Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 93 IRS


__ADS_3

Renata dan Reza keluar dari kamar dengan tangan yang saling bergandengan mesra, sejauh ini hubungan mereka semakin membaik. Mariska tersenyum simpul saat melihat putra dan menantu nya itu.


"Pada mau kemana udah rapih?" Tanya Mariska. 


"Istri Eza mau mie ayam katanya, jadi ini Eza mau anter dulu." Jawab Renata.


"Sekalian kamu juga pengen, jadi gak usah jual nama istri mu, kamu juga doyan makan mie ayam." Celetuk Mariska membuat Reza cengengesan. 


"Iya iya Mom, Eza sama Rere pergi dulu ya. Mau nitip gak?"


"Boleh, jangan pedes ya. Inget, pulang nya jangan malem-malem." Peringat Mariska, keduanya kompak menganggukan kepala mereka pertanda mengerti.


"Pake motor aja ya, biar cepet." 


"Yeee naik motor." Renata bersorak kegirangan, membuat Reza terkekeh melihat tingkah sang istri yang menurut nya sangat menggemaskan. 


"Yaudah, ini pake helm nya." Renata mendekat dan seperti biasa Reza memakaikan helm itu di kepala Renata, keduanya pun berangkat berburu mie ayam dengan menggunakan motor, agar lebih cepat. 


Sepanjang perjalanan, Renata terus saja memeluk erat pinggang suaminya juga menyandarkan dagu nya di pundak sang suami, Reza tentunya tak pernah keberatan dengan apapun yang di lakukan istrinya, hanya saja saat ini tiba-tiba saja dia merasa tegang.


Tangan Renata menyusup masuk ke dalam jaket dan kaos yang dia pakai untuk mengusap perut nya dengan lembut, pliss kalau saja bukan sedang dalam perjalanan, Reza pasti sudah mencium Renata untuk menyalurkan sedikit nafssu nya, namun sialnya saat ini keduanya sedang di jalan.


Mau protes bingung, takut di sangka pelit karena gak boleh nyentuh perut, di biarin bikin tegang, panas dingin plus sesak. Tapi ya inilah dilema nya seorang Reza saat ini.


Singkatnya, keduanya sampai di warung mie ayam yang menjadi langganan Renata. Mereka duduk lesehan di lantai beralaskan karpet tipis, dan tak lama kemudian pesanan mereka datang. 


Mie ayam bakso dengan toping pangsit tersaji di depan mata, membuat perut Renata berbunyi karena lapar, aroma lezat membuatnya semakin kelaparan.


"Selamat makan, istriku. Berdoa dulu ya?" Keduanya kompak menengadahkan tangan mereka dan memejamkan mata. 


"Aamiin." Ucap keduanya bersamaan. 


Renata mulai memakan mie ayam nya dengan lahap, sudah cukup lama dia tak makan makanan ini karena kesehatan nya. Setelah mengalami kecelakaan hari itu, tubuh Renata menjadi lebih sensitif. Kelelahan sedikit saja, dia pasti akan tumbang. 


"Pelan-pelan makan nya, sayang. Gak ada yang minta kok," ucap Reza, dia tersenyum kecil saat melihat Renata yang menyuap tak berhenti.


"Hehe, laper plus doyan jadinya gini."


"Kamu gemesin banget jadi orang, gimana aku gak jatuh cinta coba kalau kamu gini." Reza terkekeh lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. 


Renata merona mendengar ucapan Reza yang terdengar sangat lembut dan tulus, sungguh itu membuat hati nya berdebar.


Setelah selesai dengan acara makan mie ayam, pasangan itu memilih pulang ke rumah. Tentunya setelah membungkus beberapa untuk orang rumah.


"Belom balik Lo?" Tanya Reza pada Mira yang sibuk membuka bungkusan mie ayam yang di bawa Reza.


"Besok gue balik di jemput papi, kenapa gitu? Pengen banget gue pergi."


"Jelas lah, liat muka Lo bikin engap." Jawab Reza sambil tergelak, secepat kilat dia berlari menghindari sendok yang di layangkan Mira ke arahnya.


"Suami mu nyebelin banget, Re!" Adu Mira, membuat Renata terkekeh.


"Aku tahu, dia emang nyebelin. Tapi ganteng, perhatian, baik, sweet banget kalo lagi sama aku." Jawab nya membuat mata Mira mendelik.


