Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 123 IRS


__ADS_3

Tengah malam, Renata terbangun karena mendengar suara rengekan dari buah hatinya. Ya, malam ini keduanya tak jadi memadu kasih karena Renata yang sedang kedatangan tamu bulanan, ngenes memang jadi Reza. Sudah berpuasa 40 hari selama masa nifas, ehh pas udah selesai tetep aja gak bisa minta jatah karena sang istri malah menstruasi. 


Reza sedang menimang baby Aisha, sedangkan baby Farish dia anteng tertidur. Di bandingkan Aisha, bayi tampan itu memang lebih sering tidur dan tenang. Meski Aisha menangis nyaring, tapi Farish bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu. 


Dia bersenandung lirih di tengah malam, sambil memberi dot susu pada baby Aisha yang masih saja merengek. Dia bersholawat agar bayi nya tenang, juga agar dia tak menganggu ibunya yang tengah beristirahat. 


Reza cukup paham dengan masalah istrinya sekarang, meski tidak mengeluh tapi Reza yang peka tau bahwa istrinya seringkali kesulitan mengatur waktu untuk mengurus kedua bayi dan dirinya.


Wanita itu tersenyum saat melihat suaminya begitu cepat tanggap, mata nya sesekali terpejam karena rasa kantuk yang membuat mata nya berat, tapi dia tak mau membangunkan istrinya. 


"Sssttt, sayang nya papa. Jangan rewel ya, kasian Mama kecapean." Ucap Reza lirih sambil mengusap lembut kepala putri nya, lalu mengecup nya singkat sebelum kembali meletakan gadis kecil itu ke dalam box nya. 


"Hufftt, akhirnya tidur juga. Ngantuk banget," gumam nya, lalu kembali berbaring di ranjang, tepatnya di samping Renata yang padahal terbangun karena rengekan putri kecilnya.


Reza melingkarkan tangan nya di pinggang sang istri dan merapatkan tubuhnya, agar bisa menghirup aroma menenangkan. 


"Selamat malam istriku sayang, aku mencintaimu." Seperti tak pernah absen, setiap malam sebelum tidur Reza pasti mengatakan hal demikian. Tak pernah lupa, tak pernah terlewatkan. 


"Selamat malam suamiku sayang, terimakasih sudah membantu aku menjaga kedua anak kita, sayang." Jawab Renata membuat Reza mengangguk pelan di punggung sang istri.


"Mereka juga putraku sayang, kita akan menjaga dan merawat nya bersama-sama. Sekarang ayo tidur, aku sangat mengantuk. Baby Aisha kalo udah bangun pasti rewel." 


"Iya Mas, maafin ya." 


"Kok minta maaf sih? Gapapa kok sayang." Reza bangkit dan menarik sang istri, hingga kini keduanya berbaring berhadapan. 


"Seperti membuatnya yang sama-sama, ya merawatnya juga harus sama-sama, iya kan?" Reza mengusap lembut wajah istrinya.


"Heem, iya mas. Ayo tidurlah, besok kamu harus ngantor." 


Reza mengangguk, dia mendekat dan mencium kening istrinya, keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan mesra.


Pagi harinya, Reza terbangun lebih dulu. Dia merenggangkan otot nya yang terasa pegal setelah berpelukan dengan sang istri semalaman. 


Dia bangkit dari rebahan nya dan langsung melihat kedua buah hatinya yang masih tertidur lelap.


"Mas.." lirih Renata, membuat Reza menoleh dan berbalik lalu tersenyum manis saat melihat istrinya terbangun sambil mengucek kedua matanya.


"Pagi sayang.." ucapnya lalu mengecup kening sang istri sebagai penyemangat nya untuk menyambut hari. 


"Pagi juga Mas." 


"Hari ini Mas pengen bawa kamu ke kantor."


"Lalu, anak-anak kita gimana Mas?" Tanya Renata.


"Kita kan punya nanny sayang, jangan biarkan mereka hanya leha-leha, padahal aku membayar nya cukup mahal, tapi anak-anak kita lebih sering bersama Oma dan opa nya." 


"Lain kali aja ya, Mas." Ucap Renata, membuat Reza mendengus.


"Yaudahlah, aku mandi dulu ya. Mereka masih tidur, jadi kamu bisa bersantai dulu." 


