Istri Rasa Simpanan

Istri Rasa Simpanan
Bab 137 IRS


__ADS_3

Hari ini, Dimas sangat bersemangat. Pasalnya, dia akan membawa sang istri untuk periksa ke dokter. Karena selama dua hari ini, Elina terus saja muntah-muntah setiap pagi, hingga membuatnya lemas. 


Bahkan tadi pagi, dia seperti alergi saat dia menyentuh nya, mendekat saja Elina langsung muntah kembali, katanya dia bau. Padahal Dimas adalah pria yang suka kebersihan, dia mandi setiap hari. Mandi dengan banyak sabun dan selalu menggunakan parfum.


"Bagaimana dok, istri saya sebenarnya sakit apa?" 


"Selamat ya tuan, istri anda positif hamil." Ucap dokter wanita itu sambil tersenyum, dia menunjukan hasil testpack yang di gunakan Elina. Dengan jelas, menggambarkan kalau sang pengguna memang sedang mengandung. Terdapat dua garis merah, yang satu nya terlihat jelas, yang satu nya lagi sedikit samar. 


"Benarkah dok? Berapa usia nya?"


"Untuk tau lebih lanjut, mari kita lakukan USG." Saran dokter itu dengan senyum yang selalu terkembang di bibirnya. 


Elina tersenyum lalu mengikuti dokter itu, dia berbaring di bantu Dimas. Dokter itu mengambil alat yang terhubung dengan sebuah benda seperti televisi, tapi tak ada warna-warna apapun, hanya hitam dan abu-abu. 


"Asshhh.."


"Maaf Nona, dingin ya?" 


"Tak apa dok, saya terkejut." Jawab Elina sambil terkekeh pelan.


Dokter itu memutar benda kecil di atas perut Elina setelah mengolesi gel yang terasa dingin itu. 


"Bulatan ini adalah rahim anda, dan bulatan kecil itu adalah janin Nona." 


"Hasil dari USG, perkiraan nya nona sudah hamil 6 Minggu." 


"Lho dok, tapi kami baru menikah satu bulan. Kenapa usia kandungan nya bisa 6 Minggu?" Tanya Dimas membuat Elina menunduk. Tapi, setelah kejadian menyakitkan yang terjadi beberapa tahun silam yang membuat kegadisan nya terenggut, dia tak pernah melakukan hal apapun lagi dengan lawan jenis. 


"Tenang tuan, ada penjelasan untuk hal ini. Perkiraan di USG di hitung berdasarkan kapan terakhir datang bulan, hal ini sudah biasa terjadi." 


"Ohh baiklah dok." Jawab Dimas merasa lega. Tadinya dia sudah takut, pikiran nya berkelana jauh kemana-mana, padahal istrinya begitu baik. 


Elina mengangkat kepala nya, di sambut oleh senyuman sang suami, dan kecupan-kecupan mesra yang pria itu layangkan pada sang istri. Membuat dokter itu merasa malu sendiri melihat kemesraan sepasang suami istri di depan nya. 


"Apakah ada pantangan bagi istri saya, dok?"


"Begini, kehamilan istri anda masih trimester awal. Jadi, sebaiknya jangan terlalu banyak beraktivitas terlebih dulu. Harus banyak istirahat, makan banyak buah, sayur, daging juga ikan. Itu akan sangat mempengaruhi pertumbuhan janin." 

__ADS_1


"Peringatan untuk anda tuan, sudah banyak kasus keguguran karena suami terlalu sibuk dengan urusan pribadi hingga mengabaikan keluhan istri nya saat mengandung. Lagi, kurangi frekuensi berhubungan intiim selama trimester pertama ini. Boleh melakukan sekali-kali, tapi jika istri mengeluh lebih baik di hentikan saja." Saran dokter itu membuat Dimas menganggukan kepala nya.


"Baik dok, saya mengerti."


"Apa ada keluhan?"


"Hanya muntah-muntah setiap pagi, dok." Jawab Elina, tapi Dimas mendengus kesal. Seperti nya dia tak terima akan jawaban sang istri. 


"Dia selalu mengeluh kalau suaminya ini bau, dok. Padahal saya mandi setiap hari, juga memakai sabun dan parfum juga deodorant agar tak bau ketiak, tapi dia masih bilang saya ini bau dok." Cetus Dimas membuat Elina mencubit pelan perut suaminya. 


