Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 45 IRS


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, Dimas keluar dengan pakaian santai nya, celana pendek selutut dan kaos berkerah warna hitam. Rambut nya yang belum sepenuhnya kering itu dia sisir ke samping, membuat nya terlihat sangat tampan di mata Renata. 


"Mau makan sekarang, Mas?" Tanya Renata. 


"Iya, laper nih." Jawab Dimas sambil mengusap perut nya yang sudah berbunyi.


Renata pun menyiapkan makanan untuk suaminya, lalu dengan senang hati pria itu langsung memakan nya dengan lahap. 


"Kopi nya, Mas." 


"Makasih Sayang." 


"Sama-sama," jawab Renata dia duduk dan ikut makan bersama Dimas. 


"Gimana kuliah nya, Yang? Lancar?" Tanya Dimas disela makan nya. 


"Lancar Mas, tapi ya ada aja yang bikin mood aku anjlok."


"Ohya? Apa itu, Sayang?" Tanya Dimas lagi. 


"Mantan pacar mu datang." 


"Mantan pacar? Maksudmu Sila?" 


"Memang nya mantan mu di kampus ada berapa, Mas?" Balik tanya Renata dengan lirikan tajam nya.


"Hehe, satu sih Sila doang Yang." 


"Yaudah, berarti dia orang nya Mas." Jawab Renata masih dengan nada ketus nya. 


"Emang dia kenapa?" 


"Gak usah nanya-nanya, makan aja cepet." 


"Ya ampun galak bener." 


Renata hanya memutar mata nya pertanda jengah, sedangkan Dimas sudah nyengir gak karuan. 


Setelah selesai dengan acara makan malam, seperti biasa Dimas akan menonton televisi sambil menunggu istrinya itu beberes dulu sebelum tidur. 


Renata sedang mencuci piring, namun karena ceroboh, tak sengaja dia malah memecahkan gelas hingga membuat tangan nya terluka. 


"Aasshh.." Ringis nya, Dimas yang mendengar nya langsung berlari ke dapur. Dia melihat darah sudah menetes di lantai dan itu berasal dari tangan Renata. 


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dimas, dia segera meraih tangan Renata dan menggulung nya dengan baju yang dia pakai. 


"Gelas nya pecah, Mas. Ke gores dikit kok, gapapa." 


"Ke gores doang masa darah nya sampe gini, Sayang. Udah istirahat sana, biar aku yang selesai kan, nanti di obati." Ucap Dimas, Renata menurut dan membiarkan Dimas menggantikan pekerjaan nya. 


"Hati-hati ya Mas, masih ada pecahan nya." 


"Iya," jawab Dimas singkat, dia memutar kran dan membersihkan darah bekas luka Renata. 


Setelah selesai mencuci piring nya, Dimas menyusul Renata ke ruang televisi, dia melihat luka nya sudah di balut plester. 


"Udah di obati luka nya, Sayang?" Renata mengangguk, tanpa menjawa. Matanya fokus menatap layar televisi yang menayangkan drama Korea.


"Aaihh malah iklan," keluh nya. 


"Besok ngampus, kita tidur yuk? Besok Mas juga harus kerja." 


"Tapi masih seru drama nya, Mas." 


"Ayo tidur sekarang." 


"Yaudah iya, kamu aja yang matiin. Aku ke kamar duluan." Renata masuk ke kamar lebih dulu. 


Tak lama, pria itu menyusul ke kamar dia melihat Renata sedang memakai body lotion khusus malam hari, dia sengaja menyibak daster selutut nya hingga menampakan paha mulus nya, membuat Dimas menelan ludah nya dengan kasar. 


"Eehh Mas, ayok tidur." Ajak Renata setelah dia menyadari kehadiran pria itu. 


"Gerah ya," 


"Apa iya? Perasaan AC nya nyala kok." 


Dimas tak menjawab, dia berjalan melewati Renata dan langsung berbaring miring memunggungi istrinya. 


Namun, aroma menyegarkan dari body lotion yang di pakai istrinya sungguh membuat dia tak tahan. 


"Yang.." 

__ADS_1


"Iya, kenapa Mas?" Tanya Renata, dia sudah berbaring dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. 


