
Agatha terlihat tengah sibuk mendesain sebuah baju untuk kliennya yang sangat menyebalkan. Walau merasa sangat lelah dan sebal karena waktu istirahatnya terpakai untuk mendesain baju konsumennya tersebut, namun Agatha tetap melakukannya karena tidak memiliki pilihan lain.
Suara panggilan telefon dari ponselnya tak membuat Agatha menghentikan kegiatannya tersebut. "Siapa sih yang menghubungiku malam-malam begini?" Gerutu Agatha saat merasa suara deringan ponselnya tersebut mengganggu konsentrasinya.
Agatha segera meraih ponselnya yang berada tidak terlalu jauh dari tangannya berada lalu melihat nama pemanggil telefon. "Amara dan Rendra?" Gumam Agatha membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Merasa penasaran ada apa kedua sahabatnya meneleponnya malam-malam begini, Agatha lantas saja mengangkat panggilan tersebut dan meletakkan ponsel ke daun telinganya.
"Halo Agatha!" Suara Amara yang terdengar melengking menyapa Agatha saat panggilan baru saja terhubung.
"Apa kau tidak bisa mengecilkan suaramu, Amara?" Protes Agatha setelah beberapa saat menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
"Tidak bisa. Sekarang ayo katakan kepadaku Agatha, siapa pria yang sering bersamamu akhir-akhir ini!" Desak Amara.
Glek
__ADS_1
Agatha meneguk salivanya susah payah. pemikirannya lantas saja tertuju pada Rendra jika pria itu sudah membocorkan rahasianya pada Amara.
"Pria siapa yang kau maksud, Amara?" Agatha berpura-pura tidak tahu.
Lidah Amara berdecak. "Jangan berpura-pura bodoh, Gatha. Kau tahu jelas apa maksudku. Rendra sudah mengatakannya kepadaku jika akhir-akhir ini kau sering bertemu dengan seorang pria!"
"Rendra..." Agatha menggeram tertahan. Ia tidak menyangka jika Rendra yang ia percayai ternyata bocor juga.
"Maafkan aku, Gatha. Aku tidak sengaja mengatakannya." Suara Rendra terdengar menyahut.
"Tidak ada jawaban yang mau aku berikan kepadamu, Mara. Lagi pula siapa pria yang Rendra maksud?" Agatha mencoba menyangkal.
"Kau akan menjawabnya atau aku akan..." Amara mengeluarkan suara bernada ancaman.
Agatha menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, aku akan menjawab dan menjelaskannya. Tapi tida sekarang. Saat ini aku sedang sibuk mendesain baju dari klienku."
__ADS_1
Amara hendak memberi bantahan namun Agatha dengan cepat menunjukkan bukti jika dirinya sedang sibuk lewat sebuah foto. Amara pun dapat mengerti jika Agatha tidak bisa diganggu saat ini. Jadi lah ia menahan rasa sabar untuk menanti jawaban dari Agatha tentang siapa pria yang dimaksud oleh Rendra tadi.
"Huh, untung saja Amara dapat mengerti dengan kesibukanku saat ini." Agatha menghembuskan napas lega setelah panggilan telefon dengan kedua sahabatnya terputus. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana ekspresi Amara nanti jika mengetahui pria mana yang Rendra maksud.
"Mara, Mara. Kau pasti sudah salah paham mengira aku sedang dekat dengan pria lain. Padahal saat ini aku bukan dekat dengan pria itu namun sedang berada dalam bahaya." Gumam Agatha.
Amara dan Rendra akhirnya kembali melanjutkan panggilan telefon hanya berdua saja setelah Agatha mematikan sambungan teleponnya.
"Jadi jam berapa kau akan pulang?" Tanya Rendra kembali ke percakapan mereka di awal.
"Untuk jamnya aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas kami akan pulang di waktu pagi."
"Oh begitu." Rendra tersenyum penuh maksud di seberang sana setelah mendapatkan jawaban dari Amara.
Keduanya pun kembali melanjutkan cerita satu sama lain tanpa menyadari jika kini ada sosok pria yang berada di sebelah balkon kamar Amara tengah menunggu Amara keluar dari dalam kamarnya menuju balkon.
__ADS_1
***