
Tepat tengah malam, disaat semua orang tengah tertidur lelap dalam balutan selimut hangat, lain hal nya dengan Renata, dia malah tak bisa tidur sama sekali. Perut nya terasa sakit, namun dia pikir itu hanya karena dia terlalu banyak makan rujak, jadi nya sakit perut.
Renata mendudukan tubuhnya, menyandarkan punggung nya di sandaran ranjang, mengusap lembut perut nya yang bergejolak.
"Dedek, kalian kenapa? Maafin mama ya, gara-gara Mama makan rujak kalian jadi sakit begini." Gumam Renata pelan, dia tak mau membangunkan sang suami yang tertidur sangat nyenyak.
Tapi, semakin lama sakit di perutnya malah semakin terasa, bahkan ada dorongan untuk buang air. Barangkali ini benar dia ingin buang air, Renata berjalan pelan ke kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dengan sangat perlahan, karena khawatir akan mengganggu tidur sang suami.
Setelah beberapa menit duduk di closet, namun tak ada yang keluar sama sekali, dia malah merasakan ada cairan yang keluar dari area inti nya.
Renata malah merasa kesemutan karena terlalu lama duduk, dia pun menyelesaikan kegiatan nya lalu keluar dari kamar mandi. Namun siapa sangka, dia sudah melihat Reza duduk sambil menatap nya.
"Habis ngapain?"
"Pengen poop tapi enggak jadi, Mas." Jawab Renata pelan. Tadi, pria itu sudah menegur nya agar tak terlalu banyak makan buah mangga karena rasanya yang asam. Namun Renata yang keras kepala memilih tak mendengarkan dan anteng makan rujak bersama Karina dan Mariska.
"Ada rasanya? Di bilangin ngeyel, sini Mas olesin kayu putih." Renata menurut, dia duduk setengah berbaring di ranjang, Reza langsung mengusapkan minyak kayu putih di perut sang istri dan mengecupnya.
"Perut kamu hangat banget, sayang. Masih sakit?" Tanya Reza, sedangkan Renata hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa ya? Apa karena dedek nya gak di tengokin dulu tadi sebelum bobok ya?" Tanya Reza lagi, namun Renata hanya menggelengkan kepala nya, dia juga mana tahu apa ucapan suaminya benar atau tidak.
Tapi, semakin lama rasa sakit nya semakin teratur, setiap lima menit sekali dia merasakan mulas luar biasa yang membuat tulang-tulang nya seakan remuk.
Renata meringis pelan, sedangkan Reza tetap mengusap perut sang istri, dia menyangka ini efek kebanyakan makan rujak, tapi siapa yang menyangka bahwa Renata akan melahirkan?
Reza baru menyadari saat tempat di sekitar sang istri duduk itu basah, bahkan ada sedikit darah. Reza menyibak dress sang istri ke atas, benar saja sudah basah. Bukan hanya basah, tapi sudah banjir.
"Tunggu sebentar, tahan ya sayang." Reza mengecup singkat kening sang istri lalu berlari keluar kamar.
Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Mommy nya dengan tak sabar.
"Mom, bangun Mom. Gawat ini Mom, cepetan!" Ucap Reza, kaki nya tiba-tiba saja gemetaran, dan tak lama kemudian dia malah ngompol di celana, tepat di depan kamar Mommy nya.
Mariska membuka pintu, dia mengucek mata nya dan terheran saat melihat penampakan wajah sang putra, panik dan pias, entah apa yang terjadi. Apa mungkin hantu rumah kosong itu mengikuti Reza hingga ke sini?
"Kenapa Za? Rusuh banget, masih malem ini."
"Rere Mom, ayolah." Reza menarik-narik tangan sang Mommy, namun baru saja akan melangkah, Mariska merasakan kaki nya basah, namun cairan itu malah terasa hangat.
"Tunggu, ini basah. Cairan apa?"
"Plis Mom, cepetan. Masalah itu nanti Eza kasih tahu." Reza kembali menarik tangan Mommy nya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Mommy Mariska langsung melihat keadaan Renata yang sudah berantakan dengan cairan yang sudah meluber kemana-mana.
