
Alvin sudah sampai dirumah, pagi-pagi sekali saat Stella baru bangun tidur. Stella terbangun saat pintu depan rumahnya seperti terbuka. Karena setahunya yang punya kunci pintu rumahnya hanya dirinya dan suaminya.
Dengan mata yang masih berat, Stella berjalan keluar kamarnya. Dan saat melihat suaminya ada diruang tamu, dia sangat terkejut.
Berdiri disamping kopernya dengan wajah datar melihat Stella dengan tatapan dalam. Wajahnya kusut dan bibirnya membisu. Tidak seperti saat saat sebelumnya, dimana setiap pertemuan selalu ada senyuman cerah dan tatapan indah dari mata mereka.
"Untuk apa kau datang kemari? Jika ingin membicarakan soal kemarin, tekadku sudah bulat. Aku ingin bercerai," Stella membuka suara sesaat setelah keheningan beberapa detik sebelum nya.
Alvin berjalan tertunduk dan lemah. Tidak setegak biasanya. Wajahnya terlihat tak berdaya dan memelas.
"Honey....kita bisa bicarakan lagi dengan kepala dingin. Kau marah kemarin, sehingga memutuskan untuk bercerai. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu," kata Alvin berusaha memegang pergelangan tangan Stella.
"Tidak Mas! Ucapan dan tindakan mu sangat bertolak belakang. Bibirmu mengatakan cinta, tapi tindakanmu merusak hubungan pernikahan kita,"
"Stella, aku khilaf. Aku minta kesempatan sekali lagi. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan setia. Aku berjanji, kesalahan ini hanya akan terjadi sekali. Dan tidak akan terulang lagi,"
"Apa?! Kau bilang khilaf. Tidak mungkin Mas. Kau melakukan nya dengan sadar. Orang khilaf itu hanya sekali lalu insaf. Tapi kau? Jika aku tidak melihat dengan kepala sendiri? Mungkinkah kau akan menyadari kesalahan mu itu!?" Stella menggelengkan kepalanya dan menatap dingin wajah suaminya.
Suaminya terduduk dan kepalanya tertunduk kelantai. Dia lalu mengambil pisau dan memberikannya pada Stella.
"Agar kau percaya padaku. Ambil pisau ini. Dan bunuh aku. Aku siap mati, asalkan kau memaafkan kesalahanku,"
Alvin memberikan pisau pada Stella dan berlutut di hadapannya. Jika kata-kata tidak bisa meyakinkan istrinya, maka memberikan nyawanya mungkin akan mengubah keputusannya.
"Aku bukan seorang pembunuh. Apalagi membunuh suamiku sendiri. Jika aku membunuhmu. Kau akan tiada dan aku akan dipenjara. Aku masih waras, dan tidak akan berbuat hal bodoh seperti itu. Sudahlah Mas. Kesalahan sudah kau perbuat. Hatiku juga sudah terlanjur hancur. Aku tetap ingin bercerai. Aku tidak ingin ada drama lagi dalam kehidupan ku selanjutnya. Jika kau ingin tinggal disini, maka aku yang akan pergi,"
Stella tidak ingin hatinya goyah dengan alasan yang diutarakan suaminya.
__ADS_1
Tiba-tiba, suaminya memegang kaki Stella dan menahannya. Menangis dikakinya meminta maaf dan tidak ingin kehilangan istrinya.
"Lepaskan Mas!" Stella berusaha melepaskan pegangan erat tangan Alvin.
"Jangan pergi. Jangan bercerai. Beri aku kesempatan sekali lagi. Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi. Semua hajiku, juga akan aku berikan untukmu, jika semua itu bisa menebus dosaku padamu,"
"Tidak Mas! Bagaimana aku bisa memperbaiki hati yang terlanjur hancur. Bagaimana aku bisa bersamamu lagi, kau sudah punya anak dengan wanita itu. Aku tidak bisa kembali lagi. Aku akan pergi sekarang. Tolong lepaskan kakiku,"
Alvin teringat jika dia punya anak dengan Nungky, perlahan diapun melepaskan pegangan tangannya di kaki Stella.
