Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Memilih Rendra


__ADS_3

"Mara, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku lihat akhir-akhir ini cara tatapan Kak Aga kepadamu nampak berbeda. Aku pikir, Kak Aga mulai mempelajari isi hatinya saat ini."


Amara tersenyum seraya menggeleng. "Itu hanya perasaanmu saja, Gatha. Sudahlah, Gatha, jangan memberikan harapan dalam bentuk apa pun kepadaku. Lagi pula, kau sudah berjanji kan akan mendukungku untuk dekat dengan pria yang mencintaiku?"


Agatha mengangguk seraya tersenyum. "Apa pun yang terbaik untukmu akan aku dukung, Mara."


"Terima kasih, Gatha."


Agatha kembali tersenyum dan di dalam hati berkata. "Mara, kenapa aku jadi egois begini menginginkan kau kembali menjadi kakak iparku setelah melihat perubahan sikap Kak Aga akhir-akhir ini. Tapi, aku juga tidak boleh bersikap demikian. Sebagai sahabat, apa pun yang terbaik untukmu aku harus tetap mendukungnya."


**

__ADS_1


Agatha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah mengantarkan Amara kembali ke rumahnya. Jawaban yang Amara berikan tadi tentang perasaannya pada Aga terus terngiang di telinganya.


"Amara, aku percaya kau masih menaruh rasa pada Kak Aga. Hanya saja, kau sedang belajar melupakan kakakku agar hatimu tidak lagi terluka karena terlalu lama menunggu jawaban tidak pasti dari kakakku." Gumam Agatha. Jika mengingat segala perjuangan Amara selama ini untuk meraih cinta Aga, rasanya Agatha dapat mengerti alasan apa yang membuat Amara memilih menjauh dari Aga dan tidak lagi berharap pada kakaknya itu.


Mobil yang dikendarai Agatha terus melaju di jalan raya hingga akhirnya terhenti saat berada di simpang empat yang menunjukkan rambu lalu lintas bewarna merah.


Agatha yang tak lagi memikirkan tentang Amara kini memikirkan tentang hari esok dimana ia akan kembali bertemu dengan Richard.


"Ck, semoga saja dia tidak jadi datang ke butikku besok." Harap Agatha. Hampir setiap hari melihat wajah Richard yang menyebalkan membuat darah Agatha selalu naik. Ingin sekali rasanya Agatha menendang bokong pria itu setiap kali mereka bertemu karena berhasil membuatnya menjadi kesal.


"Aku besok akan datang ke butik pukul sepuluh pagi untuk memastikan pakaian pesananku sudah kau kerjakan dengan baik." Ucap Agatha dalam hati membaca pesan dari Richard.

__ADS_1


"Astaga... kenapa dia selalu berhasil membuat hidupku menjadi tidak tenang?" Gumam Agatha dengan wajah frustrasi.


**


Amara nampak termenung berdiri di depan jendela menatap langit yang nampak gelap dan bertaburan bintang. Pandangan Amara nampak kosong saat mengingat perkataan Agatha tentang perasaan Aga kepadanya.


"Kak Aga tidak mungkin bisa mencintaiku. Sampai kapan pun itu, dia hanya akan tetap menganggapku sebagai seorang adik bukan sebagai seorang wanita." Gumam Amara.


Bagaimana pun Agatha mengatakan beberapa kemungkinan jika Aga mulai menaruh perasaan kepadanya namun tidak membuat Amara menjadi merasa berharap dengan balasan cinta Aga.


Dengan berjalannya waktu, perasaan Amara untuk Aga mulai terkikis. Kini yang lebih dominan berada di hati dan pemikiran Amara adalah Rendra. Seorang pria tampan yang sudah lama berjuang untuk mendapatkan cintanya dan selalu berusaha memberikan yang terbaim untuknya.

__ADS_1


"Bukannya kata orang-orang jika dicintai itu lebih baik dari pada mencintai. Jadi tidak salah bukan jika aku lebih mengharapkan Rendra karena dia tulus mencintaiku tanpa aku minta lebih dulu?"


+**


__ADS_2