
Tring..
Suara ponsel berbunyi cukup nyaring yang berasal dari meja nakas, membuat sang pemilik ponsel menoleh, namun memilih membiarkan saja ponsel itu dan fokus dengan kegiatan nya, berbagi keringat di siang hari yang cukup panas.
Tapi, karena suka sama suka tak jadi masalah mau melakukan nya kapanpun, toh mereka sudah sah menjadi suami istri. Yaps, pasangan pengantin baru itu kembali mengulang permainan panas mereka.
Dimana Dimas dan Elina kembali bergumuul di atas ranjang, dengan keringat yang mengucur dari tubuh sang pria. Namun hal itu tak menyurutkan niat nya untuk tetap menikmati permainan nikmat mereka, meski ponsel di meja nakas beberapa kali berbunyi pertanda ada pesan masuk.
"Aahhh sayang, ini terlalu nikmat. Aku tak ingin berhenti menikmati tubuh mu, sayang." Racau Dimas semakin mempercepat gerakan maju mundur nya. Elina juga terlihat sangat menikmati permainan suaminya, meski cukup kasar tapi rasanya sangat nikmat.
Hingga beberapa menit kemudian, Dimas ambruk menindih tubuh sang istri yang berada di bawahnya. Dengan nafas memburu, keduanya baru menyelesaikan ronde pertama percintaan mereka di siang hari ini.
Tring..
Ponsel di nakas kembali berbunyi, kali ini dering pertanda ada panggilan masuk. Dimas terpaksa melepas tautan senjata nya di inti sang istri yang hangat nan basah itu, juga membuat candu.
"Siapa sih nelponin mulu?" Gumam Dimas kesal, namun baru saja ponsel itu dia bawa, panggilan pun selesai membuat Dimas mendengus kesal.
"Siapa sayang?"
"Tau nih, apa orang iseng ya? Ganggu aja." Gerutu Dimas tanpa membuka ponsel nya.
Tringg…
Ponsel itu kembali berbunyi, membuat Dimas mengepal tangan nya lalu meninju udara saking kesal nya, sedangkan Elina sudah terkekeh geli melihat tingkah suaminya, sambil menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Dimas kembali mengambil ponsel itu, dan membuka pesan nya. Seketika itu juga mata nya membulat melihat notifikasi transfer yang entah dari siapa.
"What, 200 juta? Gila, orang iseng mana yang neransfer duit segini banyak?" Gumam Dimas sambil menggaruk kepala nya.
"Kenapa yang? Kok keliatan kaget gitu."
"Ini yang, ada notif transfer tapi gak tau dari siapa. Mana duit nya gede banget lagi, dua ratus juta." Jawab Dimas, membuat Elina ikut membulatkan mata nya. Uang segitu banyak dari siapa? Sultan mana yang memberikan uang sebanyak itu, dia saja belum tau sebanyak apa uang dua ratus juta itu.
"Yaudahlah, biarin aja. Nanti juga nelpon kalo salah transfer." Abai Dimas, baru saja dia meletakan ponsel nya, tapi yang membuat kesal adalah ponsel itu malah kembali berbunyi dengan nyaring.
"Sabar sabar.." gumam Dimas sambil mengusap dada nya.
"Eza? Ngapain nih orang nelpon, penting kali ya? Duh, semoga aja gak nyuruh ke kantor."
'Hallo, kenapa Za?' Tanya Dimas setelah menggeser ikon berwarna hijau.
"Duit dari gue dah masuk belom?"
'Duit apaan?' tanya Dimas bodooh, pikiran nya masih di penuhi dengan bayangan tubuh candu sang istri, tak menyadari kalau uang yang tadi sempat dia kira nyasar itu adalah uang dari Reza. Dalam rangka apa? Akan segera terjawab.
"Gue neransfer tadi."
'Dua ratus juta?' tanya Dimas, tiba-tiba saja dia ingat kalau ada transferan masuk dengan nilai sangat banyak masuk ke ponsel nya.
"Iya." Jawab Reza singkat, membuat Dimas melongo.
__ADS_1
'Gile, duit segitu banyak buat apa Za? Gue sampe nyangka itu transferan nyasar njir.'
