Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 127 IRS


__ADS_3

Singkatnya, Dimas sudah bisa pulang karena sudah waktunya. Dia berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit, wajahnya berbinar saat membayangkan wajah Elina, dia membeli sesuatu untuk gadis pujaan nya.


Dimas membuka pintu ruangan tempat Elina di rawat, dia melihat gadis nya sedang duduk. Mendengar pintu terbuka, refleks dia menoleh lalu tersenyum.


"Bagaimana keadaan mu, sudah lebih baik sekarang?" Tanya Dimas, Elina mengangguk pelan sambil menundukan kepala nya.


"Syukurlah, kata dokter kamu sudah bisa pulang besok." 


"Kak.." panggil Elina lirih, membuat Dimas yang sedang berjalan ke sofa langsung berbalik. 


"Hmm, kenapa?"


"Masalah pernikahan, aku minta waktu untuk memikirkan nya sekali lagi." 


"Baiklah, aku tidak keberatan. Tapi jangan salahkan aku, kalau semisal aku memaksamu." Jawab Dimas ambigu, membuat Elina bingung. Apa maksud pria itu dengan kata memaksa? Tak mungkin dia akan berbuat hal di luar kendali kan? 


"A-apa maksudnya dengan memaksa?"


"Kamu akan tau nanti, sekarang kamu makan. Kakak bawakan ayam geprek kesukaan kamu." Ucap Dimas sambil membuka bungkusan berisi dua porsi ayam geprek. 


"Level berapa?"


"Punya kamu level dua, punya kakak level 1 aja." Jawab Dimas sambil memulai acara makan nya. 


"Kakak Cemen, masa cuma level satu?"


"Dari pada mencret, ya mending di bilang cemen." Jawab Dimas sambil terkekeh pelan, membuat gadis itu tersenyum kecil. Dia juga mulai memakan nasi beserta ayam geprek itu dengan lahap, dia memang sudah kelaparan.


"Ayam geprek nya enak, kak." 


"Iya, ini langganan nya Eza. Soalnya Renata juga suka beli ayam geprek disana." Jawab Dimas membuat Elina mengangguk kaku. Cemburu? Tidak! Hanya sedikit kesal saja saat Dimas membawa mantan istrinya dalam pembicaraan.


"Kamu masih ragu padaku? Aku mengerti, apalagi mantan istriku sekarang adalah istri sahabatku, tapi harusnya kamu percaya kalau aku sama Renata udah gak ada hubungan apa-apa lagi."


"Hubungan kami sama-sama berakhir saat status kami juga berubah, kamu mengerti kan? Sekarang, hubungan kami hanya teman, sekedar teman." Jelas Dimas membuat Elina menatap pria itu dengan sendu.


'Sebenarnya aku juga punya rahasia, bagaimana kalau misal kamu tau kekurangan ku? Apa kamu bersedia menerima ku apa adanya? Aku ragu.' batin Elina, bukan nya dia ragu pada perasaan Dimas, tapi dia meragukan dirinya sendiri. Apakah pria itu akan menerima nya? Itu yang dia takutkan saat ini. 


"Maaf kak, aku…"


"Makanlah, jangan banyak berfikir hal yang tidak perlu." 


Elina mengangguk dan kembali dengan makan nya dengan lahap, meski punya masalah itu takkan mempengaruhi nafssu makan nya. Dari pada perutnya kelaparan, dia mending makan yang banyak sekalian.


Setelah menyelesaikan makan nya, Elina pergi ke kamar mandi dengan melangkah pelan karena kaki nya masih terasa ngilu. Namun, dia kurang berhati-hati hingga hampir saja terjatuh kalau Dimas tak buru-buru menahan nya dengan tangan nya.


"Kalau mau kemana-mana itu bilang dulu, biar aku bantuin." 


"Maafin aku kak." Jawab Elina pelan.


"Ayo, ke kamar mandi mau ngapain?" 


"Mau pipis kak, kebelet." 


"Yaudah, pipis sana biar kakak tungguin disini." Dimas pun menutup pintu setelah memastikan gadis itu duduk di closet. Dia menunggu di balik pintu.


