Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 52 IRS


__ADS_3

Pagi ini, Dimas pamit untuk berangkat bekerja. Renata masih bergulung dalam selimut, sudah tiga hari ini dia malas bangun pagi. 


"Yang, Mas kerja dulu ya? Kalo masih gak enak badan jangan ke kampus dulu ya, istirahat aja dulu." 


"Iya Mas, hari ini kamu pulang lebih awal kan? Aku pengen sama kamu." Ucap Renata dengan nada memohon, membuat Dimas merasa tak tega jika harus meninggalkan istrinya di saat dia sedang sakit seperti ini. 


"Nanti Mas pulang lebih awal ya, mau di bawain apa hmm?" Tanya Dimas sambil mengusap lembut rambut sang istri. 


"Nanti aja kalo aku kepikiran aku telepon ya, Mas." 


"Yaudah, kamu istirahat aja ya. Mas mau berangkat dulu, kalo ada apa-apa telepon Mas." Pinta Dimas, Renata hanya mengangguk. Dia menyalim tangan sang suami dengan takzim seperti biasa, Dimas juga mengecup kening Renata singkat. 


"Assalamualaikum." 


"Waallaikumsalam, hati-hati Mas." Dimas menutup pintu kamar, dan setelah suara motor Dimas menjauh dari rumah, Renata buru-buru bangun. Dia muak bersikap seolah tak tahu dan tak terjadi apa-apa, padahal sudah jelas kalau suami nya ada main di belakang nya. 


Renata meraih kotak di meja nakas, barang yang dia beli kemarin di apotik. Lalu membawa nya ke kamar mandi, dia mengambil wadah kecil untuk menampung air sisa metabolisme itu, dia mencelupkan benda itu ke dalam wadah dengan tak sabaran. 


Satu menit, dua menit sudah berlalu. Renata merasa sudah cukup, dia langsung mencuci benda itu. Dia terbelalak saat melihat ada dua garis merah yang terlihat sangat jelas di testpack yang baru saja dia pakai itu. 


Tiba-tiba saja kedua mata nya berkaca-kaca, dia tak menyalahkan kenapa harus hamil di saat dia tahu perselingkuhan sang suami. Keadaan nya sangat tak tepat. Dia menggenggam erat testpack itu, dia menangis sejadinya di kamar mandi. 


Harusnya ini jadi moment yang sangat membahagiakan kan? Apalagi Mami Erika sangat mendambakan cucu dari nya, tapi kenapa harus sekarang? 


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?" Ucap Renata, dengan langkah pelan dia keluar dari kamar mandi, lalu duduk di sisi ranjang. 


Pantas saja beberapa hari ini nafssu makan nya sangat berubah, ternyata inilah jawaban nya. 


"Tak apa Sayang, jika pun ayahmu tak mengharapkan kehadiran mu, masih ada Mama yang akan menjaga kamu dengan sepenuh hati." Ucap Renata sambil mengusap lembut perut nya yang masih rata. 


Rencana nya, hari ini dia akan memeriksakan diri ke dokter kandungan, untuk mengetahui sudah berapa lama kah janin ini menghuni rahim nya.


Renata segera bersiap, dia harus menjaga mood nya agar janin yang dia kandung baik-baik saja. 


Dia memesan ojek online dan tak lama, ojek yang dia pesan sudah sampai di depan, Renata bergegas pergi. Untung saja hari ini dia tak ada kelas, jadi dia bisa pergi kemana pun. 


Sedangkan di kantor, pasangan selingkuh itu sedang bertemu diam-diam di toilet. Keduanya berada di salah satu bilik toilet khusus cleaning servis. 


"Sayang, maaf ya nanti malam aku gak jadi ke apartemen kamu." 


"Lho kenapa? Malam ini kan jatah nya kamu sama aku, Yang!" Kesal Sila, bibir nya mengerucut pertanda dia benar-benar kesal.


Dimas terkekeh saat melihat ekspresi kesal sang kekasih, dia menjawil gemas hidung mancung Sila. 


"Renata lagi sakit, Yang. Aku gak tega kalo harus ninggalin dia, bagaimanapun dia istri aku." 


"Terus? Kamu gak kasian sama aku Mas? Aku juga pacarmu, aku berhak dong." Jawab Sila. 


"Iya, kamu berhak juga tapi aku harus adil dong Sayang. Masa aku ninggalin dia saat sakit, jadi kamu ngalah dulu ya jatah kamu di undur?" Bujuk Dimas. 


"Yaudah, tapi hari Minggu kamu sama aku seharian!" 

__ADS_1


"Sayang, aku harus beralasan apa kalo pergi hari Minggu?" Tanya Dimas, ternyata ribet juga punya pacar sedangkan di rumah dia juga punya istri. 


"Bilang aja kerja lembur." Celetuk Sila tanpa mau melihat ke arah Dimas, dia sibuk membuka resleting celana Dimas dan sedikit menurunkan celana pria itu. 


"Kamu mau apa, Sayang? Jangan macam-macam, ini di kantor." 


"Aku tahu, memang nya siapa yang bilang kalo kita di hotel? Aku cuma ingin temu kangen sama si junior." Jawab Sila santai, dia membuka boxer Dimas hingga benda yang biasanya berdiri gagah itu terlihat sudah, namun masih lemas tak berdaya.


"Isshh lucu nya, keriput gini kalo masih bobo, tapi kalo udah bangun gede banget, enak lagi." Oceh Sila mulai mengurut batangan milik Dimas itu dengan penuh kelembutan, membuat Dimas mendesis. 


"Ssshhhh.." desis Dimas, perlahan batang nya mulai mengeras. 


