
Andin juga di undang bersama suaminya, Harry Herman Wijaya. Andin akan memanggilnya Harry jika sedang berdua. Namun saat banyak orang dia akan memanggilnya Herman. Karena saat kecil, dia tidak mau dipanggil Harry, katanya mirip Harry Potter. Jadi dia lebih suka di panggil Herman, biar agak kejawa an. Karena memang berasal dari pulau Jawa.
"Aku bahkan tidak tahu kalau sahabatku sendiri sedang hamil, Herman, aku sibuk perselingkuhan suaminya," kata Andin menyesali perbuatannya.
"Makanya,sudahlah, sebaiknya kamu jangan terlalu mengkhawatirkan sahabatmu. Lihatlah, dia baik-baik saja dan sedang bahagia sekarang. Dia punya anak," kata Herman menatap pada istrinya dengan lembut.
"Iya mas. Aku terlalu berlebihan menjadi temannya. Sampai-sampai aku mengajakmu memata-matai suaminya,"
"Tuh dia datang," kata Herman menunjuk pada Stella yang keluar dari ruangan dalam bersama bayi mungil dan suaminya, Alvin.
Mereka akan mengadakan acara pemberian nama dan juga cukur rambut.
Dari tempatnya berdiri, Andin tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya.
"Selamat ya sahabat ku. Aku turun bahagia dan anakmu, cantik sekali," kata Andin.
"Iya, lihatlah, dia mirip sekali dengan Alvin," kata Stella.
"Kata orang, anak perempuan suka kirim ayahnya," Andin menimpali.
Deg.
__ADS_1
Tiba-tiba Stella kaget. "Kok bisa mirip Alvin. Ini kan bukan anaknya?" Dalam hati bergumam.
"Honey, kata orang, meskipun itu bukan anak kita. Tapi setelah menjadi anakmu, dia akan mirip denganmu atau denganku," kata Alvin seakan tahu apa yang baru saja dipikirkan oleh Stella.
"Ohh, iya mas," Stella lalu membawa anaknya berputar pada para tamu untuk meminta doa mereka. Agar anaknya panjang umur dan sehat selalu.
Acara selesai.
Dua Minggu kemudian,
Stella sedang merapikan lemari suaminya. Dan sebuah kertas transfer terjatuh dari lipatan baju suaminya.
"Kertas transfer," Stella lalu memungutnya.
"Kok dari rekening Mas Alvin. Aku saja cuma di transfer lima juta setiap bulan. Kenapa dia transfer uang sebanyak ini untuk orang lain? Siapa dia?"
Ciiiaappp!
Tiba-tiba, Alvin berdiri dibelakangnya dan mengambil kertas itu.
"Ini untuk bagian administrasi." kata Alvin.
__ADS_1
"Ohh, aku kaget. Melihat kertas ini, aku pikir...." Stella tidak meneruskan ya karena jemari Alvin menutup bibirnya.
"Aku tidak akan mengkhianati mu Honey. Apalagi sekarang kita sudah punya anak. Kebahagiaan kita lengkap sudah," kata Alvin merangkul istrinya dan duduk diranjang.
"Maaf Mas, aku...."
"Sudah...wajar jika seorang istri kaget melihat suaminya mentransfer uang untuk orang lain. Tapi kau tahukan, aku bagian teknisi. Kadang aku juga membeli alat dengan uangku baru diganti oleh perusahaan," kata Alvin berkilah.
"Aku sangat percaya padamu Mas. Kau akan selalu setia dan mencintai ku meskipun kita berpisah jauh dan jarang bertemu,"
"Tentu Honey...aku setia padamu...." Alvin lalu mencium kening istrinya dan teringat akan Nungky.
Alvin pamit keluar dan berdiri diteras. Dia menelpon Nungky.
"Kamu kangen ya mas? Tunggu ya, biar aku pulihkan badanku dulu pasca melahirkan," kata Nungki dari sambungan telepon.
"Ahh kamu bisa aja. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja mas. Aku sedang dalam masa pemulihan. Biar ototnya kencang lagi. Kan bikin kamu ketagihan," ucap Nungky dengan banyolannya.
"Di telpon malah ngelantur," kata Alvin sambil tersenyum.
__ADS_1
Stella menutup jendela dan melihat suaminya tersenyum sendiri di halaman rumahnya.
"Ngobrol sama siapa mas Alvin malam-malam begini? Kok senyum senyum segala," Stella lalu menutup jendela dan akan keluar untuk menemuinya.