Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 132 IRS


__ADS_3

"Sayang.." panggil Dimas saat dia membuka pintu, tapi kamar itu kosong. Dia mencari ke kamar mandi, ruang ganti, tapi nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan sang istri.


"Elin kemana ya? Kok gak di kamar." Gumam Dimas, dia kembali keluar kamar dan kebetulan bertemu dengan mami nya yang sedang membereskan ruang tamu, tempat Dimas dan Elina melaksanakan pernikahan tadi pagi. 


"Lho, pengantin baru mau kemana?"


"Elin kemana ya, mi? Kok gak ada di kamar Dimas?" Tanya Dimas. 


"Coba cari di kamar nya." Jawab Mami Erika, Dimas langsung berlari masuk ke kamar yang biasa di tempati Elina. Dia membuka pintu yang tak di kunci, benar saja Elina ada disana, sedang melepaskan mahkota di kepala nya.


"Sayang.."


"Eehh, kenapa kak?" Tanya Elina sambil tersenyum canggung.


"Kok disini, kenapa gak di kamar atas?" Tanya Dimas sambil berjalan mendekat setelah menutup pintu.


"Memang nya kenapa, Elin kan biasanya juga tidur disini, kak." 


"Iya, tapi sekarang kita udah nikah. Jadi kamar kamu pindah ke kamar atas, tidur bersama ku." Jelas Dimas. 


"Eemm, aku kesini ya karena baju-baju ku ada disini kak." 


"Kita ini suami istri, sampai kapan kamu akan memanggil aku kakak? Aku suami mu, bukan kakak mu." Ketus Dimas sambil mendaratkan bokonng nya di sisi kasur. 


"Aahh iya, maafkan aku sayang." 


"Nah, begitu kan lebih enak di dengar. Sekarang, kamu mandi lalu tidur."


"Disini?" Tanya Elina.


"Aku tak peduli mau disini atau di atas, tapi ingatlah kalau malam ini adalah malam pertama kita, sayang." 


"Lalu?" Tanya Elina dengan wajah boodoh nya, membuat Dimas menyugar rambut nya dengan kesal.


"Eehhh iya, aku tau sayang. Ya sudah, aku mandi dulu ya." Elina pergi ke kamar mandi dengan gaun yang masih dia pakai. 


"Aduhh, ini buka nya gimana ya? Kenapa resleting nya harus di belakang sih, harusnya kan di depan aja biar gampang di buka." Elina kesulitan saat akan membuka gaun nya, karena resleting gaun itu berada di punggung, dan tangan nya tak sampai. 


"Apa aku minta tolong sama kak Dimas ya? Tapi, malu." 


Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya dia memberanikan diri membuka pintu kamar mandi dan melongokan kepala nya, dia melihat Dimas sedang duduk di posisi tadi sambil memainkan ponsel nya dengan serius. Entah sedang apa, dia sendiri tak tau.


"Eemmm, sayang.." panggil Elina, membuat Dimas menoleh seketika.


"Hemm, kenapa sayang?"


"Bi-sa tolongin aku gak?"


"Tolongin apa sayang?" Tanya Dimas dengan dahi yang mengernyit.


"Bukain resleting gaun aku, tangan aku pendek jadi gak sampai." Jawab Elina, Dimas terkekeh lalu mendekat dan sedikit mendorong tubuh mungil Elina masuk ke kamar mandi, menutup pintu bahkan mengunci nya. 


Elina menelan ludahnya dengan kasar saat melihat senyum yang aneh menurut nya. 


"Berbalik lah sayang." Pinta Dimas, Elina menurut dan membalikan tubuhnya. Perlahan, Dimas menurunkan resleting gaun sang istri. Dia melihat punggung putih mulus tanpa cela, hanya saja ada bekas luka yang saat itu dia obati.


Dimas mengusap lembut punggung sang istri, membuat bulu kuduk Elina meremang seketika. 


"Eemm, sa-yang.." 


