
Keesokan harinya, setelah pulang kerja Dimas benar-benar menepati janji nya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya, Sila.
Pria beristri itu celingukan mencari keberadaan perempuan yang pernah menghianati nya itu, namun sial nama nya masih tetap menghuni hatinya hingga saat ini, bahkan setelah dirinya menikahi Renata, sahabat nya sendiri.
Sila yang melihat kedatangan Dimas langsung melambaikan tangan nya, pria itu mendekat dan duduk di kursi kosong di depan Sila.
"Sore, Sayang. Capek ya?" Tanya Sila. Dimas mengangguk, dia menemui Sila masih memakai seragam OB nya.
"Capek sih, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah kewajiban aku buat nafkahin Renata sebagai seorang suami." Jawab Dimas, dia memanggil pelayan dan memesan segelas lemon tea.
"Mau makan dulu?"
"Gak usah, Sil. Aku kesini ngajakin ketemu, cuma buat bilang. Maaf aku gak bisa hianatin perempuan sebaik Renata." Jelas Dimas, membuat amarah dalam hati nya seketika membara.
"Dimas, ayolah beri aku kesempatan kedua untuk hubungan kita, Sayang."
"Aku gak bisa Sil, apa sih yang kamu mau dari aku? Sekarang aku cuma pekerja kasar, sedangkan kamu? Kita gak sebanding sekarang." Jawab Dimas, Sila meletakan tangan nya di atas tangan Dimas yang berada di atas meja.
Tak lama pelayan datang memberikan segelas lemon tea dingin yang terlihat menyegarkan, Dimas yang memang sudah merasa haus langsung menyedot nya dengan menggunakan sedotan.
Sila nampak tersenyum kecil, tentu nya tanpa sepengetahuan pria itu. Dia buru-buru menetralkan ekspresi wajah nya, menjadi murung seperti tadi agar terlihat lebih meyakinkan.
"Sayang, gimana? Kamu pertimbangkan dulu penawaran aku waktu itu. Jadi selingkuhan pun aku gak keberatan sama sekali kok." Bujuk Sila lagi, membuat Dimas mendongak menatap perempuan itu.
"Enggak Sil, maaf." Dimas bersiap pergi, namun sedetik kemudian dia kembali duduk dan mengeluhkan pusing juga sakit di kepala nya.
"Aduhh, kenapa kepala ku sakit sekali." Keluh nya sambil menggelengkan kepala nya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Berhenti memanggil aku Sayang, Sila." Bentak Dimas membuat Sila terhenyak, baru kali ini dia mendengar Dimas meninggikan suara padanya.
"Tapi kenapa, Dim? Apa aku udah bener-bener gak punya kesempatan lagi?"
"Kamu gak inget penghianatan kamu sama aku, Sil? Kamu bahkan berbagi tubuh kamu sama pria lain, mana ada laki-laki yang mau berbagi miliknya, Sil. Punya otak tuh pake dong!" Tegas Dimas. Sebelum akhirnya dia tumbang tak sadarkan diri, beruntung saja suasana cafe itu terlihat lengang, sepi dari pengunjung.
Sila menghubungi seseorang dan tak lama tiga orang berbadan kekar datang dan membopong tubuh Dimas, lalu memasukan nya ke dalam mobil. Mereka adalah Anak buah Kenzo, selingkuhan sekaligus ATM berjalan Sila.
"Bawa kemana, Nona?"
"Ke apartemen ku saja." Jawab Sila, dia meraih tas Dimas dan membawa nya ikut serta, dia mengambil ponsel milik Dimas dan mengetikan sesuatu disana.
Istriku, Renata❤️
__ADS_1
'Sayang, Mas lembur malam ini. Tidur duluan, jangan menunggu Mas.' Isi pesan yang Sila kirim ke nomor Renata, beberapa kali dia berdecih saat mengetik dengan kata-kata mesra pada musuhnya sendiri.
Setelah sampai di apartemen, ketiga anak buah Ken langsung membawa tubuh lemas Dimas ke apartemen milik Sila, tepatnya ke kamar.
"Sudah selesai, kalian bisa pergi. Nanti Ken juga akan datang kemari."
"Baik Nona, kami permisi." Pamit ketiga nya.
Setelah tak ada siapapun, Sila tersenyum menyeringai. Dia tak sabar untuk menjalankan rencana jahat nya.
Sila melucuti semua pakaian yang di pakai Dimas, namun pria itu sama sekali tak menyadari nya karena dia sudah di beri obat tidur. Ya, Sila dan pelayan itu bekerja sama untuk menjebak Dimas.
Hingga sampai di boxer nya, Sila tertantang untuk melahap nya sejenak. Bukan omong belaka jika batang milik Dimas lebih besar, panjang dan yang pasti lebih menggairahkan dari pada milik Ken, selain besar milik Dimas juga tahan lama.
