Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 113 IRS


__ADS_3

"Nama mereka, Farish Hakana Argantara dan Faisha Nabila Argantara, Mom." Jawab Reza sambil tersenyum, dia memerhatikan kedua bayi mungil dengan kulit kemerahan yang tengah tertidur pulas itu, sesekali mereka bergerak namun kembali tertidur.


"Nama yang bagus, Nak." 


"Tentu, aku memikirkan nya bahkan sejak kehamilan Renata baru lima bulan." Jawab Reza, dia membelai pelan pipi cabi sang putra, lalu menyentuh pula hidung mancung putri kecilnya.


Reza meminta izin pada perawat untuk mengadzani kedua buah hati nya, perawat mengizinkan dan Reza langsung mengadzani keduanya, seperti permintaan sang istri dalam mimpi nya.


Tak sadar, air mata Reza menetes setelah dirinya selesai mengadzani kedua nya, mereka membuat status nya berubah, dari hanya seorang suami, kini status nya menjadi ayah juga. 


Reza mengusap ujung mata nya, dia menengadahkan kepala nya, lalu keluar dari ruangan itu, di ikuti Mommy Mariska di belakang nya.


"Kamu mau kemana nak?"


"Mau lihat istri Eza, Mom. Kangen banget sama dia," jawab Reza sambil terus berjalan menuju ruangan tempat istrinya di rawat.


Prediksi dokter benar adanya, Renata mengalami pendarahan di detik-detik terakhir saat dia melahirkan kedua buah hatinya, hingga membuat rahim nya pecah dan terpaksa dokter harus mengangkat nya, karena hanya itu satu-satunya jalan agar nyawa sang ibu dan bayi bisa selamat.


Reza pun berat memutuskan semua nya, tapi dari pada dia kehilangan istri dan anak-anaknya, dia lebih rela rahim sang istri di angkat. Meski tak bisa lagi mengandung, setidaknya sudah ada dua malaikat yang hadir di antara mereka, menyempurnakan hubungan yang terjalin antara dirinya dan Renata. 


"Permisi dok, bisakah saya melihat keadaan istri saya?"


"Silahkan tuan, jangan terlalu lama karena keadaan pasien masih sangat lemah. Namun dia sudah berhasil melewati masa kritis nya." Jelas dokter itu membuat senyum Reza terkembang sempurna. Dengan cepat dia masuk ke dalam ruangan dan kembali menutup pintunya.


Hati Reza benar-benar hancur berantakan saat melihat istri yang begitu dia cintai kini terbaring lemah dengan berbagai macam alat kesehatan yang menempel di tubuhnya. Mata nya masih tertutup rapat, wajah nya memucat dan bibir yang mengering.


"Sayang, ini Mas. Kamu dengar Mas kan? Mas disini, mas gak pernah kemana-mana, Mas selalu nemenin kamu sayang." Ucap Reza lirih, dia duduk di kursi dan mengusap lembut punggung tangan sang istri.


"Mas baru saja melihat putra kita, sayang. Mereka sangat menggemaskan, sama seperti dirimu, hanya saja aku minta maaf karena mereka dominan lebih mirip padaku. Jangan kesal ya, kan aku yang membuatnya dengan susah payah. Hehe." Reza cengengesan, namun tak ada reaksi apapun dari Renata, masih terbaring dengan kedua mata tertutup sempurna.


"Jangan lama-lama istirahat nya ya, Sayang. Mas rindu, biasanya kamu jago ngomel, tapi sekarang kamu diem aja. Kamu gak kangen marahin Mas lagi, sayang?"


"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu istriku sayang. Aku berjanji takkan pernah menyakiti perasaan mu, semua kebahagiaan di dunia ini akan aku berikan padamu kalau perlu. Asalkan kamu cepat bangun dan ayo kita asuh kedua anak kita bersama." Ajak Reza.


Namun keadaan nya masih sama, tak ada respon apapun dari Renata. Keadaan nya masih sama seperti tadi, hanya terbaring lemas. 


Reza benar-benar tak bisa lagi membendung air mata nya, dia akhirnya menangis sambil menumpukan wajah nya ke tangan sang istri, seolah dia belum puas untuk menangisi keadaan sang istri, dia menangis sejadinya, menangis untuk meluapkan rasa sakit yang terasa menghantam dada nya dengan kuat hingga membuatnya sesak.


"Sayang, cepatlah bangun ya? Aku merindukan suaramu." Ucap nya lirih, lalu perlahan bangkit dan pergi keluar ruangan.


Reza mendekati kedua orang tua nya dengan wajah sendu, guratan kesedihan masih jelas terlihat dari wajahnya. Ini pertama kalinya pria itu sesedih ini, bahkan disaat Renata tak membalas perasaan nya dia masih bisa tersenyum, tapi kali ini? Pria itu benar-benar terlihat hancur.