"E-emm, gak jadi deh." Jawab Dimas lalu kembali berbaring miring. 


"Mas kenapa? Ada yang sakit?" 


'Sakit banget, udah tegang gara-gara lihat paha mulus, tapi minta nya malu.' Batin Dimas. 


"Mas, kamu keringetan? Beneran panas apa ya? Perasaan suhu nya normal-normal aja." Renata dengan khawatir meraih remot AC di meja nakas, dan menurunkan kembali suhu pendingin udara itu.


"Mas, kamu baik-baik aja kan?" 


"Aku udah tidur, Sayang." Jawab Dimas membuat kening Renata berkerut. 


"Tidur? Terus kenapa bicara?" 


'Isssh, Dimas konyol. Mana ada orang tidur ngomong.' Rutuk Dimas dalam hati. 


"Mas, kamu sebenarnya kenapa sih?" 


"Aduhh sayang, aku ngantuk mau tidur." Jawab Dimas pelan.


"Aku gak bisa tidur, pengen sesuatu." 


"Pengen apa? Rujak?" Celetuk Dimas membuat Renata terkekeh, dia merasa sedang ngidam kalau sekarang ingin rujak.


"Ihhh bukan, itu lho yang kemarin." 


"Apaan?" 


"Mas!" Rengek Renata manja, membuat Dimas terkekeh lalu berbalik. 


"Mau berapa ronde, Sayang?" 


"Satu aja cukup, Mas." Jawab Renata sambil terkekeh. 


Dimas pun langsung menerkam Renata, memberikan kecupan-kecupan mesra di seluruh tubuh Renata, hingga banyak meninggalkan bekas kepemilikan. 


Tanpa ragu lagi, Dimas langsung mengarahkan batang nya ke dalam gua sempit milik istrinya, dengan perlahan dia bergerak maju mundur, memasuk keluarkan batang miliknya di lubang hangat nan basah itu. 


"Aaaahh Mas, enak ya.." 


"Mau di tambahin kecepatan nya, Sayang?" Tanya Dimas tanpa menghentikan gerakan maju mundur nya. 


Dimas menunduk, mulutnya langsung melahap puncak kemerahan di gunung kembar milik sang istri, mengulumm nya dengan rakus seperti seorang bayi kelaparan. 


Renata tak tahan dengan sensasi yang dia rasakan, tubuhnya melengkung ke atas pertanda kalau gelombang pelepasan akan segera datang menyapa nya, dan benar saja, lubang itu terasa berkedut manja hingga membuat batang Dimas terasa di remas dari dalam. 


"Mass.." 


"Enak sayang?" Renata mengangguk dengan nafas yang tersengal setelah pelepasan nya. 


"Kita coba gaya baru, mau?" 


"Di apain Mas?" 


"Kamu di atas ya, duduk disini." Pinta Dimas sambil menuntun sang istri duduk di pangkuan nya. 


"Malu, Mas." 


"Kenapa malu, Sayang. Sama suami sendiri masa malu, ayo cepet masukin." Pinta nya lagi, Renata menurut dia memegang benda panjang itu dan memasukkan nya ke dalam miliknya. 


"Assshh sakit.." 


"Pelan-pelan aja, sayang." 


"Mentok sampe ujung, Mas." 


"Bergerak, naik turun terus di puter." Renata menurut dan dia mulai bergerak, awalnya pelan, lalu cepat hingga membuat Dimas meracau penuh kenikmatan. 


"Sayangg… Aaargghh.." Dimas melenguh panjang, cairan hangat itu menyembur membasahi inti tubuh Renata.


Keduanya pun ambruk dengan posisi Renata berada di atas Dimass, memeluk tubuh suaminya yang basah karena keringat sisa percintaan mereka. 


"Lain kali, kalau Mas mau tinggal bilang ya. Gak usah modus pake bilang gerah segala, aku pasti kasih kok kalo aku lagi bersih." Bisik Renata membuat Dimas melotot, jadi sebenarnya istri nya itu tahu kalau sebenarnya dia sedang bernafsuu? 


"E-ehh iya Sayang." 


"Ayo mandi dulu, terus tidur." Keduanya pun pergi ke kamar mandi bersama-sama, namun tak ada permainan tambahan, hanya fokus mandi dan kemudian tidur. 