"Udah anuan belum?"


"Napa tanya gitu?" Balik tanya Renata, dia menuang air ke dalam gelas dan meminum nya. 


"Cuman nanya aja sih, penasaran aja."


"Belom, Mir." 


"Kenapa? Lo masih ragu sama Reza atau begimana?" 


"Ragu sih enggak, cuman gue takut aja pas Reza pake gue, bayangan gue malah pria lain." Keluh Renata sambil menunduk.


"Lo trauma?" Renata mengangguk. Terakhir kali dia di sentuh oleh Dimas, caranya yang sangat kasar membuat inti nya sakit, perih, bahkan terjadi pendarahan setelahnya, karena terakhir kali dia melakukan nya saat dia sedang mengandung.


"Cuma laki-laki brengseek yang lakuin itu, tapi gue akuin, meski Eza itu nyebelin, tapi dia bukan laki yang kek gitu, dia baik dan lembut."


"Lo cuma perlu yakinin hati Lo sekali lagi, ingat gak semua laki-laki itu sama. Dimas sama Reza itu beda, nama nya juga beda, orang nya beda, kepribadian nya apalagi." Saran Mira. 


Sebagai teman, dia meyakinkan dan berusaha memberikan solusi terbaik untuk Renata. Namun hal itu tak mudah, karena disini Renata adalah wanita yang menjadi korban ke serakahan seorang lelaki.


"Iya, Mir. Makasih ya, gue bakal pikirin lagi ucapan Lo." Jawab Renata. 


"Semangat buat lupain bayang-bayang mantan. Ubah penampilan kamu, biar Dimas makin panas." Usul Mira membuat Renata terkejut, kenapa dia tak kepikiran dengan ide itu ya?


"Nanti gue diskusi dulu sama Eza, gue takut dia malah gak suka kalo penampilan gue berubah."

__ADS_1


"Yaudah, sana mandi. Kalo perlu mandi bareng biar so sweet." Celetuk nya membuat wajah Renata memerah, tanpa bicara apapun lagi dia langsung pergi ke kamar nya.


"Udah selesai di bawah?" Tanya Reza, sungguh pria itu nampak sangat seksii. Handuk selutut yang memamerkan deretan roti sobek favoritnya, rambut basah, tetesan air membasahi wajah nya, turun hingga leher dan menyentuh jakun nya.


Renata menelan ludahnya dengan kasar, di suguhkan pemandangan seperti ini, siapa yang gak kesengsem coba? Dia aja di buat mematung.


"Kok bengong, kenapa sayang?" 


Akhirnya pertahanan Renata runtuh, dia berjalan mendekat dan langsung mengusap lembut perut suaminya. 


"Kamu tahu, kamu terlihat seksii sekali." Puji Renata membuat hidung Reza serasa terbang.


"Sekssi atau manly?" 


"Keduanya, kamu punya keduanya sayang." Jawab Renata. 


"Lalu?"


"Aku menyukainya, bolehkah aku mencium nya?"


"Ohh ayolah, jangan menggodaku sayang. Ini masih sore dan aku tak ingin memaksa mu." Ucap Reza, dia sendiri masih berusaha melawan bisikan setan yang berkata, 'tunggu apalagi cepat terkam istrimu Reza!'


"Memang nya kenapa kalau aku menggoda mu? Itu tak bisa disebut menggoda, karena kita suami istri. Mungkin itu bisa di sebut kewajiban."


"Aku tanya, kamu sudah siap atau belum? Karena jika aku sudah memulai, semua nya takkan berhenti meskipun kamu meminta nya." Tanya Reza dengan suara berat nya.


Di luar dugaan, Renata langsung mengangguk mengiyakan bahwa dia sudah siap menjalankan kewajiban nya sebagai istri. Bukan nya gercep selagi ada kesempatan, Reza malah terhenyak melihat jawaban Renata. Tunggu, kenapa dia gugup?


Renata malah berani ambil start duluan, dia menarik tangan Reza dan mendorong nya hingga terduduk di sisi ranjang. Wanita itu duduk di pangkuan suaminya, mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh suaminya, membuat Reza kesulitan mengatur ritme jantung nya yang berdetak sangat kencang.


"Kamu tak berniat menyentuh ku lebih dulu, sayang?" Tanya Renata pelan, Reza mendongak membuat jakun pria itu semakin terlihat dan membuat Renata gelisah.


