Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 13 Penyelidikan Andin


__ADS_3

Sebagai seorang sahabat, dia tidak bisa membiarkan sahabatnya di sakiti oleh orang lain termasuk suaminya sendiri. Dia tahu persis, bagaimana Stella sangat mencintai suaminya dan mempercayai nya.


Andin lalu diam-diam menyelidiki wanita yang sering terlihat bersama Alvin. Dan ternyata mereka memang sering bertemu sepulang kerja. Bahkan saat pagi-pagi sekali, Andin melihat mereka datang bersama.


"Apakah artinya mereka tinggal serumah?"


Andin menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba, dia mendapat telepon jika Stela sekarang sudah tiba di kota S.


"Apa? Kamu ada disini?" Tentu saja Andin terperanjat kaget. Bagaimana mungkin Stella ada di kota S. Bukankah dia ada di kota J?


"Benar, aku disini. Aku akan menemani suamiku mulai sekarang," kata Stella yang memutuskan untuk ikut kemana suaminya bekerja. Dan tidak akan memberikan kesempatan biasa wanita lain untuk menggodanya.


"Aku mencari kontrakan rumah yang dekat dengan pelabuhan. Bisa bantu aku?" tanya Stella dari dalam taksi yang dia tumpangi.


"Oke. Aku akan membantumu," kata Andin sangat bahagia.


Jika Stella datang, setidaknya wanita itu tidak akan mendekati suaminya terus menerus. Dan pada akhirnya menghancurkan pernikahannya, batin Andin.


Andin lalu berpamitan pada suaminya. Andin masuk kekantor dan mengatakan jika Stella ada di sini. Dan dia akan membantunya mencari kontrakan didekat pelabuhan.


"Andin, ingat, kau jangan memperkeruh suasana, jika memang suaminya ada main di belakangnya. Maka dia pasti akan mengetahuinya sendiri," kata suaminya memperingatkan istrinya.


"Iya, mas. tenang saja. Aku tidak akan mengatakan apapun," kata Andin lalu keluar dari kantor suaminya.


Andin lalu menemui Stella ditempat yang sudah dia sampaikan lewat pesan singkat.


"Stella!" Panggil Andin saat melihat sahabatnya datang dengan koper dan menggendong bayinya.

__ADS_1


"Ya, ampun Stella, kau akhirnya ikut juga kemari, kenapa? Apa ada masalah?" pancing Andin sambil memeluk sahabatnya.


"Ngga ada. Hanya saja, aku ingin dekat dengan mas Alvin. Aku juga sudah resain dari tempatku bekerja. Aku memilih untuk menjaga Esther dan menjadi ibu rumah tangga saja," kata Stella.


"Aku setuju denganmu Stella. Jangan kau beri kesempatan pada pria untuk merasa kesepian. Dan menggunakan alasan itu untuk main dibelakang kita. Kita kan istrinya. Kita ikut kemana dia pergi dan kerja," kata Andin.


"Kau benar, selama ini, aku telah membuat Mas Alvin sendirian dirantau orang. Tidak salah jika dia merasa kesepian, dan mungkin saja dia sudah melakukan kesalahan...." kata Stella dengan air mata berderai.


Andin kaget. Menatap Stella dengan mata yang membesar.


Jadi, Stella juga sudah tahu, jika suaminya berselingkuh? batin Andin.


"Stella, jadi kau juga tahu jika suamimu mungkin...."


"Aku tahu. Aku membuat kesalahan dengan memberi kesempatan wanita lain merayunya selama jauh dariku. Ini kesalahan kami berdua. Aku harus memperbaikinya mulai sekarang," kata Stella.


Mereka lalu berjalan masuk ke perkampungan. Mereka mencari rumah kecil untuk tempat tinggal sementara.


"Itu sepertinya di kontrakan. Ayu kita lihat!" Seru Andin.


"Bu, saya mau tanya, apakah timah ini di kontrakan?"


"Benar neng, apakah neng mau mengontrak?"


"Tahunan apa bulanan Bu?" tanya Stella.


"Bulanan juga bisa Neng. Terserah yang ngontrak maunya gimana?" kata ibu itu yang sedang bersih-bersih.

__ADS_1


"Kalau bulanan gimana Bu?"


"Bisa neng, mari masuk," kata Ibu itu.


Stella dan Andin lalu masuk kedalam. Setelah melihat seluruh ruang an dan merasa cocok. Mereka lalu membuat kesepakatan harga.


Stella menyewa rumah itu bulanan.


"Syukurlah, masalah rumah sudah kelar. Sekarang kamu bisa tinggal disini dengan nyaman," kata Andin.


"Apakah kamu juga menyewa?" tanya Stella pada Andin yang duduk disebelahnya.


"Mas Herman kebetulan beli rumah di perumahan. Kedepannya kami mungkin akan tinggal disini. Karena dekat dengan kantor mas Herman. Aku juga akan minta pindah kesini dari perusahaan," kata Andin.


"Ohh, jadi kau juga memikirkan untuk dekat dengan suamimu?" Stella terkejut.


"Tentu saja. Aku tidak bisa jauh darinya. Sebentar lagi Mas Herman naik pangkat. Para pria akan mulai berulah setelah jabatan tinggi dan uang mereka banyak. Aku mengkhawatirkan pernikahan kami, jika terus menerus LDR,"


"Kau benar, itulah yang terjadi padaku. Kau tahu, aku bahkan tidak tahu jika gaji mas Alvin sudah naik dua kali lipat. Tapi aku hanya diberi seperempat nya saja? Aku ini istrinya atau simpanannya? Sedangkan dia memberikan separo gajinya pada wanita lain? Aku tidak menduga hal ini terjadi pada pernikahan kami," Stella mengusap airmata nya.


"Kenapa kamu tidak marah?" Andin sekarang yang bingung dengan sikap sahabatnya yang tidak terlihat bet ekspresi marah sama sekali.


"Jika aku marah dan memojokkannya. Selesai sudah pernikahan kami. Kau tahu, aku batu saja mendapat anak yang cantik seperti ini. Aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ku. Aku akan merebut kembali suamiku. Jika dia bersalah. Aku akan memaafkannya. Selama dia berjanji untuk meninggalkan wanita itu," kata Stella lalu mencium bayinya.


"Kau begitu tegar Stella. Jika aku ada diposisi mu. Aku akan menangis setiap malam sepanjang hari, dan mengutuk dirinya. Tapi aku melihat kau wanita dewasa dan kuat. Aku salut padamu,"


"Andin, tapi aku tidak bisa melakukan nya sendiri. Aku butuh bantuanmu. Kau tahu, aku punya bayi, aku tidak bisa meninggalkanya sendirian dirumah atau memberikannya untuk di asuh orang lain," kata Stella berharap.

__ADS_1


"Tentu, aku tentu akan membantumu," Andin memegang tangan sahabatnya.


__ADS_2