
Siang hari nya, Dimas sudah di perbolehkan pulang. Tujuan nya adalah rumah sang istri, entah apa maksud dan tujuan nya tapi mungkin dia ingin melihat keadaan istri nya saja.
Dimas mengambil kunci cadangan dari saku jaket nya, namun sial kunci nya tak dapat masuk. Pasti Renata lupa mencabut kunci rumah dan membiarkan nya tergantung.
Dia berusaha menelpon nomor ponsel Renata, namun setelah beberapa kali panggilan itu tak kunjung di angkat juga. Hingga membuat Dimas kesal dan marah-marah di teras.
"Apes banget hidup gua!" Rutuk nya sambil menendang kursi yang ada di teras. Namun dia yang malah kesakitan sendiri, itulah akibat dari meluapkan amarah pada benda yang tak salah apa-apa, karma di bayar tunai itu.
Dimas memilih duduk, biasanya Renata akan keluar sebentar lagi untuk belanja sayur di abang-abang langganan nya atau sekedar menyapu teras, namun setelah hampir dua jam dia menunggu, pintu itu tak juga terbuka.
"Renata kenapa ya? Apa dia sakit?" Gumam Dimas bicara sendiri.
"Dimas, nyari Neng Renata ya?" Tanya salah satu tetangga kontrakan, membuat Dimas terhenyak.
"Eehh iya Bu, soalnya semalam kan saya gak pulang, kalo boleh tahu Renata nya kemana ya?"
"Tadi pagi udah pergi sama ojek, katanya mau ke rumah sakit." Jawab nya membuat wajah Dimas pucat seketika.
"Apa Renata sakit ya?"
"Mungkin iya, mungkin juga enggak, tapi kalo pergi nya ke rumah sakit ya pasti ada yang sakit." Cetus nya, memang benar. Renata takkan pergi ke rumah sakit jika dia tidak punya keluhan.
Dimas diam, ucapan ibu itu sangat tepat. Sambil melengos dia menggerutu, meski begitu Dimas masih bisa mendengar gerutuan nya dengan jelas.
"Suami apaan kayak gitu, istri sakit dia gak tahu. Terlalu sibuk selingkuh sampe lupa kalo punya bini, ampun deh padahal bini nya cantik kayak Barbie."
Ingin sekali Dimas menjawab, tapi lagi-lagi apa yang di ucapkan ibu-ibu paruh baya itu sangat benar. Dia tak bisa menyangkal lagi, karena memang dia seperti itu.
Dimas kembali duduk, tak lama kemudian dia melihat sebuah motor mendekat dan Dimas tau siapa yang datang.
"Eeehh Abang Dimas, dari mana bang? Sehat?" Sindir Reza sinis.
"Seperti yang Lo lihat, gue baik-baik aja." Jawab Dimas tak kalah sinis.
"Kirain setelah gue tendang kemarin, Lo gak bakal bisa jalan lagi." Sindir Reza.
"Ngapain Lo ke rumah bini gua?"
"Suka-suka gua mau kemana juga, bukan urusan Lo!" Jawab Reza.
"Jelas urusan gua, Lo ngapel ke rumah bini orang."
"Masih berani Lo nganggap Renata itu bini Lo? Setelah yang Lo lakuin sama dia? Gak tau malu banget." Sindir Reza lagi membuat Dimas meradang.
__ADS_1
"Nantangin gua Lo."
"Gua kagak takut sama laki brengsekk modelan Lo, Dimas!"
Dan ya, baku hantam pun tak dapat di hindari, mereka saling memukul, menendang, menjambak. Membuat para warga berbondong-bondong melihat perkelahian antara dua lelaki tampan itu.
"Sialan Lo Reza!"
"Lo yang sialan, Dimas. Gue udah berbesar hati relain Renata buat Lo, tapi apa yang dia dapat dari Lo hah? Penghianatan, tukang selingkuh Lo!"
"Minimal nyari selingkuhan itu yang lebih cantik, ini selingkuh sama jalangg!" Ucap Reza, membuat api kemarahan Dimas semakin membara.
"Stop! Kalian ini apa-apaan sih, hah? Ribut di depan rumah orang, gak malu apa?" Tanya Renata, dia baru saja pulang habis check up dari rumah sakit memeriksakan kandungan nya, ehh saat kembali dia malah melihat rumah nya di kerumuni warga.
Dia mendekat karena penasaran, kira-kira apa yang membuat warga berdatangan, setelah tau dia langsung terbelalak saat melihat Reza dan Dimas tengah berkelahi.
"Renata.." ucap mereka bersamaan, kompak juga menoleh ke arah perempuan yang menjadi sumber dari perkelahian mereka.
"Kalian apa-apaan sih?"
"Dia yang mulai." Ucap Dimas.