"Astaga, Reza. Istrimu mau melahirkan ini, kok di biarin aja. Cepat panasin mobil, kita ke rumah sakit sekarang."
"I-iya Mom." Jawab Reza terbata.
"Mommy bantu ganti baju nya ya, ini udah basah kuyup. Mana bau Pesing lagi, siapa sih yang ngompol. Gak sopan." Gerutu Mariska, dia membantu menantu nya berganti pakaian, bahkan membantu Renata mengganti pakaian dalaam nya sekalian.
Tak lupa, Mariska juga memakaikan pembalut agar dalam perjalanan tak khawatir akan rembes.
Mariska sibuk menyiapkan tas berisi segala keperluan Renata dan bayinya di rumah sakit, sedangkan Reza malah mematung di ambang pintu, entah kenapa dia malah sakit perut mendengar sang istri akan melahirkan, apa ini wajar ya?
"Reza, cepetan siap-siap, malah bengong disitu. Istrimu udah kesakitan ini, bangunin papa sama mbakmu biar ikut ke rumah sakit." Perintah Mariska, Reza langsung pergi ke kamar Mommy nya, membangunkan Papa dan mbaknya.
Argan masuk ke kamar dan menyaksikan kekacauan di dalam kamar, pria paruh baya itu langsung panik dan bergegas menggendong Renata ke mobil, di ikuti Karina, Mariska dan Reza di belakang.
Ketiga wanita itu duduk di bangku belakang, sedangkan Argan dan Reza duduk di depan, mengemudikan mobil nya ke rumah sakit.
"Mom.." lirih Renata, sambil mengusap perutnya.
"Iya, sayang? Kenapa, sakit? Tahan sebentar ya, sebentar lagi kita sampai." Ucap Mariska, sambil mengusap wajah Renata dengan lembut.
__ADS_1
Semua yang ada di mobil merasa panik dan khawatir karena Renata terus mengeluh sakit di perutnya, dia bahkan meremaas tangan mbaknya dengan kuat. Meski merasa kesakitan, tapi Karina tak berani protes. Dia memilih menahan nya sendiri, dengan menggigit bibirnya.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Argan sampai di rumah sakit, perawat langsung menghambur mendekati mobil yang baru saja berhenti itu, mereka mendorong brankar dan membawa Renata ke sebuah ruangan.
Reza terus menggenggam tangan sang istri, hingga terpaksa genggaman mereka harus terlepas saat Renata di bawa ke dalam ruangan dan dia tak bisa ikut masuk karena prosedur rumah sakit.
Pria tampan itu mematung di depan pintu kaca, hatinya gelisah, bimbang menyatu menjadi satu. Dia terus menatap pintu itu dengan nanar, rasanya ingin sekali dia menerobos masuk, namun itu hanya akan membuat suasana memburuk.
"Eza.."
"Bagaimana istriku, Mom? Aku takut." Ucap Reza lirih sambil memeluk Mommy nya.
"Sabar ya, istrimu pasti baik-baik saja." Mariska mengusap lembut punggung sang putra, memberikan nya sedikit kekuatan untuk menghadapi semua ini.
"Kamu harus yakin, istrimu pasti akan baik-baik saja, Za. Kamu gak boleh lemah kek gini dong, Renata butuh kamu." Ucap Karina. Dia juga tahu bagaimana perasaan sang adik, apalagi setelah dia mengetahui vonis yang di berikan dokter, membuat Karina khawatir Reza akan berbuat di luar kendali.
"Aku takut mbak." Lirih Reza, dia masih memeluk Mommy nya dengan erat.
"Permisi, keluarga pasien atas nama Nyonya Renata Lusiana?"
"Saya suaminya, sus. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Reza dengan panik.
"Keadaan nya cukup mengkhawatirkan, pembukaan nya sudah lengkap tapi pinggul Nona Renata sempit, tak memungkinkan untuk melahirkan normal, jadi dengan berat hati kami harus merekomendasikan operasi sesar." Ucap perawat itu dengan serius.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya dokter."
