Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 70 IRS


__ADS_3

Dimas pulang ke apartemen dengan kondisi berantakan, bahkan sebelah pipi nya memerah karena tamparan yang di layangkan oleh Mami nya.


Sila menyambut kekasih nya dengan hangat, dia langsung menggandeng lengan Dimas, namun pria itu tak memberikan respon sama sekali. 


"Kamu kenapa? Kok murung." Tanya Sila, sambil meletakan secangkir kopi di meja. 


"Renata keguguran, Sil." 


"Apa? Keguguran?" Ulang Sila, Dimas menganggukan kepala nya. 


"Wahh bagus dong, berarti kamu bisa segera mengurus perceraian kamu sama Renata. Biar kita bisa nikah secepatnya." 


"Aku heran sama kamu, Sil. Kamu sama Renata itu sama-sama perempuan, gak ada berduka nya sedikitpun ya? Renata habis keguguran lho, bagaimana pun kalian pernah temenan." Sewot Dimas. 


Dia merasa kesal mendengar ucapan Sila, dia sedang pusing karena Mami dan istrinya, ehh Sila malah membahas pernikahan. 


"Ya biarin aja, itu kan karena dia ceroboh gak bisa jaga anak nya sendiri." Celetuk Sila membuat Dimas mengeratkan rahang nya, tanpa sadar dia mencekik leher Sila hingga membuat perempuan itu mengap-mengap karena kesulitan bernafas. 


"Aaaarrgghh sial." Dimas melepaskan tangan nya dari leher Sila dan pergi ke kamar dengan membanting pintu. 


Sila menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia menatap punggung Dimas dengan nanar. 


"Aaahh hampir saja aku mati." Gumam nya, dia pun tak berputus asa. Bermodalkan nekat, dia menyusul Dimas ke kamar. 


"Sayang.." 


"Apa lagi? Jangan mendekat, aku butuh waktu sendirian. Aku selalu kehilangan kendali saat marah." Bentak Dimas membuat sedikit nyali Sila menciut. 


"Sayang, bagaimana kalau kita minum? Aku punya whiskeyy." Ajak Sila, Dimas mengangguk. Sejauh ini dia baru sekali mabuk, dan itu di malam dia merusak kehormatan Renata.


"Bawa kesini." Perintah Dimas, Sila pun mengangguk dan tak lama dia kembali dengan dua botol minuman beralkohol di tangan nya. 


Tanpa ragu, Dimas menenggak beberapa gelas kecil minuman berwarna merah itu, sensasi panas membakar tenggorokan nya, namun bukan nya berhenti, Dimas malah semakin rakus meneguk minuman haram itu.


"Sayang, kamu mau kan nikah sama aku?" Tanya Sila mulai melancarkan rayuan nya, wanita itu menyandar manja di pundak Dimas. 


"Pasti sayang, tapi aku harus mengurus perceraian ku dengan Renata terlebih dulu. Dia pasti di pengaruhi Reza sialan, sampai-sampai dia minta cerai." Racau Dimas, dia mulai mabuk.

__ADS_1


"Reza? Kenapa dia, Sayang? Seperti iya, dia yang pengaruhi Renata deh. Ohh iya, jangan-jangan kecelakaan Renata itu ulah dia? Supaya kalian cerai terus dia bisa nikahin Renata." Hasut Sila, menghasut pria plin-plan seperti Dimas bukanlah hal sulit baginya. 


"Iya, ini semua pasti ulahnya. Aku akan membuat perhitungan dengan nya, sialan!" Gerutu nya, sambil terus meneguk minuman dari gelas itu hingga dia mabuk berat dan tepar di kasur. 


Sila tersenyum sinis, dendam nya pada Renata merembet juga pada Reza, karena pria itu sudah menolak nya waktu pertama kali dia mencoba mendekati nya. Awalnya, target Sila adalah Reza. Namun setelah tahu Renata menyukai Dimas, dia putar haluan dan menggoda Dimas.


Siapa yang tahu itu berhasil, Renata menderita sesuai rencana nya, namun rasanya semua ini masih belum membuat ambisi wanita itu selesai, misi nya membuat Renata menderita semakin menjadi.


Sedangkan di rumah sakit, Reza sedang menyuapi Renata untuk kedua kali nya, karena ini sudah masuk waktu makan siang. 


"Kamu belum makan dari pagi, Eza. Jangan menyiksa diri sendiri," 


"Siapa yang menyiksa diri sendiri? Gak ada tuh, aku makan bubur juga kok sama kayak kamu." Reza menunjukkan bekas cup bubur yang sudah kosong. 