Sedangkan di tempat lain, Ken baru saja sampai di apartemen milik Sila, dia membawa paperbag berisi steak Wagyu pesanan wanita pemuas nya. 

__ADS_1


"Babe!" 


"Aaahh ya, kamu sudah datang Bby. Mana pesanan ku?" Tanya Sila dengan antusias. 


"Ini, makanlah dulu setelah itu kita bicara." 


"Bicara apa? Kelihatan nya penting." Sila memindahkan potongan daging berharga mahal itu di piring, mengambil garpu dan pisau lalu kembali duduk berhadapan dengan Ken. 


Sila mengiris daging menjadi potongan sekali suap, dia memakan nya dengan lahap, tanpa lupa sempat memotret nya terlebih dahulu untuk pamer pada teman-teman nya di kampus besok. 


"Bicara apa By? Jangan membuat aku penasaran." Bujuk Sila. 


"Pacarmu, atau mantan mu? Pokoknya dia bekerja di kantorku mulai besok." 


"Siapa? Dimas?" 


"Yeah, itu benar Babe." Jawab Ken, dia membuka kancing di pergelangan tangan nya, lalu melipat nya hingga ke siku. 


"Kau serius? Jadi apa?" 


"Aku yakin kau akan terkejut, dia jadi OB, Babe!" Jawab Ken dengan senyum menyeringai. 


"Apa, OB?" 


"That's true." 


"Sial, lalu aku akan mendapatkan apa dengan mendekati OB?" Tanya Sila kesal. 


"Tujuan mu mungkin akan tercapai." 


"Lupakan sejenak tentang tujuan ku, Ken! Apa dia tak mengenalimu?" 


"No, maybe." Jawab Ken santai. 


"Dia pernah melihat wajah mu saat kita sedang bercintaa waktu itu kan?" 


"Aku rasa tidak, waktu itu lampu utama mati." Jawab Ken, membuat Sila tersenyum. Rasanya akan mudah membuat Dimas kembali padanya. 


"Kau tersenyum? Seperti nya kau punya rencana untuk membuat pria itu bertekuk lutut kembali." 


"Yeah, aku punya cara. Aku juga akan hubekerja di kantor mu mulai besok!" 


"Baiklah, terserah apa katamu. Namun ingat jatahku harus selalu terpenuhi." Peringat Ken. 


"Tentu saja, asal kau tak lupa untuk mengisi saldo ATM ku setiap bulan nya." 


"Itu mudah, asal aku puas pasti bayaran nya setimpal, Babe!" 


"Baguslah, jadi sekarang kau hanya akan mengatakan informasi itu, tanpa meminta jatah, Sayang?" Tanya Sila dengan senyum genit nya. 


"Tentu, aku mau dua ronde. Aku sudah meminum obat seperti biasanya." 


"Aku makan dulu, tunggu sebentar dan aku akan memuaskan mu, Babe!" 


"Aku tunggu di kamar, jangan terlalu lama." Jawab Ken, lalu pergi ke kamar lebih dulu. 


'Renata, penderitaan mu sedang dalam perjalanan, kau tunggu saja. Ku pastikan hidupmu menderita!' 


 


🌷🌷🌷🌷


haii author bawa novel karya temen author, jangan lupa mampir juga yaww🥰


blurb👇


JURAGAN MUDA


(Ipah)


Reyhan adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Gambaran masa depan nya belum terbayang jelas dalam otaknya. Kebahagiaan terbesarnya adalah menjadi pemenang dalam setiap ajang perlombaan futsal.


Dan, sebuah kecelakaan maut yang mengakibatkan bapaknya meninggal telah berhasil merubah jalan hidupnya.


Kegigihannya dalam mencari kerja perlahan mulai membuahkan hasil.


Tapi sayangnya, keberhasilan nya dalam mendapatkan pekerjaan, tidak dibarengi dengan kisah cintanya yang justru sering kali kandas begitu saja.


Hingga setelah ia berada dititik keemasannya, semua wanita bagaikan terkena magnet dan gigih mendekati nya.


Akankah Reyhan berhasil menemukan cinta sejatinya? Simak selengkapnya di Juragan Muda.

__ADS_1



__ADS_2