Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 96 IRS


__ADS_3

Hueek.. huekk..


Suara yang terdengar dari kamar mandi membuat Renata buru-buru bangun dan melihat keadaan sang suami.


Lagi-lagi, dia sedang muntah-muntah di wastafel. Wanita itu langsung mendekat dan memijat tengkuk leher suaminya, ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu, suaminya terus saja muntah, meski sudah tahu apa penyebab nya tapi tetap saja Renata merasa khawatir, apa ini wajar?


"Sayang, kita ke rumah sakit ya? Aku khawatir." 


"Gak usah yang, aku istirahat bentar aja. Tapi harus sama kamu ya." Reza langsung memeluk sang istri begitu mual nya berkurang, dia membasuh mulutnya dan langsung mendusel di leher sang istri.


Reza menolak lagi dan lagi, ini adalah bujukan ke sekian kali nya, tapi pria itu masih kekeuh menolak untuk di periksa langsung ke rumah sakit, kemarin pun dia kesal saat ada dokter yang memeriksa nya.


Renata membantu suaminya keluar dari kamar mandi dan membaringkan kembali tubuhnya di ranjang. Dia menarik selimut dan mengusap pelan rambutnya.


"Jangan kemana-mana, sayang."


"Iya, aku gak bakal kemana-mana kok. Aku pasti nemenin kamu disini, sayang." Jawab Renata, dia setia duduk di samping sang suami yang kini mulai tertidur pulas sambil memeluk perut nya.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka, menampilkan ibu mertua nya yang datang dengan nampan berisi makanan. 


"Eza nya masih muntah-muntah, sayang?" Tanya nya pelan. Renata mengangguk mengiyakan.


"Frekuensi mual nya bahkan lebih parah dari kemarin, Mom." Jawab Renata pelan juga, karena tak ingin membangunkan suami nya.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja?"


"Rere juga pengen nya gitu, Mom. Tapi Eza nya kekeuh gak mau, kemarin aja dia marah-marah." Jawab Renata, tangan nya masih setia mengusap lembut kepala belakang suaminya.


"Dari dulu Eza memang susah kalo mau di bawa berobat, dia memang jarang sakit tapi pas sakit pasti bikin khawatir seisi rumah."


'Ini bukan sakit biasa, Mom.' batin Renata, sebenarnya dia merasa kasihan pada suami nya, namun dia bisa apa. Dia ingin tahu berapa usia kandungan nya lebih dulu sebelum memberitahukan kabar baik ini.


"Ya sudah, kamu sarapan dulu ya sayang? Mommy ada kerjaan nanti siang, jadi harus pergi ke butik. Kamu gapapa kan Mommy tinggal?"


"Gapapa Mom, lagian Renata harus jagain Eza. Maafin Rere gak bisa bantu-bantu Mommy di butik ya,"


"Iya sayang, yaudah Mommy mau siap-siap dulu. Jangan lupa makan ya, bubur buat Eza sebentar lagi di anter sama maid." Renata hanya mengangguk, Mariska tersenyum lalu keluar dari kamar.


Untung saja dia punya mertua yang super duper baik, kalau tidak dia pasti sudah habis di omongin karena tak membantu kegiatan rumah.


Mami Erika juga baik, hanya saja anak nya yang brengseek.


"Yang, aku makan dulu ya."


"Disini aja makan nya, aku gak mau jauh dari kamu."


"Iya sayang, aku ambil dulu makanan nya di meja terus aku bawa kesini ya." Reza mengangguk pelan.


"Jangan lama.." Rajuknya manja, membuat Renata gemas. 


Renata pun terpaksa makan di atas kasur dengan Reza yang tetap memeluk perutnya, menduselkan wajah nya di perut rata sang istri. 


Menjelang sore hari, Eza sudah mendapatkan kembali tenaga nya yang sempat terkuras karena muntah-muntah tadi pagi, saat ini dia sudah bersiap di belakang kemudi. 


Seperti rencana kemarin, pasangan suami istri itu akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Renata. 


"Sudah siap, istriku sayang?" Tanya Reza.


"Siap sayang, tapi kamu beneran gapapa?"


"Gapapa, udah mendingan." Jawab nya sambil tersenyum ke arah istrinya, wanita itu menggunakan dress panjang hingga ke mata kaki dengan jaket crop, Mariska lah yang memberikan nya.


Reza pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membuat Renata bosan.


"Bisa agak cepetan dikit gak? Biar cepet sampe gitu."