Renata hanya mengangguk, dia bersantai sejenak sebelum memulai aktivitas nya sebagai seorang ibu. 


Tak lama kemudian, baby Farish yang terbangun lebih dulu, dia merengek membuat Renata langsung berdiri dan menggendong bayi gembul itu lalu memberinya susu. 


"Uhhh anak mama lapar ya? Pelan-pelan mimi nya sayang." 


Tapi, baby Aisha seperti nya merasa iri karena Farish yang lebih dulu di gendong, bayi kecil itu menangis dengan kencang, membuat Reza langsung berlari dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit di pinggang nya. Dia panik begitu mendengar anak perempuan nya itu menangis. 


Buru-buru Reza menggendong baby Aisha dan memberinya susu di dalam botol, menimang nya dengan perlahan membuat nya sedikit tenang. 


"Ngapain lari-larian? Gimana kalo jatoh, mas?"


"Panik aku Yang, denger dia nangis." Jawab Reza sambil cengengesan.


"Udah mandi nya?"


"Udah sih, tapi ya ini masih ada sabun nya." Reza terkekeh saat melihat kepala nya masih di penuhi busa shampoo yang belum sempat dia bilas.


"Ya ampun sayang, yaudah lanjutin mandi nya sana. Aku juga mau mandiin mereka berdua." 


"Aku gak bisa bantu mandiin, tapi aku bisa bantu pakein mereka baju ya." Ucap Reza.


"Siap Mas, udah sana bilas dulu busa nya. Nanti kena mata, perih lho." 

__ADS_1


"Iya sayang." Reza meletakan baby Aisha di ranjang dekat sang istri, lalu kembali masuk ke kamar mandi. 


"Kita mandi dulu ya anak-anak mama yang lucu, setelah itu kita berjemur sama Oma." 


Kedua bayi itu nampak anteng sekarang, kegiatan melelahkan menjaga dua bayi sekaligus di mulai. Meski begitu, rasa lelahnya takkan terasa jika semua itu berhubungan dengan buah hati mereka. 


Lagipun dia di bantu oleh dua orang nanny, juga mama mertua nya yang super duper perhatian dan cepat tanggap. 


Renata selesai memandikan kedua bayinya, dia mengambil pakaian untuk keduanya. Reza juga sudah selesai berpakaian, dia membantu istrinya memakaikan pakaian, tentu saja Baby Aisha karena bayi perempuan nya itu akan tenang jika dia yang menggendong nya atau memakaikan nya pakaian. 


"Wihh, anak-anak papa wangi banget." Ucap Reza sambil menduselkan wajahnya di tubuh gembul baby Aisha.


"Mas, ihh gak boleh di gituin. Inget, anak kamu itu masih kecil lho."


"Aaahh iya, tapi gemesin gimana Yang." Rengek Reza membuat Renata terkekeh. 


"Gemesin mana sama mama nya, hmm?" Tanya Renata, membuat Reza langsung memeluk sang istri dari belakang. 


"Ya jelas gemesin mama nya dong, gemoy gini uhhh." Jawab Reza.


"Yaudah, kita kebawah yuk. Kamu harus sarapan, terus berangkat kerja." Reza mengangguk, dengan cepat dia menggendong baby Aisha dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan nya lagi menenteng tas kerja berisi laptop. 


"Morning, Oma opa." Sapa Reza saat melihat Mariska sudah menunggu tepat di bawah tangga. 


"Morning too, cucu Oma yang cantik dan ganteng." Jawab Mariska, lalu mengambil alih Baby Aisha dari gendongan Reza. Sedangkan Opa mengambil baby Farish dan keduanya membawa cucu mereka keluar rumah untuk berjemur. 


"Kamu temenin suamimu sarapan dulu yaa, biar Farish sama Aisha sama Oma opa." 


"Iya Mom." Jawab Renata, dia pun pergi ke dapur bersama Reza, seperti biasa dia melayani suaminya, dia juga ikut sarapan bersama suaminya. Karena pria itu akan sangat marah jika mengetahui Renata telat makan, meskipun hanya beberapa menit saja. 


Setelah selesai sarapan, keduanya pergi ke teras. 


"Sayang, Mas pergi kerja dulu ya." 


"Iya Mas, hati-hati ya."


