
Setelah mendekap cukup lama tubuh mungil Renata, Reza melepaskan pelukan nya.
"Kamu harus tegas, aku aja gak rela liat kamu di perlakukan seperti tadi, Re. Masa kamu rela? Pikirin kebahagiaan kamu juga, jangan selalu berpikir untuk membahagiakan orang lain dan membuat mu menderita." Ucap Reza lembut, dia mengusap kepala Renata.
"Sekarang kita pulang." Ajak Reza, tapi Renata malah berdiri kaku di tempat, seolah tak ingin beranjak dari tempatnya.
"Kenapa? Kamu takut Dimas datang dan nyakitin kamu?" Renata mengangguk, sejujurnya dia memang takut kalau Dimas berbuat kasar padanya setelah kejadian tadi.
"Jangan buka pintu, kunci dari dalam."
"T-api Dimas punya kunci cadang kontrakan aku, Eza." Jawab Renata sambil memilin ujung kebaya nya.
"Jangan cabut kunci nya dari pintu, dia gak bisa masukin kunci kalau kunci nya menggantung. Yuk, keburu malem. Angin malem gak baik buat kesehatan kamu." Reza membuka jaket nya, lalu memakaikan nya di tubuh Renata.
"Makasih Eza."
"Iya, sama-sama. Yuk kita pulang," ajak Reza, dia pun memasangkan helm nya di kepala Renata. Kedua nya pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di rumah sakit, Dimas mendapat perawatan. Tadi ada orang yang berbaik hati pada nya dan membawa nya ke rumah sakit. Dimas berusaha menelpon Sila, namun wanita itu sedang sibuk dengan selingkuhan nya yang lain, siapa lagi kalau bukan Ken.
"Aassshh, kenapa gak ada satu pun yang ngurus gue ketika gini sih? Sialan!" Rutuk Dimas, sambil menahan sakit di area bawahnya.
Dia merasa mungkin telur nya pecah karena tendangan Reza tadi, hingga dia kesakitan sampai saat ini.
"Sialan tuh si Reza, kalo telor gue pecah rasain aja Lo!" Gumam Dimas.
Tak ada pilihan lain selain menghubungi Mami nya, cukup lama berdering hingga di angkat dan suara Mami Erika terdengar sangat datar.
'Ada apa nelpon Mami? Masih inget kamu punya Ibu, hmm?' tanya Mami Erika.
"Mi, Mami ngomong apa sih? Dimas di rumah sakit nih, Mami bisa kesini gak?"
'Ngapain? Kemana wanita Jalaang itu, apa dia tak disana menemani mu?' Tanya balik Mami Erika.
"Nomor nya gak aktif Mi,"
'Ya, mami kesana sekarang.' putus Mami Erika, dan langsung mematikan sambungan telepon nya sepihak, membuat Dimas mendengus. Tak biasa nya Mami Erika melakukan hal ini.
Satu jam berselang, Mami Erika datang dengan menenteng tas berisi makanan, siapa tahu putra nya belum makan.
Semarah dan sekecewa apapun seorang ibu, tetap dia akan memperhatikan putranya. Itulah seorang ibu, lautan maaf.
__ADS_1
"Kenapa kamu, Dimas? Kena karma dari istri?" Tanya Mami Erika dengan ketus.
"Ini Dimas kena tendang sama si Reza tadi, sakit Mi. Keknya telor Dimas pecah deh, sakit banget soalnya." Adu Dimas, dia sangat berharap kalau Mami nya akan membela nya.
"Baguslah, dengan begitu junior kamu itu gak bisa bangun dan celap celup ke sembarang lubang!" Sindir Mami Erika membuat Dimas bungkam.
"Harusnya kamu jangan nelpon Mami, telpon aja si Sila itu, kamu tega hancurin kepercayaan Mami cuma gara-gara wanita murahan itu."
"Mami, apaan sih?" Tanya Dimas.
"Kenapa? Harusnya kamu tahu, wanita yang pernah selingkuh pasti akan selingkuh di lain waktu."
Mami Erika membuka ponsel dan menunjukkan sebuah Poto yang membuat mata Dimas terbelalak.
"Mami dapet Poto ini dari mana?" Tanya Dimas dengan raut wajah penuh keterkejutan.
"Tadi, waktu mami mau kesini."
"Enggak Mi, Dimas gak percaya. Itu pasti bukan Sila, mami salah lihat kali." Ujar Dimas mencoba positif thingking.
