Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 62 IRS


__ADS_3

Dimas kembali ke apartemen Sila, tempat dia tinggal selama dua Minggu ini. Dia mengusap wajah nya dengan frustasi, istrinya hamil dan saat ini Sila juga sudah meminta keputusan. 


"Sudah pulang, Yang?" Tanya Sila, dia sedang bersantai sambil mengecat kuku nya. 


Dimas tak menjawab, dia hanya duduk di samping Sila, beberapa kali dia menghela nafas berat lalu menghembuskan nya dengan kasar. 


"Kenapa? Debat lagi sama Renata?" Tanya Sila, dengan kening yang berkerut. 


"Aku gak bisa ceraiin Renata, Sil." 


"Lho kenapa, Yang? Kamu udah janji sama aku bakal cerai sama Renata dalam waktu dekat." Ucap Sila membuat Dimas mendengus. 


"Dia hamil, dia lagi ngandung anak aku, darah daging aku, Sil. Otomatis aku gak bisa cerai sama Renata, setidaknya sampai bayi itu lahir nanti." 


"Hamil? Kok bisa sih?" Tanya Sila dengan kesal. 


"Ya bisa dong, orang selama dua bulan aku terus masukin dia kok, aku libur gak make Renata cuma pas dia datang bulan doang." Jawab Dimas, dia menyugar rambut nya ke belakang.


"Terus nasib aku gimana, Yang? Aku gak mau terus-terusan jadi selingkuhan kamu." Desak Sila. 


"Sabar ya, tunggu sampai Renata melahirkan dulu." 


"Issshh yaudah deh gapapa." Jawab Sila manja, membuat Dimas merasa gemas. 


Sedangkan di rumah, Renata sedang menahan rasa sakit di hati nya, beberapa kali dia mencoba menahan air mata nya agar tak menetes, tapi akhirnya pertahanan nya jebol dan air mata nya menetes dengan deras nya. 


"Kenapa sesakit ini, Tuhan? Apa dosa ku di masa lalu hingga engkau memberi aku cobaan seberat dan sesakit ini." Gumam Renata, dia menangis tergugu dengan bersandar di balik pintu, menyembunyikan wajah nya di antara lutut. 


"Andai saja aku tak memaksakan kehendak dengan bertindak sejauh ini, mungkin rasa nya takkan sesakit ini. Harusnya aku sadar, dari awal pernikahan ini terjadi karena paksaan, jadi jangan berharap kalau Dimas akan berubah." 


Tiba-tiba saja, dia merasa sakit di perut nya. Beruntung nya, dia masih punya obat untuk mengatasi rasa sakit itu, dia meminum nya dan memutuskan untuk beristirahat, melupakan sejenak masalah berat yang kini sedang menimpa nya. 


Di lain tempat, Reza mengepalkan tangan nya geram. Dia melempar gelas hingga membuat benda tak bersalah itu pecah hingga berserakan di lantai. 


"Dimas brengsekk! Berani banget Lo nyakitin cewek gua, awas aja Lo gua pasti bales berkali-kali lipat dari yang udah Lo lakuin sama Renata!" Geram nya. 


Dia kesal bukan main saat melihat hasil jepretan kamera orang kepercayaan nya yang menampilkan saat Dimas berjalan sambil menggandeng Sila, juga saat tadi pagi wanita itu datang ke rumah Renata. 


"Lo selingkuhin Renata demi jalangg murahan kayak Sila, sialan banget Lo Dimas. Rasanya pengen gua bejek-bejek muka Lo sampe jadi perkedel." Gerutu Reza sambil menginjak-injak Poto Dimas dan Sila saking kesal nya. 

__ADS_1


"Kenapa wisuda lama amat sih, gue dah gak sabar pengen hajar tuh laki sialan sampe babak belur, kalo perlu mati sekalian!" 


Tring.. 


Sebuah pesan masuk membuat Dimas melupakan sejenak kekesalan nya pada kedua sejoli itu, dia mengambil ponsel dan membaca isinya, seketika itu dia bersorak kegirangan.


"Beneran ini? Gue kagak bohong kan ya? Gue kangen juga sama Lo, Re!" Teriak Reza membuat teman nya yang ingin masuk ke apartemen langsung terkejut melihat tingkah Reza yang sudah berjingkrak-jingkrak kesenangan. 


"Are you crazy bro?" Tanya nya, membuat Reza menghentikan tingkah konyol nya. 


"Jangan sembarangan kalo ngomong, gua tampol pala Lo mau?" 


"Habisnya tingkah Lo persis kek orang yang salah minum obat penenang." Jawabnya sambil terkekeh geli. 


"Diam Lo, ngapain kesini? Ganggu aja!" Ketus Reza.


