
Sampai di kampus, Renata langsung pergi ke kelas, karena sebentar lagi kelas akan di mulai. Hampir saja dia akan terlambat, untung nya driver ojek nya bisa di ajak ngebut tadi.
"Tumben telat, Re?" Tanya Mira, dia menjadi teman sebangku Renata sekarang, karena Reza sudah pergi.
"Iya, tadi ngurus kebutuhan suami dulu." Jawab Renata sambil membuka buku nya.
"Papa aku nanyain kamu, nanti kamu kesana ya."
"Nanyain aku? Kenapa, Mir? Bukan nya waktu itu aku udah ngajuin resign?" Balik tanya Renata dengan kening yang berkerut.
"Aku gak tahu, beb. Tapi nanti selesai kelas, kita ke cafe aja ya."
"Yaudah oke." Jawab Renata, tak lama kelas pun di mulai. Kelas ini adalah kelas favorit Renata, kelas desain. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang desainer ternama nanti nya setelah lulus kuliah.
Mereka pun memulai kelas dengan hening, berbeda dengan suasana kantor yang riuh karena ada karyawan yang tiba-tiba saja di pecat karena ketahuan mengutil tas karyawan lain.
Meski dia beberapa kali memohon karena merasa tidak melakukan hal itu, namun tuduhan sangat kuat karena barang manager yang hilang ada di dalam tas miliknya.
"Saya tidak pernah melakukan hal serendah itu!"
"Tidak katamu? Lalu ini apa, bukan nya barang ini bukan milikmu, Nona?" Tanya Catherine, asisten CEO.
"Sudah banyak karyawan yang mengeluh kalau barang-barang mereka hilang, dan sekarang kau terbukti melakukan nya!" Bentak Catherine, membuat nyali karyawan tertuduh itu menciut seketika.
Sedangkan yang berbuat curang malah tersenyum jahat dan menonton kegaduhan karena ulahnya. Siapa lagi kalau bukan Sila, dia yang melakukan fitnah ini.
Alasan nya karena karyawan itu memergoki dirinya dan Dimas sedang bercintaa di kamar mandi seperti biasa.
"Kamu di pecat, pergi dari perusahaan ini dan jangan pernah kembali, ini gaji terakhirmu!" Catherine melempar amplop coklat ke wajah karyawan wanita itu dengan kasar.
Karyawan itu menangis lalu mengambil barang-barang nya dan pergi, tanpa menghiraukan yang di lempar Catherine.
"Sok-sokan gak mau Nerima uang pesangon, tapi kerjaan sampingan nya ngutil barang orang, menjijikan." Ketus Catherine, dia mengambil uang yang berserakan lalu membubarkan kerumunan.
"Aman. Meski kekasihku adalah CEO, tapi aku tak bisa menutup mulut karyawan yang bekerja di bawah nya." Gumam Sila sambil tersenyum jahat.
Sore hari, Renata dan Mira sama-sama pergi ke cafe bintang purnama. Mereka langsung masuk ke ruangan pemilik cafe yang ternyata adalah papa nya Mira.
"Selamat sore, Pak."
"Eehh selamat sore, Renata." Pria paruh baya itu tersenyum lalu mempersilahkan Renata duduk di kursi yang berhadapan dengan nya.
"Maaf, bapak ada perlu apa sama saya ya?"
"Aaahh tidak, Renata. Saya hanya ingin memberikan pesangon, karena waktu itu kamu pamitan dengan terburu-buru, jadi saya tak sempat memberikan nya. Mohon di terima ya."
"Tak perlu pak, selama bekerja disini saya.."
"Ambilah, saya dengar kamu sudah menikah dan tengah mengandung saat ini? Selamat ya, semoga kandungan mu baik-baik saja." Ucapnya, Renata tak heran lagi, pasti pria di hadapan nya tau dari putrinya yang bermulut ember dan suka ceplas ceplos itu.
"Baiklah pak, terimakasih. Kalau begitu saya pamit dulu."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan Nak, kalau kamu butuh pekerjaan datang saja kemari, jangan sungkan." Renata hanya mengangguk mengiyakan dan keluar dari ruangan itu.
Renata celingukan mencari keberadaan sang sahabat, dan setelah menemukan nya dia langsung mendekat dan duduk di samping nya.
"Selesai?"
"Udah, kirain mau ngapain udah kaget. Ternyata ngasih pesangon aja." Jawab Renata, dia meminum jus alpukat yang sudah di pesankan oleh Mira.
Keduanya pun mengobrol santai seputar kelas dan wisuda yang tinggal beberapa Minggu lagi.
Namun, kedua mata Mira langsung membeliak begitu melihat pasangan yang sangat tak asing.
"Eehh Re, bukan nya itu suami Lo?" Tanya Mira, Renata pun mengikuti arah pandangan sahabat nya.
"Iya, itu Dimas sama Sila, Mir." Jawab Renata santai.