"Ya, kenapa?" Tanya Dimas, tangan nya yang nakal malah membuka pengait braa Elina hingga benda itu menjadi longgar.


"Yang, aku cuma minta tolong bukain resleting gaun doang, gak sama pengait braa nya."


Dimas terkekeh, dia menarik tubuh istrinya hingga posisi mereka berhadapan saat ini. Dimas menangkup wajah Elina yang sudah merona.


"Kamu malu atau takut?"


"Hanya malu saja." Jawab nya pelan.


"Kita sudah menikah, aku suamimu dan kamu istriku sekarang. Jadi, bisakah aku meminta hak ku sebagai suami?" Tanya Dimas membuat Elina melotot, yang benar saja. Tubuhnya terasa lelah karena pernikahan, semalam dia tak bisa tidur karena terlalu gugup menghadapi hari esok.

__ADS_1


"Aku tak meminta malam ini, kamu terlihat kelelahan. Mungkin besok malam, atau esok pagi aku akan meminta jatah ku." Jawab Dimas lalu mengecup singkat kening sang istri.


Elina mengangguk, dia memang harus memberikan hak itu pada pria yang saat ini berstatus suaminya. Lagipun itu adalah suatu kewajiban bagi seorang istri.


"Sekarang mandilah, setelah itu keluar untuk makan malam." 


"Iya sayang." Dimas kembali mengecup kening Elina, lalu keluar dari kamar mandi dan menutup pintu dengan perlahan. 


Pria itu juga melakukan aktivitas yang sama dengan Elina, hanya saja dia melakukan nya di kamar nya, di lantai atas. Kamar yang sebentar lagi akan di huni oleh pasangan suami istri, untuk malam ini biarlah dia mengalah dan tidur di kamar bawah bersama Elina.


Mami Erika memanggil sang menantu untuk makan malam, tentunya dia bisa langsung masuk seperti biasanya, karena tadi dia melihat Dimas kembali ke kamar nya.


"Sayang, sudah selesai? Kalau sudah, ayo makan dulu. Sudah waktunya makan malam." Ucap Mami Erika sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya Mi, sebentar lagi."


"Baiklah, kalau sudah langsung ke ruang makan aja ya." Mami Erika pun keluar setelah mendengar jawaban Elina.


"Istri Dimas mana, mi?" Tanya Dimas yang sudah duduk anteng di sofa ruang tamu, dengan pakaian santai dan rambut yang di sisir rapi.


"Masih di kamar mandi."


"Lama bener, udah hampir sejam di kamar mandi." 


"Ciee, yang udah punya istri." Goda mami Erika sambil terkekeh.


"Hehe, nikah ke tiga kali rasanya beda Mi." Jawab Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Semoga ini yang terakhir ya."


"Aamiin Mi, Dimas juga maunya kek gitu. Tapi yang sudah-sudah, biarin aja jadi masa lalu."


"Jadikan pelajaran ya, Nak. Tidak semua orang yang terlihat tulus itu beneran tulus, kita gak tau hati orang kayak gimana." 


"Iya Mi." Jawab Dimas sambil tersenyum. 


"Ya sudah, sekarang kan kalian sudah menikah, jadi gak ada salahnya kan kalo mami minta cucu dari kalian?" 


"Satu aja cukup, kamu harus diskusikan sama istri kamu. Barangkali aja Elina mau nunda kehamilan nya, soalnya dia kan masih muda."


"Iya Mi, tapi Dimas sih pengen nya cepet. Iri banget sama Eza, dia udah punya dua anak. Mana kembar sepasang, lucu banget." Ucap Dimas. 


Dia memang sudah lama ingin punya anak, dulu dia terlalu gegabah yang membuat janin dalam rahim Renata harus pergi karena ulah wanita yang jadi selingkuhan nya. Sekarang dia menyesal, kalau saja janin itu bertahan pasti saat ini dia sudah bisa berjalan.