"Pasti sayang, yaudah Mas pergi dulu ya." Ucap Reza, dia mengecup singkat kening sang istri.


"Assalamualaikum."


Renata masih berdiri sampai mobil sang suami hilang di balik gerbang rumah megah milik keluarga Argantara. 


Setelah suaminya pergi, Renata menyusul Mommy nya ke kebun belakang. Ternyata keduanya tengah bermain bersama cucu mereka, membahagiakan sekali melihat keduanya tertawa saat melihat kelucuan dua bayi itu.


Sedangkan di lain tempat, Dimas terpaksa harus meninggalkan Elina yang masih belum bisa untuk pulang dari rumah sakit karena keadaan nya. 


"Sayang, kakak harus pergi bekerja dulu. Kamu gapapa kalau kakak tinggal?" 


"Gapapa kok, kakak pergi aja." Jawab Elina dengan senyum manis nya.


"Mami mau kesini sekarang kok, jadi Kakak nungguin mami datang dulu biar tenang ninggalin kamu nya."


"Makasih ya kak, perhatian banget sama aku." Ucap Elina.


"Jelas dong, kamu kan calon istri kakak." Jawab Dimas sambil mengusap puncak kepala Elina. 


Ceklek..


Pintu terbuka menampilkan Mami Erika dengan wajah pucat nya saat melihat adegan di depan nya.


"Aaahh maaf, mami ganggu ya." 


"Enggak kok Mi, ayo masuk." Jawab Dimas, dia tersenyum lalu sedikit menjauh dari brankar.


Mami Erika masuk dan meletakan beberapa paperbag di meja nakas, lalu tersenyum menatap Elina yang nampak canggung.


"Apa kabar sayang?"


"Baik Mami." Jawab Elina. 


"Yasudah, sekarang udah ada Mami disini. Aku pergi kerja dulu ya?"


"Pergilah dan hati-hati, Nak. Mami akan menunggui Elina disini selama kamu bekerja." 


"Okey Mi, jangan di galakin ya Elina nya. Kalau ada apa-apa, telepon Dimas." 

__ADS_1


"Enggak kali, kapan mami galak sama Elin? Udah gak usah banyak omong yang menggiring opini pembaca, mami ini kan baik hati dan rajin menabung." Ucap Mami Erika membuat Dimas terkekeh kecil.


"Yaudah, aku pergi dulu ya." Dimas mengusap lembut pucuk kepala Elina lalu pergi keluar dari ruangan itu dengan menutup pintu perlahan.


"Sudah sarapan cantik?" 


"Belum, Mi." Jawab Elina apa adanya, dia memang belum makan apapun. 


"Dasar Dimas, mau di tinggal kerja tapi gak ninggalin makanan. Pasti anak itu lupa, pikun padahal masih muda." Gerutu Mami Erika. Untung saja dia membawa nasi dan sup ayam untuk jaga-jaga kalau Elina belum makan, dan ternyata benar gadis itu belum makan. 


"Ini, mami bawa sup ayam. Mami masakin ini khusus buat kamu lho, ayo makan. Keburu dingin, nanti kurang enak." 


Mami Erika mengeluarkan wadah bekal dari paperbag dan juga sup ayam. Elina menatap makanan yang di ulurkan mami Erika dengan kedua mata yang berkaca-kaca, tak pernah dia di perhatikan seperti ini. Dulu, jika dia sakit dia hanya akan beristirahat di rumah, tentunya dengan omelan dan ocehan yang di layangkan ibu tirinya. 


Dalam keadaan sakit sekalipun Elina akan tetap di suruh bekerja, membereskan rumah, menyapu, mencuci bahkan jualan ikan di pasar, hingga tak jarang Elina pingsan karena kelelahan. Kalau dia menolak, sudah pasti ibu tiri nya akan sangat marah dan memukulnya. Seperti contoh luka di punggung Elina yang waktu itu di obati Mami Erika, itu karena Elina menolak ikut bersama Baron. 


Sungguh keji nya ibu tiri dalam dunia novel, padahal tak semua ibu tiri jahat seperti itu dalam kehidupan nyata.


"Kenapa sayang? Ayo dimakan, biar cepet sembuh. Kalau Elina udah sembuh, kita pulang lalu menikah sama Dimas." 


Elina terhenyak mendengar ucapan Mami Erika, menikah? Secepat itu, yang benar saja.