"Kok Lu bisa sesantai itu sih? Itu suami Lo selingkuh tuh."
"Gue udah tau jauh-jauh hari kok Mir,"
"Maksud Lo?"
"Dimas selingkuh sejak dua Minggu kita nikah, jadi gue gak aneh sih." Jawab Renata.
"Astaga si Dimas gila apa bodoh sih?"
"Buta, Mir." Jawab Renata.
"Hallo Sayang, kenapa?"
"Gak kenapa-napa, kamu lagi dimana Mas?" Tanya Renata, sengaja memasang loudspeaker agar Mira bisa mendengar suara Dimas yang berbohong.
"Ya di kantor dong Sayang, kok tanya begitu?"
"Ohh ya? Sejak kapan kantor kamu pindah ke cafe bintang purnama, Mas?" Tanya Renata, sedangkan Mira sibuk melihat reaksi Dimas saat mendengar pertanyaan Renata.
Pria itu nampak celingukan, mungkin mencari keberadaan Renata.
"M-maksud kamu apa, Yang?"
"Nengok ke belakang!" Ucap Renata, perempuan itu berdiri lalu berjalan pelan ke arah meja yang Dimas duduki bersama Sila.
"Mas." Sapa Renata.
"Sayang, kok kamu di-sini?" Tanya Dimas.
"Harusnya aku yang nanya kan? Kenapa kamu ada disini dan suatu kebetulan kamu disini bersama mantan pacar kamu, Mas."
"S-ayang, ini bisa aku jelasin. Ini gak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Dimas gelagapan, sedangkan Sila bersikap santai memang inilah yang dia inginkan.
"Memang nya apa yang aku pikirkan, hmm? Kalian berselingkuh dan aku tau itu, Dimas."
__ADS_1
"Sayang, jangan mengatakan hal konyol. Aku tak mungkin.."
Plak..
Renata melayangkan tamparan keras di pipi kanan Dimas, membuat semua pengunjung cafe melihat ke arah mereka.
"Kamu selingkuh dan mengatakan bahwa aku konyol, Dimas?"
"A-ku minta maaf, Sayang." Ucap Dimas.
"Maaf? Lalu besoknya kamu ulangin lagi, Mas? Maaf aku habis."
"Sudahlah sayang, gak usah minta maaf. Kita akuin aja, kita memang selingkuh kan? Lagian kita saling mencintai dan dia bisa menikah dengan mu itu karena paksaan!" Ucap Sila, dia ikut berdiri dan menatap Renata dengan tatapan mengejek.
"Kalian memang pasangan yang serasi ya, yang satu nya plin plan, yang satu nya jalangg. Hebat!"
"Renata, Sila bukan jalangg!" Bentak Dimas membuat Renata terkekeh.
"Lalu apa? Lontee? Kamu sendiri yang bilang kalau dia wanita murahan yang mau berbagi tubuh untuk di nikmati banyak pria."
"Renata, ayo kita bicara baik-baik di rumah." Bujuk Dimas karena saat ini mereka jadi pusat perhatian.
"Rumah? Rumah yang mana?"
"Renata, ayolah jangan kekanak-kanakan."
"Mulut mu begitu lancar mengatakan hal yang begitu menyakiti hati istrimu, Dimas. Pernah gak sih kamu mikirin perasaan aku dikit aja? Kamu udah renggut kesucian aku seenaknya, lalu menikahi aku tanpa cinta dan sekarang kamu berselingkuh dengan wanita yang jelas-jelas udah hianatin kamu." Ucap Renata panjang lebar.
"Aku pulang, kalau kau masih ingin bersama nya silahkan, jangan temui aku." Renata pergi di ikuti Mira di belakang nya.
"Re, Lo baik-baik aja kan?"
"Baik, bisa Lo lihat sendiri gue baik-baik aja." Jawab Renata, disaat seperti ini dia masih bisa tersenyum manis.
"Senyuman Lo penuh luka dan gue tahu itu, Re."
Renata hanya mengulas kembali senyum nya, tapi tak lama kemudian dia menatap lurus ke depan, dimana ada hamparan bunga yang indah dan berwarna-warni.
"Gue bersyukur banget hari ini gue ke cafe, Mir. Dengan ini gue jelas tahu kalau hati Dimas sejak awal gak pernah buat gue, tapi buat Sila. Gue bodoh ya, Mir?"
"Bodoh? Enggak, Renata. Lo perempuan terkuat yang pernah gue temuin setelah ibu gue,"
"Jangan ngehibur gue, Mir."
Mira memeluk tubuh Renata, jujur saja dia yang merasakan sakit saat melihat Renata berdebat dengan Dimas tadi, memang wanita itu terlihat baik-baik saja, bahkan masih bisa tersenyum manis, tapi memang ada raasa sakit yang tersirat dari raut wajah nya.
......
🌷🌷🌷🌷
kuat banget Renata ngadepin dua iblis itu😭😭😭
__ADS_1