"Kemarilah Nak, duduk disini." Ajak Mariska, dia menepuk paha nya dan membiarkan sang putra merebahkan kepala nya di pangkuan nya.


Reza menurut, dia merebahkan kepala nya di pangkuan sang ibu. Mariska melihat jelas bahwa putra nya sedang terluka yang tak nampak oleh sembarang mata, dia mengusap lembut kepala belakang Reza dan membiarkan nya tertidur sebentar.

__ADS_1


Karina menatap sang adik, kalau saja adiknya akan sehancur ini, dia pasti takkan pernah membiarkan Renata mengandung. Tapi semua nya sudah terjadi, waktu tak mungkin bisa di putar kembali, saat inilah kita harus bersabar dan selalu mendoakan kesembuhan orang yang paling kita cintai agar cepat sembuh dan berkumpul kembali seperti sediakala. 


Argan juga menatap sang putra yang tertidur dalam pangkuan ibunya merasa sedih, kesedihan dan rasa sakit yang di rasakan putranya menular padanya. Beberapa kali dia menangis, satu hal yang tak pernah di lakukan oleh seorang Argantara adalah menangis.


Pantang bagi pria itu untuk menangis, bahkan saat ayah dan ibunya meninggal pun dia tak menitikan air mata sama sekali, dia berhati batu membuatnya tumbuh menjadi pria yang kuat. Tapi, apa ini? Dia terlihat beberapa kali menyeka ujung mata nya dan memalingkan wajah nya dari istri dan anaknya. 


Semua orang tahu bagaimana perjuangan Reza untuk mendapatkan dan meluluhkan hati Renata, dan setelah membersamai nya malah kejadian semacam ini terjadi. Bukankah ini juga sebuah cobaan berat agar hubungan mereka tetap kuat? Tapi tetap saja, rasanya sangat berat, sakit dan melelahkan.



Singkatnya, sudah tiga hari berlalu. Namun belum ada tanda-tanda kalau Renata akan bangun, keadaan nya masih sama seperti kemarin. Jelas, itu membuat Reza merasa frustasi dan putus asa. Dia benar-benar merindukan kehadiran sang istri di sampingnya, tapi takdir seolah membuatnya harus kembali menunggu agar mereka bisa bersama.


Selama itu juga Reza tak meninggalkan istrinya barang sedetik pun, dia tetap setia berada di samping sang istri, mendampingi nya, bahkan melakukan tugas seperti mengelap tubuh istrinya setiap pagi dan sore hari.


Dengan sepenuh hati dia melakukan itu semua, dia yakin sang istri dapat merasakan ketulusan nya, semoga dengan ini membuat Renata nya akan cepat bangun.


Ceklek..


Pintu terbuka, menampakan Dimas dan Marko yang datang berkunjung sambil menghadiri meeting di cafe dekat rumah sakit tempat Renata di rawat.


"Siang pak." Sapa Marko dan Dimas berbarengan.


"Siang, bagaimana meeting nya? Lancar?" Tanya Reza pada Dimas.


"Allhamdulilah lancar pak, klien setuju untuk menanam saham sebanyak 15%." Jawab Dimas, membuat Reza menganga. What 15%? Apa dia tak salah dengar, itu angka yang sangat fantastis.


"Gimana keadaan ibu bos?"


"Masih gini aja Dim, belum ada perubahan signifikan." Jawab Reza lirih, membuat Dimas segera mendekat dan menepuk pundak sahabat sekaligus atasan nya sekarang.


"Yang sabar ya, gak boleh putus asa. Cinta kalian lagi di uji, semangat dan terus berdoa agar Rere cepet bangun dan berkumpul lagi sama kita."


"Iya, aamiin Dim. Setiap hari gue doain bini gue, gak pernah absen gue doain dia supaya cepet bangun. Kangen banget sama dia, asli." Keluh Reza, membuat Dimas merasa iba melihat keadaan sahabatnya.


"Yaudah, kita balik dulu ke kantor ya Za."


"Hati-hati di jalan, gue gak bisa ke kantor selama istri gue belum sadar."


"Lo bisa percayain perusahaan sama kita berdua kok." 


"Baguslah." Jawab Reza pelan, Dimas dan Marko pun pergi dari rumah sakit.


Setelah kepergian kedua orang itu, dua orang suster masuk dengan troli bayi di masing-masing tangan mereka.


