
Alvin meremas kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri didalam kamarnya. Dia menarik selimut dan melemparnya kelantai. Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Alvin tidak menduga Stella akan datang dan memergoki semuanya.
Alvin terduduk sambil tertunduk dipinggir ranjang. Tanpa sadar dua titik airmata jatuh dilantai, penuh penyesalan.
Dia akan kehilangan istrinya yang dia cintai. Dengan Nungky dia tidak terlalu cinta dan hanya sebagai pelarian saja. Dalam hati, hanya Stella yang dia cintai.
Namun istrinya akan menceraikannya. Dia akan kehilangan dirinya untuk selamanya. Alvin mengutuk dirinya yang bodoh dan ceroboh. Juga mengutuk Nungky yang mulutnya ember dan mengatakan siapa orang tua bayi itu pada istrinya.
Alvin berdiri sempoyongan keluar kamar. Dia akan mencari Stella. Dia ingin meminta maaf lagi padanya. Namun Alvin tidak bisa menemukannya dimana-mana.
Hingga kakinya sangat lelah berjalan mencari Stella, dia tetap tidak menemukannya.
Orang yang berpapasan dengannya menatapnya dengan aneh, melihat kondisinya yang berantakan. Tapi mereka juga tidak peduli dan kembali dengan urusan masing-masing.
Pagi hari, Stella terbangun dengan mata yang sembab. Dia kaget saat sadar telah tidur diranjang atasannya.
Lalu matanya mengitari kamar itu, namun tidak melihat siapapun. Atasanya keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah rapi.
Stella malu dan tertunduk.
"Kau sudah bangun?" CEO menyapa dengan wajah berseri dan senyum yang indah.
"Iya," Stella menjawab dengan tertunduk. Sangat malu dengan kondisinya saat ini. Tidak berani menatap atasanya.
"Saya akan mandi," kata Stella tetap dengan tertunduk.
"Silakan," CEO lalu tersenyum melihat tingkah lucu Stella yang malu-malu dan wajahnya merah.
Greekkk!
Stella masuk kekamar mandi. CEO tersenyum senang. Dalam hati, menunggu hingga Stella mengajukan surat cerai dari suaminya.
Aku akan menunggu hari itu tiba. Saat kau sudah berpisah darinya. Aku akan membuatmu bahagia selamanya.
__ADS_1
CEO lalu memesan sarapan untuk mereka berdua.
Stella keluar dari kamar mandi dan rambutnya masih basah.
Wajah cantiknya mulai bersinar setelah dia mandi. CEO terpana melihatnya dan tak berkedip menatapnya.
Cantik. Dan aku tak berdaya saat di hadapanmu.
"Stella, kemarilah. Ayo kita sarapan dulu,"
Stella berjalan sambil tertunduk malu. Dia tidak berani menatap wajah CEO setelah dia tidur dikamarnya tadi malam.
Setelah mereka sarapan, Stella lalu menceritakan apa yang dia alami tadi malam.
"Jadi, anak itu anak mereka berdua, dan kau merawatnya,"
"Iya, aku telah di khianati dengan sangat kejam," kata Stella sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aku akan kembali dan mengajukan surat cerai," kata Stella pada atasannya.
"Tentu. Kita akan ke seberang naik kapal boat."
CEO menatap penuh cinta wajah Stella.
Stella dan CEO lalu pergi ke kapal boat dan menyeberangi lautan luas. Selama dalam perjalanan, CEO terus menatap wajah Stella yang manis dalam hangatnya matahari pagi.
Sampai di pelabuhan, mereka berpisah.
"Apakah kita akan bertemu lagi?" tanya CEO pada Stella.
"Iya. Aku akan kembali bekerja setelah pengajuan surat cerainya," kata Stella.
"Aku akan menunggumu. Hari akan sepi tanpamu," kata CEO.
"Terimakasih, anda sangat baik pada saya," kata Stella.
__ADS_1
"Stella...cepatlah kembali, ini nomor telepon ku. Hubungi aku jika kau sampai sini. Aku akan menjemputmu,"
Stella mengangguk pelan dan manis. Mereka lalu berpisah.
*
*
Andin kaget saat melihat Stella telah kembali.
"Kau kembali lebih cepat? Bukankah seharusnya kau masih dua Minggu lagi?"
"Tidak! Aku sudah berhasil dan gagal dalam misiku," tukas Stella lemah.
"Apa maksudmu berhasil dan gagal."
"Aku berhasil, tapi aku juga gagal. Aku akan bercerai. Aku memergoki mereka berselingkuh. Bukan hanya itu. Bayi ini, adalah darah daging Mas Alvin dan wanita sampah itu,"
"Apa!?" Andin terbelalak.
"Ya, wanita itu mengatakanya. Dan Mas Alvin juga mengakuinya,"
"Jadi mereka...." Andin kaget dan shock.
"Mereka menipuku mentah-mentah. Mengkhianati ku dan menusukku sangat dalam," Stella menangis di pelukan Andin.
"Kau akan menyerahkan bayi ini?"
"Ya, setelah mengajukan surat perceraian, aku akan membawanya pada mereka," kata Stella akan menggendong bayi itu. Namun tanganya terhenti.
"Andin. Bisakah aku menitipkan ya lagi padamu. Aku tidak sanggup menatap dan menggendongnya. Kau tahu perasaanku. Apa yang aku rasakan saat menatapnya? Hatiku sakit dan hancur,"
"Aku tahu. Kau sebaiknya tidak membawanya. Pulanglah dan selesaikan masalahmu. Lalu kau kembali dan bisa membawanya,"
"Andin, terimakasih. Aku tidak bisa lama disini. Melihat senyumnya, mendengar tangisnya. perasaan ku menjadi kacau balau. Aku terlanjur mencintai Esther sepenuh hati. Tapi kenyataanya, dia adalah anak dari dua orang yang aku benci. Aku tidak sanggup berada didekatnya. Aku akan kalah karena cinta tulusku pada Esther,"
__ADS_1
"Stella, aku mengerti perasaanmu dan apa yang kau rasakan. Kau pasti bingung. Di satu sisi cinta tulusmu untuk Esther. Disisi lain, kau membenci kedua orang tuanya. Sekarang pergilah, aku akan menjaganya dengan baik,"