
Keesokan harinya, Dimas bangun pagi-pagi sekali. Ini adalah hari pertama nya bekerja setelah berganti status menjadi suami.
"Mas, udah siap?" Tanya Renata dari dapur.
"Sudah Sayang." Jawab Dimas sambil memakai sepatu nya.
"Ini bekal buat makan siang nya, di makan sampe habis ya Mas."
"Iya Sayang, terimakasih. Doain Mas ya, semoga kerjaan Mas lancar gak ada halangan apapun." Ucap Dimas sambil mengusap lembut rambut Renata.
"Pasti aku doain Mas, hati-hati di jalan sama kerja nya ya. Pergi dalam keadaan sehat, pulang juga harus baik-baik saja tanpa kurang satu apapun."
"Iya Sayang, yaudah Mas berangkat dulu ya. Kamu pergi ke kampus sendiri, gapapa kan?" Tanya Dimas, jarak kantor tempatnya bekerja dan kampus Renata cukup jauh, jadi akan banyak membutuhkan waktu untuk mengantarkan Renata lalu ke kantor, Dimas tak mau terlambat di hari pertama nya bekerja.
"Gapapa kok Mas, aku bisa naik kendaraan umum."
Dimas tersenyum manis, lalu mengecup singkat kening Renata lalu memeluk nya.
"Udah ihhh, sana kerja keburu siang nanti telat lho."
"Iya iya, issshh bawel nya istriku." Ucap Dimas sambil terkekeh. Dia memakai helm nya, lalu melambaikan tangan nya ke arah Renata.
"Pelan-pelan aja bawa motor nya, Mas." Peringat Renata, Dimas menganggukan kepala nya, lalu menaiki motor gede nya dan pergi menjauhi kost an yang sudah tiga hari ini dia tinggali bersama Renata.
Setelah motor milik sang suami tidak terlihat lagi, Renata masuk ke rumah dan bersiap karena hari ini ada kelas yang harus dia ikuti. Ini sangat mempengaruhi nilai nya saat dia akan wisuda nanti.
Renata tersenyum saat masuk ke kamar, dia lupa membereskan kasur tempat dia tidur dengan saling memeluk tadi malam. Wajah Renata memerah, apalagi saat dia mengingat permainan dengan gaya baru malam tadi.
Buru-buru Renata menggelengkan kepala nya, mengenyahkan semua pikiran mesum nya.
"Aisshh, seperti nya kamu sudah mulai mesum Re! Ayo cepatlah bersiap, kita harus pergi." Ucap Renata pada dirinya sendiri.
Dimas sampai di kantor tepat waktu, kebetulan hari itu ada beberapa OB baru seperti Dimas yang baru di rekrut kemarin.
"Tugas kalian membersihkan seluruh tempat ini dengan bersih, sedetail mungkin karena bos kita tidak suka ada debu sedikit pun di ruangan nya." Sekretaris CEO bernama Catherine itu memberi arahan pada tiga OB baru yang di tugaskan untuk membersihkan ruangan CEO.
Ruangan keramat bagi karyawan perempuan, bukan hal tabu lagi jika CEO perusahaan ini seringkali melakukan hal tak senonoh pada karyawan perempuan, Catherine adalah salah satu mainan tuan CEO. Dia seringkali di panggil, jika birahii pria dengan jabatan CEO itu sedang naik.
"Baik Bu."
"Eehh enak aja panggil Ibu, saya gak setua itu. Panggil Miss, Miss Catherine."
"Baik Miss." Jawab ketiga nya serempak.
"Kalian bisa mulai bekerja, pukul delapan harus sudah selesai."
Catherine pun melenggang pergi dengan langkah anggun nya, membuat bokongg sintal nya bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Bohay banget gila!" Puji salah satu OB baru bernama Arman.
__ADS_1
"Husstt, jangan banyak omong yok kerja. Nanti kita ngobrol-ngobrol setelah beres, nanti kena semprot kalo ruangan nya gak bersih." Kecam pria yang berdiri di samping kanan Dimas, karena pria itu berdiri di tengah.
Ketiga nya pun langsung mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing, dengan teliti. Arman bertugas membersihkan debu dengan kemoceng, Dimas menyapu dan yang satu nya lagi bertugas mengepel.
Setelah selesai, ketiga nya pun kompak keluar dari ruangan CEO setelah memeriksa ulang untuk memastikan bahwa tak ada debu sedikitpun yang tertinggal.
Di lorong, tak sengaja ketiga OB baru itu berpapasan dengan sang CEO, mereka mengangguk hormat dengan setengah membungkuk. Pria itu tersenyum kecil, lalu terus melangkah ke depan dengan langkah lebar nya.
