
Hampir tiga jam lamanya menghabiskan waktu di dalam klub milik Noah, akhirnya Amara dan Agatha pun memutuskan untuk pulang. Rendra yang sudah selesai berbicara dengan Noah pun akhirnya ikut berpamitan untuk pulang.
"Apakah Amara boleh pulang denganku?" Tanya Rendra pada Agatha saat mereka sudah berada di parkiran mobil.
"Tentu saja boleh. Tapi kau mengantarkan Amara ke apartemenku bukan ke rumah orang tuanya." Jawab Agatha.
Amara melototkan kedua matanya pada Agatha yang tanpa beban menjawab permintaan Rendra.
"Mara, kau pulang bersama Rendra saja, ya." Agatha mendorong Amara ke arah mobil Rendra.
Mendapat dukungan dari Agatha tentu saja membuat Rendra sangat senang dan mempersilahkan Amara untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kau tidak nyaman pulang berdua denganku, Mara?" Tanya Rendra lembut.
"Emh, bukan begitu." Amara jadi tidak enak dengan pendapat Rendra setelah melihat wajahnya.
__ADS_1
Rendra tersenyum lalu meraih jaketnya yang berada di jok belakang mobil. "Pakai jaketnya, ya." Ucap Rendra lalu memasangkan jaketnya ke bahu Amara yang tidak tertutupi kain.
Perasaan Amara kembali menghangat mendapatkan perlakuan lembut dari Rendra. "Terima kasih." Ucap Amara dan diangguki Rendra sebagai jawaban.
Mobil milik Rendra pun melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen Agatha berada. Selama berada di dalam perjalanan menuju apartemen, Rendra dan Amara saling bercerita bersama mengingat masa kuliah mereka dulu yang sangat menyenangkan. Dari mulai awal masuk kuliah hingga akhirnya mereka sama-sama di wisuda.
"Seandainya saja kau menerima tawaran beasiswa saat itu mungkin saat ini kau sudah meraih dua gelar di belakang namamu." Ucap Rendra mengingat beasiswa pendidikan yang pernah Amara tolak.
Amara tersenyum mendengarnya. "Aku merasa sudah cukup dengan satu gelar saja. Lagi pula aku tidak ingin membuat ibu dan ayah menjadi bersedih karena harus berjauhan dariku. Menurutku berada di dekat kedua orang tuaku lebih menyenangkan dari pada aku terlalu obsesi mengejar pendidikan hingga mengorbankan perasaan ibu dan ayah."
"Selain itu kau juga tidak bisa jauh dari Zeline bukan?" Tanya Rendra.
Amara lantas saja tertawa mendengarnya. "Ya, aku tidak bisa jauh dari keponakan centilku itu. Sehari saja tidak melihat wajahnya aku sudah merasa ada yang hilang apa lagi jika aku tidak melihat wajahnya berbulan-bulan lamanya."
"Keponakanmu itu memang mudah membuat orang lain jatuh cinta." Komentar Rendra.
__ADS_1
"Ya, begitulah."
"Oh ya, jika kau tidak ingin berjauhan dari kedua orang tuamu dengan menempuh pendidikan keluar negeri, lantas kenapa kau tidak melanjutkan pendidikan di kota ini saja?" Tanya Rendra.
"Karena aku tidak berminat. Aku lebih berminat untuk bekerja setelah selesai kuliah. Aku tidak ingin membebani ibu dan ayah lagi dengan membiayai hidup dan kuliahku walau ada beasiswa sebagai penunjang."
Lagi-lagi Rendra dibuat kagum dengan pemikiran Amara. Keduanya pun terus bercerita hingga tanpa terasa mobil milik Rendra telah tiba perkarangan apartemen.
"Apa kau ingin langsung pulang?" Tanya Amara.
"Ya, aku langsung pulang saja. Tidak enak kan kalau mampir ke apartemen Gatha malam-malam begini."
Amara mengangguk mengiyakannya. "Oh ya, ini jaketnya." Amara membuka jaket Rendra yang terpasang di tubuhnya lalu menyerahkannya pada Rendra.
"Tidak usah dikembalikan. Simpan saja jaket ini. Anggap saja jaket ini pengganti tubuhku yang bertugas untuk menghangatimu jika kau sedang kedinginan."
__ADS_1
***