
Nungky dan Alvin akan melanjutkan kemesraan mereka di kamar Alvin. Mereka memang sering begitu, saat tengah malam, mereka datang kekamar Alvin, diam-diam dan tidak terlihat oleh penghuni lainnya.
Mereka semua sudah tidur dengan lelap. Alvin memegang gagang pintu, dan satu tangannya melingkar di pinggang Nungky yang montok dan seksi.
Kreekkkk!
Mereka masuk perlahan. Lalu menutup pintunya dengan rapat. Sepasang mata dari dalam lemari memperhatikan mereka berdua. Kamera sudah dia siapkan sejak tadi. Stella butuh bukti, perselingkuhan suaminya.
Alvin menggendong Nungky ke atas tempat tidur. Nungky sedikit minum dan berbicara soal bayi mereka berdua.
"Istrimu yang bodoh itu tidak tahu jika anak yang dia asuh adalah anak kita berdua,"
"Jangan bilang begitu tentang Stella. Sudah ku bilang berapa kali. Jangan mengatakan hal buruk tentangnya," kata Alvin pada Nungky.
"Jadi, kau lebih cinta padaku atau istrimu itu? Kau selalu membelanya. Aku benci sikapmu ini!" Kata Nungky memukul Alvin dengan manja.
"Dengar, aku mencintai kalian berdua. Aku tidak ingin membedakan kau dan Stella. Kalian berarti dalam hidupku," kata Alvin melepaskan pelukannya.
"Ahh, dasar pria. Hahahaha, egois sekali. Aku lebih seksi dari istrimu kan?"
"Kalian sama-sama cantik dan menarik. Jangan bandingkan dirimu dan dia. Kalian punya kelebihan masing-masing,"
"Ck, apa yang kau katakan saat istrimu bertanya soal bayi itu?"
"Aku bilang bayi itu di tinggalkan oleh orang tuanya,"
"Apakah istrimu merawatnya dengan baik?"
"Tentu saja. Dia sangat menyayanginya," kata Alvin.
"Hebat! Sandiwara yang hebat!"
Stella keluar dari lemari dan bertepuk tangan melihat suaminya dan wanita jala*g berbuat siasat menipunya.
"Stella!" Mereka berdua terbelalak kaget. Tidak menyangka Stella ada dikamarnya. Sejak kapan? Dan bagaimana bisa ada di kamar di dalam kapal pesiar.
Stella berjalan penuh kemarahan melihat kelakuan liar suaminya.
__ADS_1
"Liar biasa. Kau pemain yang hebat! Sandiwara kalian benar-benar sempurna."
"Stella dengarkan aku. Ini tidak benar. Aku bingung. Bagaimana kau bisa ada disini?"
Alvin yang kebakaran jenggot. Panik dan salah tingkah. Mukanya pucat dan kebingungan.
"Aku disini karena ini!" Stella melemparkan kertas transfer yang sudah di foto kopi ke wajah suaminya. Kertas itu berhamburan melayang di udara.
Yang asli dia simpan untuk bukti pengakuan perceraian. Lantainya penuh dengan kertas yang berserakan.
"Kau sudah naik gaji. Dua kali. Gajimu besar. Berapa kau berikan padaku? Dan berapa yang kau berikan pada wanita ini? Tega kamu Mas!"
Menatap tajam penuh kebencian pada suaminya. Menoleh jijik pada wanita disampingnya.
"Stella, maafkan aku. Aku akan memperbaiki kesalahanku,"
Alvin berusaha meraih tangan Stella. Stella mundur dan mengibaskanya dengan kasar.
"Terlambat! Kau membuat aku kecewa. Aku sangat kecewa."
Lalu menatap sinis wajah wanita yang berdiri kaku.
"Tutup mulutmu! Kau pikir kau wanita sempurna?! Apakah kau memberikan anak untuk suamimu? Anak yang ada padamu. Adalah anakku dan Mas Alvin! Kau dengar....itu anak kami....darah daging Mas Alvin...."
Mendengar keterangan dari Nungky, wajah Stella semakin meradang.
"Apa!?" Stella terpana, kaget, dan lemas seketika.
"Jadi sudah sejauh ini, sandiwara kalian? Kejam. Kamu kejam Mas!" Kaki Stella lemas dan tulangnya seakan terlepas dari persendian nya.
Anak yang dia sayangin sepenuh hati. Hadiah dari Tuhan yang dibawa suaminya. Ternyata adalah anak wanita jala*g ini? Aku tak percaya, suamiku sampai bertindak serendah itu.
Bukan saja sudah mengkhianati ku. Kali ini dia benar-benar telah merendahkan harga diriku, hiks.
"Nungky!" Alvin berteriak melihat Stella terdiam membisu. Alvin marah karena Nungky membuka rahasia bayi itu.
"Jadi bayi itu hasil perselingkuhan kalian? Lalu kamu memberikannya padaku sebagai hadiah? Jahat kamu Mas!" Stella maju dan akan menampar wajah suaminya.
__ADS_1
Namun Nungky menahan tangan Stella. Lalu mengibaskanya dengan kasar.
"Kami sudah menikah! Kami tidak berselingkuh!" Kata Nungky tak kalah beraninya dengan Stella.
"Hentikan!" Alvin berteriak saat dua istrinya hampir tak terkendali.
"Nungky, pergilah ke kamarmu," titah Alvin.
"Tapi Mas,"
"Nungky...aku mohon..." Akhirnya Nungky meninggalkan kamar Alvin dan menutup pintunya dengan kasar.
"Apa ini?" Stella membuka lemari dan melemparkan semua kond*m milik suaminya itu.
"Stella, aku minta maaf,"
Alvin berjalan dengan cepat dan memeluk Stella yang marah dan mengamuk.
Mendekapnya dengan erat.
"Lepaskan!"
Stella meronta dan merasa risih, pada pelukan yang biasanya terasa hangat. Namun kali ini terasa menjijikkan.
"Kita akan bercerai. Aku tidak bisa menerima apa yang sudah kau lakukan. Aku yang akan mengajukan perceraiannya. Aku harap kau tidak mempersulit semuanya. Ini yang kau inginkan bukan? Kau bisa kembali pada wanita sampah itu dan menjadikannya istri sah. Aku tidak sudi menjadi istrimu lagi."
Stella lalu keluar dari kamar Alvin. Dengan berurai air mata dia berjalan ke kantornya.
Atasannya akan beristirahat saat itu. Kaget saat melihat Stella masuk dengan wajah penuh air mata.
"Stella. Apa yang terjadi? Apakah suamimu menyakitimu?"
"Tidak. Kami akan bercerai," kata Stella lalu duduk dikursi kerjanya.
"Bolehkah saya tidur disini?" tanya Stella.
"Ya...kau tidur disana. Biar aku tidur disofa,"
__ADS_1
CEO iba melihatnya dan akan bertanya banyak hal, namun niat itu tidak dia sampaikan karena terlihat Stella sangat terpukul saat ini.