"Minjem cas an dong, punya gue ilang habis di pinjem cewek gua." 


"Cas an pake di pinjemin, kagak ada gue butuh nanti malam. Sana pulang Lo, gak usah kesini kalo mau minjem." Usir Reza, dia mendorong tubuh teman nya yang bernama Mark itu ke luar apartement, lalu menutup pintu nya.


Reza duduk di kursi yang ada di balkon, dia mengambil gitar dan memetik nya dengan di temani angin malam yang berhembus. 


"Tunggu sebentar lagi cantik, aku pasti akan kembali dan aku yang akan membuat kamu menjadi ratu!" Gumam Reza, dia tersenyum sambil membayangkan wajah cantik Renata. 


"Aaahh membayangkan wajah mu saja mampu membuat hatiku berdebar, Re. Tak sabar rasanya ingin bertemu dan memeluk mu." 


Sebuah notifikasi kembali masuk, dia mengirim foto yang membuat Reza senang berkali-kali lipat. 


"Dia ke taman di danau ini? Plis, tapi aku salting Re. Apalagi katanya kamu bilang kangen sama aku!" Gumam Reza, dia mendapatkan asupan Poto dari teman sekelas Renata, siapa lagi kalau bukan Mira. 


Dia juga menjadi salah satu orang yang Reza minta untuk selalu memberi informasi apapun tentang Renata, dan dia juga yang sudah memberi tahukan info perselingkuhan Dimas dan Sila pada Reza. 


Awalnya Reza tak percaya, namun setelah mendapat bukti berupa poto-poto, akhirnya dia percaya dan tentu saja dia sangat marah saat ini. Namun kemarahan nya hilang begitu saja saat Mira mengatakan bahwa Renata merindukan kehadiran nya. 


Itu saja mampu membuat Reza salting hingga berjingkrak seperti salah minum obat kalau kata Mark, tapi ya itulah cinta. Sesimpel itu membuat orang bahagia. 


Wisuda Reza di percepat karena nilai akademik nya yang bagus, jadi dia bisa wisuda Minggu depan, dan setelah itu tiba dia akan langsung pulang untuk menemui sang pujaan hati. Menepati janji nya untuk meratukan perempuan itu. 


Pagi hari, di rumah Renata. Dia terbangun dari tidurnya, dia merasa tubuhnya berat dan sakit.

__ADS_1


"Huhh pegel amat ini badan." Renata pun mencuci wajah nya, lalu pergi ke dapur. Dia memasak seperti biasa nya, dia ingin makan sambel cumi asin, tapi stok cabai di kulkas sudah menipis. 


"Harus beli cabe nih." Gumam Renata, dia keluar dan menunggu tukang sayur di teras seperti biasa. Tak perlu waktu lama, Abang sayur pun datang dengan mendorong gerobak berisi sayur mayur. 


"Ada cabe keriting sama cabe rawit, Bang?" Tanya Renata sambil mendekat. 


"Banyak neng, cuma harga nya duh mahal." 


"Gapapa, itu kebutuhan pokok bang. Gak makan sambel rasanya ada yang kurang." Jawab Renata sambil terkekeh. 


"Neng Rere agak berisi sekarang, lagi hamil Neng?" Tanya ibu-ibu yang sudah akrab dengan Renata. 


"Iya Bu, udah jalan ke tiga bulan sekarang." Jawab Renata dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. 


"Wahh selamat Neng Renata, semoga sehat selalu ya. Udah ngidam belum? Morning sickness gak neng?" 


"Ngidam rujak waktu itu, sama sekarang pengen sambel cumi pake Pete." Jawab Renata. 


"Ehh, maaf ya Neng. Kemarin Ibu lihat ada cewek yang rambut nya pirang juga kayak Neng Rere kesini, terus gak lama keluar sama suami neng Rere, itu siapa?"


Deg.. 


Renata bingung harus menjawab apa, haruskah menjawab kalau wanita itu pelakor yang sudah menghancurkan rumah tangga nya?


"Itu temen sekantor nya Dimas, Bu." Jawab Renata dengan sedikit memaksakan senyuman nya. 


"Temen ya? Tapi kok ceweknya manja amat, sampe helm pun di pakein mana meluk nya erat banget." 


"Apa iya Bu?" Tanya Renata berpura-pura terkejut, seolah tak tahu apa-apa. 


"Iya, Neng. Harus waspada, suami Neng kan ganteng, harus di jagain bener-bener takut cewek nya gatel entar di ambil juga."


Mendengar celotehan nya, Renata hanya tersenyum kecut. Nyatanya Dimas memang sudah masuk ke perangkap Sila. 


....


🌷🌷🌷🌷


kenapa gak bilang aja kalo dia pelakor sih Re, baik amat Lu😑

__ADS_1


__ADS_2