"Gak bisa yang, aku gak mau perut kamu terbentur." Jawabnya membuat Renata mendengus. Padahal kan bayi mereka aman di dalam perut. 


Singkatnya, kedua nya pun sampai di rumah sakit, tempat dokter kandungan terbaik bekerja. Beruntung saja masih buka, karena sudah sore hari jadi tak terlalu banyak ibu hamil yang mengantri. Hanya ada beberapa. 


Kalau mau, Renata bisa saja langsung masuk karena suaminya sudah lebih dulu menghubungi dokter, namun dia lebih memilih mengantri bersama ibu hamil yang lain. 


"Ibu mau duduk? Silahkan disini." Ucap Renata sambil berdiri ketika melihat seorang ibu yang sudah hamil besar, namun datang sendirian.


"Terimakasih, Neng." 


"Sama-sama, silahkan duduk." Ibu itu pun duduk di kursi tunggu yang tadinya di duduki oleh Renata. 


"Kenapa di kasih yang? Kamu kan pegel kalo berdiri terus." Tanya Reza.


"Kasian sayang, liat hamil nya udah besar, pasti berat kalo harus berdiri."


"Istriku memang berhati baik, aku semakin mencintai mu." Ucap Reza sambil mendusel di punggung sang istri. 


"Nona Renata, silahkan masuk." Ucap seorang perawat. Renata pun mengangguk dan menarik sang suami agar ikut ke dalam. 


"Aaahh tuan Reza, kenapa tidak langsung masuk?" Sapa dokter perempuan dengan hijab di kepala nya.


"Istri saya terlalu baik dok, dia tak ingin menyerobot antrian." Jawab Reza. 


"Baik, silahkan duduk." Keduanya pun duduk berhadapan dengan dokter itu.


"Ada keluhan apa, Nona?"


"Hanya ingin melakukan USG, dok." 


"Baik, silahkan berbaring di sana. Sus, tolong di bantu." Pinta dokter itu dan langsung di angguki suster. Renata berbaring di brankar dan tak lama kemudian dokter itu datang, mengoleskan sedikit gel dingin ke perutnya yang masih rata. 


"Ini rahim Nona, dan bulatan sebesar buah apel ini adalah janin Nona. Perkiraan usia nya 11 Minggu." 


"Disini terlihat ada dua bulatan kecil, seperti nya Nona mengandung anak kembar." Ucap dokter itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kembar?" 


"Menurut penglihatan saya, tapi nanti kita lihat lagi setelah kandungan nya cukup, agar lebih jelas." Saran dokter itu, membuat Reza menganga. Begitu juga Renata, mengandung anak kembar? Yang benar saja, dia akan mendapatkan dua anak sekaligus. 


"Sayang.." panggil Renata membuat Reza menatap istrinya dengan berkaca-kaca.


"Lho kok malah nangis, kenapa?" 


"Makasih sayang, sudah mau mengandung anak ku." Ucapnya sambil memeluk Renata yang masih berbaring. 


"Sama-sama, aku juga bahagia dengan hadirnya mereka." 


"Saran dari saya, jangan kelelahan, tidur teratur, makan makanan sehat dan bergizi, kandungan Nona akan sangat rentan karena kehamilan kembar, jadi di jaga dengan baik ya." Ucap dokter itu dan langsung di angguki oleh nya.


"Peran suami sangat penting saat ini, jangan biarkan istri anda stress, atau berpikiran berat, itu juga dapat mempengaruhi pertumbuhan janin."


"Baik dok, saya mengerti." Jawab Reza singkat, padat, jelas. 


"Selama ini apa Nona ada keluhan? Seperti mual, muntah-muntah atau semacamnya?" 


"Tidak dok, justru suami saya yang mengalami nya, seminggu ini dia bahkan libur bekerja karena lemas." Jelas Renata panjang lebar, membuat Reza membulatkan matanya.


"Sayang.." rengeknya, membuat dokter dan suster yang ada di ruangan terkekeh pelan.


"Ini disebut dengan syndrom couvade atau kehamilan simpatik, hal ini lumrah terjadi Nona dan tuan muda." 


"Ohh jadi ada ya dok? Tapi suami saya ini manja nya minta ampun, apa itu juga wajar?" Tanya Renata polos, membuat wajah Reza memerah seketika. 


"Wajar-wajar saja Nona, banyak yang mengalami hal semacam ini. Kalau kata orang tua dulu, katanya suami nya terlalu mencintai istrinya, hingga ngidam nya gantian." Jelas sang dokter.


"Saya memang sangat mencintai istri saya dok." Jawab Reza tanpa malu. 