Dimas benar-benar menuruti saran sahabatnya, dia akan memperlakukan Elina seperti ratu. Dengan begitu, perlahan dia akan luluh dan menaruh kepercayaan kembali.


Tak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan gadis kecil dengan wajah yang pucat. 


"Kenapa? Apa masih sakit?" 


"Tidak kak, Elin mual banget."


"Mual? Kamu masuk angin seperti nya, biar nanti kakak kerokin pake minyak kayu putih." 


"Eemmm, gak usah kak. Elin gapapa kok." Jawab Elina menolak tawaran Dimas. Kedua mata pria itu memicing saat melihat reaksi Elina, gadis itu seperti nya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi dia tak tau tentang apa. 


Gadis cantik itu mendudukan tubuhnya di brankar, besok perban nya akan di buka dan jahitan nya akan di periksa oleh dokter. Berarti, besok dia harus kembali tinggal di rumah Mami Erika? Dia pasti akan merasa bersalah.


"Kalau ada masalah jangan di pendam sendiri, cerita sama aku. Aku bakal dengerin semua nya." 

__ADS_1


"Elina gak punya masalah apa-apa kok." Jawab Elina dengan senyum hambar yang membuat Dimas semakin yakin bahwa gadis di depan nya ini sedang tak baik-baik saja.


"Jangan berbohong, Elina!"


Elina menundukan kepala nya, dia memilin ujung pakaian nya. Dada nya berdebar tak karuan dan jantung nya berdetak lebih kencang, dia di landa kegugupan saat ini.


"Kakak, kalau semisal Elin udah gak punya apa yang harus di banggakan sebagai seorang wanita, bagaimana menurut kakak?"


"Maksudmu? Kamu kehilangan kesucian?" Tanya Dimas datar.


"A-aku hanya bertanya, misalnya aku tak punya hal itu, bagaimana?"


"Tak masalah, setiap orang pasti punya masa lalu. Begitu juga kakak, atau kamu pasti punya masa lalu. Justru kakak lega kalau kamu jujur dari sekarang, dengan begitu kakak gak bakal berekspektasi tinggi yang akan menimbulkan kekecewaan nantinya." Jawab Dimas sambil tersenyum tulus.


"Maafin Elina, kak."


"Minta maaf untuk apa?" Tanya Dimas.


"Elina memang udah gak perawaan lagi, ada seorang pria yang merenggutnya saat Elin masih sekolah." 


"Lalu?"


"Elina merasa gak pantas aja bersanding sama kakak. Apalagi di bandingkan sama kak Renata, Elina gak ada apa-apanya." Cicit Elina.


"Gak usah merasa gitu, kakak seneng kamu mau jujur dari sekarang, sebelum pernikahan kita terjadi. Dengar, kakak gak peduli kalau pun kamu masih perawaan atau nggak, gak peduli sama sekali." 


"Yang penting sekarang, kamu mau menerima kakak apa adanya, sayang sama kakak aja itu udah cukup. Kita berjuang sama-sama, kalau kamu mau ayo kita menikah secepatnya sebelum timbul fitnah nantinya." Ucap Dimas bijak, membuat kepala Elina mendongak seketika.


"Kakak gak keberatan?"


"Enggak sama sekali, kakak gak peduli apapun. Kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing." Dimas mengusap lembut kening Elina lalu mengecup singkat kening nya.


Sedetik kemudian, dia berjongkok di hadapan Elina dengan sebuah kotak berisi sebuah cincin yang sangat indah, bertahtakan berlian. 


"Avelinna Maheswari, aku Dimas Fahrian memohon dengan sangat untuk meminta mu menjadi istriku, ibu dari anak-anak ku, teman hidupku seumur hidup. So, Will you marry me?" 


"K-akak.." lirih Elina, kedua mata nya berkaca-kaca saat mendengar ucapan tulus yang terlontar dari mulut pria itu. Seketika keraguan nya lenyap, dia yakin kalau saat ini keputusan yang dia ambil adalah benar. 


"Yes, i Will." Jawab Elinna yang membuat Dimas langsung bangkit, dia memasang cincin itu di jari manis Elina, lalu mengecup punggung tangan nya dengan lembut.


"Aku menanti pembuktian ucapan mu itu kak."


