
Tak terasa, dua bulan sudah berlalu. Sejak saat itu, ada banyak sekali perkembangan pada Haura, istri Kenan. Dan hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Kenan, akhirnya setelah 4 bulan terbaring koma, Haura sadar dari koma nya.
Kenan menangis tak henti-hentinya, dia merasa sangat bahagia, bersyukur hingga dengan melihat wajah sang istri yang tersenyum saja mampu membuat nya menangis sesenggukan.
"Hey, kenapa menangis? Sejak aku sadar sampai sekarang kamu terus saja menangis. Kenapa kamu cengeng sekali, sayang?" Tanya Haura yang sukses membuat Kenan menangis lebih keras.
Haura terkekeh, baru kali ini dia melihat suaminya seperti ini. Pemandangan Kenan menangis adalah hal paling langka selama dia menjadi istrinya selama lebih dua tahun ini.
"Terimakasih sudah bangun, aku sangat bahagia saat kamu membuka mata kamu setelah sekian lama. Aku mencintaimu, Haura ku." Ucap Kenan.
Haura tersenyum manis, kata cinta yang meluncur dari mulut Kenan adalah kata-kata terindah yang pernah dia dengar dan selalu bisa membuat hatinya berdebar tak karuan.
"Aku juga mencintaimu, suamiku." Jawab Haura sambil tersenyum, Kenan mendekat lalu memeluk istrinya dengan erat, melayangkan kecupan-kecupan penuh cinta di wajah sang istri.
Alat-alat kesehatan yang awalnya menempel di tubuh Haura kini sudah terlepas sempurna karena kondisi wanita itu sudah stabil sekarang.
"Permisi nyonya, saatnya anda di periksa." Ucap seorang dokter sambil tersenyum salah tingkah karena tak sengaja melihat adegan mesra antara pasien dan suaminya.
"Aahh maaf dok, saya tak menyadari nya."
"Tak apa tuan, mari saya periksa keadaan Nyonya Haura." Dokter itu pun mulai memeriksa keadaan Haura. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, pemeriksaan itu pun selesai.
"Kabar yang baik tuan dan nyonya, keadaan Nyonya Haura sudah stabil sepenuhnya. Dan kabar baiknya, kaki nyonya Haura hanya lumpuh sementara, dengan banyak terapi dan latihan berjalan akan mempercepat kesembuhan nya."
"Ja-di, saya bisa berjalan lagi dok?" Tanya Haura terbata. Pasalnya saat terbangun, dia tak bisa merasakan kaki nya. Dia pikir kaki nya sudah di amputasi atau kemungkinan terburuk nya adalah dia lumpuh seumur hidup. Tapi perkataan dokter membuat Haura tersenyum, artinya dia masih punya harapan untuk bisa berjalan normal seperti dulu.
"Tentu saja Nyonya." Jawabnya, membuat Haura tak bisa menahan kebahagiaan nya. Air mata nya jatuh membasahi pipinya, dia begitu bahagia mendengar kabar yang sangat baik ini.
__ADS_1
"Terimakasih dokter."
"Semingguan lagi, nyonya sudah bisa pulang. Dengan catatan nafssu makan nya sudah kembali seperti semula." Ucap dokter itu ramah sambil tersenyum manis.
"Baik dok, terimakasih." Jawab Kenan.
"Jangan lupa obatnya di minum secara rutin, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Kenan dan Haura mengangguk kompak, dokter dan satu orang perawat pun pergi dari ruang rawat istri sang CEO itu.
"Kamu dengar kata dokter tadi? Jadi, ayolah makan yang banyak. Biar kita cepat pulang, lalu latihan berjalan." Ucap Kenan antusias, begitu juga Haura. Tapi sayang nya, dia masih belum mau makan. Lidahnya terasa sangat pahit, maklum lah selama 4 bulan ini dia hanya berbaring tanpa makan dan minum. Hanya lewat selang saja.
"Masih pahit Mas, nanti aja ya. Belum lapar juga."
"Ya sudah, tapi janji nanti harus makan ya biar kamu cabi lagi kayak dulu. Mas gak suka liat kamu kurusan gini, cantiknya berkurang." Ucap Kenan sambil mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Baguslah sayang." Kenan menatap istrinya penuh cinta. Akhirnya penantian nya selama 4 bulan berakhir dengan indah, rasanya masih seperti mimpi saat dia bisa melihat kembali senyuman sang istri yang selama 4 bulan ini menghilang karena tragedi memilukan itu.
Sedangkan di lain tempat, keadaan Elina juga membaik. Dia menjalani terapi kejiwaan bersama seorang dokter yang sengaja Dimas datangkan ke rumah untuk membantu menyembuhkan mental sang istri.
Dan setelah dua bulan melakukan perawatan dengan rutin, akhirnya Elina sembuh. Dia sudah sehat seperti sediakala, bisa melayani suaminya seperti dulu.
Karena sejak mengidap penyakit mental, karena kejiwaan yang terguncang karena sebuah rasa trauma, Elina tak lagi melayani kebutuhan suaminya. Dimas melakukan semuanya sendiri, sedangkan untuk masalah ranjang, Dimas seringkali bermain solo kalau hasraat nya sudah memuncak.
Dia tak bisa menyalurkan nya pada sang istri karena dia sedang sakit, apalagi menyalurkan nya pada wanita lain, tidak mungkin dia melajukan hal gila semacam itu. Jadilah, dia memilih untuk menuntaskan nya sendirian di kamar mandi.
Malang sekali nasib mu Dimas, punya istri tapi untuk menyalurkan hasrat malah harus bermain solo.
__ADS_1
"Selamat sore sayangku, apa kabarmu?"
"Sore kembali Mas, aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat." Jawab Elina, lalu meletakan majalah yang sedang dia baca di atas meja.
Elina bangkit dari duduknya, meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan nya dengan takzim. Dimas mengusap rambut panjang sang istri, lalu mengecup kening nya dengan lembut.
"Apa dia menyulitkan mu, sayang?" Tanya Dimas, dia menggiring istrinya agar kembali duduk. Dia mengusap lembut perut Elina yang masih rata.
"Tidak, tentu saja tidak Mas." Jawab Elina sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu mengidam?"
"Iya, aku ingin makan seblak." Jawab Elina, entah kenapa makanan itu terus saja membayangi nya sedari tadi pagi. Hampir saja liur nya menetes saat membayangkan makanan dengan kuah pedas, wangi kencur dan perasan jeruk limo membuat perutnya lapar.
"Boleh, tapi jangan pedes-pedes ya."
"Yeee makasih sayang."
"Ganti baju nya, kita berangkat setelah Mas selesai mandi."
"Siap suamiku, makasih." Ucap Elina kegirangan, dia mengecup singkat pipi kanan Dimas lalu pergi ke kamar nya dengan langkah riang.
'Istri cantikku sudah kembali, aku sangat senang saat melihat dia seperti ini.' batin Dimas. Dia pun menggelengkan kepala nya, lalu pergi menyusul sang istri ke kamar.
........
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
dikit lagi ending 😚