"Terserah kamu mau percaya atau enggak, itu hak kamu. Tapi yang jelas, Mami gak akan pernah restuin kamu sama wanita itu sampai kapan pun!" Tegas Mami Erika.
"Mi, ayolah. Ini pilihan Dimas, hargai dong. Dimas juga berhak bahagia sama pilihan Dimas." Kekeh Dimas.
"Mami.." rengek Dimas, membuat Mami Erika memutar matanya jengah.
"Silahkan pilih, perbaiki hubungan kamu sama istri kamu, atau tetap sama wanita itu tapi kamu Mami coret dari kartu keluarga."
"Kok gitu sih, Mi? Yang anak Mami kan Dimas bukan Renata."
"Ckkk, kamu memang anak mami. Tapi kelakuan kamu ini benar-benar bikin Mami malu, Dimas! Mami kecewa sama kamu, Mami benci sama kamu." Teriak Mami Erika, baru kali ini Dimas melihat ibunya yang biasa nya lemah lembut itu meninggikan suara nya, semarah apapun Mami Erika, tak pernah membentak nya.
"Ini makanan buat kamu, Mami pulang. Mami gak suka disini," Mami Erika pun pulang dengan membawa rasa kecewa pada anaknya itu.
"Semua nya ninggalin gue disaat gue terpuruk, sialan!" Dimas berteriak frustasi, dia menjambak rambut nya sendiri. Disaat seperti ini tak ada yang mau menjaga nya, bahkan Sila pun yang selama ini jadi sebab permasalahan nya pun tak ada.
Renata turun dari motor Reza, pria itu membukakan helm nya.
"Makasih Eza."
"Bilang nya makasih aja terus, gak ada yang lain gitu?" Tanya Reza sambil cengengesan.
__ADS_1
"Mau nya apa gitu?"
"Kiss juga boleh." Goda Dimas membuat wajah Renata bersemu.
"Gak mau."
"Yaudah, kamu masuk sana. Istirahat ya, besok kita main ke taman mau?" Tanya Reza.
"Eemm, sebaiknya enggak dulu deh. Aku gak enak aja, soalnya aku masih istri Dimas."
"Terus kenapa?"
"Gak enak aja, nanti kamu di omongin orang yang enggak-enggak."
"Gak usah dengerin apa kata orang, toh yang ngerasain kita ini, mereka cuma liat doang gak ngerasain." Jawab Dimas, memang iya sih, jangan terlalu peduli dengan ocehan orang lain, karena gak semua orang memahami.
"Eemm, liat besok aja deh."
"Yaudah, kamu masih simpan nomor aku kan?"
"Ponsel aku rusak, jadi nomor nya pada ilang." Jawab Renata.
"Yaudah, sebutin nomor kamu nanti aku kirim pesan."
Renata pun menyebutkan nomor nya, setelah cukup lama berbincang, akhirnya Reza pulang dengan motor matic nya.
Renata masuk ke rumah nya, seperti ucapan Reza tadi, dia mengunci pintu dan sengaja membiarkan kunci nya tetap menggantung, dia juga mengunci kamar dan melakukan hal yang sama.
Perempuan itu tak ingin bertemu dengan Dimas dulu, dia ingin menenangkan diri sejenak.
Renata mengusap perut nya, dia tersenyum lalu mengatakan bahwa dia sangat menyayangi janin yang bernyawa dan hidup di dalam rahim nya.
Di usia kehamilan nya yang ke empat bulan, Renata sudah merasakan getaran cinta dari sang malaikat kecil yang bersemayam dalam rahim nya, itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu.
"Aku ingin melakukan USG lagi, kira-kira kamu sudah sebesar apa ya sekarang? Mama penasaran deh." Gumam Renata, dia mengajak janin nya mengobrol.
Meski dalam hati dia merasa sakit, dia melihat dalam acara di televisi, suami nya lah yang melakukan hal ini, namun karena suami nya gila selangkangaan dan memilih bersama wanita lain, jadi dia melakukan nya sendiri.
'Mami akan menyayangi mu, Nak. Tumbuh sehat dalam rahim Mama ya, Nak. Mama sangat menunggu moment saat kita bertemu nanti, meski tanpa kehadiran Ayah.'
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷
awal kehancuran Dimas dan awal kebangkitan Renata, bertolak belakang amat😅😂