
Hah, kamu Dateng bulan?" Tanya Dimas.
"Iya Mas, ini udah akhir bulan lho. Kamu kan tahu aku biasa kedatangan tamu pas tanggal akhir, kenapa?" Balik tanya Renata membuat Dimas lemas seketika.
"Kok tiba-tiba lemes sih? Kenapa coba?"
"Aku pengen itu, tapi sarang aku malah banjir bandang." Jawab Dimas lesu. Renata tergelak melihat perubahan ekspresi Dimas yang menurut nya sangat menggemaskan.
"Ya ampun Mas, aku kira apa." Ucap Renata masih dengan kekehan nya, namun Dimas hanya mendelik lalu menyedekapkan tangan nya di dada.
"Kita ini kan masih pengantin baru, kita nikah baru empat hari lho Yang, masih anget-angetnya, ehh malah banjir bandang." Ketus Dimas.
"Datang bulan itu kan terjadi karena aku sehat Mas, lagian cuma satu Minggu ini." Bujuk Renata.
"Satu Minggu itu tujuh hari Ayang." Dimas merengek, membuat Renata mengulum senyum nya, tak menyangka Dimas akan semenggemaskan ini setelah menikah.
"Ya siapa yang bilang seminggu itu tiga hari Mas, siapapun tahu kalo seminggu ya bener tujuh hari."
"Aku gak kuat kalo harus nahan selama itu, Sayang." Rengek Dimas lagi.
"Aku puasin kamu dengan cara lain ya?"
"H-ah maksudnya?" Tanya Dimas, dahi nya berkerut tanda heran.
Renata hanya tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata nya.
"Sekarang nih?"
"Boleh sih, tapi setelah nya kamu usap perut aku lagi ya? Sakit lagi."
"Besok aja kalo gitu, sekarang kamu istirahat ya."
"Tapi kamu bisa tidur gak?" Tanya Renata, dia ingat kemarin Dimas tak bisa tidur karena menginginkan sesuatu, dan setelah melakukan nya dia tidur sangat nyenyak.
"Bisa, Sayang. Gak usah mikirin aku, lagian besok libur."
"Kok libur?" Tanya Renata sambil menuang air panas dari termos ke dalam botol, karena yang tadi sudah mulai dingin.
"Besok hari Sabtu, Sayang."
"Lahh apa iya? Aku lupa hari lho."
"Kamu ini masih muda udah pikun aja, ohya hari Minggu aku janji sama Mami mau ajakin kamu main ke rumah." Ucap Dimas, dia berbaring di samping Renata dan memeluk perutnya.
"Boleh sih Mas, aku bawa apa ya? Apa brownies aja?"
"Terserah kamu aja, pikirin besok. Sekarang kita tidur ya." Ajak Dimas.
"Gak mandi dulu?"
"Males ahh dingin, besok aja."
"Issshh joroknya."
"Aku suami kamu, sayang." Jawab Dimas membuat Renata mencebik.
Dimas hanya tersenyum kecil lalu mulai memejamkan mata nya, begitu juga Renata. Namun lama kelamaan, tangan Dimas yang awalnya berada di perut ramping Renata, sekarang berpindah ke salah satu buah kenyal milik Renata, memainkan putting susu nya dengan gemas.
"Mas, geli.."
__ADS_1
Namun Dimas menulikan pendengaran nya dan tetap memainkan puncak buah kenyal milik sang istri. Hingga geplakan manja mendarat di tangan nakal nya.
"Ayang, cuma mainin juga."
"Geli, Mas pelan-pelan main nya."
"Habisnya gemesin, boleh di nenenn gak?" Tanya Dimas.
"Kalo gitu kapan aku tidurnya, Mas? Tadi di suruh bobo, istirahat. Tapi kamu nya gangguin aku Mulu."
"Janji deh, mau nyusu doang setelah itu bobo." Bujuk Dimas, tanpa mendengar jawaban dari Renata, Dimas langsung menyibak piyama yang di pakai sang istri lalu menyergap bukitan kenyal itu dengan rakus.
Renata hanya membiarkan saja suami nya itu bermain-main dengan buah kenyal nya, nanti juga kalau sudah kenyang dia akan berhenti sendiri, tapi sepertinya Renata salah besar, sampai dia tertidur pun Dimas masih anteng menyusu di dada nya. Hingga akhirnya dia juga tertidur dengan buah cerry milik Renata yang masih berada di mulutnya.
Pagi harinya, Renata terbangun. Dia buru-buru membersihkan diri, bukan apa-apa, tapi dia bangun kesiangan dan Abang tukang sayur sudah berada di depan, takutnya gak kebagian.
"Pagi Neng Renata."
"Pagi, Buk. Belanja juga?" Tanya Renata sekedar basa-basi.
"Iya nih, mau bikin sayur asem." Jawabnya.
"Tumben keluar agak siang, Neng?" Tanya ibu yang satu nya lagi, karena kebanyakan ibu-ibu sudah pulang setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
"Iya Bu, kesiangan." Jawab Renata sambil memilih sayur apa yang kira nya akan dia masak.
"Pasti di ajakin begadang sama suami nya ya kan?"
"Maklum lah Bu, pengantin baru masih anget-angetnya." Celetuk yang lain membuat wajah Renata memerah menahan malu.
"Udah, jangan di godain mulu, kasian tuh udah merah wajah nya."