"Cihh aku repot-repot melakukan semua ini demi batang besar mu, Dimas." Gumam Sila, dia langsung melahap batang milik suami orang itu hingga separuh nya masuk ke dalam mulutnya.
"Aasshh kalo di masukin pasti enak banget, gatel deh." Gumam Sila lagi, dia merasakan lubang nya basah karena memainkan batang milik Dimas.
"Lagi ngapain kamu, Yang?" Bariton yang membuat Sila langsung menghentikan kegiatan nya sejenak.
"Ngulumm doang, Bby."
"Ayo, cepetan." Ajak Ken, Sila pun melucuti semua pakaian nya. Lalu berbaring sambil memeluk Dimas, dia pura-pura tertidur, Ken langsung mengambil gambar kedua nya beberapa kali.
Sila pun bangun dari rebahan nya, tanpa memakai kembali pakaian nya, dia menarik Ken keluar dari kamar dan membawa nya ke kamar lain. Tentunya untuk bersenang-senang, menuntaskan hasrat Sila yang naik gara-gara mengulum batangan besar milik Dimas.
Di rumah, Renata sedang mondar mandir menunggu kepulangan sang suami, di meja makan dia sudah menyiapkan makanan favorit Dimas, namun sudah pukul delapan, pria itu tak kunjung pulang juga.
Tingg..
Bunyi notifikasi di ponsel Renata, dia langsung menyambar ponsel dan membuka pesan yang ternyata dari nomor suaminya.
"Ohh lembur ya? Pantesan jam segini belum pulang." Renata mematikan ponsel nya dan meletakan benda persegi itu di meja.
Dia ke dapur, menutup makanan dengan tudung saji. Mengunci pintu depan, dan beranjak ke kamar. Namun entah kenapa, angin tiba-tiba saja bertiup kencang, hingga membuat Poto pernikahan nya terjatuh dan pecah berhamburan.
"Ya ampun, semoga kamu baik-baik saja Mas." Gumam Renata, seketika hatinya merasa tak enak. Perasaan yang sama saat dia melarang Dimas untuk ikut balapan, dan benar saja pria itu mengalami kecelakaan fatal waktu itu.
Renata memunguti pecahan kaca dari pigura itu, namun karena tak hati-hati serpihan kaca itu malah melukai jari nya, hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
'Mas, kamu baik-baik aja kan?' batin Renata, sungguh demi apapun perasaan nya benar-benar tak enak saat ini.
"Aaahh mungkin hanya perasaan ku saja, berfikirlah fositif." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri, perempuan itu pergi ke kamar dan memutuskan untuk tidur sambil menunggu suaminya pulang.
__ADS_1
Pagi harinya, Dimas terbangun dengan Sila yang memeluk tubuhnya dengan erat. Dimas langsung bangun dengan ekspresi terkejut nya.
"Udah bangun, Sayang?" Tanya Sila sambil ikut terbangun juga, dia mengucek mata nya dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya.
"Kenapa aku bisa disini, Sila?"
"Kamu gak inget ya? Semalem kamu yang.."
"Udah, tapi kenapa kamu gak pake baju?" Tanya Dimas lagi.
"Lalu kamu sendiri kenapa telanjaang?" Balik tanya Sila, Dimas melihat ke bawah. Benar saja, dia juga dalam kondisi yang sama seperti Sila.
"Apa yang sudah terjadi?"
"Jangan pura-pura polos Sayang, kalo kita sama-sama gak pake baju ya berarti kita habis bercintaa dong. Goyangan kamu hot banget semalem." Ucap Sila sambil tersenyum genit.
"A-apa? Gak mungkin, aku gak mungkin hianatin Renata!"
"Fakta nya kamu udah tidur sama aku tadi malem, Sayang."
"Ini gak bener kan?"
"Gak bener gimana? Ini buktinya kamu disini dan kondisi kita sama-sama gak pake baju." Jawab Sila.
"Aku mau pulang!" Dimas memunguti pakaian nya dan langsung memakai nya.
"Bagaimana dengan hubungan kita, Sayang?" Tanya Sila membuat Dimas berbalik.
"Nggak, Sil."
"Oke, aku bakal kirim poto-poto kita semalam sama istri kamu itu, kira-kira gimana ya tanggapan ya?" Ucap Sila santai, membuat Dimas terkejut.
"Maksud kamu?"
"Lihat ini." Sila memperlihatkan sebuah Poto yang menampilkan dirinya dan Sila tengah tidur bersama dengan saling memeluk dan tanpa busana. Dimas dibuat melotot saat melihat nya.
"Jangan Sil, jangan melakukan hal kotor semacam itu."
"Kenapa? Kalau aku tak bisa membujuk mu secara baik-baik, kenapa tidak secara kotor saja?"
Dimas menggelengkan kepala nya, bagaimana bisa dia terjebak dengan wanita semacam Sila?
.....
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