"Baik, siapa yang akan menandatangani berkas persetujuan?"
"Saya mertua nya dok, biarkan putra saya menemani istrinya melahirkan di dalam."
"Baik, tuan bisa masuk sekarang." Ucap perawat itu, Reza langsung berlari masuk dan hatinya begitu sakit saat melihat keadaan sang istri yang sudah lemas.
"M-as.."
"Iya sayang, Mas disini." Jawab Reza lembut, sambil mengecup kening Renata.
"Jangan takut sayang, Mas pasti nemenin kamu sampai kapanpun, semangat ya sayang demi anak-anak kita." Ucap Reza, Renata mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, dua dokter perempuan datang dan beberapa perawat. Renata berusaha menjaga kesadaran nya, meski rasanya dia sangat mengantuk, tapi demi anak-anak nya dia harus menahan nya.
"Sayang, kamu pasti kuat." Ucap Reza sambil terus mengecupi kepala sang istri, memberikan nya kekuatan. Meski sebenarnya, lutut nya sudah bergetar tak karuan menyaksikan sang istri tengah bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka.
Demi apapun dia berjanji takkan pernah menyakiti perasaan sang istri, perjuangan nya sungguh tak bisa di anggap sepele. Ini berkaitan dengan nyawa.
"Aku mencintaimu sayang, tolong kuatlah demi aku dan anak-anak kita. Aku mohon," air mata pria itu akhirnya luruh juga. Laki-laki manapun takkan merasa sanggup jika melihat proses ini, apalagi dia tahu vonis yang di berikan dokter.
Cukup lama tenaga medis itu melakukan kewajiban mereka, hingga terdengar suara tangis bayi yang nyaring.
Bayi itu langsung disambut oleh suster untuk di bersihkan, dan hanya berselang lima menit saja, bayi kedua berhasil di lahirkan.
Reza tak kuasa menahan tangis nya, dia menangis terisak sambil menciumi kepala sang istri.
"Terimakasih sayang, terimakasih. Aku berhutang banyak padamu, terimakasih sudah melahirkan anak-anak kita sayang." Ucap Reza, pria itu terus saja mengucapkan terimakasih pada sang istri. Sedangkan Renata hanya tersenyum, perlahan pandangan nya mulai mengabur dan sedetik kemudian tubuh nya melemah hingga akhirnya terkulai tak sadarkan diri.
"Sayang, sayang bangun.." pekik Reza setelah menyadari bahwa sang istri tak sadarkan diri.
"Dok, ini istri saya kok begini?" Tanya Reza, dia panik setengah mati.
"Silahkan keluar sebentar tuan, kami akan memberikan penanganan yang terbaik." Reza hanya membeku di tempatnya, hingga dia di dorong pelan oleh perawat.
Tak ada gunanya juga dia berdiri disini, itu hanya akan menghambat dokter menangani sang istri, dia keluar dengan langkah gontai, beberapa kali Reza mengusap wajah nya kasar.
Di luar ruangan, tiga orang yang memang sudah menunggu kabar baik dari nya langsung mendekat dan bertanya bagaimana keadaan di dalam.
"Eza, bagaimana?" Tanya Mariska, membuat Reza mendongak dengan wajah kuyu nya.
__ADS_1
"Bayi nya selamat, tapi Renata kritis Mom." Jawab Reza membuat ketiga nya terhenyak, apa yang dia takutkan selama ini benar-benar terjadi.
Argan langsung memeluk sang istri, karena wanita baya itu sudah menangis histeris, mertua mana yang rela mendengar menantu kesayangan nya kritis? Pasti takkan ada, jika bisa meminta dia sangat ingin menantu nya baik-baik saja setelah melahirkan.
Sedangkan Karina memeluk adiknya, dia juga menangis sambil memeluk Reza, niatnya ingin menguatkan sang adik, tapi ternyata dia juga tak sekuat itu.
Baru tadi malam Renata tertawa bersama nya, mengobrol seperti biasanya. Tapi sekarang? Ingin sekali dia mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi, tapi sayang ini kenyataan.