Stella mengusap air matanya lalu masuk kedalam kamar. Dia mengambil tasnya dan beberapa surat tanah juga surat penting lainnya.
Dia menyeret koper dari kamarnya. Tiba-tiba, Alvin menghadang jalannya.
"Kau tetap disini. Aku yang akan pergi," Alvin lalu menenteng kopernya dan berjalan perlahan ke arah pintu depan.
Hatinya sakit dan bagaikan di iris sembilu jika ingat bagaimana mereka datang dan memasuki rumah ini dengan harapan dan cinta yang besar.
Cita-cita yang tinggi dan impian masa depan yang indah. Menghabiskan hari tua bersama dan bersama anak-anak yang lucu disamping mereka.
Impian itu hancur sudah hari ini, saat keputusan cerai sudah di ambil Stella dan mereka tidak akan pernah bersama lagi mulai detik ini.
Alvin mengangkat kopernya saat Stella diam tak bergeming.
Saat berjalan, Alvin berulang kali menoleh pada Stella yang masih berdiri membisu disamping kopernya.
Alvin berjalan melambat saat sampai di pintu depan. Berharap Stella akan memanggilnya dan memaafkan kesalahannya.
__ADS_1
Tapi hingga dia membuka pintu depan, Stella hanya menatapnya dingin dan membiarkan nya pergi dari rumah dengan membawa kepedihan.
Stella berbalik dan duduk dipinggir ranjang. Menangis tersedu-sedu. Dia juga sedih dan terluka.
Dia juga sangat mencintai suaminya. Namun dia juga tidak bisa memaafkan semua perbuatannya.
Cinta dihatinya, tentu masih ada, tidak serta merta hilang begitu saja dan terhapus dalam sehari setelah melihat pengkhianatan itu.
Butuh waktu, untuk menerima jika mereka tidak akan saling berkomunikasi sejak detik ini. Jika mereka tidak bisa berbicara lagi atau saling menelpon.
Stella hanya harus membiasakan diri seperti saat sebelum menikah. Hidup sendiri, berjuang sendiri, cari makan sendiri, dan tidur serta melakukan semuanya sendirian.
Mulai detik ini, dia harus menghempaskan sisa cinta yang masih ada. Berusaha melupakan setiap kenangan yang pernah dilalui bersama. Mengubur dalam, semua impian dan harapan yang pernah di impikan bersama.
Stella lalu membuka lemari bagian bawah. Mengeluarkan buku album pernikahan. Terlihat wajahnya dan suaminya tersenyum saling memandang penuh cinta dalam album itu.
Stella menitikkan air mata hingga membasahi foto mereka berdua.
Dia meraih korek api, dan membakarnya. Dengan menangis tersedu-sedu, dia membakar satu persatu kenangan indah yang pernah di lewati bersama.
Tidak terbayangkan jika hanya dalam waktu dua tahun semuanya berakhir.
"Jika aku tidak membakar kenangan ini. Maka langkahku akan menjadi berat. Aku akan terus menangis setiap kali melihat foto ini. Kepercayaan dan cinta yang suci telah ternoda oleh pengkhianatan dan aku tidak bisa menerimanya,"
Stella membakar hangus semua foto indah dirinya dan suaminya saat bersama. Dia sadar, jika foto ini masih ada, maka esok atau lusa, setelah melihat foto ini berulang kali, maka hatinya akan luluh. Dia akan menjadi lemah. Tekadnya akan memudar. Dan mereka kembali menjadi suami istri lagi. Lalu, dia akan dikhianati kembali. Orang yang pernah berselingkuh, dia tidak akan pernah sadar, meskipun di maafkan berulang kali. Karena perselingkuhan itu seperti penyakit, yang akan kambuh sewaktu-waktu.
Stella ingin cinta yang kuat juga komitmen yang kuat dari pasangannya. Sehingga tidak akan ada kesalahan dan luka dalam perjalanan cinta mereka.
__ADS_1