Dokter itu terkekeh pelan, begitu mendengar keluhan suami pasien nya.


"Ini wajar, tuan. Muntah-muntah setiap pagi pun masih wajar, itu disebut gejala morning sickness. Dimana ibu hamil akan mengalami muntah-muntah, tapi hanya di pagi hari saja. Sedangkan untuk keluhan tuan tadi, hidung ibu hamil meningkat 100% lebih sensitif. Jadi harap di maklumi saja ya tuan." Dokter itu kembali terkekeh, apalagi saat melihat wajah Dimas yang tertekuk.


"Baiklah, jika hanya keluhan itu saja. Saya akan meresepkan vitamin dan penguat kandungan saja." 


"Baik dok." Jawab keduanya serempak. Setelah menebus obat di bagian farmasi, Elina dan Dimas pun pulang dengan tangan yang saling bertaut mesra, seperti pasangan suami istri harmonis lain nya.


Bruk.. 


"Aahh, maaf tuan saya tak sengaja. Maafkan saya," ucap Elina merasa tak enak hati karena sudah menabrak seseorang karena keteledoran nya, hingga membuat nya terjungkal. 


Pria itu mendongak, seketika itu juga kedua mata Elina membulat sempurna. Sedangkan Dimas tersenyum ke arah seseorang yang istrinya tabrak tanpa sengaja.


"Tuan Kenan, anda disini?" 


"Aaahh Dimas kan?"


"Iya tuan, saya Dimas. Sekretaris pak Reza Argantara." Jawab Dimas sambil tersenyum ramah.


"Ohh, apa ini istrimu?" 


"Iya tuan, perkenalkan ini Elina, istri saya." 


"Saya Kenan." Pria bernama Kenan itu mengulurkan tangan nya untuk berjabatan dengan istri rekan bisnis nya.


Dengan tangan bergetar, Elina menerima uluran tangan Kenan, lalu dengan cepat menarik nya kembali. 

__ADS_1


"Kalian sedang apa disini?"


"Istri saya habis dari dokter kandungan, tuan. Anda sendiri?" Balik tanya Dimas.


"Istri kamu sedang mengandung? Wahh selamat kalau begitu, saya kesini menjenguk istri saya. Sudah cukup lama saya tak berkunjung, karena sibuk oleh pekerjaan." Jelas Kenan, matanya sesekali curi pandang ke arah istri dari rekan bisnis nya itu, dia juga merasa tak asing dengan wanita itu. 


"Istri tuan sakit?"


"Iya, dia sudah satu bulan di rawat disini."


"Maaf kalau boleh tau, istri tuan sakit apa?" Tanya Dimas lagi.


"Dia koma, karena kecelakaan. Saking parahnya, dia di nyatakan koma oleh dokter." Jawab Kenan, dia menyembunyikan raut sendu nya di balik senyuman, seperti nya pria itu sangat mencintai istrinya.


"Saya turut berduka cita, tuan Kenan."


"Terimakasih Dimas, kalau ada waktu senggang. Mari kita makan bersama di luar pekerjaan, kalau kamu bersedia." 


"Tentu saja tuan, kalau begitu saya permisi dulu." 


"Ya silahkan, hati-hati di jalan nya."


"Iya tuan, selamat sore." Ucap Dimas, lalu pergi dan menarik tangan sang istri yang terasa sangat dingin itu.


"Kenapa tangan kamu sangat dingin, sayang?"


"A-aahh tidak apa-apa, Mas. Ayo pulang, aku lelah." 


"Baiklah sayangku." Jawab Dimas, lalu kembali menarik tangan istri kecilnya dan masuk ke dalam mobil. Dia memesan taksi online, mana mungkin dia membawa sang istri dengan motor? Bisa-bisa dia mabuk di jalan.


Sepanjang perjalanan pulang, Elina hanya terdiam. 


'Kenapa harus bertemu pria itu lagi setelah sekian tahun? Aku membenci pria itu, dia yang sudah merenggut kesucian ku secara paksa, aku takkan pernah melupakan lesung pipit di pipi kanan pria itu. Tapi, apa hubungan pria itu dengan Suamiku? Seperti nya mereka akrab,nya Tuhan semoga saja semuanya baik-baik saja.' 


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


pertemuan Elina dengan pria yang sudah merenggut kesucian nya😌


__ADS_2