"Aku suka tonjolan ini, jadi menunduklah saat bertemu orang lain, khususnya wanita." Peringat Renata posesif.


"Baiklah, ini hanya miliku." Jawab Reza, dia meraih kepala sang istri dan mendaratkan bibirnya, keduanya berciuman dengan mesra. Lembut dan memabukkan, membuat Renata beberapa kali kehilangan kendali karena ulah nakal lidah Eza yang menari dengan liar di dalam mulutnya.


"Eemmhhh, pelan-pelan.." pinta Renata saat Reza bermain-main di leher nya, meninggalkan bekas kemerahan yang nampak sangat jelas. 


Bibir nya kini menuruni tebing dan mendaki bukitan kenyal milik sang istri yang sebelum nya berbalut batok kelapa, dia menyesap puncak kemerahan itu dengan nikmat nya, seperti bayi kehausan. 


"Aaahhh, sayang.."


"Panggil nama ku, babe!" Pinta Reza, dia membaringkan tubuh Renata yang setengah polos, dia menarik celana bahan yang di pakai istrinya, lalu merobek paksa segitiga berenda nya dengan tergesa-gesa.


Pria itu menggigit pelan kacang kecil yang terjepit di antara irisan daging tanpa tulang itu.


"Aaahh berhenti sayang, jangan begini."


"Nikmati saja, sayang. Aku akan memuaskan mu, membuat mu terbang hingga langit ke tujuh." Jawab Reza dengan seringai nakal, dia kembali menenggelamkan kepala nya ke area bawah nya. 


Renata meremas seprai dengan kuat hingga buku-buku tangan nya memutih, menahan gairah yang saat ini tengah melanda nya.


"Aaahh Reza!" Tubuhnya melengkung ke atas, bergetar dengan nafas yang memburu, dia mendapatkan klimaaks pertama nya.


Reza menelan cairan pelepasan sang istri dengan rakus, bahkan merasa kurang dan mencarinya langsung ke sumbernya.


Pria itu merangkak menaiki tubuh sang istri, melempar handuk nya ke sembarang arah, dia langsung mencium bibir Renata, berbagi sedikit rasa memabukan dari cairan yang tersisa di mulutnya. 


"Eemmhh, Eza.."


"Iya sayang, kenapa? Jangan katakan ingin berhenti, aku tak bisa!" 


Tanggung, dia sudah sejauh ini. Junior nya sudah berdiri tegak, urat-urat nya bahkan sudah menonjol, rasanya sakit sekali. 


"Siapa yang minta berhenti, aku minta kamu turun biarkan aku melakukan hal yang sama."


"Tidak, jangan lakukan hal yang membuat aku terlihat merendahkan mu." Jawab Reza membuat Renata tersenyum kecil, dia merasa sangat di hormati oleh sang suami.


"Jadi?"


"Jadi aku masukan saja ke sarang nya." Jawab Reza santai, sambil menggesekan junior nya di inti sang istri.


"Eemm, geli sayang.." rengek Renata. Reza tergelak, dia bersiap memasukan senjata nya, dengan perlahan dia mendorong senjata nya masuk. Dia melihat reaksi istrinya, nampak seperti menahan sakit.


"Sakit, sayang?"


"Sedikit, tapi tidak apa-apa. Lanjutkan saja," jawab Renata lirih. 


Reza menundukan tubuhnya, kembali mencium bibir sang istri dengan lembut namun sangat bergairah, membuat Renata melupakan sejenak rasa sakit dan ngilu nya. 

__ADS_1


Begitu Renata lengah, Reza langsung mendorong senjata nya hingga semua nya tenggelam masuk ke dalam sana.


Wanita itu membulatkan mata nya, inti nya terasa sangat sakit, seperti di peraawani dulu. 


"Sakit? Aku minta maaf." 


"Tidak, aku baik-baik saja. Lanjutkan, sayang." Jawab Renata. Pria itu kini bergerak maju mundur dengan perlahan, membuat Renata mendesaah karena inti nya terasa penuh. 


"Milikmu enak sekali, sayang." Racau Reza, dia merasakan senjata nya seperti di remaas, membuat nya ingin menghujamkan senjata nya dengan cepat dan keras, namun dia tahu Renata belum terbiasa. 


