Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 136 IRS


__ADS_3

Hari ini, tepat sudah satu bulan Dimas dan Elina menikah. Hari-hari mereka lalui dengan kebahagiaan yang selalu menyelimuti keduanya, terutama Elina. Karena dia sangat merasa di ratukan oleh suaminya. 


"Sayang, mas pulang bawa martabak buat kamu." Ucap Dimas yang baru saja pulang ke rumah setelah bekerja seharian di kantor. 


"Lho Mi, Elina mana?" Tanya Dimas, biasanya sang istri akan langsung menyambutnya dengan senyum manis dan pelukan hangat nya. Tapi kali ini, istri kecilnya tak terlihat di manapun. Hanya ada mami Erika yang sedang duduk di sofa.


"Seharian ini Elina gak keluar kamar, Dim. Badan nya panas banget, dia juga muntah-muntah." Jelas mami Erika.


"Hah? Kok bisa sih, Mi? Padahal tadi, Elin kan baik-baik aja." Dimas meletakan bungkusan martabak yang dia beli sebagai oleh-oleh untuk istri kecilnya, lalu berlari ke kamar tanpa menghiraukan ekspresi mami Erika.


Dimas membuka pintu kamar nya, raut wajah nya terlihat sangat panik. Siapa yang tak panik, saat mengetahui istri yang tadi pagi masih baik-baik saja, tapi sekarang malah sakit?


"Sayang, kamu kenapa?"


"Eemmm, sudah pulang Mas? Maaf tidak menyambutmu, kepala ku pusing sekali." Jawab Elina lirih, masih dengan tubuh yang di balut selimut.


"Kenapa gak nelpon Mas, sayang?"


"Maafin Elin Mas, tadi Elina pikir gak mau ngerepotin, mas pasti sibuk kerja." Jawab Elina lagi, dia mengganti nama panggilan untuk suaminya dengan panggilan Mas.


"Sesibuk apapun pekerjaan Mas di kantor, kalau kamu nelpon Mas pasti langsung pulang, sayang. Gak ada yang lebih penting dari istri kesayangan, Mas." 


Dimas mengusap lembut kepala Elina, memberikan nya ciuman singkat di kening lalu di bibir nya.


Tapi, Elina menutup mulutnya dengan kedua tangan dan langsung berlari ke kamar mandi. 


"Sayang, kamu kenapa?" Dimas yang khawatir, langsung menyusul istrinya ke kamar mandi. 


Dimas melihat sang istri tengah berjongkok di dekat closet sambil memegangi perutnya yang benar-benar tak enak, terasa di aduk hingga membuatnya muntah-muntah.


"Kamu ada salah makan, sayang?"


"Gak ada, Mas. Cuma makan nasi sama tumis kecipir tadi, gak tau kenapa tiba-tiba aja pengen kecipir." Jelas Elina.


"Kita ke dokter saja ya? Mas gak mau biarin kamu kayak gini, sayang." 

__ADS_1


"Gak usah Mas, aku baik-baik saja." Tolak Elina.


"Kalau gak ke dokter, gimana kita tau kamu sakit apa?"


"Aku cuma demam dikit, terus masuk angin aja. Tapi bisa gak kamu agak jauhan dari aku? Kamu bau!" Ucap Elina, sambil menutup hidung nya.


"Aahh iya, aku belum mandi sayang." 


"Mandi sana," ketus Elina lalu berjalan lemas ke arah ranjang.


"Kamu gak bawa apa-apa? Biasanya suka bawa oleh-oleh kalo pulang kerja." 


"Ada, di luar sayang." Jawab Dimas sambil membuka satu persatu kancing kemeja nya.


"Apaan?" Tanya Elina pelan.


"Martabak manis rasa coklat keju." Jawab Dimas.


"Aaahh, favorit aku. Makasih pak suami, aku makan dulu martabak nya." 


"Ohh sayang, bagaimana sudah merasa lebih baik?" Tanya mami Erika saat melihat Elina keluar dari kamar dengan wajah berbinar.


"Lumayan Mi, hanya tinggal pusing nya saja sedikit." 


"Syukurlah, ini martabak dari Dimas. Ayo di makan, mumpung masih hangat." 


"Iya Mi, Mami gak mau?" Tanya Elina.


"Enggak sayang, gula darah mami cukup tinggi." Jawab Mami Erika, usia nya yang sudah menginjak usia kepala lima, membuat nya tak bisa sembarangan makan. Kalaupun membuat kue, mami Erika selalu memakai gula jagung. 


Mami Erika menatap sang menantu dengan senyum simpul nya, saat melihat Elina memakan martabak itu dengan lahap. 


"Pelan-pelan makan nya sayang, sampe belepotan gini." Mami Erika mengusap coklat di ujung bibir Elina dengan tissu. 


"Hehe, laper Mi. Gak tau kenapa, denger suami Elin bawa martabak, Elin langsung semangat. Padahal baru aja Elin muntah-muntah lagi, sampe lemes." 

__ADS_1


"Kamu sudah datang bulan belum?" Tanya Mami Erika. 


"Kok mami tanya begitu?" Balik tanya Elina, padahal dia sendiri tak ingat kapan terakhir dia menstruasi. Tapi yang jelas, itu sebelum dia menikah dengan Dimas.


"Bisa aja kamu hamil, tapi belum menyadari nya, sayang. Saran Mami, konsultasi sama dokter kandungan, atau di test dulu pakai testpack biar jelas."


"Apa iya ya Elin hamil? Tapi kan Elin sama Dimas baru menikah satu bulan, Mi. Masa langsung jadi?"


"Ya bagus dong kalau langsung jadi, berarti kalian berdua sudah di percaya untuk menjaga malaikat yang di titipkan Allah untuk kalian jaga." Ucap Mami Erika. 


"Yaudah deh, nanti Elin minta sama Dimas buat beliin test nya." 


"Iya, sekarang makan lagi martabak nya. Masih banyak itu,"


"Hehe iya Mi, Elin masih laper ini." Jawab Elina sambil cengengesan. Dimas keluar dari kamar dan melihat sang istri sedang memakan martabak yang tadi dia beli dengan lahap.


"Enak ya?"


"Banget, aku suka Mas." 


"Yaudah, habisin aja." Dimas mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Besok, bawa Elin ke dokter kandungan ya. Syukur-syukur kalau kecurigaan mami terbukti." 


"Iya Mi, Dimas juga berharap seperti itu." Jawab Dimas. Sedikit banyak, dia sudah bercerita tentang perubahan sang istri pada mami nya, seminggu ini mood Elina benar-benar berubah-ubah, istilahnya mood swing.


"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu." 


"Iya Mi, masak apa hari ini?"


"Sup ayam sama tumis kecipir, istri mu makan tumis kecipir lahap banget, sampe nambah beberapa kali lho."


"Beneran? Wahh syukurlah kalo kamu makan banyak." Lagi-lagi, Dimas kembali mengusap lembut kepala sang istri lalu pergi ke dapur untuk makan malam, karena sudah waktunya


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2