Pintu ruangan itu terbuka, brankar Renata di dorong dengan cepat, Reza berlari mengikuti kemana istri nya di bawa, tapi sayang dia harus kembali berhenti saat sang istri di bawa masuk ke dalam ruangan.
"Sayang, kuatlah." Gumam Reza, dia menatap pintu itu dengan sendu. Tubuhnya lirih ke lantai, menyembunyikan wajahnya di antara lutut, dia kembali menangis.
"Eza.." panggil Karina, Reza mendongak begitu mendengar nama nya di panggil oleh suara yang tak asing.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Reza, dia menghambur memeluk sang istri.
"Iya, aku baik-baik saja Mas. Kenapa menangis? Jangan cengeng dong, ingat ada anak kita yang membutuhkan kamu. Jaga mereka selagi aku beristirahat ya?"
"Jangan lama-lama sayang, aku butuh kamu begitu juga anak-anak kita. Aku gak bisa tanpa kamu, sayang." Jawab Reza sambil menciumi wajah istrinya.
"Aku berjanji takkan lama, hanya istirahat saja. Aku lelah, jaga mereka dengan baik ya Mas." Reza menganggukan kepala nya, meski dengan berat hati.
"Ya sudah, sekarang Mas bangun ya. Anak kita sudah di adzani belum? Adzani mereka, lalu beri mereka nama yang sudah kamu persiapkan. Aku mencintaimu, suamiku."
"Aku juga mencintaimu istriku, sayang." Jawab Reza, dia ingin kembali memeluk sang istri, namun sang istri menghilang seperti tertiup angin.
"Sayang, jangan pergi." Teriak Reza.
"Jangan pergi, jangan pergi.."
"Reza, kamu baik-baik saja kan Nak?" Ucap Mariska, dia mengguncang tubuh sang putra.
"Jangan pergi, Renata." Reza terbangun dari mimpi nya, dia mengusap keringat yang membasahi kening nya.
"Nak, kamu kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Mariska lagi.
"Mana istri Eza, Mom?" Tanya Reza dengan panik.
"Istrimu masih di tangani di ruangan tadi."
"Lalu kenapa aku disini mom? Aku harus ke tempat istriku!" Tegas Reza.
"Tadi kamu tak sadarkan diri, Nak." Jawab Mariska lirih. Sesakit itu kah yang di rasakan putra nya? Hingga dia sampai tak sadarkan diri.
"Mom, rasanya sakit sekali saat tahu istriku begini. Lebih sakit dari perasaan yang tak terbalas bertahun-tahun." Gumam Reza lirih sambil memegangi dada nya.
"Sabar ya sayang, Renata pasti kembali."
"Dimana anak-anak ku, Mom? Aku ingin melihat mereka."
"Ayo, kita kesana. Bayi-bayi kalian sangat menggemaskan." Ucap Mariska, dia menuntun pelan tangan sang putra, membawa nya ke ruangan khusus bayi.
Reza menatap kedua bayi yang tengah tertidur lelap di box nya, mereka benar-benar sepasang. Sama seperti prediksi dari hasil USG, Reza kembali menitikan air mata nya.
"Mom, mereka lah pelaku nya. Mereka yang selalu menendang-nendang perut Renata ku, hingga membuat nya meringis bahkan seringkali pipis di celana."
"Iya, merekalah pelaku nya sayang. Bagaimana? Mereka sangat menggemaskan, lihatlah mereka berdua sangat mirip denganmu." Ucap Mariska. Reza mengangguk, kedua anak-anak nya sangat mirip dengan nya.
"Renata pasti kesal saat melihat keduanya hanya mirip denganku Mom, sedangkan dia yang mengandung nya hanya kecipratan sedikit saja." Celetuk Reza, dia tertawa pelan saat membayangkan reaksi sang istri nanti.
"Tak apa, kamu yang membuatnya Nak. Kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Mariska, Reza menoleh lalu mengangguk dengan senyum lebar nya.
"Nama mereka…."
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻..
janji gak nangis? tungguin nama anak mereka di bab selanjutnya yaaw☺️🥰