"Permisi tuan, ini baby Farish sama Faisha." Ucap salah satu perawat, membuat Reza langsung bangkit dari duduknya. Dia mendekati troli bayi itu dan menggendong Faisha yang sudah merengek, dan sebentar lagi bayi kecil itu pasti menangis kalau tidak segera di gendong. Sedangkan Farish yang masih tidur di biarkan dalam troli bayi nya.

__ADS_1


"Itu Mama sayang, dia lagi istirahat. Aisha jangan rewel ya, biar Mama nya gak sedih." Ucap Reza, dan seperti paham bayi kecil itu langsung anteng dalam gendongan nya.


"Mau lihat Mama? Yuk, ututu lucu nya anak Papa." Ucap Reza sambil mengusap pipi sang putri. 


Namun, bayi kecil yang tadinya anteng itu kini malah menangis hebat, seolah dia tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja saat ini, bukan sedang beristirahat.


"Sayang, kamu kenapa? Cup cup cup, tenanglah sayang." 


Dan ketika mendengar adiknya menangis, Farish juga ikut terbangun dari tidurnya. Keduanya menangis membuat suasana di ruangan itu penuh dengan suara tangisan bayi yang memekakkan telinga. 


Kedua perawat itu berusaha menenangkan Farish dengan memberi nya susu formula, namun seolah bayi itu tak ingin makan dia hanya ingin menangis.


Reza juga panik sendiri, dia mana tahu bagaimana mengatasi bayi yang menangis, dia sudah lupa bagaimana dulu Mommy nya menenangkan nya saat menangis seperti ini, karena itu sudah berlalu 24 tahun silam.


'Bayi ku menangis? Aahh Mama tak tahan ingin segera menggendong dan menyusui kalian sayang, tapi kenapa rasanya tubuh Mama sangat sakit, Nak.' Batin Renata, dia bisa mendengar suara tangisan kedua bayi nya, dia berusaha keras untuk membuka kedua mata nya, tapi sia-sia saja, mata nya terasa sangat berat untuk terbuka.


Akhirnya dengan sekuat tenaga, Renata bisa membuka matanya, dia melihat suami nya yang sedang menggendong bayi dan sedang berusaha menenangkan nya yang tak berhenti menangis juga. Ada dua orang yang terlihat asing juga di ruangan itu, namun dari pakaian nya Renata langsung tahu bahwa mereka adalah perawat. 


"M-as.." panggil Renata lemah, membuat Reza menoleh karena merasa seseorang memanggil nya. Dia membulatkan mata nya saat melihat kedua mata sang istri sudah terbuka lebar dan tengah tersenyum padanya. 


"Sayang, kamu sudah bangun? Aahh syukurlah sayang." Reza memberikan Baby Faisha pada salah satu perawat, sedangkan dia menghambur memeluk sang istri yang masih terbaring lemah.


"Terimakasih sudah bangun sayang, itu kedua anak kita. Ingin melihat mereka?" Renata tersenyum manis lalu mengangguk. 


Reza mendekatkan kedua bayi nya ke arah Renata, membuat mata wanita itu berkaca-kaca. Rasanya sangat haru saat bisa melihat kedua buah hati nya secara langsung, bukan hanya dari suara tangis nya saja.


"Mereka sangat lucu, tapi apa yang kamu katakan memang benar Mas, mereka hanya mirip dengan mu." Ucap Renata membuat Reza terkekeh.


"Jangan kesal ya sayang, mau bagaimana lagi, aku yang berusaha membuat mereka siang dan malam tanpa absen." Celetuk Reza membuat Renata merona malu, karena di ruangan itu bukan hanya ada mereka berdua, tapi ada dua orang lain.


"Mas, udah ngabarin Mommy kalau kamu udah sadar, jadi mereka lagi dalam perjalanan kesini." 


"Harusnya jangan di kasih tahu dulu, Mas. Aku gak mau nyusahin mereka."


"Hussh, jangan bilang kek gitu. Kamu gak pernah nyusahin siapapun." Jawab Reza sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut. 


"Bisakah aku menggendong mereka, sus?"


"Maaf Nona, luka jahit di perut anda belum sepenuhnya kering, jadi sebaiknya jangan dulu." Saran perawat itu membuat Renata merasa sedih. Inilah yang dia takuti dari operasi sesar, tak bisa langsung menggendong anak-anak nya dengan leluasa. 


"Baiklah, mungkin lainkali." 


"Kamu masih punya banyak waktu untuk menggendong dan bermain bersama mereka, sayang." Reza mengecup kening istrinya dalam. Seolah semua rasa sakit yang dia rasakan saat Renata nya tak sadarkan diri kini sirna sudah karena melihat istrinya sadar. 


Perawat itu pun kembali membawa dua bayi itu ke ruangan mereka, dan memberikan privasi bagi sepasang suami istri yang sedang melepas rindu.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2