"Baiklah, saya hanya akan meresepkan vitamin penguat kandungan, di minum teratur setiap hari saat akan tidur dan bangun tidur ya, Nona."


"Baik dok." Jawab Renata. Dia pun turun dari brankar dengan hati-hati di bantu suaminya. 


Selesai pemeriksaan, keduanya pun pulang. Renata sibuk menghias kado berisi testpack dan kertas kecil berwarna abu-abu yang tadi di berikan dokter.


"Sayang, aku mau peluk.." 


"Sebentar, kamu nya mandi dulu sana. Bau keringet," Reza langsung menurut dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tadi, dia ngiler sendiri saat melihat alat olahraga, sudah cukup lama dia tak berolahraga, jadinya dia berakhir di ruangan itu selama dua jam.


Setelah selesai mandi, Reza langsung saja memeluk istrinya yang masih terduduk di lantai, menyiapkan kejutan untuk kedua mertua nya.


"Fokus banget Ayang, sampe aku nya di cuekin." 


"Sebentar ya ganteng, nanti setelah ini aku servis." Jawab Renata membuat Reza bersemangat, bukan nya membantu menyiapkan kejutan, dia malah mengganggu seperti biasa. 


Tangan nya yang nakal itu bergerak naik ke atas, meremass buah kenyal sang istri dengan lembut, membuat Renata bergerak tak karuan.


"Sayang, sebentar lagi aja ya. Jangan ganggu dulu," pinta Renata.


"Iya iya, tapi pelan-pelan ini sedikit lagi jadi." Jawab Renata, akhirnya dia kalah dengan rengekan suaminya sendiri. Astaga, menghadapi sikap manja Reza membuat Renata harus menahan emosi nya.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Renata, namun siapa yang menyangka bahwa suami tampan nya malah tertidur di punggung nya.


"Hah, tidur ya? Pantesan aja dari tadi berat," keluh nya, dia kebingungan bagaimana cara memindahkan suaminya ke kasur, apalagi tubuh nya yang besar dan tinggi tak sebanding dengan nya yang mungil. 


"Sayang, bangun. Berat, tidurnya di kasur aja." Renata mencoba dengan memanggil nya, siapa tahu berhasil. Tapi ternyata nihil, suaminya tetap tidak bergeming sedikit pun.


"Sayang, cepatlah berat."


"Eemm, maaf sayang aku ketiduran. Nyender di kamu nyaman banget, sampe bikin aku ngantuk." Jawabnya, dia bangkit dan kembali berbaring di kasur. Dia merentangkan tangan nya menunggu Renata. 


"Sebentar.." Renata menyimpan kado di meja nakas dan mengikuti suaminya, berbaring dan masuk ke dalam pelukan hangatnya.


Malam harinya, semua orang berkumpul. Selain untuk makan malam, Reza juga mengatakan ada hal penting yang tentu saja membuat kedua orang tua nya penasaran. Kira-kira apa yang akan di bicarakan putra mereka?


"Woahh, sudah berkumpul ya." Ucapnya sambil terkekeh dari atas tangga, sedangkan Renata terlihat berjalan pelan di belakang nya.


"Iya, kami penasaran dengan ucapanmu tadi." Jawab Mariska.


"Kotak apa itu?" Tunjuk ke Argan ke arah kotak yang Renata pegang.


"Ohh ini hadiah buat Mommy sama Papi, semoga suka ya." Renata mendorong pelan kotak itu, dia duduk bersampingan dengan suaminya. Tak sabar melihat ekspresi kedua mertua nya saat tau kalau dia hamil.


"Di buka Mom, Pih." 


Kedua nya pun membuka tutup kotak itu dengan perlahan, meski sempat heran tapi merek menyampingkan nya dulu, isi dari kotak itu lebih membuat mereka penasaran.


Kompak, ya kedua nya kompak membulatkan kedua mata mereka begitu melihat sebuah testpack dengan dua garis merah yang sangat jelas. Disana juga terdapat tulisan 'Im coming Omma, oppa.'


"Kamu hamil?" Tanya keduanya kompak.


"Iya Mom, dan ada lagi kabar gembira nya. Di kertas." 


Keduanya mencari kertas yang di sebutkan Renata, setelah menemukan nya mereka mengernyit, kurang paham dengan gambar yang hanya menunjukan bulatan besar dan bulatan kecil.


"Ada tulisan di belakang nya, Mom." Mereka membalik Poto itu, dan seketika mereka menutup mulut mereka saat membaca tulisan yang di tulis Renata. 


