
Pertarungan lidah Amara dan Aga harus berakhir saat keduanya teringat dengan agenda mereka malam ini. Aga dan Amara segera mengganti pakaian mereka masing-masing kemudian keluar dari dalam kamar menuju restoran dimana kini keluarga besar mereka sudah menunggu.
"Akhirnya pengantin baru datang juga." Kata Agatha saat melihat kedatangan Amara dan Aga.
Amara tersenyum kaku. "Maaf sudah membuat menunggu." Jawabnya tak enak hati kemudian mendaratkan bokong di atas kursi yang berada di sebelah Aga.
"Gak apa-apa, kok. Demi pengantin baru mah kami rela menunggu." Seloroh Agatha.
Amara memicingkan kedua kelopak matanya menatap sahabat sekaligus iparnya yang sedang menggodanya itu. Tatapan mata Amara pun hanya dibalas dengan senyuman di wajah Agatha.
"Karena Amara dan Aga sudah datang, maka lebih baik kita mulai acara makan malamnya saat ini." Kata Papa Andrew.
Semua orang mengangguk mengiyakan perkataan Papa Andrew kemudian mulai mengambil makanan masing-masing. Amara yang sudah mulai mengerti dengan tugasnya sebagai seorang istri segera mengambilkan makanan untuk Aga. Melihat pergerakan Amara yang begitu sigap mengambilkan makanan untuk suaminya membuat Bu Fatma merasa senang karena putri bungsunya sudah mulai dewasa.
__ADS_1
"Terima kasih." Kata Aga setelah menerima makanan yang diberikan Amara untuknya.
"Sama-sama, Kak." Jawab Amara seraya mengulas senyum.
Keduanya pun mulai menikmati makanan masing-masing tanpa suara seperti yang lainnya. Hingga dua puluh menit berlalu, makan malam bersama itu pun selesai dan berganti dengan perbincangan ringan. Mengingat jika dalam waktu dekat ini Aga dan Papa Andrew akan berangkat keluar negeri, topik pembahasan mereka pun beralih dengan membahas persiapan Papa Andrew dan Aga sebelum berangkat keluar negeri.
"Aku jadi diajak pergi 'kan, Kak?" Tanya Amara pelan pada Aga setelah pembicaraan mereka selesai.
Kedua pipi Amara seketika merona mendengar perkataan Aga yang terdengar sangat manis di telinganya. Amara pikir Aga sudah melupakan niatnya yang ingin membawanya ikut. Tapi ternyata dugaannya salah, sebab Aga tidak pernah melupakannya barang sedetik saja.
Seluruh keluarga yang masih tertinggal di hotel malam itu akhirnya berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Amara yang merasa tidak enak ditinggal di hotel hanya berdua bersama Aga pun menawarkan diri untuk pulang.
"Mau pulang ke rumah Ibu, Papa, atau rumahku saja?" Aga balik menawar.
__ADS_1
"Kemana pun Kakak membawaku aku akan ikut." Jawab Amara.
Aga menganggukkan kepala. "Kalau begitu kita pulang ke rumahku saja agar tidak ada gangguan." Kata Aga penuh maksud.
Amara mencoba mencerna maksud perkataan suaminya itu. Gangguan seperti apa yang Aga maksud? Namun setelah mendengar kelanjutan perkataan Aga, sontak saja membuat kedua pipi Amara kembali merona.
"Kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membuat Aga junior hadir di dalam rahimmu sebelum berangkat keluar negeri." Bisik Aga di telinga Amara.
Amara jadi tertunduk malu. Kemudian ia mengangguk mengiyakan perkataan Aga. Mengingat jika malam ini ia dan Aga akan memulai ritual sebagai pasangan suami istri, Amara pun membawa sebuah kado dari Agatha yang berisi gaun malam ke kediaman Aga.
"Sebelum diunboxing, suami harus digoda dulu." Kelakar Amara dalam hati sambil menatap gaun malam bewarna merah menyala yang baru saja ia keluarkan dari paper bag.
***
__ADS_1