
Tanpa terasa, satu bulan sudah berlalu. Hari ini, Renata sedang duduk di bangku taman belakang bersama Karina, wanita itu tak hentinya mengusap dan mengelus perut buncit sang adik.
Sesekali dia bersorak kegirangan saat bayi nya menendang, sensasi nya sangat menyenangkan, bisa merasakan tendangan bayi meski bukan dari perutnya sendiri, tapi hal seperti ini saja bisa membuat hatinya tenang.
"Kata dokter kapan baby twins akan lahir?" Tanya Karina.
"Menurut perkiraan dokter kurang dari seminggu lagi, mbak. Bisa sekarang besok, atau lusa." Jawab Renata sambil tersenyum menatap sang kakak.
"Gak sabar deh pengen lihat mereka, mbak pengen main sama keponakan mbak, pasti mereka ganteng dan cantik seperti kamu dan Reza." Celoteh Karina.
"Iya mbak, aku juga udah gak sabar pengen lihat mereka secara langsung. Pengen lihat bayi-bayi yang selama sembilan bulan ini menghuni rahim aku, mereka menendang-nendang di dalam sini hingga seringkali membuat aku pipis di celana." Renata terkekeh, begitu juga Karina.
"Kamu sudah punya nama untuk mereka berdua?"
"Itu mas Reza yang akan memberikan nya, aku percaya dia pasti punya nama yang indah untuk buah hati kami." Jawab Renata, meski sering kali nyeleneh tapi dia percaya pada sang suami, setidaknya suaminya takkan mungkin memberikan nama brand ternama pada kedua anak nya.
Tunggu, nama brand? Aahh ya, jadi ingat novel sebelah. Brian buang kerok, kalau yang udah baca Partner Ranjang Mr Zen pasti tahu Brian namain anak nya pake nama brand apa.
"Baiklah, mbak hanya berharap semoga kamu dan kedua anak mu baik-baik saja." Ucap Karina lirih, membuat Renata tersenyum. Dia meraih kedua pundak Kakak ipar nya, sebisa mungkin dia menampilkan senyum terbaik nya, meski dalam hati dia juga merasakan rasa takut. Apakah dia masih bisa melihat dunia lagi atau tidak setelah hari menegangkan itu.
"Jika nanti, aku sakit tolong mbak jagakan anak-anak ku ya. Aku percaya sama mbak,"
"Kamu gak boleh bicara gitu, Re. Kamu harus baik-baik aja, kakak percaya kamu pasti bakalan baik-baik aja." Ucap Karina, dia mana mampu melakukan itu jika misalkan terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada adik nya.
"Rere juga pengen nya gitu, pengen kumpul sama kalian lagi setelah hari itu, tapi kita gak tahu takdir seperti apa yang sudah menunggu di depan sana. Maka dari itu, jika misalkan aku sakit, mbak tolong jagakan anak aku sementara waktu."
"Ohh iya, Mas Eza pasti akan rapuh, kuatkan dia juga ya. Jangan sampai dia merasa sendirian, aku gak tega lihat dia menangis." Kedua mata Renata berkaca-kaca, menghadapi kenyataan pahit ini selalu membuat hatinya di landa kegelisahan.
"Pasti, mbak pasti akan menemani dia, menguatkan dia dan meyakinkan dia bahwa kamu akan baik-baik saja dan bisa berkumpul bersama seperti sekarang."
"Terimakasih mbak, aku merasa tenang." Renata tersenyum manis ke arah kakak ipar nya, namun senyuman itu hilang saat dia melihat Reza berdiri di depan nya, dengan setelan kantor, bahkan tas kerja nya masih dia tenteng di tangan.
Pria itu berdiri kaku, membuat Renata gelagapan sendiri, terlebih suaminya tak tahu apapun tentang apa yang dia rasakan saat ini.
"M-as, sudah pulang?" Bukan nya menjawab, Reza malah pergi dari hadapan nya dan masuk ke dalam rumah, tepatnya ke kamar. Renata panik, dia khawatir pria itu akan salah paham, dia segera menyusul langkah sang suami, meski dengan perlahan karena dia kesulitan berjalan dengan membawa perut yang membuncit besar.
