajah kedua orang tua itu langsung berbinar cerah begitu mendengar kata 'promil'.


"Iya sayang, aku gak bakal kecapean kok. Cuma bantu-bantu aja di butik Mommy, kalau capek aku bisa istirahat." 


"Baguslah, jangan maksain diri ya." Ucap Reza, sambil mengusap pelan kepala sang istri. Meraih nya ke dalam pelukan, menyandarkan kepala istrinya itu di dada nya. 


"Kita tidur yuk?" Ajak Reza, Istrinya langsung mengangguk setuju, dia juga sudah mengantuk. 


"Kami ke kamar duluan ya, Mom, Pi." Pamit Renata sopan, keduanya mengangguk mengizinkan.


Mereka tersenyum simpul saat melihat kedua punggung anak dan menantu nya menjauh dan hilang di ujung tangga.


"Semoga mereka selalu bahagia ya, Pih."


"Tentunya Reza akan bahagia, karena dia sudah bersama wanita yang tepat." Jawab Argan. 


Di kamar, Renata berganti pakaian dengan lingerie, sesuai permintaan suaminya. Malam ini dia memakai lingerie berwarna merah maroon, membuat Reza menganga melihat keindahan yang tersaji di depan mata. 


"Cantik, sempurna." Pujinya membuat Renata tersipu. Dia berjalan mendekat ke arah ranjang dan berdiri di hadapan suaminya yang sudah menunggu di sisi ranjang.

__ADS_1


Reza menarik pinggang sang istri agar lebih dekat dengan nya, menduselkan wajah nya di perut rata sang istri. 


"Aku tak sabar saat nanti ada kehidupan lain disini, aku pasti akan sangat bersyukur, aku akan sangat bahagia nanti." Gumam nya sambil menciumi perut Renata. Seolah sudah ada kehidupan di rahim nya, padahal mereka baru melakukan nya satu kali, mana bisa langsung jadi. 


"Kita usaha dulu, ikhtiar ya. Besok pulang kerja kamu beliin vitamin ke apotik, beli susu juga biar rahim aku subur."


"Iya sayang, aku beliin besok." Jawab Reza. 


"Jadi, malam ini main lagi?"


"Main dong, kan harus sering usaha. Biar kemungkinan dia hadir semakin cepat juga." Jawab Reza tersenyum smirk. 


"Ohh baiklah, ayo." 


Tanpa basa basi lagi, Reza langsung menerkam sang istri, membawa nya ke atas ranjang dan mencumbu nya, melucuti semua pakaian yang dia pakai hingga telanjaang bulat. 


Reza menyentuh bagian sensitif sang istri dengan lembut, membuat Renata nyaman dan melayang karena sensasi nya.


"Aaahh Eza.."


"Yeaahh panggil terus namaku, Babe!" Ucap Reza sambil fokus menyusu di dada sang istri dengan rakus, menguluum bulatan kecil sebesar biji kopi yang berada di puncak bukitan kenyal itu.


Akhirnya kedua anak manusia itu kembali mereguk manis nya cinta dan meluapkan nya melalui sentuhan-sentuhan yang membuat si wanita tak berhenti berteriak, menjerit dan mendesaah. Suara-suara erotis itu menggema di ruangan itu, untung saja Reza gercep memasang alat peredam suara, kalau tidak suara Renata pasti sudah bisa terdengar keluar.


"Eemmhh, terusshh lebih cepat.." pinta Renata, dia kembali mendapatkan klimaaks nya yang ketiga. Tapi Eza masih belum apa-apa. 


"Aku lemas, lutut ku bergetar sayang." Rengek Renata. 


"Tahan sebentar lagi, aku akan segera meledak." Jawab Reza, dia kembali menggerakan junior nya maju mundur dengan cepat, dan dalam waktu hitungan menit dia mendapatkan ledakan klimaaks juga.


"Aaarrgghh.." erang Reza, dia tumbang menimpa tubuh Renata, mengatur nafas nya yang tersengal setelah gelombang pelepasan yang dia rasakan.


"Kita mandi ya?" 


Keduanya pun membersihkan diri, lalu tertidur dengan posisi saling memeluk erat. Hubungan mereka semakin membaik.


Pagi harinya, Renata terbangun lebih dulu untuk membantu mertua nya memasak. Meski di rumah ada maid yang bekerja, namun untuk memasak selalu Mariska lah yang melakukan nya. Apalagi sekarang ada Renata yang membantu nya. 


"Menu yang kemarin enak sekali, sayang." 


"Benarkah Mom?" Mariska mengangguk, dia bahkan ingin tahu resep nya langsung dari Renata. 


"Nanti ajarin Mommy masak nya ya,"


"Siap Mom, Rere juga lainkali mau di ajarin masak sup iga kesukaan Eza."


"Iya sayang." Ucap Mariska, hingga mata menangkap objek tak biasa, tepat di leher atas menantu nya. Tanda kemerahan yang nampak sangat jelas.


"Sayang, suruh Reza beli penyamar noda ya. Tutupin tanda di leher kamu, nanti di liat karyawan Mommy di butik." 


Renata nampak terkejut dan langsung meraba leher nya, wajah nya memerah menahan malu.


"Gak usah malu, sayang. Itu hal lumrah bagi wanita yang berstatus istri, nih Mommy juga punya, tapi di tutupi pake rambut." Mariska menunjukan tanda kemerahan yang sama juga di leher nya, membuat Renata terhenyak.


"Aahh iya, Mom. Kenapa ya laki-laki suka bikin tanda merah?" Tanya Renata sambil terkekeh. 


"Mommy juga gak tahu, sampe berjejer apalagi di dada." Cetus Mariska juga terkekeh pelan. 


"Ihh mommy, iya nih. Eza juga banyak banget buat nya disitu."


"Entahlah, tapi biarin aja selama suami kita merasa senang, itu juga kan jadi pahala buat kita karena sudah menyenangkan suami." Ucap Mariska.


"Iya Mom," 


Kedua nya kembali melanjutkan acara masak yang sempat tertunda karena berghibah ria.


Dan kini saatnya melepas para suami untuk bekerja ke perusahaan, Renata mengantar Reza hingga ke teras, dia menyalim tangan sang suami dengan takzim.


"Aku kerja dulu ya, biar kamu bisa belanja."


"Iya sayang, hati-hati ya."


"Siap sayang, yaudah aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waallaikumsalam sayang." Renata dan Mariska pun melambaikan tangan mereka saat mobil mulai menjauhi mansion.


"Ayo kita siap-siap juga," 


Kedua wanita berbeda generasi itu pun masuk kembali untuk bersiap-siap ke butik.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


bosenin kagak sih??🥺🥺


__ADS_2