
Stella harap-harap cemas, duduk diruang kerja Bosnya sambil menunggu transferan dari suaminya.
Kling!
Notifikasi dari bank sudah masuk ke handphone Stella. Dia segera membukanya. Matanya terbelalak, melihat nominal enam juta untuk nafkahnya.
Stella tersenyum kecut penuh kepahitan.
"Enam juta? Sedangkan gaji kamu sekarang sudah dua puluh lima juta. Dan kau berikan pada istrimu hanya enam juta? Astaga...padahal sekarang punya bayi. Ok. Biar aku menelepon nya,"
Saat ini atasanya sedang pergi dan Stella sendirian dikantor. Dia lalu menelpon suaminya.
"Honey....apakah transfer nya sudah masuk?"
"Sudah Mas, baru saja,"
"Aku naik gaji. Biasanya aku kirim enam juta untukmu. Dan sekarang karena sudah ada anak, maka aku tambah jadi enam juta," jelas suaminya via telepon.
"Ohh, emang berapa sekarang gaji kamu Mas?"
"Gaji aku dua belas juta,"
"Apa?"Stella terkejut, tapi dia tidak heran. Dia sudah tahu kemana gaji suaminya mengalir. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk wanita lain di luar sana.
"Ya, ada kenaikan sedikit-sedikit, ini berkat doa kamu, haji aku jadi naik, ohh ya, gimana kabar Esther? Apakah dia sehat? Aku tidak mendengar suaranya?"
Deg.
"Esther sedang tidur," padahal dia sedang bersama sahabatnya, Andin.
"Ya sudah Mas. Aku tutup,"
"Oke honey, emmuaaach,"
"Daa"
Stella meremas tangannya hingga memerah. Giginya mengatup penuh amarah.
Dan disaat itu, atasanya masuk.
Stella lalu mengusap air matanya dan terlihat seakan tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Kau sibuk?" Tanya atasanya.
"Tidak"
"Oke. Bisa kamu pindahkan semua data ini ke komputer?"
"Baiklah," kata Stella lalu memindahkan semua data pegawainya yang baru diperbarui ke komputer.
Jika tidak sibuk maka dia akan keluar dan akan menemui Alvin. Dengan slip gaji yang berada ditanganya, maka dia akan membuat suaminya tak berkutik dan menyangkal kebohongannya.
Namun karena ada pekerjaan lain yang diberikan atasanya, dia menunda hingga pulang kerja nanti sore.
Saat ini jam makan siang.
Semua pegawai keluar, begitu juga Alvin dan Nungky. Mereka sudah saling berkirim pesan untuk bertemu di restoran.
Mereka akan makan bersama. Nungky sudah datang lebih dulu. Tidak lama kemudian, terlihat Alvin juga datang ke tempat yang sama.
"Hai, sudah lama, sayang?"
"Ngga, baru saja,"
"Duduk Mas, Mas gajimu sekarang naik kan, jadi dua puluh lima juta. Aku minta jatah lebih mas. Sekarang biaya facial sangat mahal, Kasih aku lima belas juta setiap bulan," kata Nungky pada Alvin.
"Jangan begitu dong Mas. Aku habis uang banyak kemarin karena melahirkan anak buat mu. Kalau begitu, tiga belas juta juga ngga papa," Nungky memegang paha Alvin.
"Okey, aku akan mentransfer tiga belas juta,"
"Thanks, Mas," Nungky lalu mencium pipi Alvin.
"Tapi nanti malam berikan pelayanan yang lebih hot dari kemarin, okey?"
"Siap Mas, kalau soal itu. Dijamin puas," Nungky lalu membuka handphonenya. Dan notifikasi dari bank sudah masuk dari rekening suami sirinya.
Jauh disana, CEO duduk dan menutupi wajahnya dengan majalah.
Dia menggelengkan kepalanya dan meremas gelas yang dia pegang.
Tidak terima, wanita yang dia cintai disakiti oleh suaminya, membuatnya akan berdiri dan memarahi pria itu.
Namun dia segera teringat pada Stella.
__ADS_1
"Tidak, jika aku ikut campur, Stella akan marah. Aku tunggu saja. Nanti malam, aku ingin Stella mengikuti suaminya dan wanita itu," CEO lalu menaruh koran dan kembali ke kantornya.
Dia lihat Stella masih bekerja dan tidak makan siang.
"Kau melewatkan makan siangmu lagi," CEO menegurnya.
"Tinggal sedikit lagi selesai," Stella menatap layar monitor dengan sangat serius.
"Biar aku pesan untukmu," CEO lalu memesan makanan untuk Stella.
Dalam hati Stella heran dengan sikap atasannya.
Kenapa dia perhatian padaku? Apakah dia punya maksud lain? Aku juga pernah bekerja, tapi dia tidak seperhatian ini padaku. Ada apa gerangan?
Stella lalu menutup map kerjanya dan mengambil makan siangnya.
"Terimakasih, anda sangat perhatian. Apakah anda tidak makan?"
"Tidak. Aku sudah makan tadi,"
Stella lalu makan perlahan dan membuatnya canggung saat ditatap terus oleh atasannya saat dia sedang makan.
"Ada makanan di atas bibirmu, biar aku bersihkan," kata atasanya dan mencondongkan badannya kearah Stella sambil jemarinya mengusap bibir Stella dengan lembut.
Deg.
Saat nafasnya terasa berhembus sangat dekat, jantung Stella berdebar.
Stella lalu menatap ke arah lain dan menarik nafas berat.
Suaminya sendiri mungkin tidak mengingatnya saat ini. Dan atasanya memperhatikannya dengan berlebihan.
CEO lalu mengajak Stella keluar untuk jalan-jalan.
"Bagaimana jika ada yang melihatku?"
"Tidak. Kita akan berjalan-jalan dengan kapal boat. Hanya berdua saja," kata CEO itu.
"Baiklah,"
Stella lalu mengikuti keinginan atasanya. Sebenarnya, dia bisa memanfaatkan kebaikan CEO untuk membalas suaminya.
__ADS_1
Tapi selagi dia bisa tangani sendiri, maka dia akan melakukanya sendirian.