" 11 week and i'm twins.." 


Mariska tak mampu lagi membendung tangisan nya, dia bahagia, sangat bahagia. Akhirnya apa yang dia cita-citakan kini terwujud sudah. 


"Mommy sangat bahagia, kemarilah dan peluk ibu mu ini, sayang." 


Renata pun mendekat dan langsung memeluk ibu mertua nya, Mariska menciumi puncak kepala sang menantu, kebahagiaan nya saat ini sungguh tak bisa di ucapkan dengan kata-kata.


"Terimakasih sudah mengandung cucu pewaris keluarga Argantara, Mommy sangat bahagia, terimakasih." Ucapnya lagi. Argan pun sesekali mengusap ujung mata nya.


Mereka sudah lama menginginkan hadirnya seorang cucu, mereka sempat berpikir konyol tentang putra mereka, apakah Reza normal? Karena sejauh ini dia tak pernah dekat atau membawa wanita ke rumah. 

__ADS_1


Karina juga putri mereka, dia sudah berkeluarga. Namun karena penyakit, rahim nya terpaksa harus di angkat dan membuatnya tak bisa melahirkan keturunan.


Namun wanita itu sangat beruntung karena suami nya tak menuntut apapun, saat ini mereka mengadopsi seorang anak perempuan dari panti asuhan. 


Meski begitu, Karina dan suami serta Argan dan Mariska tetap menyayangi anak itu layak nya pada cucu mereka sendiri, tak pernah mengungkit apapun tentang asal usul anak mereka.


"Dua cucu sekaligus, terimakasih ya Nak." Kali ini Argan yang bicara. 


"Kenapa kalian terus saja berterimakasih? Padahal mengandung anak kan kewajiban seorang istri,"


"Maklumin aja sayang, mereka sangat ingin punya cucu dari kita." Celetuk Reza dengan santai. 


"Benar, itu sangat benar sayang. Jadi kami sangat bersyukur dengan kehamilan kamu, sehat selalu dan jaga kandungan mu dengan baik." 


"Aku rasa sudah saatnya, omong-omong tentang menjaga kandungan dengan baik. Reza sudah menemukan bukti kongkrit yang akan memberatkan pelaku." 


"Pelaku apa?" Tanya Mariska, sedangkan Argan yang memang sudah tahu hanya menganggukan kepala nya.


"Dia sudah mau buka mulut?" 


"Tentu saja, aku memberikan nya hukuman yang sangat menyakitkan, seperti nya dia sudah tak tahan dan akhirnya memberikan kesaksian." Jawab Reza datar.


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa Mommy gak ngerti."


"Renata keguguran karena di dorong dari tangga eskalator oleh orang tak berhati nurani, namun siapa sangka dalang dari semua nya adalah.."


"Sila." Jawab Renata membuat kedua mata Reza membeliak.


"Kamu tahu, sayang?"


"Aku tahu, tapi aku bisa apa? Jadi biarkan saja sampai dia puas." Jawab Renata, namun berbeda dengan Argan dan Reza.


"Orang jahat harus mendapatkan hukuman setimpal, aku sudah mengajukan penangkapan pada Jalaang itu dan saat ini polisi sedang memburu nya." Jelas Reza tegas. 


"Tidak, sayang. Kejahatan tak sepantasnya di balas oleh kejahatan pula, aku sudah ikhlas dan merelakan bayiku, jadi tak ada lagi yang harus di sesali."


"Aku tak peduli apa pendapatmu tentang ini, aku sudah menduga nya jauh-jauh hari. Tapi penjahat harus di hukum sesuai perbuatan nya, dan aku akan melakukan nya. Tak adil rasanya jika kau menderita sedangkan dia bersenang-senang di luaran sana!" Tegas Reza.


"Papi setuju, papi akan menyiapkan pengacara terbaik untuk menuntut kejahatan wanita itu. Berani sekali dia menyakiti menantu keluarga Argantara." Ucap Argan, membuat Renata menghela nafas nya.


"Reza sama Papi benar, penjahat harus di hukum sesuai kejahatan nya, sayang." 


"Iya Mom, baiklah. Rere nurut aja." Jawab Renata.


Sedangkan di perusahaan, Dimas diam-diam mengikuti langkah istrinya. Ya, wanita itu mengaku akan pergi kerja lembur. Jadi dia mengikuti nya, karena rasa curiga nya harus mendapatkan jawaban. 


Kedua matanya melebar saat melihat sang istri masuk dengan santai ke ruangan CEO.