"Kok gue, Elo tuh yang mulai jamet!"
"Berhenti saling menyalahkan, kalian berdua sama aja. Pulang sana!" Usir Renata.
"Tapi Re.." rengek Reza.
"Pulang, obati luka kamu." Renata memilih masuk tanpa memperdulikan Dimas yang menatap nya dengan nanar.
Bahkan perempuan berstatus istri nya itu tak mengatakan hal serupa yang dia katakan pada Reza.
Dimas berjalan cepat, dia ingin menyusul langkah Renata tapi terlambat, Renata sudah menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan bunyi kuat, yang membuat semua orang terkejut. Baru kali ini mereka melihat gadis lembut seperti Renata marah, dan ternyata marah nya orang pendiam itu lebih menyeramkan.
Setelah insiden keributan itu, baik Dimas maupun Reza sama sekali tak berani menemui Renata, mungkin malu atau ada alasan lain.
Hari ini, Renata ingin pergi sekedar jalan-jalan ke mall. Dia ingin menjernihkan pikiran nya terlebih dulu.
Namun, tanpa Renata sadari dari rumah saja dia sudah di ikuti seseorang yang asing dan tentu nya bukan orang suruhan Reza.
Dia terus membuntuti Renata, bahkan saat perempuan cantik makan, dia juga ikut makan di tempat itu. Sebenarnya Renata merasa sedikit curiga dengan gelagat pria itu, namun dia masih mencoba berfikir positif dan memilih membiarkan.
Berbeda dengan di rumah Reza, nampak pemuda itu sedang mundar mandir seperti setrikaan di kamar nya. Dia merasa gelisah, perasaan nya tak enak. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu pada Renata nya.
__ADS_1
"Renata gimana ya? Duhh ini hati berdebar Mulu dari tadi."
Akhirnya pertahanan Reza runtuh, dia mengambil ponsel dan menghubungi Renata, hanya beberapa detik saja untuk perempuan itu mengangkat panggilan darinya.
'Kenapa Za?'
"Kamu dimana, Re?" Tanya Reza dengan nada khawatir nya.
"Aku lagi di mall cuci mata, kenapa?"
"Mall mana? Aku kesitu sekarang, kamu jangan kemana-mana."
"Mall di jalan anggrek, yaudah aku tunggu." Panggilan pun selesai, Reza langsung bersiap dan pergi dengan menggunakan motor nya. Dia bahkan tak menjawab saat orang tua nya bertanya, saking panik dan khawatir nya.
Dia melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi, perasaan nya semakin tak enak, dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Renata. Tak lupa, Reza juga menghubungi orang kepercayaan agar lebih dulu sampai di tempat.
Sesampainya di mall, Reza dengan cepat berlari mencari keberadaan Renata.
Sedangkan Renata, dia berjalan melihat-lihat, rasanya dia ingin membeli sesuatu namun entah apa. Jadi dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Orang yang tadi pun terus mengikuti Renata, hingga Renata bersiap untuk turun menggunakan eskalator, pria itu langsung mendorong Renata dengan kuat hingga dia hilang keseimbangan dan terjatuh.
Tubuhnya berguling-guling dari ketinggian eskalator, membuat kepala nya terbentur hingga mengeluarkan banyak darah.
Pengunjung berteriak histeris saat melihat tubuh itu terkapar bersimbah darah di lantai, dengan cepat orang-orang itu mengerubungi korban. Sedangkan pria itu tersenyum puas karena misi nya berhasil lalu segera melarikan diri sebelum ada orang yang menyadari keberadaan nya.
Reza datang, dia tak tahu kenapa orang berkerumun, dia menerobos kerumunan dan seketika itu juga terhuyung. Untuk mendekat, dia merangkak karena tak kuasa menahan berat tubuhnya.
"Renata, bangun sayang!" Ucap Reza sambil memangku kepala Renata dan menepuk pelan pipi nya.
"Cepat panggil ambulance!" Teriak salah satu pengunjung. Dengan sigap, salah satu dari mereka menelpon ambulan, dan tak perlu waktu lama ambulance sampai, dengan cepat Reza menggendong tubuh lemas Renata ke mobil.
Sepanjang perjalanan, pria itu terus menangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri, andai saja dia datang lebih awal mungkin ini semua takkan pernah menimpa Renata.
"Aku terlambat, Renata maafkan aku!" Reza terus memegangi tangan Renata sepanjang perjalanan, tak sedetik pun dia melepaskan nya.
Di tempat lain, pria itu sudah sampai di tempat persembunyian nya.
'Misi selesai, aku yakin bayi itu takkan mampu bertahan.' Tulis nya, dan tak butuh waktu lama, pesan balasan pun datang.
"Bagus, aku akan mentransfer upah yang sudah aku janjikan sekarang!"
......
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