Renata membuka pintu, dia melihat suaminya sedang membuka jas dan dasi nya, tatapan nya menajam saat melihat sang istri masuk.
"Mas, sini biar aku bantu."
"Gak usah, Mas bisa sendiri sayang." Jawab Reza, meski masih memanggil sayang, namun tetap saja nada bicara nya yang datar membuat Renata merasa bersalah, namun dia tak tahu letak kesalahan nya ada di bagian mana.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Renata, dia melihat suaminya menghela nafas.
"Mas bener-bener gak suka dengan apa yang kamu katakan sama mbak Karin, emang nya setelah melahirkan kamu mau kemana, sampai nitipin aku sama anak-anak?"
"Itu ya? Kamu denger itu?"
"Aku denger semua nya sayang, gak bakal terjadi apa-apa sama kamu selain sakit kontraksi, percaya sama aku."
"Iya Mas, aku minta maaf ya sama kamu. Aku cuma takut menghadapi hari itu," keluh Renata, wanita itu memilin ujung pakaian nya.
"Gak usah takut, aku ada di samping kamu, setiap saat."
"Terimakasih Mas."
"Sama-sama sayang." Jawab Reza, dia meraih sang istri ke dalam pelukan. Dia sangat ingin memeluk erat hingga tubuh mereka menempel satu sama lain, namun sayangnya tak bisa di lakukan karena terhalang perut buncit istrinya.
"Mulai besok Mas cuti dari kantor, mas mau fokus jagain kamu."
"Kerjaan di kantor gimana Mas?" Tanya Renata.
"Ada Marko sama Dimas yang handel, kamu gak usah khawatir tentang kerjaan aku, lagian aku bisa kerja dari rumah." Jawab Reza. Dimas sudah resmi menjadi sekretaris nya, sedangkan Marko tetap menjadi asisten kepercayaan nya.
Namun, entah kenapa semenjak jabatan CEO berpindah padanya, perilaku pria itu berubah. Tak ada Marko yang tegas, kejam dan dingin, Marko yang sekarang malah somplak dan menyebalkan.
"Ohh, Dimas udah mulai kerja Mas?"
__ADS_1
"Sudah dong sayang, dia udah kerja 3 Minggu yang lalu." Jawab Reza sambil mengelus perut sang istri.
"Kerja nya bagus?"
"Bagus kok, malah dia cepat tanggap banget kalo kerja."
"Yaudah deh, tiba-tiba aja aku pengen mangga muda deh, Mas." Ucap Renata, entah kenapa dia ngiler sendiri saat membayangkan buah itu.
"Biasanya ibu ngidam itu di trimester pertama kan? Kok kamu ngidam nya disaat pas udah mau lahiran sih?" Tanya Reza.
"Ya mana aku tahu Mas, boleh ya?"
"Boleh aja kalau ada, masalah nya gak ada sayang. Nyari nya kemana, udah mau malem ini."
"Plis, selama ini aku belum pernah ngidam." Bujuk Renata, memang benar selama hamil dia belum pernah mengidam hingga merengek seperti ini.
"Ohh baiklah istriku sayang, Mas mu ini akan mencari nya sekarang." Ucap Reza, dia mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Dia mengusap rambut sang istri lalu mengacak nya.
"Aaa Mas jangan berantakin rambut aku dong, tuhkan jadi berantakan lagi." Ketus Renata sambil merapikan kembali rambutnya dengan tangan.
"Yaudah, sebentar ya Mas mau nyari buah nya dulu."
"Siap Masku, aku mau buat bumbu nya."
"Gak usah, biar Mas nyuruh mbak Karin buat bumbu nya, kamu diem aja disini. Awas kalau keras kepala, inget disini banyak CCTV."
"Isshh iya-iya, terus aku ngapain dong?"
"Nonton televisi aja sayang, mas pergi dulu ya." Renata pun mengangguk, Reza pergi keluar. Saat dia berpapasan dengan Karina dan Mommy nya, dia meminta untuk membuatkan sambel rujak pada keduanya, sedangkan dia akan mencari buah nya dulu.
