
Stella membaringkan tubuhnya karena kepalanya sangat pusing. Rok pendeknya tersingkap.
Tanpa sengaja CEO melihat pemandangan indah yang terpampang dihadapannya. Membuatnya menelan salivanya sendiri tanpa dia sadari.
Rambut Stella tergerai rapi. Matanya terpejam. CEO lalu mendekatinya dan melepaskan sepatu hak tinggi milik Stella.
Tidak kuasa untuk tidak melihat pemandangan menawan dihadapannya, membuatnya harus menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
"Sial! Aku tak berdaya kali ini," gumam CEO lirih.
Satu persatu dia melepas sepatu yang dipakai oleh Stella yang sudah tak sadarkan diri.
CEO berdiri dan melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut gadis yang tertidur diranjangnya.
"Dasar!" bisik CEO sambil menggelengkan kepalanya.
CEO itu lalu berjalan kearah pintu dan menutupnya rapat. Mengunci dari dalam. Apa yang bisa dia lakukan?
Dia terpesona pada gadis yang baru saja dia lihat cantik alami. Di malam pesta datang seorang diri. Entah apa yang dia cari dan inginkan, dia setuju saat diajak menemaninya.
Apa yang bisa aku lakukan? Aku pria dewasa yang jatuh cinta saat melihatnya pertama kali. Seakan dia dikirim dari langit sebagai hadiah di malam pestaku.
Aku harus apa? Darahku membara dan bergejolak saat ini. Panas dan jiwaku melayang ke langit buang luas. Ingin menikmati malam yang indah bersamanya.
Kau datang seperti merpati, terperangkap dalam ruanganku. Hanya kita berdua. Kau sangat seksi. Aku tidak sanggup lagi lari dari kamar ini.
__ADS_1
Dalam keadaan mabuk, CEO juga terus berbicara antara iya dan tidak.
Diapun tidur disebelah Stella yang mabuk berat. Tanpa sadar, rok Stella semakin naik keatas. Hingga membuat CEO melihat dengan jelas miliknya.
Ada sebuah dorongan yang membuat CEO membelai kakinya yang jenjang dan tanganya terus naik keatas, hingga rok itu semakin tersibak.
Tak mampu menahan diri lagi, CEK membuka atasan blus Stella dan sekarang dia mulai hanyut dalam perasaan nya sendiri.
Hingga dia melakukan kesalahan dengan menodainya.
Pagi hari, Stella bangun dan merasakan sakit diantara kedua kakinya.
"Apa yang terjadi? Aku dimana?"
Dan saat sadar dia ada dikamar CEO yang masih terlelap di sampingnya.
"Bajuku? Kenapa berserakan dimana-mana, dan ahhh...sakit sekali..."
Stella tersadar setelah merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia telah melakukan kesalahan dengan atasan suaminya.
"Bagaimana ini? Bagaimana sekarang? Aku harus apa?"
"Aku harus pergi dari tempat ini," Stella segera memakai bajunya dan berangsut keluar dari kamar CEO itu saat dia terlelap.
Dia terus mencari jalan keluar dari kapal pesiar yang tengah berlabuh di pelabuhan itu.
__ADS_1
"Sebelum kapal ini berlayar kembali. Aku harus pergi." Stella berhasil keluar.
Dia segera pulang ke rumahnya, dan sahabatnya sudah ada disana dengan bayinya.
"Andin? Kau sudah disini? Sejak kapan?" Stella yang nampak berantakan membuat mata Andin terbelalak.
"Kau menginap dikapal?" Andin bingung melihat wajah sahabatnya dan rambutnya yang berantakan.
"Aku, ya, aku pesta sampai pagi. Misiku, membuat aku harus pulang pagi," Stella segera ke kamarnya dan mandi.
Andin melihat ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya kali ini.
"Aneh, tadi malam dia cantik bak peri. Sekarang, bibirnya pucat dan rambutnya? Apakah dia tenggelam di dekat kapal pesiar?"
Andin bergumam dan tertawa kecil.
Stella keluar dalam keadaan rapi.
"Andin, terimakasih,"
"Ya, sama-sama," Andin lalu pamit karena suaminya menunggunya di rumah.
Stella menggendong bayinya kekamar.
"Maafkan mama, mama telah membuat kesalahan. Apa yang aku lakukan? Aku datang untuk membongkar rahasia perselingkuhan suamiku? Tapi aku? Aku malah melakukan kesalahan satu malam dengan atasannya. Bagaimana ini? Apakah dia mengenaliku?"
__ADS_1
Stella gemetar membayangkan kesalahan yang telah dia perbuat.
"Kenapa aku percaya untuk minum dengannya! Sial! Aku tertipu oleh mukanya yang baik dan ramah. Siapa sangka dia memanfaatkan diriku? Kenapa aku berambisi dengan misiku ini? Haruskah aku lanjutkan?"