"Pasti, kakak akan menepati janji." Dimas meraih Elina ke dalam pelukan nya, melayangkan kecupan-kecupan singkat di kepala gadis itu. 


Setelah beberapa menit berpelukan mesra, Dimas melerai pelukan nya. Dia menatap wajah cantik Elina dengan intens, membuat gadis itu salah tingkah karena di tatap seintens itu oleh pria yang dia cintai.


Cup..


Bibir itu bersentuhan, membuat kedua mata Elina membulat, ini pertama kalinya Dimas mencium bibir nya, kalau biasanya Dimas hanya mengecup pipi atau kening saja, tapi kali ini bibir.


Bibir hangat Dimas menyapu permukaan bibir mungil Elina, melumaat nya dengan lembut atas dan bawah bergantian. Dengan sedikit menggigit nya sebagai sensasi.


"Balas ciumanku, kamu pasti pernah kan?" Elina menggeleng, membuat Dimas mengernyit. Tak pernah berciuman tapi bisa pecah perawaan? Bagaimana bisa?


"A-aku di perkosaa kak." Lirih Elina sambil menundukkan pandangan nya, membuat Dimas merasa iba dan kembali meraih Elina ke dalam pelukan nya. 


"Maafkan kakak ya, kakak terlalu terburu-buru." 


"Tak apa kak, kalau mau coba lagi juga Elina gak masalah." Jawab Elina lirih. Dimas kembali melerai pelukan nya, lalu dia kembali menempelkan bibirnya.


Kali ini, Elina berusaha mengimbangi gerakan bibir Dimas yang terus bermain. Bahkan dengan cepat dia menelusupkan lidahnya begitu ada kesempatan, lidah nya bermain dengan liar di dalam mulut Elina, mengabsen setiap inchi rongga mulut gadis kecilnya.


Keduanya larut dalam kenikmatan bertukar saliva, hingga beberapa kali decapan nikmat terdengar mewarnai ruangan bernuansa putih ini.


Hingga beberapa menit kemudian, Elina menepuk-nepuk dada bidang Dimas, pertanda kalau dia sudah kehabisan nafas. Dimas peka dan langsung melepaskan pagutaan bibirnya, pria itu mengusap lembut sudut bibir Elina yang basah karena ulahnya.


"Bibir kamu manis." Puji Dimas yang membuat wajah Elina memerah seperti tomat matang.


"Cieee blushing, kalau lagi gini kamu makin cantik aja. Bikin aku gemes pengen bawa kamu ke kamar." 


"Ngapain ke kamar?"

__ADS_1


"Pura-pura gak tau ya?" Goda Dimas sambil memainkan kedua alis nya naik turun. 


"Kakak…" rengek Elina yang membuat Dimas tergelak.


"Kakak lega, akhirnya kamu mau terus terang sama kakak tentang masalah ini."


"A-aku ragu, takut kakak gak mau nerima aku kalau tau.."


"Udah, cukup sayang. Kakak gak mau denger apa-apa lagi, sekarang kita fokus ke masa depan kita ya." Ucap Dimas sambil mengusap surai panjang gadisnya.


"Kakaknya sini, pengen tidur tapi sambil di peluk."


"Lho kok jadi manja? Biasanya juga enggak." Tanya Dimas menggoda Elina.


"Gak boleh ya? Yaudah kalo gak di bolehin."


"Becanda sayang, geseran dikit." Pinta Dimas, Elina menurut dan menggeser sedikit tubuhnya agar Dimas bisa berbaring di sampingnya, meski dengan posisi miring. 


Keduanya berbaring dengan saling bertatapan, Dimas membiarkan saat tangan Elina mengusap lembut rahang tegas nya. Dia memejamkan mata nya menikmati lembutnya tangan Elina yang berada di wajahnya.


"Mau tidur atau mau main bola dulu? Seperti nya ranjang ini akan cukup untuk kita bertarung." 


"Kakak, isshhh kok jadi mesuum." 


"Mesuum itu bukan penyakit, yang. Tapi kebutuhan." Jawab Dimas sambil terkekeh, dia mengecup kening Elina lalu melingkarkan tangan nya di pinggang gadisnya.


