
Amara terkesiap. Terkejut tak percaya mendengar kembali ungkapan cinta dari Aga yang terdengar bersungguh-sungguh tanpa dusta. Jika saja Aga mengungkapkan perasaannya itu saat dirinya sedang memperjuangkan cinta Aga, mungkin Amara akan bersorak kegirangan atau bahkan melompat-lompat. Namun karena Aga baru mengatakannya saat ini, Amara tak merasakan kebahagiaan apa-apa selain rasa takut jika ungkapan cinta Aga hanya berakhir dengan luka nantinya.
"Amara..." Aga menoleh. Menatap wajah Amara yang nampak sendu setelah mendengar kembali ungkapan cinta darinya.
"Apa Kakak yakin dengan perasaan Kakak itu. Apa Kakak mengatakan hal demikian karena hubungan Kakak dan Kak Anjani sedang tidak baik-baik saja?" Tanya Amara. Ia teringat dengan sosok wanita yang sepertinya memiliki hubungan dengan Aga mengingat sikap Anjani yang selalu posesif pada Aga selama ini.
"Anjani?" Dahi Aga dibuat mengkerut mendengar nama Anjani disebut oleh Amara.
Amara menganggukkan kepalanya. "Ya. Kak Anjani. Aku lihat Kakak dan Kak Anjani cukup dekat. Aku pikir Kakak dan dia memiliki hubungan spesial."
Aga terperangah mendengar isi pemikiran Amara saat ini. "Astaga, Mara. Kau sudah salah paham. Di antara aku dan Anjani tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman dan tidak lebih."
"Tapi yang aku lihat berbeda, Kak. Kakak dan Kak Anjani cukup dekat. Bahkan beberapa kali aku melihat Kak Anjani bersikap posesif layaknya seorang wanita pada kekasihnya."
__ADS_1
Aga jadi tertawa. Dan hal itu membuat Amara bingung melihatnya.
"Kenapa Kakak tertawa. Tidak ada yang lucu dari perkataanku, Kak."
"Lucu, Amara. Apa yang kau pikirkan saat ini sungguh lucu."
"Lucu kenapa?" Tanyanya bingung.
Aga tak memberikan jawaban. Ia memilih menepikan mobilnya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Amara. Setelah menepikan mobil di pinggir jalan, Aga pun memiringkan tubuh agar dapat menatap wajah Amara dengan intens.
"Apa?" Amara terkesiap. Kedua bola matanya nyaris keluar dari dalam wadahnya mendengar sebuah fakta yang Aga berikan.
"Ya. Anjani sudah menikah, Amara. Sebagai pria waras yang sudah mengetahui jika Anjani sudah menikah, aku tidak mungkin mau menjalin hubungan dengannya. Di antara aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa selain berteman."
__ADS_1
Amara hening karena sulit untuk berkata-kata.
"Hubungan Anjani dan suaminya memang sedikit renggang hingga Anjani memutuskan pergi ke negara ini dan bekerja di sini. Namun saat ini dia telah kembali ke negaranya untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Dan dari yang aku dengar, mereka sudah baikan dan ingin rujuk."
Amara masih hening. Sebuah fakta yang baru saja ia ketahui benar-benar di luar perkiraannya.
"Kak Aga tidak berbohong?" Tanyanya memastikan.
"Apa kau melihat ada dusta di balik wajah seriusku ini, Mara? Aku bersungguh-sungguh. Termasuk ungkapan cintaku kepadamu."
Kedua bola mata Amara sudah dibaluti cairan bening. Ternyata apa yang ia pikirkan selama ini salah akibat terlalu larut menduga-duga tanpa berniat bertanya lebih dulu.
"Mara..." Aga dengan lembut menggenggam sebelah tangan Amara. "Aku tidak tahu hal apa yang membuatmu bisa menjatuhkan hati kepadaku hingga bertahun-tahun lamanya. Namun sebagai seorang pria yang bisa merasakan dicintai oleh wanita tulus seperti dirimu, aku merasa sangat bahagia. Aku merasa menjadi pria yang sangat beruntung. Dan kini, aku menyesal kenapa baru menyadari jika aku juga menaruh rasa kepadamu.
__ADS_1
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