"Itu CEO perusahaan ini kan?"
"Ya iya, kalo bukan mana mungkin itu Miss Catherine ngintil di belakang nya." Sewot Arman.
"Biasa aja kali jawabnya."
"Nama Lo siapa?"
"Dimas, kak."
"Usia?" Tanya Arman sambil berjalan.
"24 tahun kak."
"Gak usah manggil kakak, kita seumuran."
"Gua Arman, yang itu Fadli." Dimas hanya menganggukan kepala nya, mereka pergi ke toilet dan mencuci tangan.
"Wihhh di bawain bekel ya?"
"Iya nih, di buatin istri." Jawab Dimas sambil nyengir.
Uhukk.. uhukk..
"Istri? Lo dah nikah, Dim?" Tanya Arman, di banding Fadli, Arman lebih banyak bicara. Sedangkan Fadli terlihat lebih kalem, namun sekalinya bicara kata-kata yang meluncur dari mulutnya pasti pedas dan membuat lawan bicara nya diam seketika.
"Udah dong, baru tiga hari nih ganti status jadi suami." Jawab Dimas.
"Lahh kita boro-boro istri, pacar aja gak ada."
"Kita? Lo aja kali, gue mah punya." Cetus Fadli membuat wajah Arman asam seketika.
"Usaha sana nyari cewek, keburu tua gak laku nanti."
"Belom ada yang pas aja." Jawab Arman sambil menggigit bakwan di nasi bungkus miliknya.
"Gak usah milih-milih Lu, muka pas-pasan aja. Kalo mau milih, seenggaknya gak good looking juga harus good rekening, Man." Sindir Fadly, membuat wajah Arman di tekuk seketika.
Ketiga nya pun meneruskan acara makan siang mereka dengan lahap, meski di selingi dengan beberapa candaan yang menyudutkan Arman.
Di kampus, Renata merasakan sakit melilit di perutnya, dia berjalan pelan sambil memegangi perut nya.
__ADS_1
"Assshh sakit banget!" Keluh Renata dengan ringisan nya.
Untung saja kelas nya sudah selesai, jadi dia hanya perlu sedikit berjuang untuk pulang ke rumah dengan menggunakan ojek online.
Bibir nya memucat, Renata harus segera pulang dengan cepat, dia meminta pada driver ojek nya untuk melakukan motor nya lebih kencang.
"Makasih pak, maaf ya tadi saya suruh ngebut, saya lagi sakit."
"Gapapa Neng."
"Ini uang nya, sama tips buat bapak."
"Wah, makasih ya Neng." Renata tersenyum kecil lalu mengangguk, dia buru-buru masuk ke dalam dan mencari stok pembalut di laci, untungnya dia masih punya stok roti Jepang itu di rumah.
Renata dengan cepat mengganti celana nya yang sudah terdapat noda merah, benar saja dia kedatangan tamu tak di undang alias datang bulan.
Sore harinya, Dimas pulang dengan wajah ceria nya, di tangan nya dia menenteng sebuah kresek kecil berisi martabak manis rasa coklat kesukaan Renata.
"Sayang, Mas pulang."
Hening, tak ada jawaban apapun. Bahkan lampu utama di tengah-tengah ruangan pun belum di nyalakan.
"Apa Rere belum pulang ya? Tapi masa iya jam segini belum pulang." Gumam Dimas, dia melangkah masuk dan menutup kembali pintu, dia menghidupkan lampu dan pergi ke kamar setelah meletakan martabak di meja ruang tamu.
Dimas membuka pintu kamar, seketika itu dia membulatkan kedua mata nya saat melihat Renata berguling ke kanan, ke kiri sambil memegangi botol berisi air hangat.
Keringat membanjiri kening nya, Dimas panik bukan main, dia mendekat dan memeluk tubuh Renata dengan erat.
"Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit, Yang?" Tanya Dimas dengan khawatir.
"Perut aku sakit, Mas."
"Ada salah makan ya, Sayang?" Tanya Dimas sambil mengusap lembut perut Renata, terasa dingin dan keras seperti kram.
Namun setelah beberapa menit di usap oleh Dimas, perlahan nyeri di perut Renata mulai mendingan.
"Masih sakit, Yang?"
"Agak mendingan, Mas." Jawab Renata.
"Kamu makan apa sih Sampe sakit guling kanan guling kiri begitu?"
"Nyeri Dateng bulan, Mas."
"Hah? Kamu Dateng bulan?"
......
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1