Jadinya, dia merasa iri saat melihat Reza bermain dengan kedua buah hatinya. Seringkali, dia merasa sesak di dada saat melihat kebahagiaan yang menyelimuti mantan istri, yang sudah dia sakiti dengan cara yang paling sempurna. Tapi di balik itu semua, dia juga bersyukur karena Renata sudah bersama orang yang tepat sekarang. 


Setidaknya, melihatnya tersenyum saja sudah membuat hati nya lega, dia benar-benar sudah bahagia dengan sahabatnya. Dia ikut bahagia saat melihat Renata juga bahagia, meski bukan bersamanya.


"Kalo Elina nya belum mau, kamu gak bisa egois. Yang hamil sama melahirkan itu istri kamu, kalau dia gak siap kamu gak boleh paksa istri kamu." 


"Iya Mi, Dimas ngerti." Jawab Dimas.


Tak lama kemudian, Elina keluar dari kamar dengan piyama satin berwarna maroon yang di belikan Dimas beberapa hari. 


"Tuh, Elina udah keluar. Ayo kita makan malam dulu." Ajak Mami Erika. Dimas berdiri dari duduknya, lalu menggandeng tangan sang istri ke ruang makan. 


Elina mengambilkan nasi beserta lauknya, setelah di rasa cukup dia meletakan nya di depan Dimas yang sudah tersenyum manis. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa di layani seperti ini lagi.


Ketiga nya makan dengan lahap, karena rasa lapar yang memang sudah menyerang perut mereka. Lagipun mereka kelelahan setelah menyiapkan pernikahan.


Setelah selesai makan malam, Elina membantu ibu mertua nya membereskan piring bekas makan malam lalu mencuci nya. Sebagai menantu, tentunya dia tak ingin hanya berpangku tangan.


Sebisa mungkin dia akan membantu, jika ada pekerjaan yang bisa dia lakukan.


"Sayang.." Dimas menyusul istrinya, lalu memeluk pinggang istrinya dari belakang dan menumpukan dagu nya di pundak Elina.


"Kenapa sayang? Ngantuk ya, tidur duluan aja. Aku nyelesain ini dulu, nanti nyusul."


"Enggak, aku nungguin kamu aja. Ada yang mau aku bicarain sama kamu, berdua aja." Ucap Dimas.


"Ohh, yaudah. Kalo gitu lepas dulu pelukan nya, nanti ini gak selesai-selesai karena kamu gangguin." 

__ADS_1


"Nggak, kamu kan bisa cuci piring sambil aku peluk. Kamu hangat, nyaman banget peluk kamu." Jawab Dimas, sedangkan Mami Erika yang melihat adegan itu hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala nya.


"Mami tau kalian itu pengantin baru, tapi jangan bikin Mami baper dong." Celetuk mami Erika, yang membuat Dimas dan Elina menoleh bersamaan.


"Eehh mami.." 


"Kalau udah selesai langsung pada istirahat ya, kalian pasti capek." 


"Iya Mi, mami duluan aja." Ucap Elina sambil tersenyum, sedangkan Dimas seolah tak tau malu, dia tetap menempel di punggung sang istri, menduselkan wajah nya di ceruk leher Elina, menghidu aroma menyegarkan yang menguar dari tubuh sang istri.


"Wangi kamu bikin nyaman banget, sayang." 


"Kamu bisa aja, ini udah selesai. Ayo ke kamar, jangan lupa bawa air minum." Peringat Elina, dia tau benar kebiasaan Dimas yang selalu kehausan tiap tengah malam. 


Tak jarang, setelah mengambil air minum Dimas menyelinap masuk ke kamar nya dan melanjutkan tidur sambil memeluknya, lalu pagi buta sebelum mami Erika bangun, Dimas sudah kembali ke kamarnya. 


Hal itulah yang membuat Dimas mempercepat pernikahan nya, dia merasa tak tahan untuk tidak menyentuh Elina dari sekedar pelukan. Dia takut khilaf dan akhirnya memutuskan untuk segera menikahi Elina nya, agar dia bisa bebas melakukan apapun bersama dengan nya.