"Haii babe, sudah lama?" Sapa nya. Jelas terdengar oleh telinga Dimas. 


"Sangat, kenapa kau lama sekali hmm? Apa suami mu itu melarang mu?" Tanya Ken, dia langsung menarik Sila hingga wanita itu terduduk di pangkuan nya.


Wanita itu menggelayut manja di leher kokoh Ken, sedangkan pria itu sibuk membuka kancing kemeja yang Sila kenakan.


"Aaahhh sayang, pelan-pelan." Desaah nya dengan suara manja, membuat telinga Dimas terasa panas. Namun dia harus menguatkan hatinya.


"Aku tak tahan ingin menyetubuuhi mu, sayang." Bisik Ken dengan suara berat nya, dan langsung di sambut ciuman panas oleh Sila.


Dengan cepat, Ken mendorong pantaat Sila agar berdiri dan berpegangan di sisi meja kerja milik Ken. 


Pria itu menaikan rok yang di pakai Sila, menurunkan segitiga berenda nya dengan tak sabar. Dia juga membuka resleting celana nya, mengeluarkan senjata andalan nya yang sudah berdiri tegak dengan gagahnya.


Tanpa basa-basi lagi, Ken langsung menusuk lubang hangat milik Sila dengan satu kali hentakan, hingga membuat Sila memekik kesakitan, namun di detik berikutnya dia dibuat mendesaah nikmat.


"Aaahhh aahhh enak sekali, goyang aku lebih cepat dan keras, Ken!" Pinta nya membuat Ken menurut, dia terus menghujam inti Sila yang sudah longgar dengan senjata nya.


"Aaahhh ini nikmat sekali sayang, aku ingin meledak." Racau Ken, dia terus saja menggerakan pinggang nya dengan cepat. 


Dan saat di ujung, Ken bersiap akan meledak. Pintu terbuka dengan keras menampilkan wajah Dimas yang marah. 


"Ohh jadi ini yang kau maksud lembur, Sila?" Teriak Dimas membuat Sila yang masih menikmati sisa-sisa klimaaks nya menoleh dengan panik. 


Sedangkan Ken masih anteng menggerakan pinggang nya maju mundur dengan cepat, mengejar pelepasan nya tanpa merasa terganggu sedikitpun. 


"Aaahh Dimas, maaf.."


"Maaf? Kau bilang maaf, sialan!" 


"Ken, sudah lepaskan aku." Pinta Sila, dia berusaha menghentikan gerakan pria itu, namun sial seperti nya Ken tak bisa berhenti karena klimaaks nya segera sampai. Biasanya pria itu memang seperti itu, tak bisa di ganggu jika sudah mendekati klimaaks.


Ken bergerak lebih cepat, membuat tubuh Sila terguncang. Kepalang tanggung, dia mendesaah nikmat merasakan hujaman senjata milik Ken dengan di saksikan suami nya sendiri.


"Aaahh Ken, oohh yes seperti itu lebih cepathh sayang.." racau Sila tak peduli meski suaminya sedang menyaksikan pergumuulan mereka dengan wajah tak bisa di artikan.


"Aaarrgghh.." Ken menusukan senjata nya lebih dalam, dia meledak banyak sekali hingga cairan nya menetes keluar. 


Dengan santai, Ken mengambil tissu dan mengelap lubang nikmat milik Sila yang sudah banjir, lalu menarik nya kembali ke pangkuan nya.


Dimas kira semua nya sudah selesai, namun ternyata belum. Sila duduk mengangkaang di pangkuan Ken, mereka kembali bercintaa dengan panas tanpa peduli pada Dimas yang melihat mereka.


"Aaahhh aaahh.. enak sekali, lubang mu menjepit junior ku sayang." Racau Ken, membuat Sila bergerak lebih cepat. 


"Seperti nya suami mu asik melihat kita, sayang. Dia tidak bergerak sama sekali." 


"Biarkan saja, aku tidak peduli. Yang aku inginkan saat ini adalah bercintaa." Jawab Sila, jiwa Jalaang nya mendominasi.


Tanpa berkata-kata lagi, Dimas pergi dengan membanting pintu sangat keras, dia sudah menemukan jawaban atas rasa curiga nya. Dia melihat sendiri istrinya bercintaa dengan pria lain yang sialnya itu adalah atasan nya di perusahaan tempatnya bekerja.


Selama ini dia bekerja di kantor tempat selingkuhan istrinya, sial. Dia bodoh, sangat bodoh.


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


karma mu sedang otw ya Sil, Dim😁 author tertawa jahat dari jauh🤣


__ADS_2