"Kenapa kamu gak makan yang lain?"


"Mana boleh gitu, masa kamu makan bubur aku makan seblak sih? Kan gak mungkin, aku makan nya samain aja sama kamu, biar kamu gak iri." Jawab Reza membuat Renata tersenyum. 


Padahal kalau pria itu ingin, dia bisa makan makanan lain, bukan makanan dari rumah sakit. 


"Ayo makan lagi, makan yang banyak biar cepet sembuh. Nanti kita jajan seblak sama mie ayam favorit kamu." 


Hingga suara pintu terbuka membuat perhatian kedua nya teralihkan. Mariska dan Argantara datang menjenguk Renata seperti ucapan Reza tadi pagi. 


"Selamat siang, Nak Rere." Sapa Mariska ramah, dia menyimpan tas di meja samping brankar tempat Renata berbaring. 


Wanita itu mendekat dan tersenyum, dia mengusap lembut kepala wanita itu. 


"Mana yang sakit, Sayang?" Tanya Mariska. 


"Kepala sama perut aja Mom." Jawab Renata.


"Kepala nya di jahit Mom, luka nya lumayan besar. Renata juga harus kehilangan janin nya karena insiden ini." Jelas Reza, membuat Mariska menatap Renata dengan sendu. 


"Kamu harus kuat ya, Sayang. Kehilangan anak itu bukanlah hal kecil, siapapun takkan mau merasakan yang namanya kehilangan. Namun ingatlah, Tuhan takkan pernah memberi cobaan di luar kemampuan kita." 


"Kamu mampu melewati nya dengan baik Nak, jangan menyesali apapun. Ini sudah takdir, dan percaya di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan." Nasehat Mariska, membuat Renata berkaca-kaca. Berkedip sekali saja, air mata itu pasti meluncur. 

__ADS_1


"Kamu boleh menangis, Sayang. Tapi jangan berlebihan ya, ingat kondisi kamu. Jangan pernah merasa sendiri, karena masih banyak yang sayang sama kamu, termasuk kami." Ucap Mariska lagi, dia mengusap lembut ujung mata Renata dengan ibu jari nya.


"Makasih Mom, Renata hanya belum bisa melupakan saja. Susah payah Rere bertahan karena dia adalah penyemangat bagi Rere, tapi berakhir seperti ini. Rasanya sangat sakit, tapi mungkin kalau suami Rere selalu mendampingi Rere, mungkin rasanya gak bakal sesakit ini." 


"Akan ada saatnya dia menyesal, cepat atau lambat pasti dia akan merasakan nya setelah kehilangan dirimu, Nak." Mariska tersenyum kecil. 


"Mom, itu di tas bawa apaan? Kok kayak wangi sup iga."


"Iya, mommy masak sup iga tadi. Buat kamu makan siang sama Renata." Jawab Mariska, Reza membuka wadah bekal dan seketika aroma lezat memenuhi ruangan. 


"Eza, aku laper lagi."


"Kamu lagi sakit, makan nya tetep banyak ya." Ucap Reza sambil cengengesan, namun dia tetap mendekat dan kembali menyuapi Renata dengan sup buatan Mommy nya. 


Argantara menyaksikan kemistri yang tercipta di antara kedua nya, membuat hatinya menghangat melihat kedekatan sang putra dan wanita pujaan nya. 


Mariska yang melihat suami nya tak memalingkan pandangan nya dari Reza dan Renata, memilih mendekat dan menggandeng lengan nya. 


"Mereka terlihat sangat serasi ya, Pih." 


"Iya, andai saja Renata mau menjadi istri Reza ya Mom. Papih akan sangat bahagia, Papih gak peduli apapun status nya, yang penting putra kita bahagia." Jawab Argantara bijaksana. 


"Kebahagiaan Reza adalah yang utama, jika memang suatu saat mereka di persatukan, kita tak bisa berbuat apapun kecuali merestui dan mendukung hubungan mereka ya kan, Pih?"


"Iya Mom, apapun untuk putra semata wayang kita." 


"Putra kesayangan kita Pih.." ralat Mariska, keduanya pun saling melempar senyuman. 


.....


🌷🌷🌷🌷


jangan lupa kasih gift dan tinggalkan jejak, like atau komen☺️


.....


author bawa karya temen author lagi nih, jangan lupa mampir ya bestie🥰

__ADS_1



Pengantar Box Jutawan karya kak Oktiyan🌻


__ADS_2