
Sampai dirumahnya, Stella mencari buku nikah dan perlengkapan lainnya. Dia akan ke pengadilan hari ini juga. Dia tidak mau membuang waktu lagi.
Stella akan menggugat cerai suaminya dan meminta harta gono-gini selama dia menjadi istrinya.
Harta bersama yang terkumpul setelah pernikahan menjadi milik berdua. Dan harus dibagi dua setelah bercerai.
Keluarga Alvin kaget, saat mendapat telepon dari Alvin jika istrinya akan menggugat cerai. Kaget sekaligus senang, karena dari awal memang tidak menyukai Stella. Karena dia dari keluarga miskin dan biasa saja.
"Kabar gembira hari ini," kata Nyonya Viar saat bersama kedua adik Alvin di tempat jualan Katering.
"Ada apa Bu? Apakah ibu mendapat arisan?"
"Arisan gundulmu. Ini lebih dari sekedar dapat arisan. Ibu senang sekali. Akhirnya wanita itu ingin bercerai,"
"Siapa Bu?"
"Stella. Siapa lagi!" Kesal karena kedua anak gadisnya tidak cepat tanggap apa yang dia bicarakan.
"Apa? Mbak Stella akan bercerai?" Kedua adik Alvin saling berpandangan. Kaget dan terpana.
Ada apa gerangan? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai? pikir mereka berdua.
"Kenapa tiba-tiba akan bercerai? Apa yang membuat mereka akan bercerai,"
"Biasalah. Istrinya menuduh yang bukan-bukan. Suaminya kerja dituduh berselingkuh. Tapi sudahlah. Ibu tidak mau memikirkan masalah yang membuat mereka bercerai. Ibu akan mencarikan pengganti yang lebih baik," kata Ibu Viar.
*
*
__ADS_1
Alvin menemui CEO dan meminta cuti dua Minggu. Dia akan pulang dan mengurus masalah pernikahan nya dengan Stella. Jika bisa, dia ingin memperbaiki semuanya dan membuat Stella membatalkan perceraianya.
Diruangan CEO.
"Kau ingin cuti? Bukankah belum lama kamu pulang?"
"Ini sangat penting. Lebih penting dari apapun. Masalah rumah tangga kami,"
"Ohh, masalah rumah tangga. Tidak bisa ditunda?" CEO pura-pura tidak tahu.
"Tidak pak. Ini harus segera diselesaikan. Sangat genting,"
"Baiklah jika begitu," CEO lalu menandatangani surat yang diajukan oleh Alvin untuk cuti dua Minggu.
Tiba-tiba pintunya diketuk.
"Masuk"
"Ada apa?" tanya CEO.
"Pak, saya juga ingin cuti," kata Nungky melirik pada Alvin.
"Kau juga punya masalah rumah tangga?"
"Uhuk!" Alvin langsung terbatuk.
"Betul pak, ini sangat mendesak," kata Nungky membawa surat dan minta ditandatangani oleh CEO.
"Baiklah," CEO menatap mereka berdua lalu memikirkan sesuatu. Dan akhirnya menyetujui keduanya untuk cuti.
__ADS_1
"Terimakasih pak,"
Mereka berdua saling berkontak mata dan tersenyum.
CEO memperhatikan gerak gerik mereka berdua dan menarik nafas berat.
Heran dengan kedua pegawainya ini. Untuk apa mengajukan cuti bersama-sama? Yang CEO pikirkan adalah agar masalah Stella bisa cepat selesai.
Sedangkan Alvin menarik tangan Nungky saat sampai di ruang kerja Nungky yang lebih dekat.
"Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau juga cuti?" Alvin heran dengan sikap Nungky.
"Aku ingin tahu kelanjutan hubunganmu dengan istrimu itu. Lagian, aku juga punya hak. Aku dan kamu punya anak. Bagaimana dengan anakku? Apakah akan di asuh oleh istrimu atau oleh kamu, setelah kalian bercerai?"
"Aku tidak ingin bercerai. Itulah alasan aku pulang," Tegas Alvin dengan kesal.
"Kenapa tidak bercerai saja? Kita punya anak. Darah daging kita berdua. Sedangkan istrimu itu, tidak bisa memberimu anak," Nungky menatap tajam penuh dendam.
"Aku mencintai nya. Aku tidak ingin kehilangan dirinya," tegas Alvin.
"Aku lebih cantik dan seksi darinya. Apakah aku saja tidak cukup untuk memuaskanmu?" Kata Nungky geram.
"Cinta kita berbeda Nungky. Kau dan Stella jelas berbeda. Ada perbedaan besar di antara kalian. Dan aku tidak bisa mengatakannya. Intinya aku akan berusaha agar dia memaafkan kesalahan ku. Dan aku harap kamu jangan memperkeruh suasana,"
"Apa katamu?" Nungky terbelalak.
"Tetap disini. Jangan ikut pulang bersamaku. Jika tidak, hubungan kita selesai!" kata Alvin dengan kesal. Hanya ancaman yang bisa mengendalikan Nungky.
"Jahat kamu Mas. Kamu lebih memilih istrimu daripada aku? Aku sudah memberimu anak. Dan dia wanita tidak berguna yang tidak bisa memberikan seorang keturunan," Nungky berteriak kesal.
__ADS_1
"Pelankan suaramu Nungky. Nanti ada yang dengar," Geram Alvin kesal melihat tingkah istri sirinya itu.
Alvin tidak mempedulikan Nungky lagi dan segera pergi untuk menemui Stella.