Setelah di rasa cukup, Sila langsung melahap nya dengan rakus, Dimas bergerak tak karuan, ingin sekali dia mengerang nikmat, namun situasi nya sangat tidak memungkinkan. Bisa saja ada karyawan yang masuk kesini, tapi sensasi nikmat membuat Dimas lupa diri. 


"Aaahhh.." 


"Masukin ya? Aku gak tahan." Ucap Dimas, Sila langsung bangkit dari jongkoknya, dia menyibak rok span selutut nya, menurunkan segitiga berenda miliknya lalu membuka lebar-lebar kakinya. Agar memudahkan Dimas memasuki lubang nya. 


Dimas memeluk Sila, mengangkat sebelah kaki nya dan menahan dengan sebelah tangan nya, dia mulai memasukan batang miliknya dengan perlahan. 


"Aaahhh Sayang, enak." Bisik Sila, saat Dimas mulai menggerakkan pinggang nya maju mundur dengan cepat. 


"Yang jangan cepat-cepat dong." Pinta Sila, tubuhnya terguncang karena Dimas terus memacu tubuhnya dengan cepat. 


"Maaf, sayang. Kita main cepet aja, soalnya ini masih jam kerja." Jawab Dimas tanpa menghentikan gerakan nya. 


Dan setelah beberapa menit, akhirnya Dimas mengerang panjang saat mencapai klimakss, dia segera mencabut batang nya dari lubang milik Sila yang sudah banjir itu. 


"Iya, Sayang. Aku balik ke ruangan ku dulu ya, nanti kalo aku mau kita ketemuan lagi disini." Ucap Sila, lalu dia keluar terlebih dulu setelah merapihkan pakaian nya.


Dimas juga buru-buru keluar setelah membersihkan batang nya dari cairan sisa penyatuan singkat nya dengan Sila beberapa menit yang lalu. Dia pun bersikap seolah tak terjadi apa-apa, saat teman-teman nya bertanya dia dari mana, Dimas hanya menjawab kalau dia sedang mules jadi lama di kamar mandi. 


Di rumah sakit, Renata sedang mengantri di depan klinik khusus kandungan. Dan tak butuh waktu lama, akhirnya namanya di panggil juga. 


"Ibu Renata Lusiana, silahkan masuk." 


Renata pun masuk, dia tersenyum manis saat bertemu dengan dokter di dalam ruangan nya. 


"Ada keluhan apa Ibu?" Tanya dokter perempuan berhijab itu. 


"Saya hanya ingin melakukan USG saja Dok, ingin tahu usia kandungan." Jawab Renata. 


"Silahkan berbaring di sana Bu," Renata mengangguk dan membaringkan tubuhnya di brankar pemeriksaan dengan di bantu seorang perawat. 


Dokter itu mengoleskan gel dingin di perut Renata, lalu memutar alat yang terhubung dengan sebuah layar berwarna hitam.


"Kantung ini adalah rahim Ibu, titik sebesar kacang merah itu adalah janin Ibu." 


Renata melihat layar itu dengan berkaca-kaca, pemeriksaan pertama nya tanpa di dampingi oleh sosok suami. 


"Usia kandungan Ibu sudah menginjak usia enam Minggu, satu bulan setengah ya Bu." 

__ADS_1


"Terimakasih dok." Ucap Renata dengan senyum manis nya, dia membawa kertas berisi tangkapan layar dari USG yang baru saja dia lakukan. 


"Selama ini ada keluhan Bu?" 


"Hanya mual, pusing, lemes sama gak nafssu makan, dok." 


"Itu wajar terjadi saat trimester pertama ya, biasa nya setelah 4 bulan akan sembuh sendirinya." Jelas dokter itu. 


"Ingat ya Bu, kehamilan ibu saat ini masih sangat rentan terjadi keguguran. Jangan terlalu banyak berfikiran negatif atau yang berat-berat ya, itu bisa mempengaruhi pertumbuhan janin." 


"Baik dok." 


"Saya hanya akan meresepkan vitamin yang harus Ibu konsumsi saat mual saja ya." 


"Terimakasih dok." Renata pun menebus vitamin dari dokter itu dan setelahnya dia memutuskan pulang. 


Namun saat keluar, dia melihat tukang rujak buah yang sedang mangkal. Seketika dia menelan ludah nya dengan kasar, tanpa menunggu lagi dia langsung berjalan mengejar tukang rujak itu, tapi karena tak hati-hati dia malah tersandung dan hampir saja terjatuh kalau saja sebuah tangan kekar tidak menahan nya. 


"Hati-hati, jangan ceroboh." Ucap pria itu membuat Renata tertegun. 


"Terimakasih Pak, maaf." 


"Pak? Saya belum setua itu kali. Panggil Mas aja, kamu mau kemana?" Tanya nya. 


"Eemm mau beli rujak sama Abang itu." 


"Yasudah ayo saya antar, kelihatan nya kamu tipe wanita ceroboh yang tak mementingkan keselamatan diri sendiri." Celetuk nya membuat Renata cengengesan. 


Pria itu pun membantu Renata menyeberang jalan. 


"Nama kamu siapa?" 


"Renata, Mas." Jawab Renata, membuat pria itu tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Renata.


"Saya .." ucapan pria itu terputus saat ponsel nya tiba-tiba berbunyi, dia pun berpamitan pergi setelah panggilan telepon itu selesai. 


Renata sangat berterimakasih pada pria itu, kalau saja dia tak menolong nya tadi, entah apa yang akan terjadi padanya dan juga janin nya. 


.....


🌷🌷🌷


jangan lupa vote, like dan komen biar author semangat up nya🥰


....


author bawa karya temen author juga, jangan lupa mampir ya☺️



Love After Parting karya Ayi🥰

__ADS_1


__ADS_2