"Yaudah, sekarang kamu tidur ya. Sebelum kakak berubah pikiran terus nerkam kamu, gini-gini juga kakak itu pria normal yang punya nafssu." 


Elina mengangguk, lalu ikut melingkarkan tangan nya di pinggang Dimas. Pria itu menepuk tangan nya dan akhirnya keduanya tertidur dengan saling berpelukan hangat. 


Pagi harinya, Reza yang berniat menjemput sekretaris nya ke rumah sakit, begitu dia membuka pintu ruangan dimana kekasih sang sekretaris itu dia terkejut setengah mati saat melihat pemandangan yang tak seharusnya dia lihat. 


Meski tak jomblo lagi, tetap saja jika melihat adegan seperti itu dia merasa ingin, karena tadi pagi dia tak mendapat asupan nutrisi dari sang istri, karena dia merajuk.


Tadi malam, dia kembali meminta jatah malam nya, dan ya Reza terlalu bersemangat hingga melakukan nya berkali-kali dengan durasi yang cukup lama, jelas saja itu membuat Renata kewalahan, belum lagi kemarin malam dia habis di gempur habis-habisan 4 jam penuh oleh Reza. 


Jadinya, dia pergi ke kantor dengan mood yang cukup buruk, karena tak di beri morning kiss atau semacam nya, bahkan memeluk saja tidak di bolehkan.


"Sialan, pantesan gue telepon di angkat-angkat, ternyata lagi cipookan." Gerutu Reza, dia merogoh ponsel dan kembali menghubungi nomor Dimas. 


Situasi di dalam ruangan terasa memanas karena pergulatan lidah yang di lakukan sepasang insan yang sedang di mabuk cinta. Hingga tak memperdulikan apapun, termasuk waktu dan tempat. 


Hingga, bunyi suara telepon membuat Dimas terpaksa menyudahi lebih dulu ciuman itu. Dia berdecak sebal, karena aksi nya terganggu.


"Siapa sih, pagi-pagi nelponin mulu." Ketus nya, dia mengangkat panggilan tanpa membaca lebih dulu siapa yang menghubungi nya.


'Siapa? Ganggu aja!"


"Keluar sekarang, atau gue potong gaji Lo termasuk tips bulanan yang udah janjiin!" Suara yang sangat Dimas kenal, dia menjauhkan ponsel nya dan melihat siapa pemanggil nya. Seketika itu dia melotot saat mengetahui bahwa Reza lah yang menelpon nya. 


'S-siap bos.' Jawab Dimas terbata, setelah itu panggilan pun terputus. 


Dimas pun melepaskan pelukan Elina, membuat gadis itu keheranan.


"Kenapa kak?"


"Kakak udah di tungguin pak Reza di luar, kakak lupa kalau ada meeting pagi sekarang." Jawab Dimas sambil merapikan pakaian nya. Gara-gara bercumbu dengan Elina di pagi hari, membuat kemeja nya kusut. 


"Ohh, kakak juga sih ngapain cium Elin pagi-pagi gini." 


"Mana kakak tau kalau Eza mau jemput kesini, yaudah kakak berangkat kerja dulu ya. Nanti kamu di jemput sama Mami, kita ketemu di rumah nanti." ucap Dimas lalu mencium sekilas kening Elina, dengan cepat dia keluar dengan langkah tergesa-gesa.


"Dah selesai ciuman nya? Sampe gak inget waktu, gak inget tempat." Celetuk Reza dengan kedua tangan bersedekap di dada, menatap tajam Dimas yang berdiri sambil cengengesan.


"Maafin sekretaris mu ini pak bos, namanya juga orang bucin." Jawab Dimas membuat Reza mendengus kesal.


"Cepetan berangkat, dah mepet nih." Reza berdiri dari duduknya dan melempar kunci mobil, dengan sigap Dimas menangkap kunci mobil itu dan membawanya. 


Kedua pria itu pergi dengan berjalan beriringan, yang satu nya berwajah datar karena mood nya sangat buruk. Berbeda dengan yang satu nya lagi, wajah nya berbinar penuh keceriaan, energi positif mengelilingi nya karena dia sedang bahagia saat ini. 


'Dihh, senyam-senyum gitu. Gila kali,' gerutu Reza dalam hati. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2