
"Aku tidak apa-apa. Memangnya ada apa?" Aga masih berbicara non formal pada Amara. Ia lebih suka berbicara seperti saat ini dibandingkan Amara memanggilnya menggunakan embel-embel Tuan.
"Tidak apa-apa. Hanya saja saya melihat wajah Kak Aga sedikit pucat."
Aga memilih diam tak membenarkan atau menyangkal perkataan Amara.
"Aku pergi dulu. Jika ada yang mencariku katakan saja untuk menemuiku setelah jam setengah dua siang nanti." Pesan Aga.
Amara mengangguk paham. Sebenarnya ia masih merasa penasaran dengan kesehatan Aga saat ini. Namun karena Aga sudah pergi meninggalkan meja kerjanya, Amara mencoba untuk tidak peduli lagi dan kembali fokus pada pekerjaannya yang masih sangat menumpuk.
**
Sebelum pukul setengah dua siang, Aga sudah kembali ke perusahaan. Amara memperhatikan kepala Aga yang kini sudah tidak lagi diperban seperti tadi sebelum Aga pergi meninggalkan perusahaan.
"Tuan Aga," Amara menyapa Aga berharap dapat menghentikan langkah pria itu. Namun karena Aga nampak terburu-buru masuk ke dalam ruangan kerjanya dan hanya mengangguk membalas sapaan Amara membuat Amara harus mengubur harapannya.
__ADS_1
"Apa kepala Kak Aga sudah baik-baik saja?" Amara bergumam. Merasa penasaran dengan kondisi kepala Aga saat ini. Jika melihat kepala Aga yang sudah tak lagi diperban, sepertinya jahitan di kepala Aga sudah dibuka dan sudah baik-baik saja. Namun Amara tidak bisa memastikannya sebelum bertanya pada Aga langsung.
Tiba-tiba Amara teringat dengan sebuah laporan keuangan yang baru saja diberikn oleh staff keuangan. Merasa ada kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan kerja Aga, Amara lantas saja bangkit dari posisi duduk dan melangkah ke arah ruangan kerja Aga.
"Maaf mengganggu, Tuan Aga." Amara mengayunkan kaki mendekati meja kerja Aga.
Aga hanya mengangguk sebagai jawaban karena kini ia tengah fokus berbicara dengan seseorang lewat sambungan telefon.
Amara memilih berdiri diam di depan meja kerja Aga menunggu Aga selesai berbicara dengan seseorang yang tidak Amara ketahui siapa.
"Ada apa?" Tanya Aga setelah memutus panggilan telefonnya.
"Terima kasih. Saya akan memeriksanya nanti."
Amara tak langsung berpamitan pergi karena ada hal yang harus ia tanyakan pada Aga.
__ADS_1
"Apa kondisi kepala Tuan sudah tidak apa-apa?" Tanya Amara.
"Ya, semua sudah baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi."
Amara bernapas lega. Ditatapnya wajah Aga yang masih nampak pucat seperti terakhir kali Aga meninggalkan perusahaan. Amara yang tidak ingin kembali bertanya hal yang sama pada Aga memilih berpamitan keluar dari dalam ruangan kerja Aga.
"Sepertinya Kak Aga sedang tidak sehat." Gumamnya setelah keluar dari dalam ruangan kerja Aga.
**
Waktu pulang bekerja telah tiba. Amara yang sudah terbiasa pulang tepat waktu sesuai perintah dari Aga segera bersiap-siap untuk pulang. Di saat bersamaan, Cakra nampak keluar dari dalam ruangan kerjanya membawa setumpuk berkas ke arah ruangan kerja Aga.
"Tuan Cakra mau lembur lagi?" Tanya Amara saat Cakra berhenti tepat di depan meja kerjanya.
"Ya. Ada sedikit pekerjaan lagi yang harus saya selesaikan malam ini bersama Tuan Aga.
__ADS_1
Amara diam menimbang-nimbang. "Apa Tuan Cakra yakin mau lembur bersama Tuan Aga. Dari yang saya lihat tadi sepertinya Tuan Aga sedang tidak sehat." Ucap Amara ragu-ragu.
***