"Sorry bro, kemaren gue gak sempet ngasih Lo kado. Jadi anggap aja itu kado buat Lo sama Elina." Jelas Reza membuat lutut Dimas terasa lemas seketika.
'Kebanyakan ini, Za. Gak enak gue,'
"Santai aja, itu hadiah wedding kalian dari gue sama Renata."
'Yaudah, thanks ya Za. Gile bener kado doang sampe ratusan juta.' Cetus Dimas, tak menyangka uang segitu banyak itu berasal dari sahabat nya.
"Haha, gapapa. Buat beli lingerie seksii, biar calon keponakan gue cepet tercetak." Reza malah tergelak mendengar ucapan Dimas.
'Iya deh, besok gue mau ajakin Elin ke mall beli baju dinas. Thanks banget ya bro,'
"Yaudah, lusa Lo mulai kerja lagi ya? Sepi anjir ruangan gue gak ada Lo yang biasa ngerecokin." Ucap Reza sambil terkekeh.
'Siap, makasih ya.'
Setelah itu, panggilan pun terputus. Dimas kembali menyimpan ponsel nya di nakas, lalu kembali mendekat ke arah sang istri yang sudah menatapnya bertanya-tanya.
"Siapa?"
"Reza sayang, kamu tau? Uang tadi itu dari Eza sama Rere, katanya buat hadiah pernikahan kita karena kemaren gak sempet beliin." Jelas Dimas membuat Elina menganga.
"Ya ampun, tapi itu mah terlalu besar sayang. Dulu, di kampung aku beli hadiah buat orang nikahan itu paling cuma sprei atau bahkan berisi mangkuk."
"Beda lagi sayang, Eza kan sultan sekarang. Uang segitu gak ada apa-apanya buat dia, katanya buat beli baju dinas. Jadi besok kita ke mall beli baju dinas yang banyak, biar Dede bayi nya cepet jadi." Ucap Dimas, menatap sang istri dengan kerlinhan nakalnya.
Dengan cepat, Dimas kembali meraup tubuh sang istri, dan ya ronde kedua pun di mulai. Begitulah pasangan suami istri itu menjalani hari kedua mereka setelah resmi menjadi pasutri, menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam kamar, bergumuul panas di atas ranjang.
Sore harinya, keduanya baru keluar dari kamar setelah membersihkan tubuh mereka masing-masing. Mami Erika terlihat menguluum senyum saat melihat pasangan itu, rambut mereka kembali basah seperti nya. Wahh, pasti habis keramas.
"Keramas mulu nih pengantin baru.." celetuk Mami Erika sambil terkekeh, membuat wajah Elina memerah, sedangkan Dimas hanya tersenyum kecil.
"Biar cucu mami cepet jadi dong, jadi usaha nya harus sesering mungkin." Jawab Dimas membuat Elina refleks memukul pelan lengan suaminya.
"Ya sudah, kalian mau ngemil? Mami buat pudding buah naga tadi, mau? Elin pasti suka deh, mami jamin."
"Mami, maaf Elina belum bantu-bantu."
"Gapapa sayang, sebentar ya mami ambilin dulu." Ucap Mami Erika lalu pergi ke dapur, tanpa sempat mendengar ucapan Elina yang berkata bisa mengambil pudding nya sendiri.
"Sayang, aku malu. Mami terlalu manjain aku, sampe pudding aja dia yang ngambilin, padahal aku bisa ngambil sendiri."
"Gapapa sayang, itu tandanya mami sayang sama kamu." Ucap Dimas sambil mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
Tak lama kemudian, mami Erika kembali dengan dua piring berisi pudding berwarna pink fanta, ya karena berasal dari buah naga yang di hancurkan.
"Ayo di cobain sayang, kamu juga harus banyak makan biar punya tenaga, kalau udah gak sanggup, bilang sama Mami ya." Lagi-lagi, ucapan mami mertuanya membuat wajah Elina memerah.
Elina pun mencoba pudding itu dengan lahap, dia memang menyukai makanan yang manis, termasuk pudding. Apalagi pudding buah seperti ini.