Renata hanya tersenyum malu, dia kembali memilih sayuran. Namun tak lama, Dimas keluar dengan wajah bantal nya, rambut berantakan dan yang pasti belum mandi.
"Yang, masak sup daging." Ucap Dimas sambil mengusap wajah nya.
"Ihhh cuci muka dulu sebelum keluar, jorok amat."
"Gapapa Neng, orang ganteng mah bebas." Cetus ibu-ibu sambil terkekeh.
"Tuh dengerin Yang, aku ileran aja tetep ganteng."
"Iya iya terserah kamu aja, jadi maunya sup daging?" Dimas menganggukan kepala nya.
"Cuma ada daging ayam, Mas."
"Ya gapapa dong, kan sama-sama daging." Jawab Dimas, ya memang iya sama-sama daging.
"Ehh iya ya." Ucap Renata sambil cengengesan.
"Kamu ini." Dimas menggelengkan kepala nya, tak apa ya memamerkan sedikit kemesraan di depan umum, tepatnya di depan ibu-ibu di tukang sayur.
"Yaudah ini aja Bang, sama seledri nya."
Setelah selesai membayar, pasutri itu pun masuk kembali, Dimas mandi dan Renata memasak untuk sarapan.
Keesokan harinya, Pagi-pagi sekali Renata sudah berkutat dengan alat-alat dapur, dia ingin membuat brownies untuk di bawa nya ke rumah Mami mertua nya.
Dimas juga turut membantu, meski sering di selingi dengan candaan, yang membuat Renata tertawa.
__ADS_1
"Mas ihh, aku cemong." Rajuk Renata saat Dimas dengan sengaja mengoleskan terigu ke pipi Renata.
"Lucu tahu, Yang."
"Bantuin dong, jangan gangguin aku. Biar cepetan jadi kue nya, terus kita ke rumah Mami."
"Iya iya sayangku, maaf ya." Dimas mengusap pucuk kepala istrinya lalu membantu nya untuk mengaduk adonan dengan mixer.
Satu jam kemudian, kue sudah matang dan di masukkan kedalam cup kue, Renata dan Dimas juga sudah bersiap dan keduanya pun pergi ke rumah Mami Erika.
Butuh sekitar setengah jam bagi keduanya untuk menempuh perjalanan dengan menggunakan motor.
Sesampainya di rumah, Mami Erika langsung menyambut kedatangan anak dan menantu nya dengan antusias, dia bahkan langsung memeluk Renata saking bahagia nya saat menantu cantik nya itu datang berkunjung.
"Mami kangen banget sama kamu, Nak. Ayo masuk, Sayang." Ajak Mami Erika.
"Ini brownies buatan Rere Mi, semoga Mami suka ya."
"Aduhh, harusnya gak usah repot-repot Sayang. Kamu datang aja Mami udah seneng, makasih ya." Ucap Mami Erika terus saja mengajak bicara menantu nya, sedangkan Dimas di diamkan.
"Gak repot kok Mi."
Kedua wanita berbeda generasi itu pun terus mengobrol, sedangkan Dimas memilih pergi ke kamar nya untuk mengambil pakaian untuk di bawa ke rumah Renata, karena dia akan menetap disana.
Sudah tak heran lagi, kalau Mami nya seakan melupakan putranya sendiri kalau sudah ada Renata, menantu kesayangan nya.
"Gimana soal cucu, udah di cetak?" Tanya Mami Erika membuat Renata terhenyak.
"E-eemmm…"
"Mami, jangan bikin Rere tertekan dong. Kita baru empat hari nikah, masa langsung jadi. Semua butuh proses lho Mi." Bukan Renata yang menjawab, tapi Dimas yang turun dari tangga dengan menggendong tas di punggung nya.
"Ya kali aja cepet gitu, Mami gak sabar mau menimang cucu dari kalian berdua."
"Sabar dulu ya Mi." Mami Erika hanya mengangguk lalu tersenyum, dia memang sudah sangat lama mendambakan seorang cucu, agar hidup nya tak terlalu kesepian.
.....
🌷🌷🌷🌷
haii, seperti biasa author mau rekomendasiin karya temen author, kali aja kalian berminat buat mampir nanti sambil nunggu karya author up lagi☺️
SURGA DI ATAS LARA
(Ika Oktafiana)
Pernikahan Zoya dan Zada yang sudah berjalan tiga tahun ini tampak rukun dan bahagia.
Namun siapa sangka, Zada yang tipekal suami setia tiba-tiba membawa pulang wanita lain ke rumah Zoya dan Zada.
Bagai tertusuk seribu sembilu, Zoya begitu kecewa dengan Zada yang diam-diam sudah menikah lagi tanpa persetujuan darinya. Zoya meminta talak, namun Zada menolaknya.
"Aku tidak akan pernah menjatuhkan talak untukmu. aku masih mencintaimu, Zoya." Begitulah alasan yang selalu terucap dari bibir suaminya.
"Tidak masalah aku di madu asalkan, aku tidak tinggal satu atap dengan maduku," lirih Zoya penuh luka dan nyeri di hatinya.
Biarlah Zoya menerima semuanya. Karena tanpa Zada ketahui, Zoya sedang mengandung anak yang selama ini di nanti-nantikan. Biarlah Zoya menerima surganya, walau surga itu telah menorehkan luka dan lara yang mendalam.
Mampukah Zoya tetap bertahan ketika melihat suaminya bersanding dengan wanita lain?
__ADS_1
jangan lupa tap favorit, like dan komen ya☺️