Keduanya keheranan, rujakan malam-malam? Memang hari belum terlalu gelap, tapi ini sudah bisa disebut malam kan?
"Aihh, ibu hamil cantik yang satu itu ada-ada saja." Ucap Karina sambil terkekeh.
"Udah, kita buat aja bumbu nya."
"Tenang, adikmu itu pasti mendapatkan buahnya, pasti dia takkan kembali ke rumah sebelum mendapat buah nya."
"Benar juga, yaudah deh. Karin yang goreng kacang nya ya, Mommy yang ngulek." Kedua nya pun pergi ke dapur dan melaksanakan tugas masing-masing.
Sedangkan Reza, dia celingukan mencari ke setiap rumah yang ada pohon mangga nya, namun sudah berkeliling dia belum juga mendapatkan buahnya. Mendadak, tak ada satupun pohon yang berbuah.
"Kebiasaan deh, kalo lagi di cari pasti gak ada. Nah kalo gak di cari pasti banyak." Gumam Reza, dia kembali melajukan sepeda motornya, meski angin malam terasa dingin tapi itu tak menyurutkan niat nya untuk mencari buah mangga untuk sang istri.
Di ujung gang, Reza melihat pohon mangga yang berbuah lebat, meski hari sudah malam tetap saja buah itu terlihat banyak bergelantungan di antara daun-daun.
Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu tersenyum, namun saat menghentikan laju motornya, senyuman itu seketika buyar saat menyadari bahwa ini adalah rumah kosong, alias tak berpenghuni.
Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding, kalau saja bukan karena sang istri, dia sudah berlari pergi menjauh dari tempat itu. Selain kosong, rumah ini juga terkenal angker banyak hantunya
Berkali-kali Reza menelan ludahnya dengan kasar, dia mengumpulkan keberanian nya dan turun dari motor. Dia menengadah ke atas, tempat buah mangga itu bergelantungan.
Hufft..
Reza mulai menaiki pohon mangga itu, mengambil beberapa buah mangga, sekiranya cukup buru-buru dia turun. Namun saat di bawah, dia melihat bayangan putih mendekat ke arahnya. Jelas saja itu membuat Reza berlari ketar ketir menjauhi rumah itu.
Tapi sial, saking takutnya Reza malah tak sadar kalau di depan nya ada got, tentu saja itu membuat nya terjerembab ke dalam got, membuat tubuh nya kotor terkena air got.
"Sial sial, astaga bau sekali." Keluh Reza, dia meringis saat menyadari bau nya yang sungguh tak sedap.
"Gimana gue bawa motor kalau gini." Ucap Reza, dia meraba kepala nya, ternyata lumpur got itu sampai ke kepala nya. Aahh sial, dia harus berendam dalam air susu nanti.
Dengan terpaksa dia mengendarai motor nya dengan keadaan kotor dan berbau karena air got. Sepanjang perjalanan, dia berpapasan dengan pengendara lain, mereka seperti menahan tawa saat melihat penampilan nya yang seperti gelandangan.
"Sialan, gara-gara hantu gue jadi begini." Rutuk Reza, dia mempercepat laju motornya. Dia ingin segera sampai di rumah dan segera membersihkan tubuhnya.
Singkatnya, Reza sudah sampai di rumah. Satpam menahan tawa saat melihat penampilan tuan muda nya, tadi pergi dengan keadaan bersih dan rapih, lah sekarang? Laki-laki itu seperti nya baru di hantam angin puyuh.
__ADS_1
"Kalau tertawa, aku akan memecatmu." Ancam Reza, dia pergi dengan motor nya, meninggalkan aroma tak sedap yang masuk ke hidung penjaga rumah. Mereka terbatuk karena aroma tak mengenakan itu.
Reza memarkir motornya di garasi, dia turun dari kendaraan nya dengan perlahan.
"Sayang, mas pulang bawa buah nya nih." Teriak nya di luar rumah, dengan keadaan nya sekarang, sudah bisa di pastikan dirinya takkan bisa masuk ke dalam.