"Kamu bisa bergerak lebih cepat sekarang, Bby. Rasanya enak," ucap Renata. Seperti mendapat angin segar, Reza pun bergerak lebih cepat, memacu tubuhnya di atas tubuh polos istrinya dengan semangat membara.


Hingga satu jam kemudian dia berhasil menyelesaikan permainan, dia meledak dan ambruk menimpa tubuh Renata yang berada di bawahnya.


"Terimakasih istriku, aku sangat mencintaimu." Reza mengecup kening sang istri dalam-dalam. 


"Sama-sama, suamiku. Aku juga mencintaimu, terimakasih sudah sabar menunggu." 


Reza menatap wajah istrinya, dia tersenyum lebar saat mendengar jawaban istrinya.


"Tentunya, ini bukan caraku menyenangkan mu. Ini benar-benar jawaban ku, aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu, bahkan untuk hakmu."


"Tak apa sayang, aku bisa menunggu lagi kalau saja kamu tak menggoda ku tadi." Ucap Reza sambil tersenyum manis.


"Sudah selesai? Kamu bisa mencabutnya, seperti nya dia bangun lagi di dalam sana." 


"Aku masih ingin, Sayang." Jawab Reza membuat istrinya itu melotot. 


"Aku bercanda sayang, ayo kita mandi."


"Lutut aku lemes, bisa gendong?" Pinta Renata.


"Tentu saja, apapun untuk istri tercinta." Jawab Reza, dia menggendong Renata ala bridal style. 


Keduanya pun berendam bersama, mandi di sore hari setelah bercintaa satu jam penuh dengan orang yang paling di cinta memang menyenangkan, hingga mereka lupa waktu dan baru keluar kamar mandi saat tangan mereka mulai keriput.


Beruntung saja tak ada permainan tambahan di kamar mandi, Reza terlalu menyayangi istrinya hingga dia tak bisa melihat nya kelelahan, meski sebenarnya dia sangat ingin kembali menghajar Renata. 


Untung saja Reza bisa menahan nafssu nya, dia tak mungkin melukai Istrinya dan hal itu takkan pernah terjadi. Dia lebih rela menahan nya daripada membuat istrinya kesakitan. Suami yang sangat pengertian.


Setelah berpakaian, keduanya pun turun ke lantai bawah dengan tangan yang saling bertautan mesra. Membuat Mariska dan Argan tersenyum melihat kemesraan keduanya.


"Sore Mom."


"Sore juga, sayang." Jawab Mariska. 


"Kamu apain mantu Mommy hmm? Kamu kurung dia di kamar?" 


"Apa sih Mom, itu kan wajar buat pengantin baru." Cetus Reza.


"Iya lho Mom, biarin aja. Lagian semakin sering proses nya, semakin cepat kita menimang cucu nanti." Argan ikut menimpali ucapan sang putra.


"Nah, kalo cepat mau cucu ya harus sering nyetak nya. Jadi, jangan ganggu ya." 


Renata hanya menyimak, dia malu kalau harus ikut nimbrung, dia memilih duduk dan membuka majalah milik Mariska. Dia melihat-lihat koleksi gaun di butik ibu mertua nya.


"Kamu tertarik? Kalau begitu kapan-kapan kamu ke butik Mommy ya."


"Iya Mom, Rere pengen juga jadi designer kayak Mommy." Jawab Renata antusias.


"Ingat, harus izin dulu sama suami kamu ya." Peringat Reza, membuat Renata mengangguk patuh.


"Istri yang baik, makin cinta aja sama ayang." 


Cup..


Reza mencium kening Renata di hadapan kedua orang tua nya, membuat Renata merona, sedangkan dua lain nya kompak melongo melihat anak mereka pamer kemesraan di depan mereka.


"Aisshh putra mu itu pih, bikin iri aja!"


"Yaudah ayo!" Jawab Argan membuat Mariska langsung menepuk lengan suaminya.


"Malu-malu kucing, sana pada ke kamar."


"Tapi Mommy belom masak."


"Ada Rere sama Eza yang masak, Mommy kalau mau mesra-mesraan sama Papi sana ke kamar, jangan disini. Hati-hati lupa pil nya, Eza gak mau punya adik." Celetuk Reza membuat kedua nya kompak terkekeh. Lalu pergi ke kamar, sedangkan couple R pergi ke dapur untuk memasak makan malam.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


maaf kalo kurang hot, ini author nya lagi ngeleg otak nya🥲


__ADS_2