__ADS_1
"Enak banget Mi, seumur-umur Elina baru makan pudding seenak ini." Ucap Elina sambil tersenyum manis. Namun mami Erika bisa menangkap ada sorot kesedihan dari mata sang menantu.
"Kalau enak, kamu suka nanti mami buatin lagi ya sayang. Sekarang kamu makan yang banyak, di dapur masih banyak. Biarin Dimas gak usah di kasih kalau kamu suka."
"Makasih ya Mi."
"Sama-sama sayang." Mami Erika menyentuh pipi Elina yang sekarang jauh lebih berisi dari sebelumnya.
Dia paham benar, kalau Elina besar tanpa kasih sayang orang tua. Tak masalah, dia yang akan melimpahi gadis itu dengan kasih sayang.
Sedangkan di mansion keluarga Argantara, kebahagiaan menyelimuti ibu dengan dua orang anak itu. Dimana dia merasa bangga sekaligus bahagia saat melihat Farish sudah bisa duduk sendiri sekarang, padahal usia nya masih sangat muda, bulan ini menginjak usia ke enam. Sedangkan baby Aisha masih berjuang untuk bisa duduk sendiri, si bontot itu terlalu gemoy hingga membuatnya kesulitan untuk bergerak.
"Ayoo Aisha pasti bisa, sayang. Semangat belajar nya." Ucap Renata sambil memerhatikan sang putri yang sedang berusaha duduk sendiri.
Dengan sigap, Rini meletakan bantal empuk mengelilingi baby Aisha, takutnya dia oleng dan jatuh.
"Yeaahh, anak-anak mama pinter semua. Horeeyy, sudah bisa duduk." Pekik Renata kegirangan. Dengan cepat dia merogoh ponsel di dalam saku nya, lalu melakukan panggilan video pada sang suami untuk mengatakan kabar yang membahagiakan ini.
Hanya beberapa detik saja, panggilan itu pun di angkat, menunjukan Reza yang sedang tersenyum manis ke arah kamera.
"Hallo, istriku sayang."
'Hallo suamiku sayang, lagi sibuk?'
"Lumayan sayang, ini buntut karena Dimas cuti. Jadi kerjaan gak ada yang handel." Jawab Reza, sambil memperlihatkan tumpukan berkas yang menunggu untuk dia selesaikan.
'Semangat ya pak suami.'
"Pasti dong, demi anak istri. Kenapa kamu telpon sayang?" Tanya Reza, karena tak biasa nya sang istri melakukan video call, kalau pun rindu dia hanya akan menelpon biasa.
'Mau pamer, Mas. Lihat nih, anak-anak kita udah bisa duduk sendiri.' Renata mengarahkan kamera ke arah kedua bayi yang sedang duduk sambil memainkan boneka kesukaan mereka masing-masing.
"Serius? Wahh anak-anak kita sudah besar ya sayang, gak kerasa mereka udah 6 bulan lho sebentar lagi."
'Iya mas, kamu kalo bisa cepetan ya pulang nya?'
"Pasti, yaudah kalo gitu telponan nya udahan dulu ya. Biar kerjaan nya cepet kelar, terus Mas bisa pulang."
'Iya mas, semangat kerja nya. Love you,"
"Love you more, see you." Balas Reza, panggilan video pun selesai. Renata kembali memasukan ponsel nya, dan fokus memerhatikan kedua buah hati nya. Sesekali tertawa saat melihat tingkah kedua nya yang terlihat sangat menggemaskan di mata seorang Renata, yang notabene nya penyuka anak-anak.
Dia menatap kedua buah hatinya dengan tatapan dalam penuh cinta, seperti inikah rasanya menjadi orang tua? Sangat membahagiakan saat melihat mereka tumbuh berkembang dengan baik, melihat mereka tertawa adalah suatu kebahagiaan yang tak bisa di gantikan oleh hal apapun.
"Tumbuhlah dengan cepat sayang, Mama sangat bersyukur karena telah melahirkan kalian berdua, terimakasih sudah hadir dalam hidup mama." Gumam Renata, setetes cairan bening jatuh dari ujung mata nya. Lalu dengan cepat Renata mengusap nya, dan kembali tersenyum penuh kebahagiaan.
Dirinya benar-benar bahagia bersama orang yang sangat tepat.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1