Karina dan Mariska keluar, di ikuti Renata yang berjalan pelan. Ketiga wanita itu melongo melihat keadaan Reza, persis anak pungut dengan lumpur yang mengotori tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Pppffttt.. Haha.." ketiga nya kompak tertawa saat melihat keadaan Reza. Renata tertawa pelan karena merasakan sedikit sakit di perutnya jika tertawa keras.
"Kamu dari mana? Perasaan tadi pamit mau nyari buah mangga, tapi kok balik jadi gembel." Ejek Karina dengan tertawa puas.
"Emang nyari buah nih, tapi gue di kejar setan. Yaudah gue lari, taunya ada got."
"Terus?" Tanya Karin lagi.
"Ya gak ada terusan nya, gue jatoh ke got sampe kek gini. Puas Lo?" Sinis Reza, sedangkan Renata menatap suaminya dengan senyum manis.
"Terimakasih suamiku." Renata mendekat dan meraih tangan suaminya, dia tak peduli dengan bau got yang menyengat dari tubuh suaminya.
"Sayang, aku bau."
"Gapapa kok, ayo aku mandiin." Ajak Renata.
"Mbak tolongin ya?" Pinta Renata.
"Siap adiku, sini buahnya biar mbak kupas terus di potong-potong. Biar kamu selesai mandiin bayi besar, rujak nya udah jadi. Oke?"
"Oke mbak, makasih ya. Maaf Rere ngerepotin."
"Gapapa cantik, mbak juga pengen rujak nya. Kebetulan di belakang ada jambu air, sekalian kita rujakan jambu juga."
"Siap mbak, yaudah Rere mandiin suami Rere dulu. Harus di lulur sabun mandi ini mah biar glowing lagi." Ucap Renata sambil terkekeh.
Reza menurut saja saat sang istri menarik nya masuk ke dalam rumah, mereka masuk ke kamar dan Renata mulai memandikan sang suami. Mengusapkan sabun cair di tubuh suaminya, sedangkan pakaian nya dia rendam dengan detergen cair, agar lebih cepat kotoran nya luntur.
"Maafin aku ngerepotin kamu ya, Mas. Sampe kecebur got gini."
"Gapapa sayangku."
"Gimana ceritanya kok bisa di kejar hantu, Mas?" Tanya Renata, sambil meneteskan beberapa tetes shampo di tangan nya, lalu mengusapkan nya di rambut sang suami.
"Tadi kan Mas ngambil buah nya di rumah kosong di ujung gang itu lho, pas aku naik pohon nya tuh setan gak ada Yang, ehh pas udah di bawah malah keliatan. Refleks dong aku lari ketakutan, kelupaan kalo di depan itu ada got yaudahlah kecebur."
"Aku pengen ketawa, tapi aku kasian sama suamiku ini." Ucap Renata sambil tersenyum kecil.
"Gapapa sayangku, apa pun yang bisa buat kamu tertawa, aku ikhlas."
"Bucin nya suamiku."
"Bucin sama istri sendiri kan gapapa sayangku." Ucap Reza sambil menguyel-uyel pipi sang istri yang semakin gembul.
"Yaudah, mandinya selesai. Tubuh kamu udah wangi lagi, gak bau selokan. Yuk keluar." Ajak Renata, suaminya itu mengangguk dan meraih bathrobe lalu memakainya.
Renata menunggu diluar, dia menunggu sang suami duduk di sisi ranjang, wanita itu mengeringkan rambut Suaminya dengan handuk kecil. Meski ada hairdryer, tapi mengeringkan rambut orang terkasih dengan handuk terasa lebih menyenangkan.
"Selesai Mas, aku keluar dulu ya mau rujakan dulu sama Mommy, mbak Karin."
"Iya sayang, jangan terlalu banyak makan buah mangga nya ya. Kalau jambu gapapa, gak asem ini."
"Siap suamiku sayang." Renata mengecup singkat pipi kanan suaminya, lalu pergi keluar.
"Istriku semakin lama semakin menggemaskan."
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1