"M-enikah Mi?"


"Iya, Dimas udah cerita sama Mami kalau dia ingin menikahi kamu, biar dia punya hak buat jagain kamu sepenuhnya, sayang." Jelas mami Erika membuat Elina membeku, secepat itukah langkah Dimas untuk menikahi nya? Dia kira ucapan pria itu tak serius, tapi nyatanya dia bahkan sudah bicara langsung pada Maminya.


"Ta-pi, apa itu tidak terlalu cepat Mi? Kak Dimas belum terlalu mengenal Elin."


"Tak apa, perlahan dia akan mengenal kamu seiring berjalan nya waktu. Masalah cinta, mami rasa memang dia sudah mulai mencintai kamu, makanya dia berani mengambil keputusan sebesar ini." Jawab Mami Erika membuat Elina menunduk. 


Jujur saja, dia merasa tak percaya diri. Dia merasa tak pantas untuk pria sebaik Dimas.


"Elina merasa kurang percaya diri, Mi. Apa Elin pantas buat Kak Dimas?"


"Semua orang pasti punya masa lalu, Dimas juga. Dia punya masa lalu yang rumit dengan dua orang wanita sekaligus. Jadi, mami yakin kali ini dia takkan mengulangi kesalahan nya." Ucap Mami Erika.


"Kamu siap menikah dengan Dimas kan?" 


"Kalau sekiranya itu keputusan yang terbaik, Elin siap Mi. Lagipun, kak Dimas sangat baik sama Elin." 


"Baguslah, sekarang ayo makan keburu dingin." Ucap Mami Erika. Elina pun mengangguk lalu mulai makanan, dia merasakan ketulusan dan kasih sayang dari setiap suapan nya. 


"Enak?" Tanya Mami Erika sambil tersenyum.


"Enak Mi, Elin suka banget sama sup ayam." 


"Benarkah? Besok mami masakin lagi ya, sayang." 


"Ee-eh gak usah Mi, Elin gak mau ngerepotin." Ucap Elina merasa tak enak hati. Belum juga jadi menantu, sudah banyak mau nya.


"Lho, siapa yang ngerepotin? Enggak kok, mami tulus mau masakin kamu. Besok mami masakin yang spesial buat calon mantu mami yang cantik ini." 


"Terimakasih ya Mi, Elina merasa bahagia banget. Selama ini, Elin gak pernah di perlakukan seperti ini sama orang-orang."


"Sekarang kamu gak bakal kekurangan kasih sayang apapun sayang. Ada mami sama Dimas yang bakal melimpah kamu dengan kasih sayang." Ucap Mami Erika sambil mengelus pipi cabi Elina. 


"Jangan nangis ya, nanti Mami di marahin sama Dimas karena udah buat calon istrinya ini menangis." Mami Erika mengusap ujung mata gadis kecil di depan nya, gadis dengan sejuta luka yang membuatnya selalu terlihat sendu meskipun sedang tersenyum.


Disaat keduanya sedang asik berbincang, tiba-tiba saja pintu terbuka ruangan itu terbuka, seseorang masuk dengan langkah anggun nya.


"Assalamualaikum.." ucapnya dengan senyuman manis yang membuat Mami Erika seketika menoleh, wanita baya itu melongo saat melihat siapa yang baru saja mengucap salam.


"Waallaikumsalam." Elina yang menjawab ucapan salam.


"Apa kabar, Mi?" Tanya Renata, ya Renata lah yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk Elina. Sesuai ucapan nya kemarin, tentunya dia kesini setelah izin terlebih dulu pada suami dan kedua orang tua nya. 


"Renata, mami baik sayang." Jawab Mami Erika, wanita itu berdiri lalu memeluk Renata cukup erat.


Hal itu tentu saja membuat Elina bertanya-tanya, siapakah wanita yang saat ini di peluk calon ibu mertua nya? Mereka terlihat sangat akrab, bahkan mami Erika tak ragu memeluk wanita berparas cantik itu. Ada hubungan apa kiranya antara Mami Erika dan wanita cantik itu, atau ini ada hubungan nya dengan Dimas? Tapi kenapa dia tak tau apa-apa?


Mungkin karena dia baru mengenal Dimas, jadi dia belum tau apa-apa tentang pria itu juga masa lalu nya.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2