Pasangan suami istri itu bergandengan tangan masuk ke kamar, Dimas mengunci pintu. Meski takkan melakukan hal apapun, tapi kamar itu tempat yang penuh dengan privasi. 


Elina mendudukan tubuhnya di sisi ranjang, menunggu Dimas yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.


"Kesini sayang." Dimas menggerakan tangan nya, meminta sang istri untuk mendekat ke arah nya. Keduanya pun duduk selonjoran dengan bersandar di kepala ranjang.


"Katanya ada yang mau di bicarain, penting." 


"Eemm, sekarang kan kita udah nikah. Aku sudah dewasa sekarang, sudah pantas memiliki anak. Kamu pasti paham apa maksudku, jadi aku hanya ingin mendiskusikan semua nya dengan mu. Apa kamu siap hamil atau ingin menunda?" Tanya Dimas membuat Elina berfikir sejenak.


Bukankah tujuan dari sebuah pernikahan adalah keturunan? Lalu kenapa harus menunda?


"Memang nya kenapa, sayang?"


"Kata Mami, usia kamu masih sangat muda. Jadi aku ingin tau pendapat kamu, kalau semisal aku ingin segera punya anak bagaimana?" Tanya Dimas lagi. 


"Usia ku sudah legal untuk menikah bahkan punya anak, sayang. Aku tak mau menunda apapun, kalau sudah di beri kepercayaan, kenapa harus menolak?"


"Jadi?"


"Aku siap mengandung anak kamu, sayang." Jawab Elina, membuat Dimas menunduk dan menatap wajah istri kecilnya.


"Terimakasih sayang."


"Sama-sama, jadi apa kamu akan melakukan nya malam ini atau esok pagi sebelum berangkat kerja?" Tanya Elina menggoda.


"Apa kamu tidak lelah, sayang?" Tanya Dimas, Elina tersenyum lalu menggeleng perlahan.


"Serius? Kalau aku pengen sekarang, boleh?"


"Tentu saja, kapanpun kamu menginginkan nya aku takkan menolak." Jawab Elina membuat Dimas tersenyum semringah.


"Baiklah, aku akan membuat kamu melayang malam ini sayang. Mungkin saja malam ini kamu takkan tidur." Ucap Dimas, dia segera mengungkung istrinya di bawah tubuhnya, melayangkan ciuman-ciuman singkat tapi mampu membuat Elina menegang, bahkan beberapa kali melenguuh.


"Eenghhh.." lenguuh Elina saat mulut Dimas bermain di leher jenjang nya, menyesap nya dengan kuat hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan yang menghiasi leher hingga ke dada Elina. 


Entah sejak kapan pula Dimas berhasil membuka kancing piyama nya hingga berhasil terbuka hampir sepenuhnya. Tangan nya merayap ke punggung Elina, meraih pengait braa yang di gunakan oleh istrinya. Elina juga ikut membantu pergerakan suaminya, dengan cara sedikit mengangkat tubuhnya ke atas, memudahkan gerakan tangan Dimas. 


Hingga dengan satu gerakan saja, pengait itu berhasil terbuka. Dimas mengangkat batok kelapa itu ke atas, dan terpampang lah sudah dua bukitan yang cukup besar dan kenyal. 


Dimas menggenggam salah satu buah kenyal itu dan mereemas nya perlahan.


"Wahh, sangat pas di pegang. Kenyal sekali, aku suka sayang." Elina merona mendengar ucapan suaminya.


Dimas menundukan kepala nya untuk menguluum buah ceri ranum di puncak bukit itu, membuat tubuh Elina menegang seketika saat lidah Dimas terasa memutari puncak buah kenyal nya. 


"Aahhh, sayang pelan-pelan." Desaah Elina, namun Dimas memilih mengacuhkan permintaan sang istri. Dia menikmati buah ceri berwarna coklat kehitaman itu dengan rakus, seperti bayi kehausan dia menyusu di dada istrinya.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


lanjoot besok adegan Anu nya yaaw🤣

__ADS_1


__ADS_2