Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Sahabat Jadi Ipar


__ADS_3

"Agatha, kau benar-benar membuatku malu di depan banyak orang!" Amara kembali menangis setelah masuk ke dalam mobilnya. Bukan karena malu saja, namun juga ia merasa haru karena kebohongan yang Agatha lakukan membuatnya jadi menyadari perasaannya yang sesungguhnya dan menghilangkan rasa traumanya untuk menerima cinta dari seorang pria.


"Kau itu sebenarnya sedang marah atau bagaimana sih Mara." Agatha bingung melihat sahabatnya yang tengah menangis sambil memarahinya.


"Marah sekaligus senang. Aku marah karena kau sudah menipuku dan aku senang karena perbuatanmu membuatku sadar jika hatiku tidak bisa berpaling dari Kak Aga."


Agatha mengembangkan senyum mendengarnya. "Baguslah. Akhirnya tujuanku tercapai." Jawab Agatha senang.


Amara menghambur ke dalam pelukan Agatha hingga membuat Agatha sedikit terhuyung kebelakang karenanya. "Terima kasih, Agatha. Terima kasih karena kau telah membantuku keluar dari permasalahan yang aku hadapi saat ini." Ucap Amara tulus. Sebagai seorang sahabat, selama ini Agatha sudah sangat baik kepadanya. Bukan hanya sekedar baik, namun Agatha sangat berperan penting dalam soal percintaannya.


Agatha membalas pelukan sahabatnya itu. "Sama-sama. Itulah gunanya sahabat. Bisa selalu diandalkan di saat senang dan sedih."

__ADS_1


Pelukan tangan Amara di tubuh Agatha semakin erat. "Sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu." Cicitnya malu-malu.


"Emh, ya. Kau senang bukan? Ini 'kan harapanmu sejak lama." Kelakar Agatha.


Amara menyubit pelan pinggang Agatha kemudian melepas pelukannya. "Kau ini kasih ingat saja." Ucapnya sambil menahan malu.


"Tentu saja aku ingat. Apa yang tidak aku ingat darimu, Mara. Aku bahkan masih sangat ingat saat pertama kali kau bercerita tentang pria yang menarik perhatianmu hingga membuatmu jatuh hati. Tak ku sangka jika pria yang kau maksud saat itu adalah kakak kandungku sendiri." Ucap Agatha.


"Agh, aku malu sekali jika mengingat itu." Amara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya menahan rasa malu. Karena sejak awal mereka berteman Agatha selalu menutupi identitasnya yang sebenarnya dari Amara hingga membuat Amara tidak mengetahui siapa sebenarnya keluarga Agatha hingga akhirnya semua terbongkar di saat Agatha datang di acara lamaran Daniel dan Naina.


Amara kembali memeluk tubuh Agatha sebab merasa haru mendengarnya. "Terima kasih sekali lagi Gatha. Terima kasih atas segala kebaikanmu."

__ADS_1


"Aku baik karena kau juga sangat baik kepadaku selama ini. Walau tidak mengetahui statusku saat itu, tapi kau mau berteman dengan tulus kepadaku."


Amara tersenyum. Ia jadi ikut mengingat kejadian masa lalu dimana banyak teman-teman Agatha yang mau berteman dengan Agatha hanya untuk memanfaatkan Agatha saja.


Amara pun akhirnya menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari dalam bandara menuju rumah dengan membawa hati yang sudah terasa tenang sebab apa yang ia pikirkan tentang Aga tidak terbukti. Aga masih tetap tinggal di kota yang sama dengannya dan tak akan meninggalkannya.


Di tengah perjalanan menuju kediamannya, ponsel Amara terdengar berdering.  Merasa penasaran siapakah yang mengirimkan pesan kepadanya membuat Amara mengeluarkan mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya kemudian menghidupkan layar ponselnya.


"Kak Aga..." Amara mengulas senyum melihat nama calon suaminya tertera di layar ponsel.


"Aku sudah berada di dalam pesawat calon istriku." Ucap Amara dalam hati membaca pesan dari Aga yang nampak dari layar notifikasi.

__ADS_1


"Agh, Kak Aga. Kenapa dia jadi manis begini." Gumam Amara sambil menahan diri agar tidak tersenyum salting di depan Agatha yang sedang memperhatikannya.


***


__ADS_2